Langsung ke konten utama

Kidung Jaran Dawuk Antara Hancurit dan Si Mbokne (H)Dancok (Puisi, Posisi dan Oposisi) *

Sabrank Suparno **
sastra-indonesia.com

1.1. Puisi
Antologi puisi tunggal Kidung Jaran Dawuk menyembulkan tanya bagi Tosa Poetra. Mengapa masih menulis puisi? Apa sekedar berniat menggayuh eksistensi keajegan melahirkan karya agar disebut penyair? Atau, memang belum punya pilihan karya dalam bentuk lain? Misal esai atau cerpen. Sedang kadar puisi Kidung Jaran Dawuk belum melompat setapak dari antologi sebelummnya, yakni Jalanan Di Kotaku yang terbit Agustus 2010.
Se-pengamatan saya, permasalahan mendasar puisi-puisi Tosa Poetra belum menemukan konsep yang jelas, dari dan kemana puisi akan dibawa, serta dari mana asalnya, sehingga terputuslah akar sejarah lahirnya sebuah puisi. Perlu diketahui bahwa ibarat anak, puisi mempunyai riwayat hidup, kenapa satu judul puisi harus dirampungkan? Ia mempunyai sejarahnya sendiri. Dalam hal ini, dari rahim siapa genosa sebuah puisi terbuai, tumbuh kemudian berkembang menjadi embrio yang akhirnya lahir berupa jabang bayi. Puisi-puisi Tosa Poetra belum menunjukkan ciri khas ke-Tosa-an bahwa Kidung Jaran Dawuk adalah anak kandung yang dilahirkan dari pedalaman kaki bukit Jaran Dawuk, Trenggalek. Artinya puisi Tosa masih dilahirkan hasil pemerkosaan massal para penyair Indonesia.

Cara paling fulgar untuk memblejeti sebuah puisi adalah obrolan di luar forum resmi (jagongan nyentrik). Di sanalah keluar komentar perihal penilaian puisi, “ah, puisi jelek, puisi kosong, puisi kerupuk, puisi belajaran,” dll.  Tentu saja komentar berdasarkan cocote penilai atas jarak pandang dengan pribadinya, cocok atau bersinggungan dengan ideologi dan konsep yang dianutnya. Penilai kemudian menetralisir kritiknya dengan ucapan, “yang perlu diacungi jempol dari penyair yang sudah menuliskan dan menerbitkan karyanya adalah jiwa militansi terhadap dunia perpuisian yang digeluti.”

Atau, jalan demikian memang dipilih Tosa, bahwa berkarya tidak perlu memperhatikan konsep, ideologi atau panutan pada penyair sebelumnya. Tosa seperti menawarkan gagasan baru setelah jenuh mengamati ulah sesepuh sastra Indonesia yang terus menerus sibuk bengkerekan royokan apik, royokan bender, royokan tuwek hingga mengeluarkan KTP. Dalam hal ini Tosa bersikap adil bahwa ia dilahirkan oleh Lekra, Lesbumi dan Menikebu bahkan aliran Mbah Sangkil (aliran lain yang tidak terdeteksi). Atau, Tosa justru bersikap lebih tua dari kemampuan empat anak yang dilahirkan oleh sejarah perpuisian Indonesia. Bahwa baik Lekra, Manikebu, Lesbumi dan Mbah Sangkil adalah anak-anaknya yang harus diopeni secara adil. Tiap anak mempunyai karakter dan fungsi tertentu pada saat tertentu pula. Bagi Tosa yang urgen sebagai penyair adalah membikin puisi, dan bukan sibuk membikin Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang diprasastikan berdasar hari lahir Chairil Anwar, 26 Juli. Betapa rampaknya hari bersejarah di Indonesia, sementara tanggal 27 Juli Hari Kudatuli memperingati gugurnya mahasiswa Trisakti sebagai pahlawan reformasi. Berikutnya tanggal 28, 29 dan 30 Juli saya sematkan sebagai Hari Nissing Nasional.

