Langsung ke konten utama

Kota, Buku Puisi, dan Sastra Pinggiran

Fahrudin Nasrulloh

Puisi adalah sebuah kota yang sedang berperang
-- Hans Chinowski --

Begitulah kiranya gambaran sebuah kota yang berkobar dalam benak penyair Hans Chinowski, si tokoh absurd dalam novel Factotum, karya Charles Bukowski. Kota, ya sebuah kota, sebujur fosil dari kampung silam dan seiring menderasnya waktu perlahan tersulap oleh deru zaman dan modernitas menjadi sebuah wilayah yang menawarkan pilihan hidup tidak sekadar hidup. Di sana, hidup tidak semata mengalir seperti air, namun lautan yang menyimpan selapang harapan juga bayangan yang mungkin dapat “terampas” dan “terbuang”.

Bisakah sepotong puisi kuasa merayap dalam gemerlap kota dan memberikan spirit hidup bagi seorang penyair, bahkan manusia lainnya? Tentu secara kasat mata puisi tidak bisa menyulap si miskin jadi berharta. Puisi tak dapat menghalau rangsekan tank atau menyerap luapan banjir atau menyedot lumpur Lapindo yang kini kian tak tertanggulangi itu. Bahkan kitab suci pun tak kuasa melakukan itu. Tapi puisi juga bersemayam dalam kitab suci. Bahwa di sana bersemat semacam kehidupan, organisme, meski teramat rahasia, yang menggerakkan pencinta kitab suci, juga puisi, untuk meneruskan hidup dengan sumeleh dan sumringah: bersama Tuhan dengan segenap pengharapan. Juga impian untuk senantiasa mewujudkan perubahan demi kemajuan dan cita-cita bersama.

Di situlah sebuah kota menjadi ajang bagi yang hidup. Kota yang menetaskan sejarah. Menorehkan selaksa cerita lewat kisah manusia. Lantas bagaimanakah sebuah kota dicita-citakan mampu membangkitkan spirit bagi para penyair yang menghidupinya? Sebut saja sebagai misal: kota Mojokerto. Inilah kota tilas sejarah dari peradaban mahabesar kerajaan Majapahit yang pengaruhnya selama ratusan tahun silam menjangkau seluruh Nusantara hingga wilayah manca.

Inilah kabar dari sebuah kota yang nyaris tak terdengar gaung para penyairnya. Namun munculnya antologi Mojokerto dalam Puisi (DKM, 2006, Mojokerto) merupakan salah satu bukti nyata bahwa di kota ini gairah berpuisi tidak bisa diremehkan begitu saja bila dibandingkan dengan kota ikon budaya lainnya semisal Yogyakarta, Solo, Semarang, Jakarta, dan Surabaya. Kendati gerakan revitalisasi sastra pinggiran telah tamat beberapa tahun lampau. Namun, masih saja para penyair, dan kreator seni pada umumnya, bermekaran bak jamur hujan. Inikah bukti bahwa puisi tidak sekadar kata-kata, tapi serupa ruh yang mengada yang menjiwai pada semacam kitab suci? Seakan ada sesuatu yang mengekal dan terus lahir dari sana.

Antologi tersebut memuat 14 penyair yang terdiri dari Aming Aminoedhin, Andi Nurkholis, Chamim Khohari, Gatot Sableng, Hardjono WS, Max Arifin, Moh. Misbakh, Mugianto, Faqih, Saiful Bakri, Suliadi, Suyitno Ethexs, Tausikal, dan Umi Salamah. Dalam kata pengantar, yang ditulis oleh Dwi Astuti Abdul Gani, tertoreh beberapa larik sambutan, mungkin serupa puisi, yang cukup menggugah dan inspiratif: Hari ini kubelah/Udara kotaku/Dengan kata-kataku/Yang menyanjungmu/Atau mungkin mencacimu/Karena cintaku padamu Mojokerto/Dan kini, telah kusiapkan/14 mata tombak/Pembelah udaramu.

Baris-baris di atas begitu lantang, seperti tombak runcing yang berkelebatan di sebuah kota yang sedang berperang; mengisyaratkan bahwa 14 penyair itu lagi mempertaruhkan kreativitas mereka lewat puisi. Adakah mereka berperang dengan pekik Kita guyah lemah/Sekali tetak tentu rebah seperti teriak Chairil Anwar? Tentu waktu yang kelak menguji kesungguhan itu. Bahwa hidup dan proses kreatif penyair sejatinya dihadapkan pada dua hal: ia terkutuk demi kata untuk hidup-mati berkarya atau jadi penulis puisi sekadar untuk pelepas penat dari hidup yang nelangsa dan berputus harap. Lantaran itu, kita membutuhkan “Penyair-penyair ‘beneran’ dan bukan penyair-penyair ‘kebeneran’”, demikian seruan dalam pengantar antologi puisi bersama Surat Di Jalan Berdebu (DKM, 1998, Mojokerto).

Lebih dari itu, para penyair Mojokerto terus bergerak, berbaris, sembari mengibarkan puisi-puisi mereka. Antologi demi antologi terus berlahiran. Sebut saja: Selamat Pagi Ngoro Industri (Hulig-Hulig Indie Press, 2002); Bulan Dalam Bingkai (Swaramas Press, 2002); Indonesia Adalah Aku (Forsamo, 2002) dan Goblok (2006) karya Suyitno Ethexs; Kidung Perjalanan (2002) karya Heru Budianto; dan Berita Basi (DKM, 2004) karya Saiful Bakri.

Seberapa jauh para penyair ini (atau penulis puisi?) menakar sekaligus mengokohkan kualitas kepenyairan mereka? Tentu jawabannya ada pada kritikus sastra yang menggeluti proses kreatif mereka dan seberapa getol mereka bersabung-tanding dalam ajang besar di gelanggang perpuisian Indonesia yang “batu-uji”nya adalah media massa, baik di koran maupun majalah sastra misalnya. Hal ini menjadi penting. Sebab, tanpa semangat demikian, para penyair ini cuma ber”solilokui” dalam sumur pengap yang mereka sangka di dalamnya mereka telah hidup dan mempertarungkan puisi-puisi mereka di jagat perpuisian Indonesia.

Penyair harus mencari jalan kembaranya sendiri. Karena selama ini sudah tak terhitung penyair yang berhenti atau disibukkan dengan urusan-urusan di luar puisi dan proses kreatif. Karena itu, salah satu sebab yang menurut Afrizal Malna sangat membahayakan adalah ketika, “Banyak penyair bermunculan dan melihat kepenyairan hanya sebuah perjalanan untuk mendapatkan legitimasi. Ruang eksistensi untuk banyak pergulatan kian menghilang. Petualangan lebih banyak bermain dalam wilayah hubungan-hubungan legitimatis seperti ini.”

Kita pun berharap, sebuah kota seperti Mojokerto tetaplah memberikan spirit pertarungan kreatif, apapun bentuknya. Bukan seperti kota Utara Kuru (dalam kisah pewayangan) yang seolah hidup seolah mati, kendati menjanjikan ketenangan yang melenakan. Dan “Kita tidak ingin hidup di kota seperti itu,” tentang Bung Karno ketika bicara soal jati diri bangsa. Tersebab itu, dalam konteks negeri yang kian tak menentu ini: bisakah para penyair “pinggiran” tersebut dapat menyorong “perubahan baru” dalam arus besar perpuisian Indonesia?

Jurnal Kebudayaan Banyumili, Mojokerto, edisi April 2007.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com