Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)

Lahir di Denanyar Jombang pada tahun 1941, merasa nggak pernah lama kumpul dengan ayahnya, karena sang ayah jadi menteri agama di Jakarta. Lucunya, bapaknya tak pernah mau sekolahkan di madrasah tetapi di sekolah rakyat, sekolah umum. Dari sekolah dasar ia ke SMEP, baru setelah itu ke pesantren.

Dia kuliah di al-Azhar Mesir. Menurut pengakuannya ia bosan dengan formalisme (sementara itu seorang temannya dengan mudah mengejek dan mengomentari…bosan atau tidak mampu mengikuti kuliah?…) di universitas tersebut dan lari ke Irak di Universitas Baghdad. Di situ ia merasa bahwa agama benar-benar sebagai objek studi, waktu itu ia berumur 26 tahun dan 4 tahun ngendon di sana. Lantas pulang ke tanah air, dan sekarang merintis pesantren Ciganjur. Muridnya datang pergi, belum bisa dikatakan. Sebab bikin pesantren dalam sepuluh tahun pertama jangan mengharap muridnya lebih dari belasan, katanya.

Abdurrahman Wahid orangnya ceria, gemuk tapi kesan lambannya hilang begitu berbicara dengan Jawa medoknya, fasih, lancar, dan tidak formal, tapi bagi yang formal pikirannya, bisa memerahkan telinga.

Tolong deh, pak kiai jelaskan tentang sastra Islam? Misalkan tentang adanya keharusan bersumberkan Al-Qur’an atau Hadis. Tentu saja lebih afdol kalau digambari latar belakang kesejarahan.

Sebelum saya menjelaskan pendirian saya, kita harus melihatnya dari dua jurusan perkembangan studi, sebagai pengertian itu sendiri dan kedua adalah pemahaman kita dari perkembangan selama ini.

Kalau kita lihat perkembangan historis, sebenarnya sastra Islam bagian dari peradaban Islam. Jadi, sastra bagian dari peradaban. Dan peradaban itu adalah benteng yang agung dari kebudayaan. Kalau diikuti ini lantas sebenarnya kita bisa melihat bahwasanya peradaban Islam itu suatu gabungan yang mempunyai dua sikap yang utama, di satu pihak watak eklektik dari peradaban Islam itu, yaitu watak yang mampu menyerap, menyerap dari mana saja! Umpamanya kalau kita baca fabel-fabel dari al-Zais, maka banyak unsur-unsur yang diambilkan dan Yunani, Romawi, India itu dalam karangannya yang berjudul Kitabulhayawan yang terdiri dari empat jilid yang tebal. Itu merupakan kisah binatang yang terlengkap, dan di dalamnya kita bisa melihat dari sudut pengetahuan umum, sastra, juga pengetahuan kejiwaan orang dan sebagainya. Nah….di sinilah al-Zais meramu kebudayaan yang berbagai lalu menjadikannya bagian-bagian dari peradaban Islam.

Lain kita lihat yang namanya Abu Hanifah seorang ahli fikih. Dalam bayangan kita seorang ahli fikih itu mesti seorang yang sarungan, memakai jubah yang tak pernah keluar rumah hanya menekuni soal-soal akhirat dan dunia ini. Tetapi, kenyataannya ia seorang arsitek, yang kebetulan ia memborong pembuatan pagar kota Baghdad. Nah! Di situlah ia ketika membuat lengkung gapura (Arcade) ia mengambil dari daerah Asia Tengah. Bukan dari Arab, mudahnya dari Afganistan, Samarkand Rusia atau daerah yang disebut beyond the river, daerah Iran paling timur. Abu Hanifah mengambil itu dan dia dipuji-puji dalam suatu kronikel sejarah. Ternyata lengkungan gapura Hanifah itu daya tampungnya, bobotnya jauh lebih baik daripada lengkungan Arab. Padahal waktu itu daerah tersebut bukan daerah muslim. jadi mudahnya ia mengambil arsitektur non-Muslim dan memasukannya menjadi arsitektur Islam.

Satu contoh lagi seorang yang bernama Abu Amrin Ibnu Alla’ adalah seorang ulama yang terkenal asketik sekali. Dia salah seorang dari sepuluh pembaca Al-Qur`an yang sah (cara membaca Al-Qur’an itu ada sepuluh gaya, jadi ada majroha ada majrehe…jadi intonasi dan diksinya). Di antara sepuluh itu ada Abu Amrin itu. Lha, Abu Amrin itu salah seorang musikolog yang mengambil musik India. … Kita semua tahu musik India bersumberkan pada agama Hindu yang panteistik nafasnya.

