Langsung ke konten utama

Dari Cipasung Menatap Indonesia

Adhitya Ramadhan, Frans Sartono, Dedi Muhtadi
Kompas, 8 Juni 2008

Aku melukis tubuhmu
Dengan cahaya pagi
Tubuhmu memanjang
Seperti air kali

Itu puisi ”Kenangan” tulisan Acep Zamzam Noor yang dimuat dalam buku kumpulan puisinya, ”Menjadi Penyair Lagi”, terbitan Pustaka Azan, 2007. Dr Mikihiro Moriyama, guru besar Departemen Kajian Asia, di Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang, dalam pengantar buku itu menulis. ”Dia tidak hanya melukis di atas kanvas dengan cat minyak, tapi juga melukis dengan kata”.
Itulah Acep Zamzam Noor (48), penyair dan perupa yang menetap di kampung Cipasung, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Rumahnya berada tak jauh dari kompleks Pondok Pesantren Cipasung, yang didirikan kakeknya, KH Ruhiat, pada tahun 1931.

Di depan rumahnya terhampar sawah yang pada awal Mei lalu tengah dibajak. Di jalan masuk menuju kampung terpasang gapura yang mengingatkan orang pada karya instalasi kontemporer. Mungkin karena salah seorang penghuninya, si Acep, adalah seniman yang pernah kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

Dari kampung Cipasung, Singaparna, Acep merespons secara kreatif realitas kehidupan di sekitarnya lewat lukisan, puisi, termasuk ”puisi konkret” berupa spanduk sebagai semacam bentuk counter culture atau perlawanan diam-diam terhadap anomali-anomali di sekiranya termasuk perilaku politisi.

Anda tampaknya kerasan di Cipasung?

Karena kalau saya ke kota, berarti saya harus punya majikan. Ternyata juga seniman yang punya majikan itu hidupnya kerepotan sekali. Ini tidak baik bagi seniman. Selain itu, di daerah hidup akan lebih sederhana.

Demikian Acep yang ketika ditemui mengenakan kaus bertuliskan ”Islam Tapi Mesra”. Tulisan pada kaus dan juga spanduk merupakan bagian dari cara Acep dan komunitasnya merespons realitas di sekitarnya.

Di Singaparna, istri Acep, Hajah Euis Nurhayati, membuka usaha warung kelontong, sementara Acep menjadi ”majikan” bagi energi kreatifnya sendiri. Ia tetap menulis puisi, melukis di studionya yang terletak di lantai dua rumahnya. Di ruang tamu terpajang lukisan bertuliskan Heart of a Horse dengan inisial namanya, AZ, pada kanvasnya.

Acep juga menjadi kawan yang baik bagi peminat seni di Tasikmalaya. Rumah keluarga Acep menjadi semacam titik temu seniman dan peminat seni Tasik.

”Sebenarnya berkarya di daerah berat sekali karena selain berkarya, energi kita juga terkonsentrasi untuk membangun infrastruktur, membangun komunitas juga,” kata Acep yang membentuk Komunitas Azan pada tahun 1996.

”Ini merupakan gerakan apresiasi. Kami menjadikan halaman rumah sebagai tempat pertunjukan. Kalau menggelar kesenian di gedung kesenian itu, kan, mengundang masyarakat untuk datang. Itu sangat sulit di Tasik. Kalau digelar di rumah, masyarakat akan lebih dekat dengan berbagai jenis kesenian dari tradisional sampai kontemporer.”

Tahun 1991-1993 ia mendapat fellowship dari pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia. Tiga tahun kemudian, ia ikut workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996).

Lingkungan dan dinamika kehidupan masyarakat apakah yang berpengaruh pada karya Anda?

Dari sisi karya, pergerakan estetika saya menjadi lebih komunikatif agar bisa dipahami masyarakat luas. Bukan estetika yang serius. Akhirnya hal-hal sosial masuk dan memengaruhi dalam karya. Seniman, kan, bukan menara gading, tapi bisa melebur dengan masyarakat.

