Sajak Kritik Sosial di Tengah ‘Tarung Penyair’

Ahmadun Yosi Herfanda*
Republika, 14 Sep 2008

stafku, stafku
ada yang bekerja setengah hati
ada yang bekerja semaunya sendiri
ada yang tak suka apel pagi
ada yang pagi-pagi sudah di kedai kopi
ada yang takut diminta mewakili

stafku, stafku
bila aku ada, banyak yang setor muka
bila aku ke luar kota,
ada yang tak masuk kerja…

Jika sajak-sajak kritik sosial di Indonesia selama ini rata-rata mengeritik penguasa dan atasan, beda dengan sajak karya Suryatati A Manan di atas: mengeritik bawahan. Maklum, penulisnya seorang walikota (Tanjungpinang), yang memang ingin meluruskan ‘budaya kerja’ bawahannya.

Dan, meski kritik Suryatati tajam, tak ada yang marah, karena disampaikan melalui puisi. Hadirin justru tertawa-tawa saat sajak panjang berjudul Stafku tersebut dibacakan di tengah acara Tarung Penyair Panggung di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman, Kota Tanjungpinang, Rabu (27/8) malam lalu.

Malam itu, 10 penyair unggulan Tanjungpinang memang sedang diadu keandalan mereka dalam membaca sajak di panggung. Suryatati tidak ikut bertarung, tapi sajak-sajak kritik sosialnya bertabur di panggung. Selain dibacakan sendiri (puisi di atas), ke-10 petarung juga membacakan masing-masing satu puisi karya Suryatati selain membacakan satu karya mereka sendiri.

Sepuluh penyair terkemuka Tanjungpinang yang bertarung itu adalah Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, Hoesnizar Hood, Lawen Newal, Teja Alhabd, Bhinneka Surya, Efiar M Amin, Said Parman, Safaruddin dan Heru Untung Laksono. Mereka dipertemukan dalam satu panggung untuk menguji kemampuan mereka dalam membaca puisi.

Sama-sama hebat, dengan karakter puisi dan tampilan masing-masing. Dan, seperti dikatakan ketua panitianya, Asrizal Nur, itulah beda antara penyair-penyair Tanjungpinang dengan penyair-penyair daerah lain. Penyair dari daerah lain, meski karyanya bagus, belum tentu terampil membaca sajak di depan publik, sedangkan para penyair Negeri Pantun itu rata-rata bagus.

Tak salah mereka tumbuh di kampung halaman presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri yang memang memiliki tradisi lisan yang sangat kuat, yakni tradisi berpantun. “Wah, bagus semua. Sulit memilih siapa yang terbaik,” kata Hamsad Rangkuti, ketua dewan juri tarung penyair itu.

Tetapi, karena ini pertarungan, alias lomba, harus ada yang menang dan ada yang kalah. Dewan juri harus menentukan siapa juaranya. Maka terpilihnya Teja Alhabd sebagai juara pertama, disusul Hoesnizar Hood (juara kedua), dan Tusiran Susena (juara ketiga). Sedangkan Lawen Newal dan Machzumi Dawood terpilih sebagai juara harapan. Selain juara kedua, Hoesnizar juga terpilih sebagai juara favorit pilihan penonton.

Sebagai sang juara, Teja mendapatkan hadiah Rp 10.000.000, Hoesnizar Rp 8.000.000, dan Tusiran Rp 6.000.000. Para juara harapan menerima masing-masing Rp 4.000.000. Uniknya, peserta yang kalah pun mendapatkan hadiah, yakni uang tunai masing-masing Rp 3.000.000. Dan, sebagai juara favorit, Hoesnizar mendapat tambahan Rp 5.000.000. Sang walikota agaknya memang sengaja ingin memberikan apresiasi yang layak kepada semua peserta, para penyair yang selama ini ikut memajukan tradisi sastra di Tanjungpinang.

Dipimpin oleh seorang walikota yang juga penyair, tradisi bersastra di Tanjungpinang memang menjadi sangat hidup. Penyair, sastrawan dan birokrat, bersinergi untuk memajukan seni-budaya daerahnya. Tradisi berpantun juga sangat hidup dan marak di masyarakat, sehingga belum lama ini Tanjungpinang mendeklarasikan diri sebagai Negeri Pantun.

Sebagai kota yang kental dengan kebudayaan Melayu, Tanjungpinang tak henti-hentinya menggelar kegiatan sastra-budaya, tidak hanya tingkat lokal, tapi juga nasional, dan bahkan internasional, seperti Festival Pantun Serumpun. Apalagi, Tanjungpinang memiliki sastrawan legendaris, yakni Raja Ali Haji, sang pencipta Gurindam Duabelas, yang dimakamkan di Pulau Penyengat.

Menurut Asrizal Nur, tarung penyair ini dilaksanakan atas apresiasi pemerintah kota Tanjungpinang terhadap dedikasi penyair dan sekaligus merangsang giatnya kembali tradisi pembacaan puisi yang atraktif, yang dulu telah dimulai oleh Sutardji Calzoum Bachri dan almarhum Ibrahim Sattah, dua penyair besar dari Kepulauan Riau (Kepri) yang pernah tinggal di Tanjungpinang.

Selain tarung 10 penyair, panggung juga dimeriahkan baca puisi jemputan oleh Hj Suryatati A Manan (walikota Tanjungpinang), Aida Ismed (anggota DPD asal Kepri), Bobby Jayanto (ketua DPRD Tanjungpinang), dan Mastur Taher (wakil bupati Bintan) — yang ternyata juga para pembaca puisi yang jempolan.

Sinergi antara penyair dan birokrat, serta saling apresiasi antar-kedua pihak, terasa sekali dalam acara ini. Para penyair mengakui peran walikotanya dalam memajukan sastra, dan sang walikota mengakui peran penyair dalam ikut melempangkan jalan birokrasi dan politik di daerahnya. Kata-kata John F Kennedy bahwa bila politik bengkok maka puisi akan meluruskannya, terasa sekali di Tanjungpinang.

Karena Tanjungpinang memiliki banyak penyair, aku Suryatati, politik yang bengkok bisa diluruskan, sehingga iklim politik dan birokrasi dapat berjalan dengan baik-baik saja.

* Ahmadun Yosi Herfanda, Wartawan Republika dan Ketua Umum KSI
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/wacana-sajak-kritik-sosial-di-tengah.html

Komentar