Langsung ke konten utama

SENYAP TENGAH HARI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Ini kali aku mencoba bertanya tentang Hidup – bukan pada seorang filsuf, bukan pula pada seorang arifin. Aku mencoba bertanya justru kepada diri sendiri. Orang boleh menyangsikan hal ini sebagai suatu kemustahilan. Ya, bolehlah diperkirakan padanya, bahwa angan-angan toh boleh juga dikembangkan. Diterbangkan ke angkasa raya.

Senyap tengah hari. Aku cuma dengar suara tenggeret dan garengpung mendusin, mengerang, menguak, dan kemudian menggelegak. Sementara itu, suara kinjeng-tangis atau capung yang memilukan hati, seperti mencoba untuk pasrah, sementara dia tak mungkin sepolos itu dalam menyerahkan tubuh dan jiwanya.

Senyap itu menggerutu. Senyap itu menggerendeng. Senyap itu untar-gemuntang di dalam jiwaku. Tepatnya, di pedalaman dusun batin yang paling jauh. Sehingga, tatkala Bapak Mertuaku datang pada tengah hari, tepat pukul 13.30 WIB, aku seperti terdorong dari kursi goyang, dan terlompat menyongsongnya. Hal itu sudah terlatih sejak sebelum dia menjadi mertuaku. Jauh sebelumnya. Tuan tahu, Pak Sosrojoyo adalah seorang guru SMA di kota ini, dan tujuh tahun ini pensiun. Aku salah seorang dari alumnus sekolah itu. Wajar aku menyayangnya, justru karena dia guru dari darah dan daging. Guru paling sederhana yang pernah kukenal. Kemeja yang ia kenakan cuma kuning-muda dengan kotak-kotak kecil, dan sudah kulihat jahit jelumatan pada bahu dan dekat ketiaknya. Ia merokok pakai pipa dari tulang ikan longker, sejenis mujair besar yang hanya terdapat di Laut Jawa sisi barat laut, kawasan kota kecil tempat saya dibesarkan. Lantas sepatu sandal coklat yang agak tua. Ia pakai dasi lebar hitam, dan itu wajar, karena dialah Kepala Sekolah di situ. Disebut sederhana, karena selain mengepalai sebuah sekolah, Pak Sosrojoyo – yang biasa dipanggil dengan nama Pak Cos itu! – juga mengajar kelas tiga, tepatnya dalam Analitika.

“Ooh, Pak Cos agak terlambat ini!” dengusku sebagai sambutan ketika lelaki tua berambut putih memplak itu datang, langsung dari beranda depan menuju ke kamar baca, yang letaknya berseberangan dengan kamar pribadiku. “Hari sudah tengah hari kini. Janjinya kemarin, Pak Cos akan datang dan bersama-sama daku bersepeda gembira berkeliling kampung selama 5 putaran, sampai keringat kuyup.”

Oya, pembaca, aku pun memanggilnya Pak Cos, kendatipun aku menantunya. Istriku, Niken Lukiani, juga menyebut ayahnya dengan sebutan populer itu. Istriku adalah putri ketiga, yang justru paling disayang!
Ia ketawa. Giginya sudah ompong, dan tinggal tiga gigi deretan bawah, dan dua buah gigi pada deretan atas. “Begini, Sur. Pak Cos tengah bikin kandang ayam di belakang rumah. Kukerjakan sehabis shalat Subuh hingga jam 09.00 pagi. Habis itu, aku mandi dan makan ketan-urap, dan mereguk kopi susu. Nah, lantas baca koran di pendapa. Habis itu mengantarkan ibumu ke pasar. Lha, baru setelah jam 12.00 siang, teringat ada janji denganmu. Maafkan Pak Cos ini, ya, Gus.”
Ia ketawa lagi. Selalu dirinya menyebut “Pak Cos”, bila merasa khilaf kepada siapa pun, termasuk kepada anak dan menantu. Dan aku menyahut, “Nggak apa-apa, Pak. Maksudku, kalau Pak Cos bersedia, kita bisa rutin bersepeda gembira tiap pagi. Lumayan buat gerak badan sehat, ketimbang bangun kesiangan.”

