Festival Puisi Weltklang, Berlin

Ketika Puisi Masih Dipercaya
Dorothea Rosa Herliany
http://www2.kompas.com/

PENGARANG Jerman, Wolfgang Borchert, pada Oktober 1947, pernah menulis manifesto antiperangnya yang terkenal, “Maka, hanya ada satu pilihan. Katakan Tidak!” (dann giht es nur eins! “sag nein!”). Kemudian hari-hari berlalu dan suatu hari aku datang di negeri itu. Aku habiskan waktu dengan menyusuri jalan-jalan di Berlin. Sampai Tembok Berlin itu juga: bilakah dulu jadi lambang kebebasan manusia? Betapa kini sudah tak tampak lagi jejak-jejak perjuangan manusia melawan tirani politik dan kekuasaan itu. Tapi, bisa jadi inilah wujud kebebasan itu, Berlin yang bebas, yang dipenuhi lalu-lalang para turis dan deretan toko-toko suvenir di sepanjang jalannya.

Aku menyusuri gang-gang dengan bangunan bertingkat di kiri-kanan. Ada bekas peluru di tembok. Masih terbaca semua kisah perang itu di sana. Ada kisah pembunuhan di tempat ini. Aku membayangkan orang-orang Yahudi yang teraniaya dan mati. Tapi aku kemudian ingat, ini adalah Berlin. Di sini, di tempat ini, sejarah mencatatkan kematian dari mereka yang begitu saja dipisahkan dari sanak-saudara oleh pembagian kekuasaan yang semena-mena. Mereka yang mati dalam usaha menghancurkan dinding pemisah, yang riil dan imajiner. Ah, Tembok Berlin… .

Di antara gang-gang yang seperti labirin di mitte (pusat) Berlin, tempat yang dulu untuk hunian murah orang Jerman itu, sekarang banyak didirikan galeri-galeri. Jerman setelah tak dipisah lagi menjadi timur dan barat, agaknya memang banyak berubah. Kota seperti lebih bersinar. Tapi tak begitu jelas, sinar itu redup atau cemerlang. Bangunan tembok-tembok Berlin yang umumnya berwarna sendu, kelabu, masih banyak yang tersisa. Orang-orang Jerman Timur sendiri entah ke mana. Satu dan yang lainnya sudah tak bisa dibedakan lagi. Sekarang semuanya tampak sama. Tapi, ada juga yang berkata bahwa mereka lebih banyak hidup di pinggiran kota.

Masih kukitari Berlin dan kulihat ada sebuah museum yang agak berbeda. Museum ini dikelilingi oleh sungai, seperti sebuah pulau tersendiri. Orang-orang kemudian menyebutnya island museum. Di tempat lainnya kulihat seorang tua menjajakan topi, seragam, tanda kepangkatan, dan lencana yang dulu biasa dipakai tentara Rusia. Juga jam tangan. Orang tua itu bahkan menjual keping-keping sisa tembok Berlin yang cukup diminati para wisatawan. Sebuah kenangan (betapa pun pahit), masih bisa kau jual jika itu untuk sebuah kesenangan.

Di sinilah, tak jauh dari the famous wall, di Berlin ini, di sebuah wilayah tengah kota, tepatnya di Postdamer Platz, di bawah pantulan redup rembulan, dibauri ribuan watt sinar lampu, sepuluh penyair dari berbagai negeri membacakan puisinya pada acara Weltklang Necht der Poesie (Malam Puisi Suara Dunia). Postdamer Platz, dulu semasa Jerman belum bersatu, lebih dikenal sebagai wilayah kosong, hampa, dan tak bertuan (nobody’s land). Kini Postdamer Platz mulai dikenal dengan festival puisi tahunannya. Ada banyak penyair terkenal dunia yang pernah membacakan puisinya dalam festival ini, seperti Derek Walcott, Adonis, Friederike Mayrocker, juga Rendra. Tahun ini pembacaan puisi dilangsungkan (puncaknya) pada 5 Juli 2003. Para penyair yang diundang berasal dari Chili (Gonzalo Rojas), Austria (Elfriede Gerstl), Lebanon (Abbas Beydoun), Perancis (Henri Chopin), Indonesia (penulis), Jerman (Wolfgang Hilbig dan Andreas Dresen), Albania (Ismail Kadare), Irlandia (Nuala Ni Dhomhnaill), Swedia (Lars Gustafsson), dan Australia (PiO). Gilanya, festival yang mendapat dukungan penuh dari produsen mobil mewah DaimlerChrysler ini (yang antara lain membuat mobil dengan merek serupa dan Mercedes- Benz) khusus mendatangkan penyair dari 10 negara tiap tahunnya hanya untuk diminta membacakan puisinya masing-masing selama… 15 menit!