Al Khalil ibnu Ahmad adalah seorang peletak dasar bahasa Arab, karena dia penyusun kamus yang pertama dalam bahasa Arab, kamus Ain dalam dua jilid. Menarik sekali di dalam kamus tersebut ia membagi ilmu dalam sepuluh bagian. Mengikuti pembagian para ilmuwan Yunani, jadi ada fisika, metafisika, estetika, politika…… pokoknya yang bejumlah sepuluh itulah. Padahal al-Khalil itu seorang yang amat streng di dalam masalah Al-Qur`an. Ia streng dalam gramatika, sehingga jangan sampai ada penyelewengan dalam pengertian. Lho, tapi anehnya, kok ia tidak segan-segan mengambil ilmu orang Yunani? Nah, pada waktu yang belakangan pembagian ilmu al-Khalil itu mengalami satu di antara sepuluh tadi hanya menjadi ilmu agama! Kayak fikih misalnya. Tadinya tidak?

Lantas yang bernama al-Farabi seorang Filosof Islam (semua orang Islam yang belajar filsafat Islam pasti tahu itu), juga Ibnu Sina itu ‘kan jagonya filsuf Islam? Lantas kalau ditanya… apa pikiran al-Farabi tentang negara? Maka negara menurut dia adalah “negara Tuhan” jadi negara agama. Dan dia bikin buku, namanya Negara Utama. Apa yang dimaksud dia sebagai negara utama? Ternyata seluruhnya dibangun atas dasar asas-asas pemerintahan Plato. Al-Qur’an sebagai sumber, tapi kerangkanya ‘kan dari Plato?

Berarti tidak harus selalu plek dengan Al-Qur’an atau Hadis?

Nah… persis itu… materi boleh dari situ, tapi kerangka, bebas saja kita ambil. Tadi, ini yang saya katakan peradaban Islam itu yang agung, yang sudah diakui sebagai salah satu di antara peradaban dunia (Oikumene) itu mempunyai watak eklektik, mampu menyerap dan tidak takut-takut. Dengan sendirinya sastra Islam juga demikian. Sastra Islam harus mampu menyerap dan dikembangkan, dimatangkan. Dan kalau perkembangan peradaban Islam seperti itu, tidak bisa dikatakan hanya milik orang Islam saja, tetapi juga milik orang lain yang hidup dalam masyarakat Islam.

Karena itu ketika masa jaya-jayanya peradaban Islam, pendukungnya juga ada yang orang Kristen serta orang Yahudi.

Pada abad berapa itu?

Ya… mulai abad ketujuh hingga abad kedua belas, dan justru ketika Islam itu diartikan sebagai sesuatu yang sempit. Maka menjadi menurun peradaban Islam.

Tapi yang menyempitkan antara lain dari kalangan Islam sendiri?
Lha… itu masalahnya. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah, di mana sastra Islam merupakan bagian dari peradaban Islam, maka dengan sendirinya sastra Islam menjadi bagian dari humanisme universal…..

Lho, kok begitu?

Ya… sebab dengan begitu tak bisa di sekat-sekat lagi sebagai ini miliknya orang Islam dan itu miliknya orang yang bukan Islam. Peradaban Islam yang benar-benar Islam adalah suatu peradaban yang mampu mengayomi semua orang dan boleh digunakan oleh semua orang. Dalam hal ini saya mau ambil contoh kasus HB. Yassin…..

Langit makin mendung?

Bukan … itu lho….. Al-Qur’an Bacaan Mulia, terjemahannya HB. Yassin. Nah, di situ ada yang menganggap bahwa Yassin tidak memenuhi persyaratan menerjemahkan, karena dia tidak bisa berbahasa Arab. Kok berani-beraninya dia menerjemahkan Al-Qur’an?…. Di sini saya tidak memihak ke mana-mana, tetapi kalau saya ditanya bagaimana pendapat saya maka saya jawabnya begitu.

Lho, apa benar bahwa sebagai ukuran harus bisa berbahasa Arab, ‘kan Yassin cukup dewasa untuk bisa membaca bermacam-macam terjemahan, mengambil dari sini dan situ. Lagi pula itu juga bukan terjemahan resmi (standard translation). Dia ‘kan sudah bilang bahwa itu ‘bacaan” reading…Noble reading… ya artinya sesuatu bisa dibaca semua orang.