“Idemu bagus, Gus Sur. Bagus sekali. Cuma, bagaimana aku bisa menepati janji, itu soalnya. Olahraga selalu menuntut disiplin tinggi.”
“Maksudku, bukan memaksa bapak. Tapi, buat sekadar penyegaran tubuh. Sekalian, akan kuajak mencicipi jajanan Pasar pagi di Kemlayan, yang sudah buka sejak dini hari, dekat perempatan Nguter ke timur. Eh, Pak Cos kan senang banget makan serabi kocor, ya.”
“Ha ha ha ha, Gus Sur! Itu kegemaran sejak muda. Yah, baiklah, kita coba mulai esok pagi.” Ia berjanji seraya mengelap keringat di jidat, dengan handuk kecil yang dikalungkan ke leher. Pak Cos pakai piyama dari tetoron berwarna krem, dan sarungnya berwarna biru-muda yang sudah agak luntur.

Aku berdehem, seraya bangkit dari kursi. Ah, nggak begitu yakin, mertuaku bisa melaksanakan janji. Contoh sederhana saja: lihatlah, dia mengacak-acak koleksi buku-buku di ruang tengah; Ensiklopedi Indonesia. “Zaman saya muda, langka sekali tulisan ini. Biasanya pun ditulis oleh orang Barat. Wilker Prins Ensiklopedi ataupun Ensiklopedi Americana. Ini, malah…ditulis oleh sejumlah ilmuan muda Indonesia…” dan Pak Cos terus membuka halaman demi halaman, memperhatikan gambar-gambar. Ketika aku mendangir bibir krokot dalam pot kecil di sudut belakang rumah, Pak Cos juga masih duduk menekuni buku tebal itu. Eh, biasanya, sesudah menarik suatu judul buku, terus diambilnya, dan ngeloyor pergi. Mertuaku penggemar buku non-fiksi, terutama teori-teori filsafat; toh, dia tak bisa menampik bacaan roman. Buktinya, seluruh khazanah novel di almari bukuku sudah dijamahnya. Sebagian besar…nggak dikembalikan ke tempatnya, alias hilang – ketlingsut. Karena tahu akan kebiasaan yang kurang baik itu, aku sedikit menggerutu – dalam hati, tentunya – setiap Pak Cos berada di situ.

“Gus, Gus,” terdengar suara Pak Cos, pada ujung tengah hari, setelah pembantuku meladenkan kopi susu segelas besar ke meja di dekatnya. “Bilanglah pada Arif, bahwa Eyang Kakung akan mengajaknya jalan-jalan ke Balekambang, sabtu siang besok.”
Aku meletakkan cetok dangiran, dan menoleh ke arahnya. “Mana mungkin, Pak Cos? Arif sekarang sering latihan kepramukaan pada tengah hari. Kalau nggak, latihan tari dan nyanyi.”
“Wong hanya satu dua jam, Gus Sur! Lagipula, aku ingin membelikannya dolanan bocah.”
Aku menggaruk-garuk tengkuk. “Pak, Arif sekarang sudah gede. Kan sudah kelas enam Sekolah Dasar. Dia nggak suka bermain bedil-bedilan. Waktu-waktunya tersita buat belajar, Pak.”
Giliran mertuaku bersuara keras, “Gus, kau salah tampa. Maksudku, biarlah Arif akrab dengan Eyang Kakung dan Eyang Putri-nya. Masak, sejak dulu, dia “jauh” dari kami berdua. Padahal, sudah lumrah bahwa seorang cucu dekat dengan kakeknya.”

