Langsung ke konten utama

Hadiah dan Penghargaan

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

Sebuah hadiah atau anugerah yang diberikan berdasarkan prestasi seseorang pada suatu bidang seni sudah pada tempatnya disambut baik karena di dalamnya terkandung suatu makna yang bernama penghargaan. Dan suatu penghargaan seyogianya menjadi rangsangan bagi seorang yang terpilih untuk terus menghasilkan karya-karya yang lebih baik pada masa-masa mendatang.

Selama hampir satu abad ini pada setiap akhir tahun Panitia Hadiah Nobel di Stockholm Swedia memberikan hadiah-hadiah kepada mereka yang mencapai prestasi tinggi di bidang-bidang fisika, kimia, kedokteran dan sastra. Hadiah Nobel bidang kesusastraan yang diberikan kepada pengarang Jerman Gunter Grass tahun 1999 mencapai jumlah uang sebesar hampir Rp10 miliar.

Dengan hadiah Nobel yang diberikan kepada Rabindranath Tagore pada 1913 ia membina sebuah sekolah kesenian bernama ‘’Santi Niketan’’ di Bolpur yang pada gilirannya menghasilkan orang-orang seperti Sanusi Pane, Rusli dan Affandi. Namun Panitia Hadiah Nobel juga menerima banyak kritik, misalnya karena sering terjadi pertimbangan politik yang sangat dominan melebihi pertimbangan estetik. Kritik lainnya ialah mengapa banyak sastrawan yang sangat besar pengaruhnya kepada kesusastraan dunia tidak mendapatkan hadiah itu seperti yang terjadi pada Franz Kafka, Reiner Maria Rilke, Paul Valery, Andre Malraux, Jorge Luis Borges dan lain-lain. Juga banyak peraih Hadiah Nobel yang berkarya menjadi-jadi setelah mendapat hadiah, misalnya Gabriel Garcia Marquez (1982), tapi ada pula yang hidupnya berakhir dengan tragis karena merasa tak berhasil berkarya seperti sebelumnya lalu membunuh diri, seperti Kawabata Yasunari (1968).

Kutub yang lain dari lembaga Hadiah Nobel ialah Prix Goncourt yang dianggap sebagai pemberi hadiah sastra yang paling bergengsi di Perancis. Meskipun banyak peraih hadiah ini kemudian memasuki nominasi hadiah Nobel, jumlah hadiahnya hanyalah sebesar 50 frank yang hanya cukup untuk membeli sebuah buku sahaja. Padahal setiap pengarang berbahasa Perancis sangatlah mendambakan mendapatkan hadiah yang dipilih suatu lembaga yang bernama L’Academie Goncourt yang berdiri sejak 1903 itu. Beberapa nama yang paling menonjol sebagai peraih hadiah sastra Goncourt ialah nama-nama Arab, bangsa yang sudah sejak lama ikut berkiprah memperkaya karya-karya sastra berbahasa Perancis. Tahar Ben Jelloun berasal dari Maroko dan Amin Maalouf berasal dari Lebanon, merupakan para penerus dari pengarang asal Aljazair seperti Kateb Yacine.

Maka di antara dua kutub inilah orang dapat melihat kedudukan Yayasan Sagang dengan Anugerah Sagang, apabila hanya besarnya hadiah yang menjadi perhatian. Namun seperti kita sudah ketahui jumlah atau besarnya hadiah bukanlah segala-galanya. Rangsangan apakah yang dapat dihasilkan oleh suatu hadiah yang memberikan penghargaan atas reputasi seorang seniman?

Rangsangan itu dapat bermuara sampai menghasilkan seorang sastrawan yang dapat memberikan kontribusi kepada kebudayaan dunia. Pada abad yang lalu salah-satu sosok kepiawaian kebudayaan Melayu telah diperhitungkan dan memberikan pengaruh kepada sebarisan para penyair Romantik di Perancis. Kepiawaian yang saya maksudkan ialah pantun.

Penyair-penyair seperti Victor Hugo, Theophile de Gautier, Charles Baudelaire dan lainnya berhutang-budi kepada pantun Melayu yang sempat mempengaruhi mereka dan menghasilkan jenis puisi yang disebut pantoum.

Sebaiknya kesenangan orang Riau berpantun tidak dipandang salah dan janganlah dinyatakan dengan nada pejoratif. Kalaulah orang-orang di Riau ini sangat tidak menyukai pantun (maksudnya puisi) maka jangan-jangan mereka akan terdiri dari para pengamuk yang amat dahsyat.

Kontribusi kita kepada kebudayaan dunia ialah serangkaian panjang sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat penyair tiada tolok itu bahwa kita harus memberikan kontribusi kepada kebudayaan dunia dan bukan kepada sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam Surat Kepercayan Gelanggang. Di antara sisi surat kepercayaan itu ialah pernyataan diri para penyusunnya dengan mengatakan bahwa mereka ialah ahli waris kebudayaan dunia.

Bagaimanapun sempitnya ruang yang masih tersisa, bagaimanapun sedikitnya waktu yang masih ada, kerja harus diteruskan sampai langkah mencapai akhir riwayat. Senantiasa ada harapan sebelum riwayat seseorang anak manusia mencapai tempat tamat. Tetaplah dengan harapan sebelum langkah kaki sampai ke sana. Setelah itu semua, apa-apa yang telah dibuat terserahlah pada sejarah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Mann dalam risalah singkatnya tentang Tolstoy dan Dostoyevsky, dua orang pengarang yang hidupnya penuh kesulitan dan kepedihan: Mann war noch nicht elend, ganz elend noch nicht, solange es mvglich war, seinem Elend eine stolze und die Benennung zu schenken. Orang belumlah malang, samasekali belum malang, selagi ia masih bisa memberikan nama yang gagah kepada kemalangannya.***

12 Februari 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.