Langsung ke konten utama

Menyuarakan Pemikiran Kartini

Penulis Okky Mandasari mengambil spirit Kartini ke dalam karyanya
Ratu Selvi Agnesia
Jurnal Nasional, 12 Mei 2013

MENGAGUMI seorang tokoh seperti pejuang emansipasi, Raden Ajeng Kartini bukanlah taklit atau pemujaan. Penulis novel “Maryam” Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012, Okky Madasari merespona rasa kagumnya kepada Kartini—dalam pemikiran-pemikirannya sebagai inspirasi dan karya-karya. Namun Okky tetap ingin jadi dirinya sendiri.
“Saya tidak ingin jadi Kartini. Saya mengapresiasi Kartini karena pemikiran-pemikirannya. Lebih seratus tahun lalu, dalam kondisi yang serba mengungkung dan sistem patriarki yang sangat mengakar, Kartini bisa memiliki pemikiran yang sedemikian maju. Tentu saja itu membuat saya iri,” tutur pemilik nama lengkap Okky Puspa Madasari kepada Jurnal Nasional.

Setiap April, banyak acara yang digelar dimana-mana dari anak-anak Sekolah hingga masyarakat luas dengan menghadirkan kebaya sebagai simbolnya. Menurut Okky peringatan kelahiran Kartini akhirnya identik dengan peragaan busana dan rangkaian seremonial tanpa makna.

Bahkan, sejak di bangku sekolah, kita diajari bahwa Kartini adalah perempuan Indonesia yang menyuarakan emansipasi. Tapi tak pernah ada penjelasan lebih jauh apa yang dipikirkan Kartini soal emansipasi. “Habis Gelap Terbitlah Terang‘ senantiasa disebut sebagai buah pikir Kartini. Tapi hanya segelintir orang yang tahu apa sebenarnya yang ditulis Kartini.

Oleh sebab itu, melalui Yayasan Muara yang diasuhnya dan bekerjasama dengan Institut Ungu, diselenggarakan gelaran pembacaan surat-surat Kartini bertajuk “Membaca Suratnya, Terbitlah Terang,” di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (18/4/2013) lalu.

“Surat-surat Kartini adalah buah pikir yang sangat penting dan berharga. Surat Kartini tidak hanya bicara soal perempuan, tapi soal manusia dan kemanusiaan. Pemikiran Kartini penting untuk dibaca dan dikaji. Peringatan Hari Kartini adalah momentum untuk menggali pemikiran-pemikiran Kartini,” jelas perempuan kelahiran Magetan, 30 Oktober 1984.

Adapun, Surat-surat Kartini dibacakan oleh 11 perempuan dan 1 laki-laki dari beragam profesi: seniman, sastrawan, akademisi, aktivis, buruh pabrik, jurnalis, hingga mahasiswa. Pemilihan para pembaca ini bukan berdasarkan pada — kemampuan mereka dalam membaca — tapi lebih berdasarkan pada harapan bahwa pembaca-pembaca ini bisa jadi simbol dan penyebar pemikiran-pemikiran Kartini.

Seperti seniman Ratna Riantiarno dan Jajang C Noer, Tiga Setia Gara yang mewakili perempuan masa kini dengan tato yang menunjukan kedaulatan tubuhnya sendiri, Winner Fransisca dari Universitas Paramadina, Firliani Purwanti penulis buku The O Project yang bicara hak orgasme pada perempuan dan Tommy F Awuy adalah contoh laki-laki yang memiliki komitmen atas kesetaraan gender. Ia seorang akademisi yang giat menyebarkan ide-ide kesetaraan gender baik di ruang kelas, media massa, hingga media sosial dan lain-lain.

“Semua pembaca yang dipilih adalah orang-orang yang memiliki keberpihakan dan kepedulian. Dengan demikian, diharapkan mereka bisa jadi agen-agen yang menyebarkan pemikiran Kartini,” jelas Okky.

Seperti kita ketahui, banyak kontroversi pemilihan Kartini sebagai pahlawan nasional, dibalik persepsi bila dinaikan oleh Belanda dari politik etis, bahkan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu juga merupakan pahlawan nasional dianggap lebih nyata perjuangannya. Okky memandang karena Kartini adalah tokoh sejarah, maka pemaknaan terhadapnya bisa berbeda-beda.

“Apa yang bisa kita pegang dari sejarah Kartini adalah surat-surat yang ditulisnya dan diterbitkan. Itu karena ide dan pemikiran dalam surat yang ditulisnya masih terus relevan hingga masa sekarang. Perjuangan melalui tulisan tidak kalah nyata dibanding perjuangan dengan senjata,” tutur Okky.

Lalu, bagaimana dengan karya terbarunya? Penulis yang terbilang produktif ini kana segera mempersiapkan peluncuran novel keempat, “Pasung Jiwa”. Bertepatan dengan peringatan 15 tahun reformasi dalam bentuk rangkaian acara dengan tema “Sastra dan Seni untuk Kebebasan”.

Seluruh rangkaian acara akan diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, tanggal 15 Mei 2013, jam 10.00 — 22.00, mulai pameran lukisan bertema “Kebebasan”, pelatihan menulis, hingga acara puncak: Pertunjukan Teater Pasung Jiwa.

Gelaran acara ini menurut Okky, bertujuan tidak hanya sekedar untuk peluncuran resmi “Pasung Jiwa”. Lebih dari itu, rangkaian acara dengan tema “Sastra dan Seni untuk Kebebasan” ingin memberikan kesadaran pada masyarakat luas bahwa sastra dan karya seni sebagai produk budaya harus bisa menyuarakan pembebasan dan perlawanan pada ketidakadilan.

Hal ini juga sesuai dengan tema besar “Pasung Jiwa” yang ingin mempertanyakan soal kebebasan individu dalam rentang periode sebelum reformasi dan sesudah reformasi. “Untuk saya pribadi, saya akan terus menulis novel yang menyuarakan nilai-nilai dan semangat yang saya percaya. Yaitu menyuarakan kebebasan, perlawananan pada ketidakadilan, dan penghormatan pada manusia dan kemanusiaan,” jelas Okky.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/sosok-menyuarakan-pemikiran-kartini.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.