Maka sebagai konsekuensi bahwa sastra Islam bagian dari humanisme universal, pertama dia tidak boleh dibatasi penggunaannya, hanya oleh dan untuk orang Islam saja, atau hanya oleh orang yang telah diberi predikat “memenuhi syarat”. Kedua, dari proyeksi sejarah ini lain kelihatan bahwa yang mengislamkan bukan orangnya dan bukan juga rangkanya, dan bukan pula materinya yaitu Al-Qur’an dan Hadis, sebagai sumber ada dan tentu boleh digunakan. Tetapi, karena ini sastra bukan sesuatu yang sifatnya formal legalistik gitu… sumber lain juga masuk… apa salahnya? Dan tidak selalu bersumber pada Al-Qur’an juga tidak apa-apa. Sebab pengalaman beragama itu tidak mesti berqur’an dan berhadis atau berkitab-kitab. Contohnya, orang kampung agamanya dalam skala nol sampai seratus, dia menjalankan Lima saja sudah bagus. Nol dalam arti praktek keagamaan, tetapi ia merasa sebagai orang Islam, ‘kan dia sudah beragama. Sama punya hak! Begitu. Haknya sama dengan yang seratus. Kalau skalanya memang kecil dan dia dipaksa harus menggunakan sumber resmi sebagai referensi… ya nggak akan jadi.

Menurut saya pengalaman beragama, sebagai orang Islam itu mempunyai keabsahan sendiri yang tidak bersumber dari sumber resmi. Tadi referensinya dengan hidup itu sendiri.

Ini lalu membuka ke masalah yang peka, yang sekarang di Malaysia diperdebatkan lama antara Cikgu Shanon Ahmad dan Cikgu Kasim Ahmad. Menurut Kasim Ahmad definisi sastra Islam adalah, sastra yang mampu melancarkan inti atau nilai Islam, tidak usah formal. Kalau di sini bisa kita contohkan apakah yang dibikin di TVRI setiap malam Jumat itu disebut drama Islam? Di mana masyarakat Islam pemirsa di berondong dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Ataukah setiap drama yang di dalamnya memancarkan nilai-nilai Islam itu sudah bisa dikatakan drama Islam! Itu pikiran saya.

Di Malaysia pernah ada suatu simposium tentang itu, dan di sini terjadi perdebatan antara saya dan Shiddiq Baba seorang Sekjen Hakim kuliah Islam di Malaysia. Di situ dia mengatakan bahwa ukuran dari sastra Islam itu adalah aplikasinya, apakah aplikasinya itu Islami menurut dia. Jadi umpama saja, kalau beribadat apakah sastra Islam itu lalu menunjukkan jalan kepada peribadatan yang menuju salatnya. Jadi kalau tidak menunjukkan itu ya tidak Islam. Sehingga dalam sastra Islam, tidak mungkin membicarakan tokoh seorang pelacur.

Saya tidak setuju dengan pandangannya, lantas saya kemukakan bahwa perasaan keagamaan seorang pelacur belum tentu kalah dengan seorang yang bersembahyang di masjid. Sebab, begini, intensitas pengalaman beragama itu ada dua ekspresinya. Ada ekspresi implisit ada ekspresi eksplisit. Yang implisit lebih ke dalam sedangkan yang eksplisit mengikuti ajaran agama secara tuntas. Dua-duanya ini menurut saya punya hak yang sama untuk diekspresikan, dan sama-sama Islam.

Tentu saja dengan catatan bahwa asal ia menggambarkan secara tepat bahwa inilah visi Islam. Sebab begini, Nabi sendiri dalam hadis mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan di dalam Al-Qur’an itu disebutkan bahwa ilmu itu ada dua macam. Yaitu ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Yang tidak bermanfaat harus dijauhi dan dibuang, sedangkan yang bermanfaat yang dipakai. Jadi, dengan ini watak eklektisisme ini tidak terlalu liberal sepenuhnya sehingga menjadi sekular, melainkan ada tolok ukurannya yaitu pada watak normatifnya agama Islam. Tapi tidak berarti harus membelenggu atau tradisionalisme legalistik, bukan begitu…. tapi lebih merupakan tolok ukur yang moral. Dan tolok ukur moral ini antaranya adalah manfaat dan keseimbangan. Sebab sebaik-baiknya perkara, kata Nabi itu, yang berada ditengah.

