Langsung ke konten utama

Kisah Melarut di Secangkir Kopi

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

15:11 WIB. Kukayuh sepeda kumbangku melintasi Kotabaru. Jalan I Dewa Nyoman Oka. Lalu lurus menyisir ke arah Jalan Cik Di Tiro. Bablas. Sebuah kampus besar arah utara bundaran, kini pintu masuknya telah latah dipasangi portal. Terlihat begitu jelek di mataku. Begitu angkuh (seperti Kampus Oranye, calon almamaterku). Kutembus begitu saja. Rasanya seperti memasuki areal parkir utama waralaba terbesar negeri ini.

Kuhentakkan kaki memacu pedal lebih cepat. Di atas sisi utara kulihat sepasukan mendung memekat menghadangku. Hmm, sudah biasa, gumamku. Tapi diam-diam aku memohon kepada Tuhan, agar menunda muntahkan isi perut maha besar itu sampai aku tiba di tempat yang kumaksud. Masih sekira tiga kilometer lagi. Beberapa gedung fakultas kampus ternama kota ini yang terdapat rimbun pepohon besar masih harus kulewati. Sial, rinai tipis mulai menyerangku. Dan pepohon besar-besar itu seperti raksasa yang akan menelan tubuh mungilku. Hampir saja aku salah, hendak berbelok ke arah Balairung.

Di sekitar Selokan Mataram kuhentikan laju. Beberapa bagian tubuhku telah basah oleh hujan tepat ketika hendak kumasuki kedai itu. Selalu. Aku memilih tempat paling sudut. Kukibas-kibaskan kerudungku, sedikit mengusir basah. Seseorang mendekat lalu menanyakan apa hendak aku pesan. Kopi susu satu. Kujawab mantab. Dia tanya, “lalu apa lagi?” Pertanyaan yang paling tidak kusuka. Bukankah tadi aku sudah bilang kopi susu satu? “Nanti saja, Mas. Saya masih menunggu seseorang. Makasih”, ia pun berlalu dari hadapanku.

Kedai kopi ini baru saja buka. Aku menjadi manusia keempat yang memasukinya. Di dekat pintu masuk, seorang pemuda tampak suntuk dan sesekali tersenyum sendiri menghadap layar monitor buka tutup yang mungil. Sebatang rokok menyala bara terselip di celah jemari kirinya. Secangkir kopi menyanding satu set dengan penganan; kue brownies dan beberapa batang kentang goreng berikut sambal merah lembut, dengan tatakan kecil menyudut di sisi kanan meja. Ketika tadi aku melewati tempat ia duduk, kulihat ia tengah membuka situs jaringan pertemanan massif itu.

Di bagian agak ke tengah ruang kedai ini, sepasang anak muda sedang menitipkan kasmaran mereka di bawah temaram lampu. Si lelaki tampak mengeluarkan kalimat berlembar-lembar dengan sorot mata bahagia. Si gadis terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya. Bisa kupastikan mereka sedang jatuh cinta. Terlebih si gadis, matanya begitu berbinar sembari terus memandangi raut wajah di depannya. Bukankah perempuan yang sedang jatuh cinta akan memandang pujaannya dengan sorot mata seperti itu? Berhati-hatilah, wahai Gadis? Dunia ini sangat licin, gumamku sambil menjulurkan lidah satu senti. Hei, ada apa denganku? Kalimat apa yang meluncur barusan? Waduh, aku mulai kacau.

Tak lama berselang, minuman pesananku datang. Kuucap terima kasih. Pembawa minumanku ini kemudian merunduk, memungut sesuatu di bawah kolong meja, “Maaf, ini kunci milik Mbak, bukan?” tanyanya menyorongkan sesuatu. “Oh, ya. Kunci kamar kostku”, kuraih dari tangannya, kusadari keteledoranku dengan cepat. “Terima kasih, Mas”. Ia tersenyum dan berlalu dari hadapanku. Aih, Mas OB yang baik hati….

Kumasukkan kunci itu ke anak tas. Kurogoh telepon genggam kemudian. Sebuah pesan masuk, terkirim 10 menit lalu, “Kira-2 stengah jam lg aku smp.” Kubalas cepat, “Santai ajah, Mas. Hati-2. Jogja gelap. Lg hujan.”