Komunitas Azan bagian dari infrastruktur itu?

Ini komunitas permanen yang terbentuk sepulang saya dari Itali tahun 1996. Ini gerakan apresiasi seni. Anggotanya seniman dan sastrawan di Tasik. Di antaranya ada Saeful Badar dan Nazaruddin Azhar.

Ini merupakan gerakan apresiasi. Ada Sanggar Sastra Tasik yang membina para penulis muda, ada Partai Nurul Sembako dengan gerakan spanduknya. Para anggota komunitas Azan juga banyak yang mengajar kesenian di sekolah dan madrasah di Tasik.

Ini bukan komunitas anti ”rezim sastra” itu, ya?

Bukan. Ini bukan sebagai bentuk perlawanan ke pusat kebudayaan besar. Ini bukan merupakan gerakan politis untuk menentang pusat karena gerakan politis seperti itu akan mati sendiri karena tidak didukung oleh karya.

Kami melihat apresiasi ke masyarakat itu penting. Kami di sini mengapresiasi semua jenis seni, mulai dari teater, musik, hingga tari, bahkan seni tradisional dan kontemporer juga menjadi bahan pementasan. Saya hanya ingin berbagi kegembiraan dengan masyarakat. Bahwa masyarakat juga layak menikmati karya seni. Biasanya, setelah pementasan ada diskusi sampai larut malam dengan masyarakat seputar pementasan.

Acep mendirikan Partai Nurul Sembako (PNS) tahun 1999. Ini merupakan respons Acep pada bermunculannya partai pada awal era reformasi. Partai Nurul Sembako yang memiliki moto ”Melayani Kebutuhan Sehari-hari” menjadi gerakan perlawanan atau respons sekaligus kritik terhadap praktik politik para politisi.

Partai Nurul Sembako ini untuk meledek partai. Gerakan spanduk ini terbukti efektif sebagai bentuk counter culture. Perlawanan terhadap fenomena yang keras pun menjadi cair karenanya.

Tak kalah dengan parpol, Acep dan kawan-kawan pun ikut-ikutan memasang spanduk. Belakangan spanduk menjadi gerakan khas PNS. Inilah bunyi spanduk yang pernah terpasang di seantero Tasikmalaya.

”Anda Ingin Jadi PNS? Siapkan Uang Rp 30 Juta dan Silahkan Hubungi Nomor Telp 0265 311478 dan 0265 330805”, ”Selamatkan Tasik dari Borjuisme dan Kapitalisme”, ”Tasik Kota Santri = Kota Non fitnah. Tunjukkan Logikanya dan Buktikan Secara Empirik, Bukan Lewat Tafsir Gelagat”, ”Dibuka Pendaftaran Imunisasi Dewan Kota dari Wabah Kadeudeuh dan BPR”, ”Dengan Semangat 45, Maju Terus Pantang Malu”, ”Dijual Segera Kota Tasikmalaya Hubungi Telp 0265 311478 dan 0265 330805”, ”Tasikmalaya Kota Puisi”, ”Tasikmalaya Kota Dangdut”, ”Pilkada Buat Rakyat Enggak Penting-penting Amat”.

Pesantren dan politik

Keluarga besar Acep tak hanya mengelola Pondok Pesantren Cipasung, tapi juga lembaga pendidikan dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi di Tasik. Acep tumbuh dalam tradisi pesantren yang dikelola keluarga, termasuk oleh ayahnya, KHM Ilyas Ruhiat, kiai berwibawa yang menjadi Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Acep adalah anak pertama dari tiga anak pasangan dari KHM Ilyas Ruhiat dengan Hajah Dedeh Faridah.

Sebagai anak dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Acep cukup dekat dengan peristiwa politik di sekitar NU. Asal tahu saja, Pondok Pesantren Cipasung pada tahun 1994 pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Ke-29 NU yang dibuka Presiden Soeharto.

Tak tertarik masuk ke politik?

