Langsung ke konten utama

JILFest 2011 Mengangkat Citra Sastra Indonesia Di Dunia Internasional

E. Syahputra
http://www.sumbawanews.com/

“Syair ini kupersembahkan untukmu/tatkala malam memekat langkah sang lautan/Cinta telah bertarung kembali dengan jaraknya/engkau nian terlukis di saat ombak.” Bunyi salah satu bait dari puisi cinta Leonowens SP yang berjudul “Ivory” saat dibacakan pada pembukaan The 2nd Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2011 di Gedung Kesenian Jakarta (7/12).

Selain dihadirkannya Leonowens SP dalam The 2nd JILFest 2011 tersebut, juga hadir sederet nama sastrawan nasional yang mengisi acara di malam itu seperti Cecep Samsul Bahri sebagai pembawa acara, Sutardji Calsoum Bachri, Abdul Karim Ibrahim, Ahmad Syubanuddin Alwy, Yanusa Nugroho, Nana Rizki Susanti.?Juga ikut hadir peserta luar negeri yang mengisi acara, yaitu Jeffri Arif asal Brunei Darussalam, Wang Xi dari Republik Rakyat China, Werner Schulce dari Austria.

Kesuksesan The 2nd JilFest 2011 diselenggarakan atas kerjasama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Komunitas Sastra Indonesia, dan Komunitas Cerpen Indonesia, Ahmadun Yosi Herfanda sebagai ketua panitia pelaksana. Acara juga diisi dengan laporan Kepala dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman, sambutan dari Deputi Gubernur Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. Sukesti Martono, pengumuman pemenang sayembara penulisan cerpen, peluncuran buku karya sastra peserta JILFest 2008 dan 2011, serta pentas sastra Jawa Macopatan oleh grup Mocopat Indonesia.

Keesokan harinya (8/12) beberapa agenda acara The 2nd JILFest 2011 dilaksanakan workshop penulisan cerpen, puisi, dan musikalisasi puisi dengan menghadirkan Acep Zamzam Noor, Diah Hadaning, Jamal D. Rahman, Zen Hae, Triyanto Triwikromo, Joni Ariadinata, Ane B. Neh, Shobir Purwanto. Pembacaan puisi juga diisi oleh beberapa penyair, seperti Chavchay Syaefullah, Ahda Imran, Habiburrahman El Shirazy, Dimas Arika Miharja, Jumari HS, dan penyair-penyair dari berbagai daerah lainnya.

The 2nd JILFest 2011 dilaksanakan hingga tanggal 9 Desember dengan beberapa agenda kegiatan seperti pertunjukan seni budaya Indonesia, seminar sastra internasional, penerbitan buku, serta wisata budaya.

12/11/2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.