Langsung ke konten utama

Pembacaan lain “Senarai Pemikiran Sutejo”

Judul: Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata, Menemukan Dawai Makna)
Penulis: Sutejo
Prolog: Prof Dr Soediro Satoto
Epilog: Nurel Javissyarqi
Penyusun: Masuki M. Astro dan Nurel Javissyarqi
Penerbit: Spectrum Center Press dan Pustaka Felica
Halaman: xvi + 922; 15 cm x 23 cm
ISBN: 978-6021-96-100-1
Tahun: Cetakan I, Januari 2013

Epilog: Pembacaan lain “Senarai Pemikiran Sutejo”
Nurel Javissyarqi *

Sebelum jauh, maafkan wahai pembaca. Lantaran saya menulis ini agak-agak sakit kepala, maka hanya sebatas rasa. Namun impiannya, tak mengurangi yang menjadi takdirnya!

Tadi sore seperti hari-hari kemarin, mengisi waktu luang di warung kopi Tanah Merah, dekat jalan baru Ponorogo. Terkadang membawa buku bacaan, pun berdiskusi dengan kawan-kawan pergerakan di sana. Hari tadi tidak, karena batin tengah dirajam batu-batu putus asa. Hal itu mengingatkan beberapa tahun lalu, masa silam pernah mengalami perihal demikian kering melanda. Dalam jurang keterpurukan, sukma menarik-narik pekabutan keberuntungan entah apa wujudnya, seiring berharap keajaiban, selepas ditimpa awan ngelangut mendera. Malamnya menemukan jawaban, yakni diminta menuliskan epilog. Kegirangan lain sebagai pengelana, bisa bareng dengan Prof. Dr. Soediro Satoto yang memberi Prolognya.

Buku ini saya susun bersama wartawan senior Antara, Masuki M. Astro yang beberapa bulan kemarin baru kenal, langsung dekat atas keakrabannya bersahabat. Tapi sejak awal, tiada tampak bayang melintasi ubun-ubun akan ketetapan-Nya, di mana saya nanti menuangkan kata penutupnya. Barangkali ini salah satu jawaban -beberapa bulan lalu penasaran- kenapa hijrah di bumi Reog kembali. Yang sepintas pada kedangkalan penglihatan kasar saya sejenis belunder bola bekel, sebab tahun 2001 pernah tinggal di Gebang Tinatar, Tegalsari, Jetis, kala menapaki jejak putih pujangga agung R.Ng. Ronggowarsito. Selebihnya saya serahkan kehadirat-Nya sambil menghaturkan munajat, “Hasbiyallahu wa ni`mal-wakil, ni`mal mawla wa ni `man-nashir. La haula wala quwwata illa billahil `aliyil adzim.” Artinya, “Cukuplah Allah bagiku. Dan Dialah sebaik-baik yang menjamin, sebaik-baik yang mengurus, dan sebaik-baik yang menolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

Puja-pujian itu menuntun ke titian ungkapan pujangga Surakarta di dalam Seratnya Wirid Hidayat Jati yang bunyi senandungnya semampai tegas melestari: “Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor.” Makna bebasnya, “Manakala detikan takdir telah terpastikan, maka tiada yang sanggup menghentikan.” Selaksa malam kini Tuhan menancapkan keyakinan lebih dalam lagi, selesatan langkah menapaki ketinggian gunung berangin tipis menyulami rongga dada, oleh hukum pengurangan dari percepatan, bagi aturan keseimbangan di atas sesuatu yang fana.

Memasuki dunia Sutejo, pencetus teori Etno Sufustik dalam disertasinya. Saya bertemu sapa awal kali dengannya tertanggal 8 Juni 2008 di Bojonggede kediamannya kritikus Maman S. Mahayana. Di Paseban, Bojonggede, Bogor, saya mengenal pribadi Sutejo begitu enerjik serta menarik. Pula jadi mengetahui kritikus Mahayana tidak hanya tekun menulis kritik sastra juga ahli memasak. Kepandaian memasak pun ada di diri Sutejo, terlihat ketika kian akrab di tlatah Batoro Katong ini. Keduanya sosok penulis produktif nan berkualitas dalam karya-karyanya. Ngelengake guru saya sewaktu nyantri di Denanyar, Jombang, K.H. A. Aziz Masyhuri selama tiga tahun saya mengamatinya secara ‘sembunyi-sembunyi.’ Beliau jarang tidur atau dalam putaran waktu 24 jam sehari semalam, seperti hanya istirah barang dua atau tiga jam. Selebihnya membaca kitab, mengajar di madrasah, menulis karangan, beribadah, menyusun buku, menghadiri undangan. Ini membuat ngiri saya sebagai pemuda yang kerap lena membuang waktu percuma. Ketekunan, kesuntukan, ketundukan di hadapan keilmuan sebagai pencari hakikat, mencambuk diri saya untuk senantiasa bersemangat.