Moderat…..?

Yaa… Jadi keseimbangan ini menyangkut pada kehidupan kita dalam pola konsumtif dan produktif. Yang komsumtif saja tidak benar, yang produktif saja juga tidak benar. Idealnya adalah adanya keseimbangan keduanya. Ini menurut saya adalah ukurannya. Pengalaman-pengalaman agama dalam norma-normanya yang luas yang membentuk pribadi manusia, yang menurut saya memberi watak Islami kepada penerapan yang dilakukan Islam.

Tolong deh dicontohin pengarang Islam baik yang dalam negeri atau yang luar negeri?

Kita harus bagi dua yaitu yang mementingkan penampilan impuls-impuls Islam, dan kedua yang formal legalistik. Contohnya misalnya karya Jamil Suherman, yang menampilkan kehidupan para santri di pesantren, di mana di situ ada unsur formal legalistiknya, jadi di situ digambarkan kehidupan yang baik menurut pesantren itu begini, tapi yang begini tidak kalah indahnya dengan sastra biasa asal mampu menggarap.

Tetapi religiositas bisa dicari pada hal-hal yang kelihatan bukan agama, misalnya jalan tak ada ujung karya Mochtar Lubis itu. Itu jelas bukan novel agama, itu novel psikologis. Kisah guru Isa yang impoten, dan menemukan kejantanannya lagi setelah hilang ketakutannya. Ini menurut saya tidak kurang religiusitasnya dengan karya Hamka yang bejudul Di bawah Lindungan Ka’bah.

Taufiq al-Hakim seoarang sastrawan besar Arab yang berkali-kali dicalonkan orang Arab untuk menerima Hadiah Nobel, itu menceritakan problem kejiwaan orang muslim pada masa transisi dari tradisional ke masa modernisme.

Sastrawan yang bagus lagi bernama Majid Mahkos, yang mengisahkan orang-orang miskin, di samping itu novelnya ada juga yang sejenis dengan Somerset Maugham itu jadi ada suspense-nya begitu. Novelnya yang mengharukan bagi saya adalah yang berjudul Lorong-lorong Sempit. Nah…. dari judulnya saja sudah tergambar, apa maunya pengarang. Ada erotisme versi orang miskin, mereka tiada pilihan lain menjalani hidup seperti itu. Kesadaran beragama itu muncul… tergambar… dan mengambil bentuknya yang tidak legal formalistik. Tapi, yang formal dan indah ada juga, seperti pengarang yang bemama Mahmod Atas al-Akhad, yang mengisahkan sahabat-sahabat Nabi itu, berserial …. Jelas sekali di situ yang digambarkan perang-perang Islam yang termasyhur, tatanan pemerintahan zaman dulu.

Kalau sastrawan Indonesia yang karyanya bernafaskan Islam baik yang formal atau yang tidak ..

Saya ambil contoh Navis…. Amir Hamzah…

Khairil Anwar?

Semacam Khairil Anwar itu, untuk orang Islam Indonesia yang santri sulit untuk menerima Khairil sebagai sastrawan Islam, tetapi saya sendiri menerimanya ketika ia berbicara tentang Tuhan dan ia beragama Islam ya… itulah ekspresi dari sastra Islam.

Kalau Taufiq Ismail, bukankah ada tanda formalistik dalam karyanya yang muncul akhir ini?

Ya… memang

Tolong deh, diuraikan tentang sufisme…………

Ya sufisme merupakan jembatan, tidak sepenuhnya legal formalistik, justru legal formalistik yang selalu harus-harus… jangan…jangan dicounter dengan pendekatan dengan Tuhan, familiarity, keakraban dengan Tuhan yang bisa menembus benteng harus… jangan-jangan… tadi dengan suatu lompatan. Artinya begini, oleh orang sufi itu inhern dalam pemikiran, bahwa penyelamatan itu letaknya di tangan Tuhan semata. Kita harus mampu memetik rasa cinta kepada Tuhan untuk memahami kapasitas Tuhan sang penyelamat itu. Nah, itu sebenamya ciri-ciri agama yang lahir di Timur Tengah, misalnya Yesus Sang Penyelamat, Abraham penyelamat, Yasep penyelamat, bahkan David yang bisa membunuh Goliat saja dianggap penyelamat. Itu pola Tunur Tengah.

