Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Literasi

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 26 Des 2016

Sebuah kata baru telah lahir dalam tubuh bahasa Indonesia, bernama literasi. Sulit untuk memastikan tahun kelahirannya, juga siapa yang melahirkannya. Sepertinya ia balita, atau—paling sedikit—masih kanak-kanak. Kata ini belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. Di kalangan yang merasa terdidik, kata literasi sangat populer dan diucapkan terus-menerus, tidak hanya oleh kalangan ilmiah, tapi juga oleh mereka yang mengurus perihal kesusastraan, termasuk sastrawan sendiri. Kata itu dilekatkan pada kegiatan akademis dan sastra yang bertemakan—misalnya—”budaya literasi” atau “pesta literasi”.

Orang Nomor Satu

Taufik Ikram Jamil *
Kompas, 21 Jun 2014

TENTU sajaboleh bila kawan saya, Abdul Wahab yang bertempat tinggal nun jauh di sebuah pulau dalam kawasan Selat Melaka sana, ikut merisaukan suasana pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2014 ini. Bukan karena ejek-mengejek atau sudut-menyudut di antara mereka yang bersaing untuk kursi kepresidenan sehingga dapat mengundang kerawanan sosial, tetapi ini berkaitan dengan bahasa.

Mempromosikan Bahasa Indonesia di Luar Negeri

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 15 Jan 2011

Kerajaan Malaysia sejak lama memperlihatkan langkah-langkah positif untuk memajukan salah satu bahasa resminya, yaitu bahasa Malaysia. Di Malaysia, kecuali bahasa Malaysia (tadinya bahasa Melayu), bahasa Cina, Inggris, dan Tamil pun menjadi bahasa resmi. Akan tetapi, yang dikembangkan oleh pemerintah Malaysia hanya bahasa Malaysia.

Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Makam di Tanah Suci

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 12 Okt 2015

Setahun lalu, saya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Selain mendapat pengalaman spiritual, saya membawa pulang pengalaman kebahasaan. Pengalaman spiritual berhaji tidak perlu saya jabarkan dalam tulisan ini. Sebab, apa yang saya alami selama 38 hari di Tanah Suci—Madinah dan Mekah—kurang-lebih sama dengan yang dialami jemaah haji pada umumnya. Tidak demikian dengan pengalaman kebahasaan. Mungkin hanya beberapa orang yang tertarik memperhatikannya, termasuk saya.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com