Jika bertemu Agus R. Sarjono, Tosa akan dihimbau untuk meluruskan puisi sebagaimana sebelum sholat meluruskan shof  dulu (sauwi sufufakum min tamami sholah). Makin lurus makin baik. Puisi yang lurus melatih penulisnya untuk meluruskan niat, meluruskan pikirtan, meluruskan jiwa dan ketajaman pena (kalau sempat baca Horison edisi Januari 2013, halaman 34). Cak Agus R. Sarjono tidak menyukai puisi yang bermetafora, kembangan atau hiasan yang tidak perlu. Ia juga tidak sependapat dengan Cak Michlel Riffatere dalam Semeotic of Poetri yang mengatakan bahwa puisi adalah “says onething and means another (ngunu yo ngunu ning ojo ngunu)”. Dalam hal ini Agus R. Sarjono akan menyukai puisi Surat Buat Presiden (halaman 27). Hanya dua baris kalimat pendek: BBM Naik! // Kau Turun!. Jelas. Padat. Gamblang. Tanpa basa-basih. Begitu juga puisi Lelaki Di Balik Jeruji Besi (hal, 22), sejenis Puisi Balada yang menceritakan panjang lebar tentang Gayus [seharusnya bukan Gayus Tambunan, tapi Novel Basweda, sebab Tosa menyukai puisi yang mengampanyekan bahwa Novel telah tertangkap keparatannya. Semoga  yang tertangkap berikutnya bukan Dian Sastro Wardoyo yang mengindikasikan buruknya Sastra].

Lain lagi jika Tosa Poetra bertemu dengan Adonis (Ali Ahmad Said), salah satu dari sepuluh besar penyair Arab setelah Perang Dunia II yang direkomendasi mendapat Nobel Sastra Dunia 2012[Hanya direkomendasikan dan pasti tidak mendapatkan. Sebab, Eropa sebagai penggagas Nobel Sastra akan pikir-pikir untuk memberikan ke warga Arab, apalagi Indonesia. Kecuali jika ada angin politik yang mendukung perekonomian negara barsangkutan. Maka, bagi penyair Indonesia jangan berharap dianugerahi Nobel Sastra. Kalau terpaksa mendapat Nobel Sastra, tolaklah dengan mengatakan,”gak oleh Nobel Sastra gak patek en]. Adonis akan menyarankan agar Tosa mencipta puisi yang sarat dengan estetika muatan (nilai). Bahwa keberadaan puisi adalah mencipta ulang realitas, bukan menerima apa adanya. Dengan kata lain, puisi merupakan perubahan dan bukan penafsiran. Ilmu menafsirkan, sementara puisi mengubah. Ilmu menempatkan manusia berhadapan dengan realitas itu sendiri, sementara puisi menempatkan manusia berhadap-hadapan dengan gambaran tentang realitas (Adonis Jilid I, hal 195, LkiS 2007). Dalam Antologi tunggal Kidung Jaran Dawuk, Adonis sepakat dengan puisi Harusnya Kutulis Opini (hal, 10): “Bunda, mengapa ulat bulu merajalela di Negara Kita?”// “Agar kau menjadi penyair nak, dan kelak ketika ulat bulu itu telah menjelma kupu-kupu menghias langit, ketika itu jadikan negri ini puisi yang tak diduduki Ulat Bulu//. Nilai filsafat Tosa Poetra cukup mencengangkan dalam larik //Wahai debur ombak yang menyapa pantai  dan menyeret pasir, hapus rindu yang kemarin sempat terukir, jika rindu cuma milikku//. Dengan kasadaran segenap rasa, Tosa berani meng-aku-i bahwa yang menjadi miliknya tak akan lenyap walau dihapus zaman.

