Langsung ke konten utama

Retorika Revolusi Fidel Castro

Judul Buku : Fidel Castro Revolusi Sampai Mati
Penulis : Ferdinand Zaviera
Penerbit : GARASI
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : 180 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Akhir-akhir ini, alam perwacanaan aktivis kerap kali dijejali oleh alur wacana para penguasa kiri. Tak jarang kita temui buku-buku berseliweran memuat ulasan-ulasan latar sejarah para pemimpin anti Amerika. Misalkan, buku yang menyibak Fidel Castro (Kuba), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Evo Morales (Bolivia), dan Hugo Chavez (Venezuela). Tentunya, –buku-buku tersebut dibikin– sengaja diperuntukkan ke khalayak guna dikupas lalu diperbincangkan. Apabila kita membacanya, sedikit banyak hikmah dapat kita raup, misalnya sikap berani, semangat revolusi, hingga bagaimana model pemimpin “diktator” yang menentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia.

Dibuku ini, Fidel Castro Revolusi Sampai Mati melukiskan slogan-slogan kukuh altruistik yang dipertahankan oleh pemimpin Kuba sendiri. Seperti, “Partia o muerte, venceremos (Tanah air atau mati, demi kemenangan). Jika lafad tersebut dimaknai, maka tuntutan bergerak dinamis tanpa pantang mundur atau menyerah adalah pilihan mutlak. Kata-kata demikian, memang sengaja diletupkan sebagai kaidah komunal yang siap dijadikan pelatuk semangat perjuangan. Kegunaannya, yaitu agar diri dan bangsa ini tidak dijajah terus menerus oleh bangsa lain, baik disektor ekonomi, ideologi, hingga sisi ketinggian derajat humanitas. Seakan kalau begitu, kompleksitas makna kemerdekaan dapat teraih, yaitu kebebasan totalitas dari segala bentuk intervensi apapun.

Meski demikian, cita-cita pewujudan revolusi tak seringan membalikkan telapak tangan saja. Bejibun jalan terjal penuh liku yang harus dilalui, hingga mempertaruhkan nyawa sekalipun adalah awal semangat perjuangan universal. Sosok Fidel Castro, merupakan sosok yang lahir dari rahim kesadaran, ia sebagai penguasa Kuba sejak tahun 1959 harus mengawali Revolutionary Directorate atau gerakan 26 Juli guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah saat itu yang dipimpin Fulgencio Batista. Pada tahun-tahun itulah, ia menggencarkan transfomasi di Kuba. Revolusi perdananya adalah mengganti ideologi negara menjadi ideologi komunis pertama didaratan Eropa.

Pemilik nama lengkap Fidel Alejandro Castro Ruz, yang akrab dipanggil Castro lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 di Biran, Provinsi Holguin, Kuba. Castro kali awal tertarik untuk nimbrung didunia politik semenjak ia masih berstatus pelajar. Dimana, kala itu dia selalu saja aktif didunia pergerakan dan cakrawala organisasi. Sikap nasionalisme yang tertancap kukuh dalam diri hingga kritiknya terhadap Batista dan perusahaan Amerika Serikat serta pengaruh politik di Kuba, telah bergumul hingga menyemai diperasaan politiknya yang kemudian diterapkan pada sikap-sikap politik selanjutnya.

Dimata lawan-lawannya –baik didalam maupun diluar negeri– Castro populer sebagai sosok penguasa bergaya sang diktator, menyebabkan ia sangat dibenci dan wajib dienyahkan. Pelbagai ikhtiar pun mulai diluncurkan kepadanya hingga ia benar-benar lengser sebagai penguasa Kuba. Baik lewat jalur politik, ideologi, ekonomi, sosial, bahkan upaya pembunuhan pun dilancarkan demi berakhirnya etape kediktatoran Castro. Kendati pun, hingga kini kain bendera kejayaan Castro masih berkibar tak kunjung menampakkan lusuh sedikit pun. Castro tetap menjadi sesosok penguasa diktator karismatik-komunis yang masih bertahan didunia dengan masa pemerintahan yang paling lama.

Revolusi Castro di Kuba, sungguh-sungguh dilakukannya secara totalitas. Ia men-sweeping besar-besaran terhadap semua kalangan –baik kalangan dalam maupun luar–yang jelas dipandang berhaluan dengan dirinya. Berbagai kajian melaporkan bahwa ribuan lawan politik terbunuh selama kepemimpinan Castro yang sangat panjang tersebut. Sebagian rakyat Kuba yang dikasih label “kontrarevolusi”, “fasis”, atau “agen CIA” didepak menjadi “pesakitan” yang harus siap temani kesunyian di Barak-barak. Mereka dipenjara dalam kondisi yang sangat mengenaskan tanpa adanya proses pengadilan, bahkan ada sebagian mereka dieksekusi secepat mungkin.

