Langsung ke konten utama

Sajak Mashuri

Demi Waktu

1

Petir mengalir di bibirku, lalu kulafal satu-satu
kupanggil ibu; tanah-tanah rekah yang rindukan rindu
hujan di seberang yang menggigil
dengan tangis temaram, gerimis memeram
kukecup ketiadaan dan waktu
patah, bersitahan di udara
jarum jam yang berhenti
di ujung lidah
di atas kandil-kandil padam
dan kuyup wajah sang kala
dibasuh liur dan ludah
menghuni lahat, semakin purba
kusebut waktu, waktuku



2

di awal sura, ketika terakota masih mentah, merah
dan tanah masih tertinggal di muara
ada purwa yang dingin
mengalir dari garba
beranak sungai, mengalir pantai
kekalkan cinta pada nestapa
: dunia
lalu tinggalkan liang senggama
dengan keperihan pendosa
dan rumah terbangun dari senyap
pipih lengan menopang pilar
hitam
kekokohan bangkit dari malam
dan kokok ayam jantan membuktikan
fajar
masih menyesalkan sebuah kepulangan
dan pagi tergelar dengan hambar
lihat, sebuah kota terbangun dari kediaman
dan tangis
tertahan



3

seruling gembala turun ke rerumput
menjemput
bunyi
suara gelombang terdengar sunyi
angin berpaling ke lubang
bercakap
dalam bahasa gelap
lalu bunyi menyemburkan ludah
serupa darah
di tengah padang
seorang berjubah menari
katanya, pagi telah memberinya bayi
dan rumpun rumput ranggas akan ihlas
melepas nafas
memberi tangan pada jemari
menari



4

dalam hujan bulan juni, aku bangkit dari ketiadaan
waktu berputar dalam porosnya
aku bertanya pada secuil kisah
: adalah puisi bakal abadi
dan senyum Aida, dengan tangan-tangan memabukkan
membimbingku pada altar
katanya, rasakan kecupku
dan kau akan tahu, ada kata terbebas dari kelenjarmu
dan menepi dalam sumsumku
ada mimpi di rambutmu
dan mengental di rambutku
kuingat dari matanya
hanya hitam
hitam



5

almari, kendi, cecandi, stupa, arca
sepiring nasi, segelas air, meja berserakan
dan sebuah jam tangan
terlipat sapu tangan
aku membaca
dengan tafsir kupu-kupu
sebuah ulat yang merambat, kepompong kosong
dan sebuah samadi tak selesai
lalu waktu berhenti
aku terus mengejarnya dalam koordinat
keparat
berlepasan
mengandaikan dunia berputar, berputar, berputar
kutahu, ada yang diam
dalam diri, yang bergelombang, centang perenang
dan menabrak karang
lalu menghakimi kekekalan sebagai asal
dan memuja anal
dengan kepala terpenggal
lihat, aku telah bunuh diri
aku telah bergerak menuju mati
dalam pelarian yang diciptakan hujan pagi ini



6

desember
salju turun
seorang tua menanting ranting
dibakarnya
asapnya
ciptakan bayang-bayang
ibu
aku berlari dengan kemeja putih
putih getih
dan kuinginkan ada yang pergi
ketika putih menjelma
kafan
berlayar
dalam waktu
menembus
kelengangan
raih
getih pertama
dalam pertarungan
ingatan
purba
menyelinap
menusuk
paksa
gelap
merasuk
kutanting kesucian
di tiang gantungan
dan waktu
menjelma batu
di pelupukku
wal ‘ashri!
kutahu, ada yang pergi
bersampan
dengan nampan
kembang, ketika bau kamboja dan dupa
bersetubuh
rapuh
merapal ajal dengan kesakitan
shaktiku!



7

petir mengalir ke tanganku
kesadaranku beterbangan di pepohon trembesi
dahan-dahannya coklat
mengingatkanku pada wajah coklat
keramat
lalu kubisikkan bisikan-bisikan bergemuruh
ada yang luruh
menjelma gambar-gambar, kebaya berbunga
surjan dan terompah dan peta negeri antah berantah
kusematkan keris di pinggangnya
“Tidakkah kau lihat aku, tidakkah kau lihat aku yang telah
menguasai kekuasaanmu, tidakkah kau lihat bagaimana aku telah
merajah telapakku
tidakkah kau lihat aku, dengan rajah-rajah waktu menyembur
mulutku
tidakkah kau lihat aku menggenggam rajah kalacakra
dan siap mengguncang waktu, dunia, ibu”
pohon trembesi rebah
hantu menangis darah, lalu segumpal tuah merayap
di cakrawala
sebuah surga terjelma dari kehancuran
dan kuhancurkan lengan-lengan, dahan-dahan, pokok kayu
aku bangun rumah
rumah waktu
dengan pigora-pigora, foto-foto keluarga
aku terpancang di sudut dinding, memandangnya
dengan pandang semesta
ketika dunia geser oleh kata-kata



8

burung-burung agung hinggap di ladang
ladang ditanami pohon bergetah
burung-burung agung telah terbang
terbang ditelan silam yang kalah



9

waktu berhenti
dengan pertaruhan tak henti
aku pulang
dengan kesakitan
di sudut bibir
petir menuliskan alamatnya di pintu
: kau telah kafir!
di sebuah ruang
kutenggelamkan pengetahuanku

Surabaya, 2003

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com