Adonis akan mesam-mesem membaca dua puisi Kidung Jaran Dawuk yang berjudul Abimanyu Gugur (hal 12), Bisma Gugur  dan Tembang Cinta Kamboja (hal 28-29). Ketiga puisi tersebut berjenis epos yang mengisahkan puncak dari segala kepahlawanan adalah ‘mati’di medan laga. Khusus puisi Tembang Cinta Kamboja, Tosa berlarat-larat memilukan nasib TKW yang berujung pulang tinggal baju dan nama. Meski tidak persis, puisi tersebut seperti melihat film Minggu Pagi di Vicktoria Park garapan Novia Kolopaking dkk, yang menggambarkan Taman Vicktoria di jantung kota Hong Kong menjadi kampung pelepas kangen para TKW terhadap  kampung halaman. Puisi TCK menghantarkan pemahaman bahwa berpuisi tak sekedar teoritis semata, melainkan peristiwa. Tosa tidak puas hanya dengan nilai semata, tetapi juga mengalaminya.

Ketiga puisi di atas memperkenalkan bahwa petualangan dan ksatria mendapatkan makna dan arti penting, sebab petualangan menciptakan peristiwa lain ke tataran nilai tertinggi dalam hidup, bahkan pengalaman lebih penting dari hidup itu sendiri. Dalam perspektif  demikian, ke-mati-an tidak lagi sia-sia, tetapi menguatkan kehidupan agar lebih sempurna. Meski tragis, sejatinya kehidupan memangku kematian dan mewujudkannya dalam gerak hingga mendapatkan kemenangan ketika ia kalah sekalipun. Kematian yang tidak menegasikan kehidupan dan mengagetkan manusia. Kematian yang tidak mengakhiri hidup, hanyalah mematikan sementara dalam hidup. Kematian ksatria tidak mengalahkan manusia lantaran mati. Dengan kata lain, kematian sebenarnya adalah kemiskinan, sikap rendah diri, berpangku tangan dan hina. Kondisi remuk jiwalah yang sebenarnya kematian dingin dalam kehidupan.

Paling gampang jika Tosa Poetra bertemu saya, cukup nyeruput kopi sambil jedat-jedut rokok eceran [kadang ngutang] di warkop angkringan. Sembari memutar ulang jawaban beberapa mahasiswa atau penulis pemula tentang bagaimana cara membuat puisi yang baik, saya menggambarkan proses bertani, bagaimana mereka membabat rumput dan membakarnya, membajak, menata parit, menanam, memupuk, mencabuti gulma rerumputan agar tanaman panen sempurna dan tidak rugi. Atau proses pencitak boto, bagaimana ia mengulet tanah sedemikian rupa agar menghasilkan bata yang kenthing dan tidak patah. Atau lihatlah tukang roti goreng, bagaimana ia mengulat adonan tepung hingga dibanting-banting sampai kenyal. Bahkan keringat si tukang roti goreng bercucuran [kadang diusapkan sebagai campuran adonan agar rasanya lebih sreng. Kendati demikian tidak perlu menuding roti tidak higienis, toh dalam tubuh manusia juga gembol tai]. Demikian juga tukang puisi, bagaimana ia memilih kata, menyusun dan merampingkan kalimat, menggali ide, menempatkan rima dan irama, dll. Supaya puisi yang dihasilkan terasa nyamleng, semriwing dan nyess jika dibaca. Menurut orang Jombang, puisi yang bagus adalah yang mampu membuat pembaca misuhdiancok puisi iki rek!” Kalau kadar puisinya sangat baik, kadar misuhnya juga makin mandes “Si Mbokne Hancok [tidak sekedar ‘dancok, tetapi mbahnya yang berinisial ‘Si mBokne Dancok’. Dancok merebak saat perang 45, lantaran diucapkan pasukan gerilya sebagai kode pembakar semangat. Dancok berasal dari bahasa Arab: da’syuk,  dari fiil madhi (kata dasar) da’a, yadu’u=mencegah dan kata syuk=jelek/buruk. Kata Da’syuk kemudian digampangkan menjadi Dancok yang berfungsi melegakan kenggrundelan / nglegakno ati setara istighfar. Kode ‘mencegah hal yang buruk yang dimaksud adalah Belanda]. Di antara medium Dancok dan Si mBokne Hancok inilah puisi Tosa berkadar. Sedang puisi yang tidak jelas jluntrungnya berada di wilayah pisuan ringan Hancurit.

