Langsung ke konten utama

Puisi dan Berbagai Kasus Mutilasi

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com


Bagi penyair (sastrawan), puisi ibarat sebilah pedang. Kekuatan dan kegunaan puisi disetarakan senjata untuk melumpuhkan lawan atau menikam diri sendiri. Kedua sasaran puisi tersebut baik eksteren maupun inheren berposisi sebagai sektor incaran dari fungsi terciptanya sebuah puisi. Yang jadi pertanyaan adalah puisi yang bagaimana? Pedang yang mengapa? Pertanyaan atas puisi dan pedang tidak dapat dibatasi, sebab keduanya hanyalah alat. Namun jika puisi disejajarkan pedang, yang memegang peranan penting atas alat, adalah siapa yang memainkan pedang tersebut. Dapatkah sebilah pedang dipergunakan mengalahkan lawan secara indah dan mengesankan?


Memainkan alat secara indah dan mengesankan merupakan proses tersendiri bagi pesastra. Sebagaimana tergambar dalam Api di Bukit Menoreh, seorang pendekar cukup mencungkil gembok pintu dengan ujung pedang dan tidak perlu mendobrak dengan kekuatan tenaga dalam. Ada siasat yang dikedepankan. Kebiasaan menyusun cara ringan namun efektif dengan sendirinya membentuk kepribadian yang jembar, luwes, tidak cupet nalar dalam menyikapi permasalahan.

Demikianlah keterlibatan puisi sebagai salah satu sempalan sastra di Indonesia. Kedudukan puisi dapat dihubungkan sebagai alat pembentuk karakter anak bangsa. Dengan sekedar menulis puisi, manusia Indonesia terdidik mengekspresikan uneg-uneg, protes, kemarahan, gagasan, ide, imajinasi dll, dengan tanpa melukai tubuh lawan. Puisi yang sebentuk ungkapan-ungkapan pendek, singkat dan padat mampu mencukupi kebutuhan pelampiasan kritik dan otokritik.

Sekarang adalah era puncak, di mana tak ada jedah media massa yang sepi memberitakan perihal kerusuhaan. Siswa tawur antar sekolahan, demonstrasi mahasiswa, demonstrasi warga yang nglurug ke instansi pemerintahan bahkan kepolisian, keributan antar aparat, antar preman dll. Kenapa itu terjadi? Jawabnya sederhana. Karena mereka tidak memiliki cara yang praktis untuk menyadarkan lawan atau membekali diri. Tidak mempunyai sebuah karya yang membanggakan diri sendiri. Sehingga jiwa manusia Indonesia kosong. Dalam kondisi demikian, manusia cenderung mencari eksistensi dengan jalan pintas agar diakui memiliki kewibawaan, kekuasaan dan kekuatan.

Pelampiasan paling ekstrim dari jenis patologi adalah prilaku mutilasi. Di mana kepuasan mengalahkan lawan tidak cukup menghabisi nyawa, melainkan menganggap bekas jasad yang dihuni nyawa masih perlu disakiti. Padahal, ketika nyawa melayang, bersama itu juga rasa sakit terbuang.

Kita masih ingat kasus mutilasi yang menggemparkan media yang dilakukan Rian pada 11Juli 2007, di kamar 309 A, Blok C, Apartemen Marganda Garden Residen. Berlatar motif cemburu atas kekasihnya Novav yang ditawar oleh rekannya, Henryansah (34tahun). Pelampiasan kejengkelan Rian tak cukup mengalahkan (memukul ) Henryansah lawannya dengan sebatang besi, Rian pun memotong jasad Henryansah menjadi 7 bagian, dikemas dalam kantong plastik dan dimasukkan koper, lalu dibuang. Kasus mutilasi terhangat berikutnya terjadi di TOL Cawangan, Cikampek,pada 5 Maret 2013, Benget Sitomurang membunuh dan memotong tubuh istrinya, Darna Sriastutik menjadi 5 bagian, karena motif cemburu. Disusul kasus mutilasi yang terjadi pada 14 Maret 2013, Tonny Arifin Djamin (45 tahun) tubuhnya terjagal menjadi 4 bagian di Gudang Ruko lantai dasar, nomor 26 D, Apartemen Mediterania Marina Ancol, Jakarta Utara. Bahkan pembunuhan melegenda pangkal pecahnya perang dunia II yang dipelopori Adolf Hitler bertolak dari ketersinggungannya terhadap pelecehan martabat yang dilakukan lawan dengan menjadikan adik perempuan Hitler sebagai sandera pelunas hutang.

Pembunuhan tanpa motif barangkali hanya terjadi dalam film Execution Parade yang dibintangi Ted Bundy. Bundy mejagal siapapun: teman, saudara, lawan jika ia sedang ingin membunuh. Bundy kemudian mengoleksi potongan tubuh korbannya pada bagian yang paling ia anggap menawan. Sedang novel The Web Of Spy, Nick Carter yang dijuluki Kill Master, tokoh utama nocel ini tetap merangkai beberapa aksi pembunuhan yang dilakukannya karena motif bertugas sebagai agen top Axe Amerika.

Berbeda dengan mutilasi yang dalukan para sastrawan. Untuk memutilasi program Orde Baru yang melakukan (pedrus:rahasia) pencidukan terhadap orang yang dianggap membahayakan, Rendra cukup menggunakan pedang puisi Balada Terbunuhnya Atmokarpo. Bergitu juga Widji Thukul cukup melarikkan puisi: //bukan katabaru//kapitalis//membunuh//merampok//merampas//, untuk memutilasi kepicikan Kapitalis yang terbiasa menyikat lawan demi keuntungan. Sedang D. Zawawi Imron menulis puisi ‘Ibu’ untuk memutilasi ketidaktaatan anak terhadap orangtua. Atau, puisi Menghisap Kelembak Menyan karya Emha Ainun Nadjib yang berupaya memutilasi ketimpangan moral yang dilakukan kaum tua-muda, pejabat-rakyat, tradisional-medernitas. Begitulah cara penyair memutilasi lawan.

Kasus tawur antar siswa hingga kekejaman Hitler cukup kuat bahwa manusia tidak dididik melenturkan jiwa sejak dini. Sedang pelajaran sastra di sekolah tingkat dasar dimarginalkan. Barangkali harus mulai sepakat bahwa sastra di dunia pendidikan mulai dikedepankan. Bukan lantaran sastra bersifat elit bagi pemahaman sebagian orang, namun melalui sastralah siswa menyukai rutinitas baca-tulis sebagai penjembar dan pelentur kepribadian. Saya justru terkesan puisi yang ditulisTosa Putra, penyair asal Trenggalek, Jawa Timur. “Bunda, mengapa ulat bulu merajalela di Negara Kita?”// “Agar kaumenjadi penyair nak, dan kelak ketika ulat bulu itu telah menjelma kupu-kupumenghias langit, ketika itu jadikan negri ini puisi yang tak diduduki Ulat Bulu//. Tidak sekedar merekam wabah ulat bulu yang merebak di berbagai wilayah Indonesia beberapa waktu lalu, tetapi cukup memutilasi dunia pendidikan yang tidak serius mengajarkan sastra di sekolahnya.

*) Sabrank Suparno, Peserta Temu Sastra Jawa Timur 2011. Menulis esai, puisi, cerpen, cerkak bahasa nJombangan. Pernah menggelar Diskusi Budaya yang dihadiri Carlos Miquel Fonseca Horta (seniman asal Portugal) di Dowong Plosokerep, Kecamatan Sumobito bersama remaja desa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.