Penyair pun Berpesta

Adhitia Armitrianto
http://www.suaramerdeka.com/

DOROTHEA Rosa Herliany (Magelang), Sosiawan Leak (Solo), dan Martin Jankowski (Berlin, Jerman), Jumat (21/7) malam, telah menghibur ratusan penonton di auditorium Univesitas Muria Kudus (UMK).

Namun duet Leak dan Martin saat membacakan puisi “Vorortzug Jakarta-Bogor (Kereta Api Jakarta-Bogor)” agak terganggu. Sebab, Leak mendapati halaman kosong dalam buku yang dibacanya.

“Wah, maaf nih,” cetus Leak sambil meminta buku Martin. Para penonton tergelak sebentar, lalu kembali menikmati puisi yang menceritakan suasana di atas kereta api Jakarta-Bogor. Leak dan Martin membaca puisi itu bergantian dalam tempo cepat.

“Lalu datanglah/pengamen dengan gendang/penjual tahu dengan bungkus-bungkus tahu/penjual air minum dengan ember berisi es/penjual rokok dengan rokok.”

“Kereta Api Jakarta-Bogor” itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Katrin Bandel. Martin membaca dalam versi asli bahasa Jerman, sedangkan Leak membaca versi terjemahan. “Itu disengaja agar penonton tahu keistimewaan bunyi puisi Martin saat dibacakan dalam versi asli,” ujar Leak.

Martin lahir pada 1965 dan dibesarkan di Jerman bagian timur. Tahun 2002, atas undangan Rendra, dia mengikuti Festival I Puisi Internasional Indonesia. Sejak saat itu dia sering berada di Indonesia.

Membaca Indonesia

Kudus menjadi kota keempat yang dikunjungi ketiga penyair itu. Sebelumnya mereka mendatangi Sumenep, Surabaya, dan Surakarta. “Kami sepakat berkeliling membawa tajuk ‘Membaca Indonesia’,” ujar Leak. “Martin melalui puisi dalam buku Detik-detik Indonesia memang menyoroti kepedihan Indonesia,” ujar sastrawan Triyanto Triwikromo yang jadi pembicara pada sesi diskusi.

Puisi-puisi itu lahir saat Martin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia. Dia mengenang berbagai momen itu dengan menuliskannya dalam bahasa puisi sederhana. Triyanto menyatakan bahasa Martin sedikit berbeda dari kecenderungan penyair di Indonesia yang cenderung rumit.

27 Juli 2006

Komentar