Membaca Senarai Pemikiran Sutejo, seolah menyaksikan pegunungan berdiri subur lebat pepohonan hijau penalaran, mata air permenungan menuruni kaki-kaki pebukitan waktu, lereng tangga-tangga hayati, menyenandungkan nyanyian di lembah-lembah kemanusiaan. Dirinya tak kehabisan sumber hidup, atau berdaya nalar kehidupan luar biasa yang dikeruk dari para pemikir dunia, sehingga energinya melimpah ruah sepanjang lencungan ruhaniahnya berkecambah, serta membaharui kekupasan kulit ari bawang merah temuan-temuannya.

Saya terhentak menerima dalam, kian takjub membacanya pelahan-pelahan. Di mana anak-anak kalimatnya mengajak berpelesiran dengan kegelisahan yang selama ini menjadi ruapan-gugusan pemikirannya. Seperti menyaksikan luapan uap mata air pegunungan tropis di tanah air pertiwi, akrab menggoda melayari pandangan menggumuli kilatan daya nalarnya mendapati keajaiban nilai-nilai. Menemukan kidung belum terdengar, atau dulunya samar mencapai penjelasan menawan. Mungkin itulah jalur sumbu kekayaaan batin tersembunyi dari ketabahan pencarian anak manusia, sampai Tuhan Yang Maha Esa menganugerahi kelebihan berbeda. Dan kita seyogyanya menimba dengan dada terbuka lapang yang memungkinkan menerima ricik-gemericiknya terserap senada rasa.

Mendapati kepribadiannya kuat menstupa pada lembar-lembarannya. Saat mengingatnya ada kekhasan dalam, keuletan saya kenal. Kala menjelajahi medan pengembaraan penelitiannya, dihadapkan sosok sudah layak menyandang doktor. Atau gelar doktor nan diraih itu selayang keterlambatan, jika mengamati bebulir pemikiran, pancangan gagasan, tonggak kepahamannya. Laksana iman diperturuti sejauh ikhtiar keyakinannya meneliti soal-soal hayati.

Lagi-lagi jiwa ini terhentak mendalami jalan-jalan lembut penelusurannya. Ia tak hanya sanggup seimbangkan laguan lahir-batin alam kandungan hayat, juga alam-alam lain yang kini jarang yang menjamahnya. Serta mampu menghidangkan berderajat sederhana, maka pembaca mudah peroleh kesegaran diterimanya. Buah-buahan ranum menggelantung rendah menyentuh mata, oleh kematangan musim-musim dalam menyenandungkan peri kehidupan.

Kehadiran dari akar Ponorogo, daerah tak diperhitungkan di Jawa Timur sendiri dalam percaturan intelektual, pun denyut nadi kesusastraan. Tapi dengan buku tebal ini ibarat kelopak-kelopak mawar menantang siapa saja yang pernah abai atau sengaja tak mencatatnya. Kini atas kepurnaan membaja mengguratkan di lelembaran sejarahnya sendiri. Segerak sepontanitas tumbuh dari tumpukan waktu dikucilkan. Yang pelahan pasti menyiapkan parade kesadaran, derap langkah tinta keyakinan dari laluan kembara yang disetiai. Sutejo menyanggongi siapa pun datang, dan telah terbukti pada lawatan sebelumnya lewat satu lusinan buku yang diterbitkan. Ini semacam pukulan telak bagi mereka, bukan lemparan dadu, kartu remi, tapi brondongan revolver memandekkan jantung para pembaca dengan kekhusukan. Kecuali bagi yang masih menganggap ringan. Tetapi dapat dipastikan terlibas oleh wataknya sendiri yang meremehkan kemungkinan terjadi!

