Dicederai Kerusakan Alam

Beni Setia *
http://www.suarakarya-online.com/

Romantisme Hardho Sayoko (HS) cq sajak-sajaknya yang terkumpul dalam buku puisi, Penyair Negeri Rembulan (Teras Budaya, Agustus 2011), membuat saya teringat pada etos kreatif dari seorang Martopangrawit, seperti dirumuskan Sindunata pada esei “Martopangrawit, Empu Gending: Perasaan adalah Pangkal Utama dalam Menggubah”, Cikar Bobrok (Kanisius dan Bentara Budaya, cet. 6/2002), hlm. 51-57.
Ada pola kreatif senada di diri HS seperti terlihat di dalam buku setebal 140 halaman, dan terbagi atas dua tangkangan itu, “Sajak-sajak Perjalanan”, terdiri dari 60 sajak, dan “Bukan Catatan Gasal”, sekitar 56 sajak. Etos kreatif dari Martopangrawit itu amat tergantung dari eksistensi pengalaman romantis otentik pra-cipta, sehingga tidak lagi bisa dibedakan: apa ia Cassanova yang pangrawit atau pangrawit yang playboy. Sementara HS itu hanya seorang anak desa yang kembali ke kampung dengan kenangan romantis tentang suasana desa masa lalu, dan terluka saat menemukan fakta riil bahwa semuanya itu telah berubah.

Kita simak sajak “Masjid Jami Kedunggalar”, yang ditulis bulan Ramadhan 1984. Sering dahulu malam-malam kutafakur di sini / bercakap denganMu kadang sampai dini hari / yang di kembara membuatku selalu ingin mengulangi / datang tanpa beban risi dengan / kesederhana-an yang kumiliki // (di rumah-Mu megah seribu mata terbakar prasang-ka / menatapku setiap kudatang dengan rindu dan keluhku / Pada-Mu …). Lantas bandingkan dengan sajak senada, yang ditulisnya di 28 Nopember 2008, “Hutan Kedung Mileng” ini: Tak lagi kutemukan pepohonan yang dahulu terpeluk / kedua belah tangan bapak yang perkasa di sana / tak juga kutemukan kepompong ulat di lipatan daun jati / bertapa sebelum jadi seekor kupu-kupu yang jelita / tak terlihat beningnya air yang gemericik menuju lembah // …//lantas bandingkan dengan sajak “Hutan Kulon Belokan”, yang ditempatkan disebelahnya tapi ditulis lebih dini, 8 Juli 2008. Darinya kita menemukan dua hal. Pertama, tidak terlihat ada perubahan dalam diksi dan pemilihan citra serta simbol dari era kepenyairan yang merentang 24 tahun. HS adalah HS, meski di tahun-tahun terakhir ini ia menulis puisi yang lebih panjang, meski kesulitan membandingkannya karena tak pernah membukukan sajak awalnya.

Kedua, ada kenangan dan citra romantis idealistik masa lalu, yang saat diziarahi itu membuatnya kecewa karena si diri yang mengembara diapresiasi secara tak ramah oleh orang sekampung, saat itu haluan ideologi politiknya tegas PDI, di tengah orang sekampung yang terpaksa Golkar, dan kini (malah) semua keindahan yang romantis idealistik itu sama sekali hilang. Dihancurkan oleh keserakahan dan ketidakpedulian akan kelestarian lingkungan.

Barangkali luka romantistik itu yang memsibedakan HS dengan Martopangrawit, yang romantis mriyayeni, keliling desa untuk menandai serta bercinta dengan perawan kampung. HS cuma ingin pulang, menemukan ketenteraman masa kanak seperti terbayang dalam kenangan, dan menemukan semuanya berubah, diingkari oleh orang sedesanya, dan terutama kerusakan alam sebagai ekses hilangnya kearifan lokal tentang kelestarian alam. Sebagian sajak HS itu menggarisbawahi kerusakan alam, kekinian yang kualitas lingkungannya lebih buruk dari masa lalu, masa kanak-kanak yang dimanjakan dalam kesimelipahan alam. Tapi sekaligus juga trauma kenangan, saat itu dipakai bercermin di masa kini, karena terdedahlah semua referensi romantis (alam) idealistik itu. Semua jadi khazanah diksi yang selalu tampil sebagai simbolika puitik saat mengungkapkan sesuatu dan seseorang.

Seperti yang terlihat dalam serial sajak yang mesipakai judul perempuan, baik yang langsung tersikait dengan alam seperti “Perempuan di Ladang Tebu”, atau yang hanya disipakai sebagai diksi puisi seperti dalam sajak “Perempuan Berkebaya”.

Dan justru dengan referensi puitika itu, dengan kosa simbol itu, sebagai padanan termin kosa kata: ia spontan telah mengsiejawantahkan sajak dengan pola romantis Martopangrawit, terutama dalam mensideskripsikan perjalanan yang sering dilakukan HS dengan bersepeda motor. Perjalanan membuat HS bertemu dengan tempat asing yang belum dikenalnya, menyebabkannya memasuki ruang lain yang ada memberinya sensasi rasa ingin tahu, yang lalu dimaknainya dengan romantisme kenangan di masa kanak sebagai acuan di satu sisi, dan (di sisi lain) luka kenangan masa kanak dicederai kesikinian.

Lihat sajak “Manggarai” ini, Entah berapa kali harus tersungkur / setiap mencoba bangkit dari berbagai kekalah-an / mengapa semuanya tak pernah menyahut / ketika berteriak meminta pertolongan // 1995. Ataupun sajak “Kedunggalar 2″ ini: Jika pulang lagi ke mari / kecuali lagu ratap apakahmasih tersisa /yang dahulu sendiri merenda hari / telah menyusul yang telah lama tiada // 1995.

Lantas bandingkan dengan sajak-sajak perjalanannya berikut ini “Sepanjang Kendal dan Sine”, “Hutan Sunti Begal”, “Telaga Jerudong Park”, “Grand City Hotel”, dan seterusnya. Tangkahan kedua “Bukan Catatan Gasal” merupakan catatan puitik, serangkaian puisi yang masih akan disambungnya lagi tampaknya, dengan obyek yang disianggap ideal dan nyaris kekal, sang istri. Sebuah sisi lain dari romantisme HS, yang dicederai orang lain dan realisasi pencederaan itu dalam bukti kerusakan alam: istri, sigaraning nyawa,soulmate, belahan jiwa. Tidak mengherankan bila kumpulan puisinya itu akan di-launching tepat di hari perkawinan mereka,tepat 26 tahun lalu.***

*) BENI SETIA, pengarang /10 Desember 2011

Komentar