Untuk saat ini saya tidak tertarik terjun ke politik praktis. Sejak Orde Baru banyak teman yang idealis mau masuk struktur dengan alasan mau mengadakan perubahan dari dalam. Saya tidak pernah percaya itu karena yang hanya akan berubah itu bukan sistemnya, tapi cuma dirinya sendiri.

Saya amati memang banyak politisi yang tak punya integritas. Mereka juga tidak pernah tampil dengan dirinya sendiri. Biasanya mereka menggantungkan diri kepada kiai besar.

Apakah kini ada perbedaan dalam sikap berpolitik?

Dulu ada pengaderan yang berjenjang dalam menempatkan kader ke dalam struktur. Yang berkualitaslah yang tampil. Para anggota pun akhirnya saling mendorong. Sekarang tidak. Yang ada malah saling berebut. Sekarang, semata-mata lebih ke pragmatis saja. Anggota dewan, misalnya, yang dalam waktu singkat menjadi sangat sejahtera. Mereka biasanya memelihara akarnya untuk politik praktis. Jadi kalau kader NU dirontgen cita-citanya sama, yaitu menjadi anggota DPR, ha-ha-ha!

Padahal, politik bagi NU sebenarnya bukan politik praktis. Sikap politik sangat terkait dengan respons terhadap situasi dan keadaan kebangsaan saat itu. Pesantren bukan menjadi bagian dari kekuasaan. Memang ada orang NU yang di kekuasaan, tetapi tetap ada jarak antara pesantren dan kekuasaan.

Kebanyakan orang partai politik saat ini hanya bermain politik bukan berpolitik. Yang jadi tujuan utama adalah uang. Masuk DPR bukan karena mau membela rakyat, tapi karena di situ banyak proyek yang bisa dimainkan.

Apakah para kiai masih menjadi obyek tarik-menarik kepentingan politik?

Kalau mau kalah, minta saja dukungan dari PKB. Mulai dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah mayoritas calon yang diusung PKB kalah. Bahkan, di Tasik sendiri yang NU-nya sangat kuat.

Mengapa?

Sebabnya, setelah partai menerima uang mereka tidur dan tidak berjuang karena uang tadi hanya dianggap sumbangan. Di Jawa Barat juga, ini terbukti.

Perilaku seperti ini bukan tradisi di NU, tapi setelah reformasi. Banyak ulama didekati oleh broker politik, diiming-imingi uang. Akhirnya jadi kebiasaan. Ketika ulama yang berpengaruh sudah tidak ada, akhirnya ulama yang seperti itu yang ada. Ketika kiai jadi juru kampanye, masyarakat sudah tidak respek lagi. Kerusakan akan lebih cepat karena pilkada banyak sekali.

Bagaimana Anda melihat fenomena hasil pilkada di Jawa Barat?

Dari kemenangan pasangan Hade (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf), saya lihat ada kejenuhan masyarakat. Mereka jenuh dengan sosok yang itu-itu juga yang sudah terbayangkan ke depan. Kemudian ada sosok baru, yang sebelumnya tidak terbayangkan. Kejenuhan itu juga yang menyebabkan angka golput tinggi. Fenomena ini juga bisa diartikan sebagai bentuk perlawanan dari masyarakat.

Anda pernah mengampanyekan golput. Mengapa?

Mengampayekan golput bukan berarti antipemilu. Ini merupakan bagian dari pendidikan politik bagi masyarakat. Ketika kandidat tidak bisa dipercaya, ya, tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lebih baik tidur di rumah. Karena tidur yang paling enak ialah ketika hari pencoblosan, ha-ha-ha….

Anda juga menggelar kampanye golput ke jalan-jalan?

Saya juga biasa mengadakan karnaval mengampanyekan golput pada masa tenang pemilu. Pesertanya dari komunitas seniman dan belakangan ada masyarakat yang ikut. Karnaval ini juga sekaligus memberi contoh pada partai bagaimana membuat arak-arakan yang menghibur.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/persona-dari-cipasung-menatap-indonesia.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com