Langsung ke konten utama

Elit yang Mengolah Alam

Hudan Hidayat

Tragedi bangsa Indonesia sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, adalah abainya kebijakan negara yang membuat segenap warganya berpikir obsesif, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera haruslah mengolah kekayaan alamnya dengan tangannya sendiri. Sehingga kita membangun dan tumbuh bukan semata berdasar pengetahuan (tehnologi) dan bantuan orang lain, tapi bertumpu dengan modalnya sendiri. Yakni sumber daya manusia Indonesia yang mengolah alamnya yang kaya raya.

Abainya kebijakan ini terbaca dari tiadanya policy dengan strategi pertumbuhan yang berkait dengan sistem persekolahan sebagai penopang yang menghasilkan sumber daya manusia untuk mengolah sumber daya alamnya.

Ini berimplikasi pada sekolah-sekolah kita yang tumbuh dan berkembang bukan sebagai sebuah sistem dari kehidupan intelektual yang menghayati kenyataan hidup, yang lalu menghasilkan pengetahuan dan tehnologi yang membawa anak didiknya berorientasi mengelola alam dimana mereka tinggal. Kurikulum serta contoh saat peroses pendidikan itu berlangsung, menjauh dari kenyataan kehidupan di mana sang anak berada. Bahkan menjauhkan anak dari desa dan melemparkan mereka ke kota.

Kita bisa “menghitung” hanya ada satu “Institut Tehlogi Bandung” ketimbang ribuan perguruan tinggi yang alpa kepada orientasi pengelolaan kekayaan alam. Hanya ada satu SPMA ketimbang ribuan Sekolah Menengah Atas lainnya. Hanya ada satu Sekolah Tehnik ketimbang ribuan Sekolah Menengah Pertama.

Dalam perbandingan yang ekstrem itu, sistem persekolahan yang dipompakan puluhan tahun telah membuat bangsa kita kehilangan arah esensial untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan. Sebab apresiasi terhadap pekerjaan bukan atas dasar apa yang telah terberi dan kita miliki. Yakni kekayaan alam. Tapi atas dasar undangan dari ilmu-ilmu lain.

Maka kita saksikan perbandingan yang timpang dari tokoh-tokoh kita di segala bidang kehidupan. Kita mempunyai secara berlimpah tokoh yang mampu memproduk wacana kemanusiaan, tapi miskin tokoh yang mampu memproduk wacana dengan perangkat pengetahuan dan tehnologi untuk mengolah kekayaan alam. Akibatnya kekayaan alam kita terus terbengkalai. Hanya dihuni oleh ibu bapa-kita yang mengelola alam secara tradisional, tanpa sentuhan tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan dan tehnologi sebagai produk dari sebuah sistem persekolahan.

Kegagalan terbesar dari abainya negara menciptakan sekolah dan hidup yang berorientasi kepada alam, adalah kenyataan pahit yang harus kita terima saat ini, akan pengertian bangsa kita terhadap makna bekerja.

Bukan hanya elit kita yang gagal memaknai pengertian bekerja, dalam persepktif modal yang kita miliki, dan bagaimana menyeimbangkan langkah proporsional yang dibutuhkan untuk menggerakkan modal agar menjadi kekayaan yang mensejahterakan melalui sistem persekolahan, tapi sudah meruyak kepada segenap bangsa.

Manusia Indonesia saat ini sudah jauh sekali dari pikiran untuk mengolah alamnya sendiri, sebagai jalan keluar yang nyata untuk melangsungkan kehidupan. Ini terjadi bukan hanya karena tiadanya pengetahuan dan tehnologi yang mereka dapatkan dari sekolah, dari perusahan tempat mereka bekerja, atau program-program yang dibuat oleh pemerintah, tapi terlebih karena memang orientasi seperti itu memang tidak pernah dipompakan oleh sistem sekolah dan cara hidup di masyarakat.

Janggal rasanya, di ruang-ruang entah seminar, kampus, lembaga penelitian, LSM, muktamar, kongres, bahkan di ruang-rapat pemerintahan sekalipun, kita mendengar seorang tokoh yang menguraikan pentingnya pengetahuan akan alam kita sendiri, lalu merancang pendidikan dengan sistem riset pada suatu daerah tertentu atau komoditi tertentu. Atau merancang strategi budaya bagaimana menggerakkan sebuah komunitas masyarakat di daerah tertentu untuk mempunyai kesadaran bersama dan merumuskan langkah bersama agar mengolah alamnya, sebagai langkah untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan.

