Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Pencuri (Bukan) Malaikat

Teguh Winarsho AS

Asshalatu khairu minna naum...
Allahu akbar, Allhu akbar....
Laa illaha illallah....

SENYAP subuh tiba-tiba pecah oleh gema suara azan. Laki-laki itu, Hasan, hatinya bergetar. Ia harus segera menunaikan kewajibannya. Mengambil air wudu dan salat berjemaah. Tapi, ah, ada sesuatu yang membuat pikirannya resah gelisah. Kedua kakinya enggan melangkah. Tampak di atas, langit subuh meremang bertabur bintang sisa malam pekat yang nyaris pudar. Sementara di udara, kabut tipis mulai bergerak dari arah bukit melulur pepohonan, bergetar pada lampu-lampu neon di pinggir jalan.

Setelah menghimpun segenap kekuatan, Hasan memberanikan diri keluar dari balik rumpun bambu dan ilalang. Berjalan mengendap-endap menerobos semak belukar, menyembunyikan buntalan karung di antara semak tak terjamah. Di jalan depan, dalam remang pandang Hasan melihat beberapa orang tua berjalan terbungkuk-bungkuk menuju surau. Mengamit tasbih. Aroma minyak wangi meruap dari tubuh orang-orang tua itu menyentak hi…

NATURALIS ELEMENTER

Nurel Javissyarqi*

Waktu-Waktu Yang Digaris Bawahi
Setelah beberapa waktu perjalankan tubuh serta keliaran imaji menerka kejadian yang lalu di sekitar pengembaraan, sebagai mata uang lain selain membaca buku. Segala persoalan terfokus di satu titik perasaan, dan kejadian obyektif sebagai bahan pengulangan demi meyakinkan observasi dalam mencapai tangga lebih tinggi, yakni lompatan menuju dunia ide.

Waktu-waktu digaris bawahi itu masa-masa bukan berdasarkan luangnya waktu semata, atau menggebunya aktifitas yang terselesaikan lewat tidur. Waktu-waktu merupakan barisan masa teruntuk kedekatan realitas membaca wacana, berupa rindu kenangan silam.

Perolehan gesekan tajam yang bukan berangkat dari hati memendam hasutan subyektif, tetapi kepaduan penyelidikan diri, kesadaran menerima situasi sebagai bahan banding menjadi pelengkap niat menuju keteguhan.

Ketakutan bertindak berjalan kaki melewati tulisan ialah tidak beralasan atas bahayanya jaminan kwalitas, sebab hasil pengembaraan belumlah sampa…

Seni Sandur: Sebuah Bentuk Eksistensi Seni Pertunjukan Tradisional

(khususnya di Daerah Lamongan)
Joko Sandur

Kembang kelampok pak empange masang patok
Tak sawang kembange kelampok
Pak Empange masang patok
Becike kudune piye
Sing sayuk sing rukun
Tumandang makarya
Gawe bangun negara
Ala sorak….,alah hore
Ala sorak….,alah hore

Begitulah sebuah bait kidungan atau tembang yang sering di kumandangkan para niyogo kesenian tradisional sandur, notabene kesenian tradisional asli Lamongan.

Di samping itu, ada beberapa kesenian tradisional yang masih hidup terpelihara eksistensinya. Di antaranya : dongkrek, kepang dor, kepang sandur, turungga sola, jaran jenggo. Dan masih banyak yang belum terkafer penulis. Namun rasa kehawatiran, keprihatinan penulis muncul, sebab seni tradisi, khususnya daerah pedesaan, semakin terpinggirkan. Hampir-hampir tidak memiliki dukungan sosial, politik, ekonomi, bahkan kebudayaan.

Sehingga menjadi permasalahan yang tak pernah berakhir. Seni tradisi yang integral dengan system nilai tradisional masyarakat penyangganya, dipertanyakan eksistensin…

(Me) Revolusi Pendidikan Lewat Perlawanan

Judul Buku : Guru: Mendidik Itu Melawan!
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Cetakan : Pertama, Mei 2006
Tebal : xii + 206 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Sepertinya tak dapat dipungkiri, kemajuan pesat sebuah bangsa atau negara disebabkan kemapanan bingkai sistem pendidikannya. Kedewasan berpolitik, majunya perekonomian, hidup berkesadaran sosial, dan budaya masyarakat - sangat sulit dilepaskan dari peran agung pendidikan. Satu contoh, mencuatnya kasus korupsi yang menyebabkan bangsa ini tertorehkan tinta hitam dunia sebagai koruptor rangking wahid. Serasanya, tak dapat dipisahkan dengan keberadaan pendidikan bangsa ini yang menggambarkan kegagalannya.