Lain dengan agama Asia timur penyelamat dilakukan oleh subjek itu sendiri bukan Tuhan, misalnya Buddhisme, jadi pada dasarnya agama Asia timur itu tidak butuh Tuhan. Misalnya, Taoisme dan lain-lain. Di Asia Barat itu, Tuhan sebagai penyelamat, karena manusia itu ya objek ya subjek dari kehidupan ini. Nah, sufisme mewarisi tradisi Timur Tengah, dan itu berarti bahwa apa pun yang Anda perbuat, apakah Anda pengikut seratus persen legal formalistik atau pengikut syariah yang paling top, apakah Anda itu orang suci yang paling memelihara kehidupan dan semua kewajiban dalam Islam Anda penuhi dan semua larangan Anda jauhi, belum tentu Anda di terima oleh Tuhan. Sebab penerimaan itu ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh Anda. Ini inti dari sufisme….. yang bisa menjembatani manusia dengan Tuhan, hingga Tuhan itu gampangnya mau tergerak untuk menyelamatkan manusia. Itu adalah cinta anda kepada tuhan, karena itu akan membuat Tuhan cinta kepada Anda. Karena itu cinta dan kasih merupakan elemen terpenting dari sufisme, maka di sini saya tekankan tentang kesalehan orang-orang sufi. Kasalehan yang bukan karena legal formalistiknya.

Saya melihat ada kecenderungan bersufi-sufi pads sastrawan kita yang agamanya Islam, akhir-akhir ini.

Kecendrungan tersebut saya pikir suatu kedewasaan, dan ini sesuai dengan kebutuhan hidup modern, bagaimanapun juga dunia modern itu ‘kan menyembunyikan ketegangan antara rasio dengan wahyu. Sebab, ada aspek-aspek kehidupan yang harus diikuti secara rasional sampai tuntas. Umpamanya saja soal biologi, di mana biologi harus mampu sampai ke bioengineering, di mana manusia di kotak-katik padahal itu hak Tuhan, lho….. Nah, dalam hal ini bagaimana tuntutan rasio yang tuntas, kalau perlu arepe reko-reko motret Gusti Allah…. ha haa pada hal itu ‘kan kekurangajaran, kalau ditinjau dari sudut agama…. lha ini bagaimana? Pada hemat saya jembatannya ya sufisme itu.

Dengan sufisme orang kembali kepada kebesaran Tuhan, dan dengan tidak mengingkari kehadiran dunia yang ada sekarang. Orang sufi berkata bahwa ayat Al-Qur’an itu begini “akhirat itu lebih baik dan lebih langsung, bukan berarti dunia tidak baik? Ha ha ha…., mereka selalu begitu. Ukurannya ‘kan jadi jelas…”

Konon penduduk Indonesia 90% beragama Islam, dan hampir setiap kecamatan kalau tak silap pasti ada pesantrennya. Lantas, kenapa kok tidak banyak penyair Islam yang muncul. Lagi pula Al-Qur’an sendiri dalam bentuk syair bukan prosa.

Begini ya.., sebabnya sangat kompleks, di samping menyangkut soal bahasa juga kondisi sosiologis berperanan pula. Tapi, saya melihat dalam perspektif jangka panjang. Kalau kita teliti, ternyata ada penyempitan ilmu. Dimensi ilmu dalam Islam disempitkan. Itu sudah saya jelaskan dengan contoh seorang al-Khalil yang dengan keterbukaannya dengan tanpa kehilangan asas Islamnya menerima ilmu para filsuf Yunani. Semenjak lima atau enam abad yang lalu ilmu Islam itu dipreteli. Sehingga macam musik dan sastra itu tak termasuk. Padahal kalau mau peradaban Islam menjadi bagus, kuat, seharusnya ya ada. Dan pesantren hanya mengajarkan yang itu. Ada contoh sastrawan Islam terkemuka yang bernama al-Ma’ari yang bergelar penyair pahit, dia jenius, pintar dalam membangun sastranya….. peka begitu. Tapi, beliau ini buta sejak kecil karena suatu penyakit. Nah, dalam syairnya ia memaki-maki Allah, dan maki-makian al-Ma’ari tadi tak kalah indahnya dengan syair beliau yang memuji Tuhan.

