PERJALANAN TUNAI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Herbert, si buyung tanggung.
Masih juga bergema, nyanyian gereja yang kemarin kaulantunkan itu. Masih juga bergema di ruangan itu – dan kini kubayangkan kembali suasana yang membawa rahmat – kala aku menginsyafi, betapa telah tambah jauh jabat tangan yang terbuhul, terkembang dan terlayarkan. Kita menatap telapak matahari, mencoba mengatasi kejemuan yang bukan mustahil; tuntutan kala. Biarlah kita menyusun ketegaran baru, bila kupercaya mampu menyambutnya. Biarlah kita mematut-patut keracikan kalimat, yang sanggup melukiskan siapa dan di mana sangkutan angan. Seorang pemuda remaja yang tengah bangkit memapag surya, hendaknya menengok segi-segi gemilang dari percaturan martabat.

Herbert yang menyenangkan.
Masihkah kaunikmati hari-hari liburmu dengan berburu ke hutan karet yang menyisakan bayang menggelinggam itu? Mungkin teramat merdu kicau burung palupanggang yang dengan siulnya yang penuh ejekan itu, terbang dari satu dahan ke dahan pohon lain, untuk mengucapkan selamat siang. Ah, alangkah baiknya jika senapanmu tak kau isi dengan peluru yang kejam, yang dengan lelehan timahnya yang panas itu merenggutkan keluarga-keluarga satwa terpencil. Dalam kenyataannya yang beragam, kita mungkin dapat menyegerakan sesuatu yang tinggi, tunggal, kemudian mencoba untuk merekamnya. Dalam gaungnya yang memuput, terasa hidup semakin menyempitkan satu kebakuan. Dengan cara demikianlah maka kita purukkan kesangsiannya.

Herbert yang memikat.
Maka alangkah gembiranya hatiku jika kau mau lebih gigih lagi menebarkan keyakinan menyeluruh, dengan sebudi akal, berusaha menyuburkan sesuatu yang lebih kokoh. Kita misalnya dapat menghemat tenaga untuk sesuatu yang kuat, dengan kesanggupan yang sebaik-baiknya, direntanglah bagian yang melegakan. Masyarakat masih senantiasa siap menunggu satu kesempatan untuk tumbuh-kembangnya bibit-bibit muda yang tegar. Masyarakat masih memerlukan sesuatu yang penuh ketulusan, justru karena panggilan untuk maju itulah, kita bisa menebarkan kebajikan yang utama. Betapapun juga, hidup masih membutuhkan peringkat-peringkat yang sesungguhnya. Dari sebuah pahatan kesucian, makhluk yang bernama manusia tetap menginginkan kesujudan. Karena itu sungguh setara memanggil ruas-ruas yang tajam dari pengharapan inti, sampai pada akhirnya kita sambut sorai kemenangan.

“Akan tetapi, jelaslah kita belum mungkin memperoleh kelayakan dari hidup. Kita mengejarnya, dengan meningkatkan taraf-taraf tertentu, sedemikian lenturnya sehingga budaya masyarakat tertolong,” ungkapnya. Kau masih juga meyakini, bahwa harapan yang terbaik adalah kemanusiaan yang utuh. Kau masih juga meyakini bahwa harapan yang ‘menyegerakan tuduh’ adalah ikhwal yang melegakan. Ya, ya, ya. Karena itulah saya menyiapkan satu kepuasan bila bisa menangkap ruas-ruas pendapatmu yang kokoh seputar hidup. Kalau kau dewasa kelak, benteng yang unggul telah siap kaurebut!

Herbert yang lanang-gemilang.
Katakanlah bahwa bahasa paman teramat tandas. Hanya saja, paman sadar, dirimu sudah siap untuk menerima wawasan lebih kongkrit yang memberikan upaya baru untuk memahami apa yang bernama ‘ragu’ dan apa yang bernama ‘luruh’ – sampai pada penemuan membaja. Bahwasanya, sebagai lelaki muda, kau memiliki dasar dan andalan yang tegar. Dengan persiapan yang dimulai dari rentang-panjang hari lampau, kaitan kini dan esok terasa makin lempang. Kukira, hanya dengan segala rengkuhan itulah maka dirimu bakal menyusul baris-baris nyiur yang menghojah langit. Karena, seraya menebarkan keyakinan untuk ‘menyerbu benteng depan’, hidupmu mekar di haluan.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Komentar