Kegagalan-kegagalan dalam bidang pendidikan, oleh Eko Prasetyo penulis buku ini, Guru: Mendidik Itu Melawan, cukup lihai dipotretnya. Meliputi, kebijakan kurikulum, pengelolaan guru, dan managemen pendidikan tidak luput dari amatannya . Dengan gaya eksplorasi ulasan yang mendalam dan ketajaman isi, buku ini memberikan angin s…

Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya

Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : Pustaka Pujangga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan. Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.

“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berd…

Pengusaha Tikus

Haris del Hakim

Seekor tikus berlarian di antara tubuh Donggos dan keluarganya yang sedang terlelap. Kemudian puluhan dan ratusan yang lain mengikutinya. Bunyi cericitnya menggeritik telinga. Donggos membuka mata, mengangkat kepala, melirik kedua anak dan istrinya yang masih tertidur pulas, kemudian berbaring lagi.

Donggos bangun paling pagi. Hanya dia yang tahu bagaimana cara mengundang dan memilih tikus yang paling gemuk untuk ditangkap. Begitu setiap hari. Kalau salah seorang dari anak atau istrinya bangun terlebih dulu darinya, ia akan menggoyang atau mencubit tubuh lelaki berusia empatpuluhan itu. Tikus-tikus itu memang sudah akrab dengan anak dan istri Donggos, tapi mereka tidak mau ditangkap oleh selain Donggos. Bahkan, mereka tidak mau dilihat orang lain bila sedang ditangkap Donggos.

Donggos berdecak. Puluhan tikus mendekat dan berkerumun di sekelilingnya. Pada saat itu tidak boleh seorang pun menyaksikan. Pernah suatu ketika istrinya memergoki, akibatnya selama tiga hari tikus-…

Perjuangan Mengangkat Sastra Pinggiran

Musfi Efrizal*

Puisiku bukan batu Rubi ataupun Zamrud, Puisiku adalah debu, namun debu Karbala (Fuzuli, 1556)

Sastra jurnal memang jarang diperbincangkan oleh masyarakat pengkaji dan penikmat sastra. Hal ini dikarenakan sastra lebih populer lewat media koran atau buku (baca : sastra koran dan sastra buku). Tidak mengherankan jika muncul pernyataan “jangan sebagai seorang pengarang/pujangga/penyair apabila karyanya belum dimuat di koran”. Hal ini jelas sangat mendeskreditkan sekaligus melecehkan beberapa penulis yang berada di daerah pedalaman atau pinggiran.

Polemik sastra kota dan sastra pinggiran memang sempat didengungungkan, namun yang penting untuk disoroti adalah kualitas karya yang dihasilkan. Sastra pinggiran dengan segala kekurangannya bukan berarti kualitasnya rendahan, pun demikian meskipun sastra kota dengan segala hal yang dapat dijangkaunya dan didukung oleh upaya saling mengangkat nama di antara para penulis belum tentu karya mereka berkualitas.

Jurnal Kebudayaan The Sandou…

RAS PEMBERONTAK

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=68

Dipersembahkan kepada almarhum Zainal Arifin Thoha, Suryanto Sastroatmodjo, serta kawan-kawan semuanya.

Pembuka
Ini luapan kesemangatan luar biasa tentang hidup. Buah berkah yang harus disyukuri, dijalankan sebagai kerja kudu cepat melaju, keras lagi tangguh dalam pertahanan. Saya sebut ras pemberontak itu, tandingan dari sifat kelembekan yang selalu menjegal langkah-langkah lincah kita saat berlari.