Penataan panggungnya unik. Mimbar bagi penyair untuk membacakan puisinya sempit saja, hanya cukup untuk satu meja dan sedikit lagi ruang kosong lain jika si penyair ingin membacakan puisinya sambil berdiri. Selebihnya, lantai dan ketiga dinding yang dicat putih itu didesain dengan dibuat bersudut miring. Dari jauh panggung ini menyerupai pesawat televisi. Barangkali memang demikianlah maksudnya agar penonton yang duduk di bawah panggung dan disediakan kursi-kursi berderet memanjang ke belakang laksana sedang menonton sebuah pertunjukan di televisi besar.

Berbeda dengan festival puisi internasional lainnya, dalam festival yang tampak ingar-bingar ini (maklum, diselenggarakan di tengah kota dan di antara pusat pertokoan), panitia memandang puisi sebagai sesuatu yang bernilai yang berhubungan dengan dunia nyata dan punya makna yang tak terceraikan. Puisi tak hanya kata. Tak hanya struktur tertulis. Tapi, ia juga suara. Tak hanya isi, tapi ia juga rima, juga imaji. Semua itu adalah puisi. Demikian semboyan festival ini. Karena itu, para penyair yang diundang dalam festival ini memang diminta membacakan puisinya dalam bahasa mereka masing-masing.

“Inilah saatnya kita mendengarkan bahasa-bahasa lain, suara-suara mereka, dalam puisi, sebagaimana ini sebuah konser. Itulah sebabnya kami menyebut festival ini sebuah suara dunia (the sound of the world),” kata Direktur Festival Dr Thomas Wohlfahrt. “Kami percaya, puisi itu lebih dari kata-kata dan ada sisi lain di baliknya yang dapat dirasakan dan dimengerti,” katanya lagi.

Eropa sudah tak percaya bakal ada revolusi lagi. Namun, puisi dipercaya merupakan lingkungan untuk sebuah revolusi. Penyair adalah revolusioner dunia karena dialah yang menyetel radio dunia. Puisi menjadi roket di udara, dialah yang menggerakkan tubuh, dialah pemecah tembok, dialah napas, dan kadang dia adalah permadani yang mampu membawa kita terbang berkeliling melayang-layang di udara, demikian kata-kata bertebaran dalam pidato-pidato. Ini memang malam penuh keajaiban kata. Malam puisi.

Bagi para penonton yang hendak menyimak puisi-puisi yang dibaca, struktur teks itu sendiri, panitia menyediakan buku bagus berbahasa Jerman yang dijual dengan harga murah. Meski sebetulnya diakui oleh penyelenggara, menerjemahkan puisi itu hampir-hampir sesuatu yang mustahil. Tapi, itu harus dilakukan. Tinggal sekarang tergantung ke mana memutuskan arah puisi itu, apakah hendak menuju ke arah bunyi, suara, ataukah isi. Inilah juga sebagian topik yang menjadi pembicaraan para penyair maupun seniman lain yang terlibat dalam festival ini. Namun kemudian, penerjemahan puisi pun dilihat lebih pada kacamata positif, sebagai suatu bentuk kreasi puisi baru juga.

Puisi memang dijadikan sentral dalam ajang kali ini. Sebab, setidaknya ada lebih dari 100-an seniman dari 13 negara lain diundang untuk meramaikan perhelatan yang sudah berlangsung sejak 26 Juni 2003. Para seniman yang berlatar belakang seni musik dan tari ini diminta mempergelarkan karya-karya mereka yang mengambil inspirasi dari puisi. Puisi adalah inspirasi. “Hadirilah dan temukan, betapa menyenangkan puisi itu,” demikian sebagian promosi yang disebarkan panitia. Karena itu, kita misalnya bisa menyaksikan kejutan yang dipersembahkan Australia yang menampilkan sebuah nomor berjudul Homeland, gabungan antara tarian dan puisi di atas panggung yang dibuat 70 meter besarnya. Pertunjukan ini mengambil inspirasi dari puisi karya Stefan Kozuharov, campuran Bulgaria dan Australia, yang isinya menceritakan tentang emigrasi dan migrasi. Selain panggung, pencahayaan, artistik, penggunaan multimedia juga digarap dengan sungguh-sungguh. Ada lagi sebuah konser musik dalam ruang tertutup yang menampilkan nomor-nomor musik, mulai dari yang terdengar aneh di telinga hingga yang memang sungguh indah, yang diaransemen berdasarkan lirik dalam puisi. Kali ini puisi coba dihadirkan untuk “bekerja” dengan disiplin ilmu yang lain.