Kukeluarkan sebuah buku yang kubawa. Timbul keinginan untuk membaca. Di halaman pertama kubuka, tertulis nama toko buku dan tanggal kubeli. 3 bulan lalu! Aku menghela napas. Tiba-tiba aku menyesal sekali, kenapa ini bisa sampai terjadi; beli buku tapi tak kunjung kubaca. Menyedihkan! Memang buku ini tak ada hubungannya dengan referensi skripsiku, tapi aku sangat menyukainya. Hasrat membaca yang membara membuatku memaksakan diri membelinya. Dan, skripsi yang acakadut dibombardir oleh pengujiku itulah biangnya. Aku musti berdarah-darah mereparasinya hingga membuatku lupa jika punya buku baru. Ah, skripsi yang memprihatinkan, hanya demi sebuah upacara wisuda yang gamang.

Kuseruput minumanku kemudian. Kubuka-buka buku itu kembali. Pelan-pelan. Pada menit kelima belas, bayanganmu hadir. Sangat pelan. Merasuk ke jajaran hurup yang tengah kusapu. Tersenyum seakan menyapa “Apa kabarmu, Kusuma?”. Lalu wajahmu berpindah ke atas genangan kopi susu yang mengepul di depanku. “Berarti kita sebatas sahabat lagi, seperti dulu?” Mendadak kalimat terakhirmu tempo hari itu nongol di kepalaku. “Ya. Sepakat.” Dua kalimat dekat; satu pertanyaanmu dan satu jawabanku. Memantik nyeri. Seketika batinku meruyak. Kaca mataku ikut pucat. Aku merasa diriku seperti halaman buku yang hilang. Hingga halaman sebelum dan sesudahnya berjarak teramat panjang, memenggal sambungan kemungkinan banyak pengetahuan.

Kututup buku itu kemudian dengan resah. Kuitarkan pandang ke sekeliling. Beberapa pengunjung berdatangan. Hujan lebat di luar menyulap nuansa menjadi sangat nyaman dan romantis di dalam sini (kecuali diriku). Berteman kopi dan musik. Yang khas dari kedai ini adalah musiknya. Hampir selalu koleksi Iwan Fals yang diputar. Wajar saja, karena kedai ini milik paguyuban “Orang Indonesia”, ormas para penggemar Bang Iwan. Entah kebetulan entah tidak, lagu yang tengah mengalun saat ini adalah “Nyanyian Jiwa”. Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri… Membuatku jadi kian masygul.

Pandanganku jatuh lagi ke pasangan muda yang datang belakangan. Mengambil duduk di sudut ruang seberang. Keduanya sama-sama diam. Si perempuan tampak menjatuhkan kepalanya di pundak si lelaki. Air muka mereka begitu keruh. Pikiran usilku muncul lagi ke si perempuan. Hei, mengapa rapuh? Hati-hati, bisa jadi kau tengah dibohongi! Tiba-tiba kepalaku terasa ada yang memegang dan memutarnya.

“Ndak baik ngliatin orang seperti itu,” kakak laki-lakiku bicara lirih. Tak kusadari kedatangannya. Aku pura-pura malu sebentar. Beberapa saat kemudian terhidang pesanan di meja kami.

“Kau tengah patah hati, Nduk? Nikmati saja. Gitu aja pakai histeris. Minta dikunjungi,” kakakku bicara sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Tanpa berdosa. Mendadak aku menjadi tidak berselera. Aku memasang muka cemberut.

“Aku punya secangkir kopi panas. Aku beri kesempatan kamu buat menyelesaikan ceritamu hingga kopi ini tandas. Setelah itu, kau harus benar-benar selesai. Larutkan ceritamu di kopiku ini. Aku tak mau melihat adikku yang jelek ini bertambah masai hanya karena soal laki-laki,” lanjutnya. Aku mengunyah makananku seperti sepasang mata hewan kurban. Hampa. Tanpa perasaan. Telapak tangan kakakku lagi-lagi menempel di kepalaku, menggoyang-goyangkannya.

“Telo!” umpatku. Kutarik turun tangannya.

“Lho, yang patah hati kamu kok aku yang telo?” protesnya sambil mencet hidungku. Beginilah rasa sayang kakak kepadaku jika sedang bersama. Aku hapal betul. Kadang ia juga suka menarik-narik kerudungku.

“Semua telah selesai dengan manis dan cepat, Mas. Konsolidasi tahap awal kami sebenarnya telah meloncat drastis ke diskusi serius tentang mahligai dalam tanda kutip. Tapi rupanya platform kami berbeda. Tajam. Sangat tajam malah. Dia tidak sederhana. Aku tertatih-tatih memahaminya. Kami deadlock. Kuputuskan untuk walkout.” Kalimatku meluncur bebas. Ringan. Seakan tengah menggelindingkan bongkahan luka yang memberat ke luar tubuh.