Ialah gairah besar harus diledakkan kecuali ingin datangnya bisul lebih parah lagi. Bisul itu pemberhentian tidak nyaman juga sangat menyakitkan. Maka songsonglah sebelum datangnya sakit menyerang. Kita diadakan sebagaimana ada, dan terus hadir di segala jaman dan sejarah kemanusiaan. Tanpa kita dunia bengong, pikun, melempem, lumpuh, apalagi ditambah laguan melemahkan jiwa, atas dasar nilai-nilai mandul.

Marilah melancarkan jawab, sebab hanya kita yang bisa menjawab persolaan yang menghadang, oleh telah diberi limpahan kemampuan lebih di atas…

Sajak Mardi Luhung

ZIARAH KE RERUNTUHAN MAKAMMU

“Apa yang bisa aku baca dari reruntuhan makammu
yang kini tinggal lubang kakusnya itu,”
begitu akhir puisi yang aku tulis persis ketika
waktu sampai titik dan tubuhku meleleh demikian cepat

ziarah itu, ya, ziarah ke reruntuhan makam itu
ternyata tak aku gerayangi sejak mula. Yang aku
bayangkan:

“Seorang lelaki tua, berbaju terusan, berterompah
kulit samakan, dan selalu memintal tasbih antara
atas antara bawah,”

seperti asap yang digertak angin, kesaput
batu-batuan berlumut, undak-undakan kelabu, yang
aku rasa, lebih mirip gergaji daripada sesaji

dan dunia sana, duniamu tempo dulu
yang berbinar oleh umbul-umbul, kuda-kuda dan para
syuhada jadi kecebong-kecebong

yang rasanya begitu gerah untuk memetamorfosa
apalagi memahat perjamuan antara aku dan kau :
“Pertemuan antara pencari dan yang dicari”

“Tapi, apakah memang mataku yang terlalu waras
sehingga tak sanggup menangkap ketakwarasan ini?”

akh, aku pun cuma bisa kembali membacai apa yang ada
di reruntuhan makammu, dan kembali sim…

LUPA, HUTANG DAN REVOLUSI

Nurel Javissyarqi*

Lupa menyebabkan hutang, dan atau pun hakikat lupa ialah hutang. Hutang dapat terlupa, menambah bengkak nominal bunga. Lantas kesadaran hadir mecekik menghapus kenangan. Tetapi sungguh di depan itu jurang, maka kita harus mundur ke belakang, merevolus diri, berperang melawan kebijakan. Kembali kepada waktu semula untuk mendapatkan waktu kini dan nantinya, dengan kesungguhan bertambah keyakinan dari pengalaman lupa, hutang serta terlena.

Di setiap lapis kesadaran kita baca. Merasakan betapa fitroh pengembangan membutuhkan kebertemuan hukum serta pendapat yang bersilang-saling pengertian, jika tak ingin terjebak berbalik pada sudut tepian. Marilah membongkar sederet peristiwa di atas dengan menggunakan beberapa pandangan, agar tidak terhanyut lamunan seorang peneliti yang kebablasan mengenai harapan tinggi tanpa tendensi kehakikian.

Kita sadar, setiap yang mengisi denyutan kehidupan, sarat dengan esensi dan manfaatnya akan didapat kalau meletakkan isi tersebut pada tempa…

Retorika Revolusi Fidel Castro

Judul Buku : Fidel Castro Revolusi Sampai Mati
Penulis : Ferdinand Zaviera
Penerbit : GARASI
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : 180 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Akhir-akhir ini, alam perwacanaan aktivis kerap kali dijejali oleh alur wacana para penguasa kiri. Tak jarang kita temui buku-buku berseliweran memuat ulasan-ulasan latar sejarah para pemimpin anti Amerika. Misalkan, buku yang menyibak Fidel Castro (Kuba), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Evo Morales (Bolivia), dan Hugo Chavez (Venezuela). Tentunya, –buku-buku tersebut dibikin– sengaja diperuntukkan ke khalayak guna dikupas lalu diperbincangkan. Apabila kita membacanya, sedikit banyak hikmah dapat kita raup, misalnya sikap berani, semangat revolusi, hingga bagaimana model pemimpin “diktator” yang menentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia.

Dibuku ini, Fidel Castro Revolusi Sampai Mati melukiskan slogan-slogan kukuh altruistik yang dipertahankan oleh pemimpin Kuba sendiri. Sepe…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com