Hal itulah yang menjadi asas argumentasi Amerika untuk mengatakan bahwa Castro dan Kuba adalah pelanggar HAM berat. Yaitu, negara yang tak sealur dengan kondisi dunia yang sudah berubah. Amerika kerapkali mencap Kuba sebagai negara yang tidak demokratis. Bahkan, AS menganggap bahwa Kuba dan Castro sebagai “poros setan” (axis of evil). Maka dari itu, Castro sebagai penjahat HAM dan juga seorang diktator harus digulingkan.

Sebenarnya, kalau membincangkan tentang pelanggaran HAM berat, Amerikalah justru yang bijak disemat sebagai negara pelanggar HAM berat dunia. Acap kita dengar bersama, apa yang sering didengungkan keras oleh Amerika sendiri, tak lain adalah proyek raksasa demokrasi. Akan tetapi, mengingat pepatah: “menelan air liurnya sendiri”, adagium ini tentu sangat pas dibidikkan ke tubuh Amerika. Masih segar diingatan kita, invasi, juga agresi militer AS ke Afganistan, dan Irak, serta Lebanon, yang tak sedikit telah menelan nyawa. Bukankah praktik AS itu, salah satu bentuk pelanggaran HAM berat didunia?

Seturut merujuk pada presiden Venezuela, Hugo Chavez sesama teman Fidel Castro, menanggapi atas karakter Amerika yang terus menerus menyerang negara-negara yang tak sehaluan dengannya. Chavez berkata keras, “Mereka (AS) mungkin sudah gila, ya? Setiap hari terus menyerang kami. Bertahun-tahun mereka mencoba mengisolasi dan memblokade Venezuela, tetapi mereka gagal. Dan, mereka akan terus gagal karena tindakan mereka salah!”

Kalaupun ditelisik, hakikat keberhasilan proyek demokrasi, yaitu memberi kesempatan negara-negara lain berkembang dan menunjukkan kekreatifannya, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya sekalipun. Ironisnya, ruh demokrasi itu dilanggar sendiri oleh negara adikuasa yang mengaku paling demokratis didunia, yaitu Amerika. Ibarat pepatah lain, “Gajah didepan mata tampak, sementara semut diseberang lautan tak tampak.” Inilah kesalahan fatal Amerika, yang kian menggerogoti fondasi HAM dan demokrasi.

Dari bentuk cekamnya hegemoni AS itu, menyulut pihak Castro terus mengepakkan sayap perlawanan tak kenal lelah terhadapnya. Bahkan, wakil presiden Kuba, Carlos Lage, dalam pidatonya di KTT Tahunan Gerakan Non-Blok mengatakan, dunia sudah semakin tidak adil saat satu negara mendominasi dengan memberlakukan tekanan politik dan ekonomi terhadap negara lain.

Meski kini, Castro mulai menuai usia senja, yaitu menginjak umur 80 tahun, ia belum juga menampakkan kemanutan, dan ketertundukannya dibawah AS. Pada ulang tahunnya yang ke-80 jatuh ditanggal 13 Agustus 2006, pemimpin partai komunis ini mendapat sambutan meriah dari warga Kuba dan beberapa pemimpin negara sahabat. Ucapan selamat tahun pun dan kado istimewa datang dari Evo Morales, presiden Bolivia, dan Hugo Chavez, presiden Venezuela. Kedekatan dan jalinan persahabatan oleh kedua pemimpin negara di kawasan Amerika Latin tersebut terhadap Fidel Castro, menjadi simbol adanya kebersamaan untuk selalu menentang segala hegemoni Amerika Serikat dalam kancah perpolitikan dunia.

Kehadiran buku ini, sangat berfaedah dan membantu bagi siapapun, para aktivis gerakan guna dijadikan pelatuk berevolusi. Inilah kira-kira pesan dari semangat revolusi totalitas, yang perlu dipegang erat-erat oleh aktivis di Indonesia. Realitas sekarang, para aktivis gerakan ditengarai mandul bersuara kritis, entah apa yang membekap mereka sampai enggan berpayung semangat perubahan. Krisis kritis aktivis kini, memerlukan sosok aktivis pelopor guna menggugah keterlelapan mereka. Padahal, mengingat semangat awal perubahan adalah Revolusi Sampai Mati.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com