Langsung ke konten utama

Sastra Pesantren dan Kosmopolitanisme Islam

Syarif Hidayat Santoso
Kompas Jawa Timur, 2005

Terdapat problem dalam merumuskan apa yang dimaksud dengan sastra pesantren. Disatu sisi, sastra pesantren dimaknai sebagai alur keislaman profetik dalam bersastra ria pada masa Arab klasik, sementara ada pula yang memberi limitasi sastra pesantren hanyalah karya yang dihasilkan para santri (Kompas Jatim, 6/9/2005). Tapi, kedua tataran ini jelas menunjukkan bahwa sastra pesantren merupakan kesusasteraan yang diikat dalam nuansa Arab-Islam plus penambahan area dari lingkungan pesantren atau minimal bagi kalangan yang dekat dengan pesantren.

Definisi seperti ini tidaklah salah, walaupun secara futuristik, sastra pesantren akan terbelit persoalan definisi semata. Definisi yang hanya berkutat pada radius sastra pesantren sendiri. Sejujurnya, definisi tersebut akan mengacaukan kreatifitas dalam mengembangkan sastra pesantren sendiri ketika kultur menulis kaum santri muda mulai bergelora. Definisi parsial seperti ini justru berpeluang secara primordial mereduksi ekspansi sastra pesantren dalam relasinya dengan kosmopolitanisme Islam.

Sastra pesantren hanya bersandar pada entitas Islam, artinya dia akan dimaknai hanya sebagai alokasi karya orang Islam, atau apakah sastra tersebut Islami atau tidak. Walaupun, nilai Islam menggurita sebagai ruh dalam setiap pentahbisan sastra pesantren, tapi bukankah nilai-nilai berbasis kultur ini hanyalah tafsir kontekstual dari setiap perjalanan kesusasteraan sendiri.

Sastra Arab pra Islam bertutur tentang indahnya padang sahara, kehidupan nomaden para Bedouin (Baduwi) serta honoritas para pahlawan suku. Syair Arab pada masa ini lazim dinamakan muallaqat, karena tergantung di dinding ka’bah. Pada masa kegemilangan Islam kemudian diwarnai dahsyatnya sufisme dalam setiap tradisi syair. Disini bergelimang para sastrawan seperti Ibnu Hazm, Al Asfahani, Jalaludin Rumi, Abu Yazid Al Bustami dan lainnya. Pada era kebesaran Islam ini, dijumpai kenyelenehan para penyair Arab seperti Abu Nuwas (757-815) serta penyair sufi Omar Khayam (wafat tahun 1132) yang terjerat skandal anggur dan cinta dalam setiap ekstase syairnya. Gemerlapnya keraton daulah Abbasiyah menjadi inspirasi lahirnya sastra glamour ini. Tapi, Abu Nuwas dan juga Omar Khayam toh secara populer tersebut sebagai sastrawan Islam.

Nilai-nilai sastra memang dilematis. Disatu sisi dia harus memegang pakem nilai-nilai sebagai konstitusi tak resminya. Sementara disisi lain, keliaran jiwa sastra justru membutuhkan penyaluran yang bebas dari penjara nilai-nilai. Persoalan sastra pesantren modern juga akan melibatkan hal semacam ini. Karya-karya kalangan pesantren seperti Ahmad Tohari dengan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruknya, Geni Joranya Abidah El Khaleiqy atau “Kuda Ranjang” karya penyair muda Binhad Nurrahmat sulit untuk dikatakan sebagai karya “Islami”. Pasalnya, karya mereka terkesan jauh dari area dan bahasa pesantren. Berbeda dengan karya almarhum Hamka misalnya, secara otomatis sampai saat kini mendapat legitimasi sebagai karya Islam hanya karena menggunakan pondasi Religiusitas yang diamini masyarakat.

Historisitas klasik Islam menunjukkan bahwa Sastra tidak melulu dihasilkan para ulama. Fenomena Abu Nuwas Al Hani, Abu A’la Al Ma’ari, serta penyair non fikih dan tasawuf lainnya masa itu mengajarkan bahwa karya sastra tidak harus lahir dari dunia yang dilegalisasi sebagai wilayah religius. Bahkan nilai-nilai Islami sering kita jumpai hampir secara total dalam karya sastrawan Kristen keturunan Lebanon, Kahlil Gibran. Dengan demikin, para penyair “vulgar” seperti Binhad Nurrahmat, ataupun karya mbeling Abidah El Khalieqy yang getol mengkritik patriarkisme harus pula disertakan sebagaimana literatur klasik menyertakan Abu Nuwas. “Erotikata” pada karya Binhad, menurut saya, dapat disamakan dengan “mabuk anggurnya” Abu Nuwas atau puncak ejakulasi cintanya Omar Khayam. Karya sastra semacam ini tidak saja dapat bereksplorasi lebih dalam dalam menjelajahi agama, tapi dapat dimaknai sebagai protes kreatif keanggunan seorang sastrawan.

Dengan demikian, sastra kembali lahir sebagai ekspresi kegelisahan atas kebakuan dan bukannya pembela sejati terhadap kemapanan. Para santri akan mereferensi dunia sastra tanpa batas serta akan mengidamkan sebuah tradisi sastra yang akrab dengan lingkungan mana saja. Sastra pesantren tidak bakalan menjadi eksklusif serta menjajah nalar berpikir kaum mudanya sendiri.

*) Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember (UNEJ)
Dijumput dari: http://syarifhidayatsantoso.wordpress.com/2011/02/09/sastra-pesantren-dan-kosmopolitanisme-islam/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com