Nah, aku mesti hindari pertentangan semacam ini. Pada dasarnya, aku enggan berdebat, terlebih-lebih untuk soal-soal remeh yang hanya membikin kemasgulan berkepanjangan. Maka, saya mengambil ember, dan menyirami pot-pot bunga di teras. Matahari sore merekahkan sinar kuningnya yang lembut, memercikkan warna ceria. Kenapa Pak Cos malah mengungkapkan soal si Arif. Tengah hari tadi, dia berangkat bersepeda dengan teman sekelas, ke perpustakaan, belajar berkelompok. Tiada hari tanpa kesibukan di sekolah, atau kancah pendidikan. Sejak kelas 5 SD, rasanya dia semakin “jauh” dari kami: ayah dan ibunya. Mana mungkin aku sanggup berpikir, bahwa Arif juga “jauh” dari si kakek?

Pak Cos berdiri, seraya mengempit buku tebal itu. Tepat dugaanku. Dia pasti akan membawa pulang buku ini. Terbatuk-batuk sebentar, dia menghapus bibir dengan handuk kecil yang melilit leher. “Pikirkanlah, Gus. Tiga cucu kami terdahulu semuanya perempuan. Baru si Arif ini yang lelaki. Wajar, bukan, kalau kami dambakan, agar dia lebih dekat ke pihak kami. Eyang Putrinya malah berpesan, setiap Sabtu petang, biarlah Arif tinggal di rumah kami, sampai hari Minggu.”
Aku temungkul. Sulit menjawab usulan ini. Selesai menyiram kembang, aku tinggalkan mertuaku di teras samping. Apa yang dia omongkan, tak begitu kudengar lagi. Aku sudah mengambil handuk untuk mandi, waktu kulihat Pak Cos ke ruang tengah, dan menyetel radio transistor kecil yang terletak di atas buffet. Lantas, terdengar irama lembut keroncong dari sebuah radio swasta niaga, dinyanyikan oleh seorang biduanita tak terkenal. Terdengar suara mertuaku, “Sungguh, Gus, kau bakal merasakan kelak, kalau sudah punya cucu. Selain kepingin mengemong mereka, mendekat…” entah apa kalimat itu selanjutnya, aku nggak dengar.

Di kamar mandi, sambil menyiramkan air ke tubuh, aku teringat Pak Cos, lima belasan tahun lewat. Aku pernah jadi muridnya. Satu hal yang sering kuingat, aku dipanggil waktu istirahat siang, untuk disuruh itu-itu. Misalnya, mencatat buku-buku baru yang diterima dari seorang penerbit untuk perpustakaan sekolah, atau membersihkan papan tulis. Sesuatu yang menunjukkan adanya atensi dari pihaknya terhadap diriku, anak janda miskin ini.

Yang agak aneh, bahwa suatu ketika, aku disuruhnya menjual kalung emas ke Toko mas “Mutia Murni” di kulon pasar kota. Wanti-wanti pesannya, seraya membungkus benda berharga itu dalam sapu tangan kecil hijau. “Ati-ati, Gus. Jangan bilang kepada siapa pun. Nanti sore saja uangnya kauberikan padaku, lewat Mbak Martini.” Aku manggut-manggut. Sorenya, aku pergi pada Mbak Martini, kepala Tata Usaha sekolah kami, yang menerima uang tersebut seraya berbisik, “Dik Sur, kau jangan bilang pada siapa pun, bahwa aku terima uang dari Pak Cos.”
“Memangnya kenapa?” aku balik bertanya. Mata Mbak Martini bersinar-sinar, tetapi tak menjawab. Dia hanya mengambil sehelai uang ribuan dan memasukkannya ke sakuku.

Di rumah, aku nggak bisa tidur. Ada apa gerangan, antara Pak Cos dan Mbak Martini yang masih gadis dan cantik itu? Teka-teki itu terus kusimpan dalam hati, sampai beberapa tahun kemudian, tatkala aku pacaran dengan Niken Lukiani. Hampir setahun kami berhubungan, sampai kepada kebiasaan yang hampir sama: jalan-jalan di Bintara, pusat kota kami, dekat komplek pertokoan dan gedung bioskop besar. Tak diduga sebelumnya, ada sedikit keresahan pada Dik Niken. Ini kentara sewaktu aku menatap matanya.”Ada sesuatu yang mengganjal?’ tanyaku. Dik Niken tersenyum. Senyum hambar. Lalu kami bergandengan, menyeberang jalan. Menuju Pusat Es Krim dan Soto Madura “Lembayung”. Kami duduk dan pesan makanan-minuman. Kembali kulihat kegundahan pada matanya. “Terangkan, Dik, padaku. Siapa tahu, aku dapat memberikan jalan keluar,” saranku.