Maka ruang-waktu yang tak diperkirakan mereka, membetot jatah mencipta perhitungan sendiri! Segaris perencanaannya terbit dari longsongan gairah purba, keseluruhan tekat membulat, kepenuhan kemauan mengepung lelangkah lawan bicara di medan laga memahat kayu jati takdir kemenangannya. Separas ungkapan lama saya, “Niat ibarat magnet yang sanggup menarik jarum ke dekatnya, dan menggetarkan lempeng besi walau mata tak menyaksikannya.” Ketika niat ditempa lelaku, dalam perjalanannya mendiami reruang hitung, wewaktu permenungan sedalam prosesinya menanak jalan setapak keyakinan atas ketundukan ruang-waktu lebih besar. Atau setiap ketentuan yang menjelma ketetapan, dipanasi perubahan takaran ‘menjadi,’ sejauh kasih sayang-Nya memayungi.

Jika masih dianggap tak. Maka masa abadi, waktunya para hantu atau tempo di balik sejarah kian menjalar merajalela merangsek, seasap tebal mengepung menutupi tatapan mata. Atau kabut pepagi tumbuh dari dasar gairah sungai-sungai malam yang mengabarkan kehangatan, menjadikan dirinya menyebar menyeruak harum. Dengan sendirinya kejayaan masa lalu terangkat karena diuri-uri (dirawat) penerusnya. Bencah tanah Hasan Besari balik menghijau muda sewujud kepurnaan kehendak. Tumbuhlah rerumputan kesetiaan, ilalang kerinduan, pepohonan membuahkan keilmuan segar di atas kekangan musim kemarau silam.

Karena catatan ini bersifat kemendadakan, maka saya jumput yang seirama perkataan G.W.F. Hegel di bukunya The Philosophy of History: “Jika, sebagaimana dalam kasus Caesar, dia memiliki derajad yang agung di antara para jenderal ataupun negarawan, itu merupakan usaha dengan tujuannya sendiri yang merupakan sejarah.” Lalu terngiang-ngiang yang pernah diwedarkan Sutejo dalam mengisi pelatihan jurnalistik untuk para guru se-Ponorogo bulan lalu, kurang-lebih: “Ketika kita keras terhadap hidup, maka kehidupan bersikap lunak kepada kita, dan ketika kita lembek terhadap hidup, maka kehidupan akan menghantam perjalanan nasib kita.” Bahasa lain yang saya pergunakan, “Kita patut menghajar diri sendiri, sebelum memberi pelajaran kepada sesamanya.”

Buku Sutejo ini bentukan menghajar diri sendiri, bergelut halus dengan putaran waktu selama 23 tahun yang terekam kuat. Begitu jenak menyenggamai perubahan hawa udara pemikirannya. Paras pesona jiwanya silih berganti bak pelangi mewarnai hayatnya meremaja. Membuat saya kagum, ia tak hanya lihai menarikan jari-jemari melalui tulisan cerdas, juga mempuni berucap kata-kata. Setidaknya sudah dikenal sebagai motivator ulung se-karesidenan Madiun, dan saya tak segan belajar darinya. Di samping cerdik memasuki kelas-kelas sosial di masyarakat, menyusupi pepintu permasalahan yang meminta pencerahan sedari persoalan menjerat. Ini saya saksikan setiap kali makan di warung-warung sederhana, di Spectrum pula di kediamannya. Ringkasnya, sosok Sutejo memiliki kepribadian komplit yang jarang terjumpai di dunia para penulis. Selanjutnya dapat dibaca keleluasaan pribadinya di sini.

Akhir kata, “Genggamkan es batu kuat-kuat, maka akan peroleh hawa kepanasan dari hukum lipatan dingin sebelumnya!”

27 Nopember 2012
13 Suro 1946 Jawa (13 Muharram 1434 H) Ponorogo.
*) Pengelana asal Lamongan, di antara antologi puisinya “Balada-balada Takdir Terlalu Dini,” “Kitab Para malaikat.”
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2012/12/pembacaan-lain-senarai-pemikiran-sutejo/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.