Dan yang begini ini, kalau masuk pesantren ‘kan kena sensor, tinggal yang ngalem atau memuji-memuji saja yang bebas, seperti syairnya Abu Nuas seorang penyair yang sarkastik, tetapi dipakai di pesantren syairnya yang ini… Aduh Allah, aku sebenarnya bukan orang yang patut jadi ahli surga, tapi aku juga tidak kuat di neraka. Nah… jenis yang gitu yang selamat, lainnya dikena sensor…. haha haha. Sebetulnya sih tidak dilarang atau di sensor, cuma tidak diajarkan, dan bahasa bakunya ‘kan bahasa Arab. Jadi, perlahan-lahan ada penurunan kualitas dan penciutan cakrawala.

Bagaimana pendapat saudara dengan puisi Emha Ainun Nadjib?

Kalau Emha ‘kan jelas Islam dalam arti membicarakan Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan. Doa, otomatis itu formal. Padahal yang diperlukan yang tidak formal itu, Sutarji misalnya itu tidak pernah formal, tapi dan dalam syairnya ia menyebut-nyebut Allah, Tuhan, tapi tidak membikin definisi resmi yang mapan. Sebagai ilustrasi, pernah ia bilang kepada saya bahwa ia begitu penuh “Islam” nya sehingga ia melihat sungai pun, ia beranggapan bahwa sungai itu Islam, karena itu ia tidak berani berak di sungai…. ha ha ha. Yaitu, menurut saya, itu ekspresi keagamaan dia, kalau benar, ia memang merasa itu. Dan yang begini ini sebetulnya yang akan bisa berkembang.

Sebab, bagaimanapun juga sastra model Taufiq Ismail atau Emha Ainun Nadjib itu membutuhkan perbendaharaan yang cukup. Tetapi, nanti dengan matangnya kita menyerap informasi dari negara Arab, yang tidak lagi menggunakan bahasa Arab pesantren (..Kan Arab pesantren itu bahasa klasik…. bukan Arab sehari-hari, bukan bahasa Arab pasaran…. sekarang ya Timur Tengah ini merupakan sumber pengiriman mahasiswa kita yang belajar agama itu ‘kan banyak sekali…) baik dari lingkungan pesantren atau tidak dengan sendirinya kalau mereka nanti pulang, akan membawa sesuatu yang baru yang berbeda dengan mbah-mbah nya yang dulu.

Ini saya rasakan sendiri dengan angkatan-angkatan sekarang. Bedanya begini…. angkatan sekarang ini berangkat ke Arab belum “siap” dalam pandangan ilmu agama. Sebab begini… anak-anak ini ada yang nakal, daripada menjadi korban ganja oleh bapaknya dikirimkan ke Mesir, dengan sendirinya masalah bahasa masih belum baik, sehingga belum siap menerima ilmu agama. Saya lain, ketika berangkat saya umur 23 tahun, saya sudah menyelesaikan gramatika bahasa Arab 1000 baris yang saya sudah hafal. Sehingga sampai di sana langsung nggandeng dengan ilmu-ilmu Islam yang ada di sana.

Lha anak sekarang! Karena ilmu agama belum siap, mereka menerima ilmu yang lain, termasuk sastra…baik. sehingga ada keragaman yang besar yang mereka dapat di sana. Angkatan saya yang jelas begitu itu, Kiai Mustafa Bisri yang ikut baca puisi Palestina dulu itu (maksudnya pembacaan puisi Palestina di TIM. red) dia ini yang mengikuti sastra Arab dengan rajin, sedangkan saya sambilan saja. Nah, yang begitu itu nanti akan banyak.

Tapi, jangan lupa nanti suara militan Islam juga akan keluar dengan tolok ukur yang sempit dan akan berhadapan dengan kelompok yang tidak terlalu formal dalam mengembangkan ekspresi Islam. Nanti akan tembak-menembak.

Dan ini kalau tidak dimanage yang baik oleh pemimpin umat, maka ini bisa berakibat fatal bagi kelompok yang mau mencoba mengekspresikan agama secara bebas.

Pasti kalah?

Ya pasti kalah dan dia akan lari dari agama. Dan oleh karena itu, ini merupakan tugas pemimpin agama Islam itu sendiri, harus mampu ngemong mereka.

Termasuk saudara yang aktif di DKJ ini….

Mudah-mudahan bisa berfungsi begitu, selama ini sebagai orang yang berkecimpung dalam ilmu agama dan kebetulan menyinggung bidang lain, bidang pemikiran budaya secara umum, maka tugas saya itu mempertahankan kembelingan dan kebandelan terhadap interogasi dan penghakiman dari establisment agama.

Sumber: http://gusdurian.net/opini/mambaulhikmah/sastra-islam-versus-penyempitan-ilmu-islam/

Komentar