Langsung ke konten utama

Belajar Menulis dari Gede Prama

Kasnadi *
sastra-indonesia.com

Gede Prama adalah sosok yang menarik. Raut wajahnya nampak tenang, tutur bahasanya lembut, sehingga mampu menghanyutkan orang yang diajak bicara. Sorot matanya mengandung keteduhan, menyejukkan mereka yang menatapnya. Sesekali ketika dia berbicara di selingi dengan senyum kecil menambah damai bagi yang diajak bicara.
Kadang-kadang dia diam sejenak, mengenang masa silam yang jauh. Dengan gerakan-gerakan kecil yang tetap terkendali dan terjaga semakin akrab dan senang bersanding dengannya. Semua itu merupakan pancaran jiwa yang matang. Karena itulah dia termasuk motivator hebat di Indonesia.

Ia, sebagai sosok berdarah Bali mempunyai etos kerja yang sangat tinggi. Sebelum menjadi motivator hebat, dia menjalani hidup yang tidak menentu. Ketika masih semester II, ia sudah memutuskan untuk menikahi gadis Bali yang bernnama I Gusti Ayu Suciati. Ia belajar menulis sejak SMA. Karya yang telah diselesaikan sampai saat ini sembilan buku dan beberapa kaset pencerahan. Perjalanan hidup yang menarik itu perlu disimak.

Menulis bagi Gede Prama adalah olah pikir dan perasaan yang dikelola dengan baik. Untuk menghasilkan karya yang baik, menurutnya perlu mengenali fisik, pikiran, dan hati. Olah fisik merujuk pada kesehatan jasmani, karena menulis butuh jasmani kuat dan selalu siap. Olah pikir merujuk pada daya nalar yang logis, sehingga menghasilkan karya yang penuh dengan kemampuan analitis, kritis, dan sistematis. Olah hati merujuk pada kematangan seorang penulis yang selalu komitmen dengan dirinya dalam proses yang panjang. Tentunya tidak boleh mengesampingkan kerja keras dan etos tinggi untuk mewujudkan idealisme. Dan akhirnya konsep kepenulisan seperti itu menjadikaan profesi penulis menjadi panggilan jiwa yang terdalam.

Untuk menuju kematangan dalam kepenulisan, penting mengkhususkan pada titik bidang yang dikuasai. Menulis bagi dia sesuai dengan masa perkembangan. Ia, ketika SMA menulis sesuatu yang sesuai yang dikuasai pada waktu itu maka lahirlah puisi dan cerpen sebagai proses imajinasi seorang remaja. Ketika menjadi mahasiswa ia menulis dunia kemahasiswaan. Dan, ketika ia sudah bekerja ia menulis tentang dunia kerjanya yakni menulis hal-hal yang berkaitan dengan manajemen, karena dia ahli manajemen. Dan saat ini ia sering nongol di Kompas dengan tulisan bertema kemanusiaan kalau tidak boleh dibilang ”religius”. Tulisan tersebut semisal ”Agama Saya Cinta”, ”Di mana-mana Berumpa Cinta”. Di samping itu, menulis sangat penting dukungan keluarga terutama istri. Kata Gede Prama In every man success is a woman behind. Keluarga, terutama istri ungkap Prama adalah sosok yang paling dekat dengan diri kita, sehingga kedekatan itu akan memberikan semangat untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini juga menulis. Sebagai ilustrasi ada keluarga yang bertengkar karena suami menganggap kehebatannya menjadi pembicara ulung karena ketekunannya belajar. Sehingga, ia mengabaikan peran istri yang hanya mengurus ketiga anaknya. Pada suatu saat, istrinya tidak mau mengurus ketiga anaknya, akhirnya si suami agak terganggu konsentrasinya untuk menyiapkan naskah yang akan disampaikan pada suatu acara. Akhir kata, suami itu gagal menjadi pembicara yang baik. Ini bukti bahwa istri sangat penting dalam kesuksesan suami. Nampaknya, pendekatan cinta menjadi obor kepenulisan Gede Prama. Cinta bagi Prama merupakan modal penting yang harus digenggam oleh seorang penulis. Cinta merupakan lilin penerang semangat yang hebat.

Di samping pendekatan dan dukungan istri, kata dia, menulis juga merupakan skenario Tuhan. Seseorang dapat menulis karena juga campur tangan Tuhan. Berkaitan dengan tangan Tuhan manusia memang perlu merenung untuk merasakan apa yang telah terjadi dalam diri kita. Sebenarnya kita tidak dapat melakukan apa-apa kalau kita tidak digerakan oleh Tuhan. Siapa yang menggerakkan planet di jagat raya ini? Siapa yang menggerakkan udara? Siapa yang menggerakkan jantung kita? Tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan. Inilah menurut sebagain penulis (Budi Darma, Lang Fang, Danarto) dinamakan takdir.

Terkait dengan tangan Tuhan, menulis bagi Gede Prama penting becermin dengan alam, karena Tuhan telah menyediakan sumber kepenulisan. Inilah menurut sebagian penulis (Budi Darma, Lang Fang, Danarto) dinamakan takdir. Tuhan telah menyediakan sumber kepenulisan yang tidak mungkin habis digali, yakni alam semesta ini. Percik air, kicau burung, desahan angin semuanya merupakan inspirasi abadi untuk melakukan kegiatan menulis. Alam sesungguhnya tak henti-hentinya mengajak kita berdialog, hanya saja kita yang kurang atau bahkan tidak tanggap dengan perilaku alam. Terjadinya gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, dan sebaginya sebenarnya perlu kita baca dan kita dengarkan ocehannya. Kalau kita mau menengok dan menimak sejenak karya-karya pujangga besar macam Mpu Prapanca dengan Sotasoma-nya, Jayabaya dengan Jangka Jayabaya-nya, Ranggawarsito dengan Serat Kalatida-nya, adalah karya besar penuh eskperimen dan dialog dngan alam.

*) Penulis adalah pemerhati budaya
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2013/05/belajar-menulis-dari-gede-prama/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.