Sayang, Niken bukan gadis yang doyan berterusterang. Dia hanya menekurkan wajah. Beberapa potong kalimat sempat meluncur “Oooh, sayang, ayahku kurang jujur, Mas. Ibuku purik, pulang kepada Eyang, selama sebulan ini…aku…”
“Apa faktor penyebabnya, Dik?”
“Biasa, soal perempuan. Diam-diam, Ayah punya bakat pemikat wanita. Aku malu, Mas.”
“Dengan siapa beliau berhubungan intim?” Niken memandangku. Aku menatapnya, tajam. Dia temungkul. Jemarinya kuremas hangat, “Jangan malu menceritakan hal itu, Dik. Biar tuntas, Niken.”
Agak pelan dia bilang, “Mbak Martini, Mas.”
Nah, terjawablah teka-teki beberapa tahun silam. Rupanya Pak Cos punya love affair dengan Kepala Tata Usaha yang cantik dan muda itu. Untung, peristiwa itu hanya berlangsung singkat, beberapa bulan saja. Kemudian Mbak Martini dipindahkan ke kota lain, dalam jabatan lain.

Para pembaca tidak usah heran, kenapa peristiwa ini kukenang, di saat mandi siang tadi. Lha wong hal itu pulalah yang membuat Dik Niken makin dekat dan rapat denganku. Bahkan, seperti sukar dipisahkan lagi. Sebelum kami berdua lulus perguruan tinggi, tak sabar lagi kuutarakan maksudku pada Pak Cos. Semula dia agak keberatan, mengingat statusku masih pengangguran saat itu. Hanya lantaran kelihaian diplomasi Dik Niken, benteng pertahanan itu berhasil kami tembus. Situasi yang alot menegangkan akhirnya dapat kami tanggulangi. Agaknya perlu kuceritakan: hampir dua tahun, aku “numpang” di rumah mertua, sampai studiku rampung. Untung Pak Cos belum pensiun, sehingga secara ekonomis tidak berkeberatan dengan tambahan satu anggota keluarga ini. Lagi pula, dia sedikit sungkan padaku, lantaran kisah cintanya dengan Mbak Martini yang nyaris menggonjang-ganjingkan rumah tangganya tercium olehku, dan aku secara diam-diam menciptakan “nilai’ tertentu dalam hati, sebagai sesama lelaki!

Tok! Tok! Tok! Pintu kamar mandiku diketuk dari luar. “Siapa, ya?” teriakku tak kalah keras. “Pak, Eyang Kakung kondur, Pak! Beliau berpesan, besok pagi-pagi siap bersepeda gembira!”
“Eh, Rif, Arif! Kau ikut ke rumah Eyang?”
“Iya, Pak. Mau lihat ayam kalkun yang baru saja dibelinya dari pasar. Pak, aku pergi, Pak!”
Biarlah Arif sesekali kepingin manja pada Eyang Kakung-nya. Asal tidak keterlaluan dimanja. Aku perlu memberi kelonggaran pada anak lanang yang kini sudah tampak gede, dan lebih tampan ketimbang bapaknya.

Oya pembaca budiman, sejak tadi belum kuceritakan, di mana istriku, Niken Lukiani berada. “Kan dia tidak menemani bapaknya tengah hari tadi, di rumah ini tentu saja. Lha wong dia di rumah sakit, kandungannya sudah sembilan bulan lebih, menjelang persalinan. Ha ha ha, aku sebenarnya tengah menyambut kelahiran anakku yang kedua. Sore ini, aku akan membezoek Niken Lukiani, putri Pak Cos yang “nyentrik” itu.

*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com