Bahkan kaum muda yang dimitoskan sebagai lapisan idealis, yang profesional maupun mereka yang tergabung dalam dunia ilmu, politik atau LSM, tak menjadikan “mengolah alam” sebagai sebuah orientasi bagi bangsa yang membutuhkan jalan keluar paling realistis, dari krisis yang menderanya.

Kerja bagi mereka, bukanlah bagaimana menghasilkan dari tanah-tanah yang subur itu menjadi biji-bijian yang bisa kita makan, atau kita ekspor. Tapi sesuatu yang abstrak: mereka yang bergelut di bidang sosial politik telah menganggap bekerja, apa bila telah berhasil menyelenggarakan perhelatan besar, atau merumuskan pokok pikiran yang, konon, demikian dimitoskan, sebagai alternatif jawaban dari krisis yang menimpa bangsanya.

Kerja bagi mereka, entah disadari entah tidak, adalah terbawa gelombang dari arus elit politik negeri ini, yang sejak awal mulanya berdiri, telah abai membuat kebijakan hidup untuk mengolah alam, yang terrepsentasi dari institusi pendidikan dengan riset sebagai sarana untuk mengolah alam. Ke alamat semacam ini bisa pula diarahkan kritik terhadap program televisi seperti Republik Mimpi, Save Our Nation atau Soegeng Suryadi Forum.

Situasi kolonial bisa menjadi titik perhitungan kita kembali. Sebagai negeri jajahan, sangatlah wajar bila elit politik pada waktu itu memfokuskan diri bagaimana bisa menjadi negara yang merdeka. Bahkan pada era Orde Lama pun, tarik-menarik politik dalam mengkristalkan perasaan kebangsaan yang masih muda, dengan bayang-bayang negara adi-daya yang bertarung secara vis-a-vis saat itu, masih pulalah bisa diterima alpanya kita menciptakan sumber daya manusia yang bisa mengolah alam melalui sekolahnya sendiri.

Tapi kemudian dengan Orde Baru, dan terutama dengan Orde Reformasi yang sangat amat terbuka, mengapa kebijakan untuk membuat sekolah atau hidup yang mengolah alam Indonesia masih juga belum tercipta? Bahkan konsepnya sebagai sebuah wacana yang ditawarkan tidak juga muncul. Padahal hanya dengan mengolah kekayaan alam dengan tangan kita sendiri, kita bisa menjadi mandiri, kaya dan sejahtera sebagai sebuah bangsa.

Kini bangsa Indonesia dibingungkan oleh dua impian bersama. Yakni mencari sosok pemimpin yang bisa membawa bangsanya keluar dari masalah yang sedang kita hadapi, dan sekaligus bekerja untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Agaknya dua impian itu bisa dimulai dari renungan akan modal kita sendiri. Yakni kekayaan alam kita dan sumber daya manusia kita. Pada elit atau manusia terdidik Indonesia di mana pun mereka berada, yang memimpin dan terutama yang ingin menjadi pemimpin, bisa kita alamatkan beban itu. Yakni sejauh mana kesungguhan mereka mau memasuki alam pikiran untuk mengajak bangsanya mengolah kekayaan alamnya, dengan menciptakan sekolah dan cara hidup yang berorientasi pada pengelolaan akan kekayaan alam.

Kesungguhan itu akan terlihat dari pikiran, apakah ada kemauan yang bisa kita amati bersama untuk mewacanakan transformasi dari sekolah-sekolah kita saat ini dan cara hidup kita saat ini, ke dalam suatu proporsi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengelola alam, dengan mempertimbangkan luas dan daerah dan besarnya jumlah penduduk. Sebuah transformasi yang akan berimplikasi kepada seluruh tatanan kehidupan, baik dari sudut tujuan pendidikan, regulasi, alokasi progam APBN, koordinasi antar departemen, sosialisasi serta mobilisasi masyarakat, yang akan membawa bangsa Indonesia bertumbuh ke arah baru yang paling realistis dan berdaya tahan untuk masa depan.

Bila hanya wacana demokrasi dan perubahan yang abstrak, sambil mengusungnya ke dalam pertemuan massal yang bergerak dari suatu daerah ke daerah yang lain, agaknya impian kita terhadap pemimpin dan kepemimpinan yang bisa membawa perubahan ke arah kekayaan dan kesejahteraan bagi bangsanya melalui kekayaan alamnya sendiri, masih harus kita tunda dulu. Sampai datang tokoh dan pengikut-pengikutny a yang mampu melejit dari cara berpikir dan bertindak yang diperagakan oleh elit politik Indonesia yang telah membuat kita terpuruk seperti saat ini.

Jakarta, 4 april 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com