1.2. Posisi

Posisi yang saya maksudkan adalah letak geografis Tosa Poetra. Sewaktu saya dan Nurel Javissyarqi menginjakkan kaki di rumah Tosa dalam rangka Blakraan Sastra, saya merasakan logikanya dari tempat sehening bukit Jaran Dawuk akan tercipta karya dahsyat yang menggema. Saya mempunyai catatan mengenai Bukit Jaran Dawuk:

Catatan Jaran Dawuk

Ketika waktu bertanya, kemana jejak kaki melangkah?
Bediding di antara dua musim. Bila randu mulai mengapuk. Ia kan berhamburan tertiup angin. Melayang. Menyusuri sawah jurang dan lembah. Di pelataran padang perdu ilalang Mataraman. Berkelebat sesosok pengembara pelana kuda. Apakah jejak Ki ageng Mangir? Atau Pangeran Diponegara? Ksatria wibawa di medan laga.

Wahai pujangga. Dalam persembunyian tanahmu. Berbalut kabut di balik bebukitan senja. Kaki Jaran Dawuk. Pertapa memasuki lorong sunyi berkawan ular dan kuda putih. Sedang bersemadi mengintip sejarah. Bukit tegar tugu termenung. Berfikir sepanjang abad. Seperti hendak berkisah tentang seribu makna. Hari ini dan masa lampau, hendak bermuara di mana?

Kabut lembut dan kesejukan. Terus membuai dedaunan bertumbuhan silih berganti. Antara datang dan pergi.
Bebukitan sekitar kota. Tak tega. Segera menjemput langit senja sebelum tiba. Sepertinya hendak menyimpan burai matahari dan segera mengisahkan cahaya dari kegelapan. Sebab ketersembunyian kerap menjadi hal yang tak terduga. Trenggalek. Terangnya prasangka.

Ingin ia membelai rambutmu wahai ilalang. Sebelum hijau royo menjadi santapan Kanguru. Pada pucuk nan bergoyang meliuk tertiup angin.
Tapal kuda menjejakkan kaki di sekitaran mawar dan kamboja. Menghias kuncup-kuncup bermekaran. Semerbakmu, ditunggu belahan dunia.

Jika setiap lontar berbicara. Pejalan jauh tapaknya menjadi tinta. Tidur di goa-goa dan sesudahnya, bergegas memburu langit senja. Sekedar demi kesetiaan. Ia menuruni jalan setapak dan bukit terjal. Bertegursapa pada bukit-bukit tanggung. Langkahnya terhenti pada pertarungan singa dan merak betina. Pertempuran abadi yang tak kan usai.

Kuda putih meringkik lelah. Temali tertambat. Di tepian Kali Keyang. Gemercik alir mencandai bebatuan Jengking. Sang pengembara sejenak membasuh muka, dan selanjutnya menuntaskan seribu tanya: getaran alam macam apa? Hingga gaungnya ke cakrawala.

Tentu tidak hendak menyaingi. Kecuali menziarai peletak sejarah: Ronggowarsito, Kiai Hasan Besari. Berputar melingkari sekitar. Menjamah jernih sumber pancoran Joresan.
Dan selanjutnya, bergegas mengeja keakanan.

Trenggalek-Ponorogo (Joresan 5-7 Juni 2011).

Catatan Jaran Dawuk adalah gambaran saya mengenai tanah kelahiran Tosa. Maghrib hingga lepas, saya berdiri lama di teras rumah Tosa sambil memandangi bukit Jaran Dawuk. Saat itulah saya merekam detail bagaimana bukit besar perlahan hilang diselimuti malam. Mula-mula tampak hitam kekar seperti hantu besar sedang menunggui desa-desa sekitar bukit. Selanjutnya raksasa besar itu lenyap berganti denging binatang malam dan kemerecek Walang Kekek.

Waktu pagi, terpaan kuat sinar mentari menyorot bukit Jaran Dawuk pada bagian tebing sebelah timur. Tampak samar bagian dinding kapur yang tidak ditumbuhi belukar persis lukisan pangeran menunggang kuda putih. Itulah sebabnya dinamakan bukit Jaran Dawuk yang artinya Kuda Putih.