Jerman yang kita kenal sebagai negara teknologi rupanya sedang berupaya mencari jalan bagaimana menggabungkan puisi dengan hal-hal yang berbau teknologi. Dan jawaban untuk itu ditemukan pada pemanfaatan media. Mereka rupanya sudah merasa berhasil menemukan tugas ketidakmungkinan dalam membuat mata rantai antara puisi, sebagai bentuk sastra paling tua, dengan bentuk komunikasi paling modern: Internet. Lalu, misalnya saja, sebelum puncak acara berlangsung, para penyair diminta kesediaannya untuk direkam suaranya saat membacakan puisi dalam sebuah studio. Suara ini kemudian diolah dan bisa dinikmati dalam sebuah website agar puisi bisa didengar, baik dalam bahasanya masing-masing maupun dilihat terjemahannya dalam tulisan. Karenanya, sekarang hanya dengan memencet papan keyboard komputer saja, dimungkinkan masyarakat bisa mendengarkan suara para penyair dalam bahasa asli mereka, suara manusia dengan bunyi, melodi, ritme, juga emosi, kekuatan, kualitas suara dalam, sebagaimana ia adalah sebuah musik. Tahun depan diharapkan, mereka bakal mampu merampungkan proyek pembuatan perpustakaan berbentuk audio ini. Jadi, puisi yang tadinya hanya memiliki ruang pribadi, yang sendiri, yang khusyuk, hening, kini mulai diajak untuk tak menyendiri lagi, tapi tampil ke luar, dibaca, dan didengarkan.

Toh, ada juga suara sumbang untuk penyelenggaraan acara ini. Sebab, festival pembacaan puisi dalam ruang terbuka (open air) ini dipandang tak lebih sebagai seni pertunjukan belaka. Termasuk kolaborasi puisi dengan bidang seni lainnya itu. Mereka yang berpendapat begini melontarkan kritik, bagaimana bisa mendengarkan puisi dalam ruang publik yang begitu terbuka? Bagaimana mampu memahami hakikat puisi dengan cara itu? Puisi hanya lebih tepat dibaca dan didengarkan di dalam gedung dengan ruangan tertutup. Jadi, penyelenggaraan event seperti ini sekaligus dipandang sebagai hal yang ironis, yakni ketika puisi dipandang lebih hanya sebagai alat entertainment belaka.

Bagaimana pun, ada banyak sisi lain yang menarik dari festival ini. Sebagaimana sudah saya singgung di depan, sponsor utama festival ini adalah sebuah perusahaan mobil terkenal. Ini menarik, terutama saat seorang direktur eksekutif perusahaan ini, dalam pidatonya saat ramah-tamah dengan para penyair dan seniman lainnya, menyebutkan melalui festival ini, mereka berharap akan mampu lebih memahami negara-negara yang terlibat dalam acara ini, belajar dari puisi-puisi yang diciptakan para penyairnya, untuk selanjutnya… mampu menjual mobil mewah itu di negara yang bersangkutan lebih banyak lagi! Hebat, puisi sudah dianggap sebagai alat yang akan mampu membantu industri. Puisi dianggap punya peran di sana. Ia diharapkan secara tak langsung akan mampu mendongkrak produksi. Bagaimana kita mesti membaca hal ini? Ini sebuah “kemajuan” dari sepenggal puisi ataukah harapan (yang terlalu muluk) pada puisi?

Lepas dari itu, sang eksekutif ini juga menambahkan buru-buru bahwa meski mereka berdagang, mereka tak hanya bisnis semata. Sebab, mereka juga ingin melakukan sesuatu bagi masyarakat Jerman. Buktinya soal tempat penyelenggaraan festival ini. Dulu, tempat ini adalah wilayah antah-berantah yang kosong, nowhere, yang tak seorang pun datang dan menghuninya. Dengan dihadirkannya acara ini saban tahun, diharapkan masyarakat mulai berdatangan ke tempat ini. Wilayah ini juga diharapkan menjadi wilayah yang lebih “bergengsi”. Tak hanya area bisnis saja. Seperti diketahui, di Postdamer Platz ini memang bertebaran banyak bangunan, seperti misalnya ada kompleks sinema, restoran, hotel, cafe shop, shopping centre, dan semacamnya. Festival ini diharapkan juga mampu mengangkat tempat ini menjadi wilayah yang lebih “berbudaya”.

Betapa jauh bedanya kalau ini kita bandingkan dengan situasi di Indonesia, di mana puisi hanya dipandang dengan sebelah mata, apalagi oleh perusahaan besar. Adakah sebuah perusahaan yang kaya raya di Indonesia mau berpaling untuk “hanya” sebuah puisi? Atau untuk sebuah aktivitas budaya lainnya? Juga, adakah pemerintah kota yang mengaitkan puisi dengan gengsi sebuah tempat?

Apa pun, puisi tak pernah bisa mati. Cuma ia mungkin berbisik, dan jika memekik akan membentur banyak dinding dalam ruang gema. Ketika kita masih percaya pada puisi, suara tak akan kehilangan jejak, juga dalam nurani yang sering kali tinggal hampa. Benarkah?

Komentar