“Kamu stress tenan to, Nduk? Istilahmu kui lho. Mbayani ora eram. Semoga kamu tidak salah mengambil kebijakan. Ha ha ha…” kakakku terbahak. Sialan! Skripsiku ‘kan bicara tentang parlemen. Boleh dong aku hanyut dengan istilah-istilah di skripsi itu. Gantian topi kakakku kutarik paksa ke bawah. Dia meringis minta ampun. Aku kesal. Perasaanku berjumpalitan. Keinginan didengar dengan penuh kesungguhan dijawab dengan guyonan. Hhhh….

Menit demi menit berjalan, kukisahkan seluruhnya dalam bahasa yang sangat verbal. Kakakku tercekat. Menyimpan kerutan di keningnya. Ekspresi wajahnya seolah tak percaya dengan paragraf-paragrafku. Sebatang rokok yang ia sulut kemudian, diketuk-ketukkan di atas asbak meski belum mengabu. Ia serius menyimakku.

“Itu sudah lebih dari cukup, Nduk” ucap kakakku. Lalu sederet kalimat bijak seperti biasa ia perdengarkan kepadaku. Tentang filosofi cinta, hidup, dan bertahan. Sekira enam es ka es, cukup panjang. Aku mengamininya, karena berhasil membuatku jadi lebih tenang. Diam-diam aku bangga dengan kakakku satu ini. Jika tengah berbincang dengannya, aku kerap merasa bahwa inilah yang dimaksud dengan “wong kang sholeh kumpulono”.

“Perasaanmu sendiri sekarang bagaimana?” tanyanya. Pertanyaan yang menusuk sebenarnya.

“Hmm, biasa.” jawabku singkat. Kutelan paksa rasa pahitku.

“Ruang harapan itu kini kembali lengang, Mas. Tapi tidak mengapa. Sesuatu yang pernah singgah sebentar itu toh tidak perlu disesalkan. Ia akan mengikuti rotasi bumi ini. Jika kita tabah mengendarai waktu, maka satu saat ini semua menjadi tidak begitu penting, bukan?” lanjutku kemudian.

“Busyet! Kamu ngomong apa to, Nduk. Itu namanya mementahkan. Artinya kamu membuat oposisi binermu sendiri. Sudahlah. Sebaiknya kamu masuk saja ke sanubarimu dan mempercayainya. Wajilat qulubuhum-wajilat qulubuhum yang lain besok-besok pasti akan ada lagi. Selesai,” kakak menyeruput kopinya hingga nyaris tandas. Aku tahu, kakakku ini sekarang menjadi orang yang tergesa berebut dengan waktu. Kedatangannya dari Semarang kali ini hanyalah untuk melintas, lalu lanjut lagi menuju kota-kota lain di daerah timur.

“Oke. Kopiku sudah habis. Ceritamu juga sudah kuanggap habis. Aku mau cabut. Sudah dikejar Belanda” kakak berkata sambil berkemas. Ia memanggil OB dan membayar. Sejurus kemudian kami beranjak.

“Bulan depan aku wisuda lho, Mas. Kira-kira Bapak-Ibu bisa datang nggak?” tanyaku sembari kami berjalan keluar kedai.

“Nggak usah. Keadaan sedang begini susah. Kasihan orang tua kita. Cukup aku saja. Hilangkan pikiran seremoni itu. Coba kalau kamu putusnya besok saja habis wisuda. Pasti kamu punya PW (Pendamping Wisuda). So, sukurin!” kakak kembali terbahak-bahak. Kutinju lengannya berulang kali. Tak peduli jika hampir semua mata melihat ke arah kami.

Di depan kedai kami berpisah. Kakak melaju pelan dengan gerobak putihnya. Menuju Surabaya, katanya. Aku melangkah lesu menuju sepeda kumbangku. Bunyi pesan dari telepon genggam menghentikan kakiku tiba-tiba. Kubuka sebuah layar. Terpampang nama yang tak asing. Tertulis selarik pesan pendek, “Kusuma, aku kangen.”

“WEDUS !” umpatku.

18:01 WIB. Kukayuh sepeda pelan. Hujan sudah berhenti. Jogja memalam dengan tergesa. Kubelah jalan raya. Kubelah malam. Malam membelah hatiku…

Ngestiharjo – Wates, ujung November ‘09
(Ditemani petik gitar Metallica, “Nothing Else Matters”)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com