Di kabupaten Trenggalek itu pula, pada 5 Juni 2011, saya mengamati geliat sastra di Jawa Timur pesisir selatan. Saya dan Nurel mengikuti diskusi sastra di STKIP Trenggalek bersama Misbahus Surur dan Nurani Soyomukti. Rutinan diskusi sastra yang bernama Kuantum Mitra Sastra (KMS) tersebut Nurani sempat membaca puisinya berjudul Kucium Ujung Lancipmu. Hari berikutnya saya meneruskan langkah ke Negeri Dadak Merak, Reog Ponorogo untuk menyelami tempat Ronggowarsito menulis di atas Watu Jengking, Kali Keyang (seratus meter Pondok Tegalsari asuhan Kiai Hasan Besari), dst.

Sisi tanah kelahiran ini, puisi Tosa tidak mendominasi. Bahkan puisi Kidung Jaran Dawuk sendiri yang pernah dibaca penulisnya bersama saya di acara Lawatan Budaya Mojowarno, Jombang, pada Juni 2011, tidak mencukupi gambaran mengenai mitos Jaran Dawuk, apalagi potret masyarakat setempat. Seandainya Tosa sedang jagongan di gardu sambil teplek dengan tetangga, lantas ditanya, “apakah persoalan kami kau suarakan dalam puisimu?” Ada banyak kegelisahan masyarakat sekitar Jaran Dawuk: padi diserang wereng, kekurangan pasokan pengairan, was-was kalau bukit pecah dan longsor, dll. Kalau puisi Tosa tidak srawung dengan masyarakat, ia akan bernasib sama dengan Emha Ainun Nadjib sebagai penyair kesepian. Ulasan Emha mengenai aksentuasi person penyair dan aksentuasi masyarakat menggambarkan betapa erat hubungan karya sastra dengan potret sosial (baca Menerba Budaya Tanding, hal,153, Emha, Pustaka Pelajar, 1995).

Puisi Tosa terburu me-nasional. Padahal yang disebut Nasional terbentuk dari kepingan kekuatan lokal. Bahasa ekstrimnya, Indonesia tidak perlu ada asal tanah kelahiran sejahtera dan tidak musnah. Artinya, kalau terlanjur membikin komunitas besar yang bernama Negara Indonesia, mari menciptakan lokalitas yang makmur-kemar-kemur. Untuk tujuan tersebut, satrawan memainkan peranan penting menawarkan pesan masyarakat setempat. Maman S. Mahayana menjelentrehkan khusus hubungan pengarang dengan sosio-kultural (baca: 9 Jawaban Sastra Indonesia, hal. 42, Maman S. Mahayana, Agustus, 2005).

1.3. Oposisi

Puisi, bagaimanapun juga makomnya adalah oposisi. Kidung Jaran Dawuk menduduki tempat merata sebagai oposisi atas lawannya: (agamis >azali>ila yaumil kiyamah). Jangan mengira bahwa sastrawan (seniman) adalah makhluk berjiwa lembut, melainkan bibirnya putih namun dada dan kepalanya mengangah api bara. Saya setuju jika Tosa beroposisi dengan penulis ‘Dancuk-an’, yakni penulis yang mempersembahkan karyanya agar dibaca, diapreseasi, diakui citranya oleh senior. Melainkan menulis agar diminati rakyat yang paling jelata sekalipun. Meski kampanye pemberantasan buta huruf bertujuan menjual produk industrialisasi.

*) Catatan makalah Bedah Buku Antologi Tunggal Kidung Jaran Dawuk karya Tosa Poetra, pada 9 Pebruari, 2013, di Kedai Baca Suket/Rumah Pintar Srikndi, jalan Kusuma Bangsa 54, Jombang.
**) Sabrank Suparno. Peserta Temu Sastra Jawa Timur 2011. Bergiat di Lincak Sastra Jombang. Beralamat di: RT/RW:08/02, Dowong-Plosokerep, Sumobito, Jombang.
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2013/02/kidung-jaran-dawuk-antara-hancurit-dan-si-mbokne-hdancok-puisi-posisi-dan-oposisi/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.