Langsung ke konten utama

GERBONG GAGASAN MARHALIM ZAINI*

Catatan atas Antologi Langgam Negeri Puisi
Maman S. Mahayana**

Hakikat puisi adalah citraan (imagi). Dengan kekuatan citraan itulah, penyair coba membangun pesan moral, ideologi, atau apapun dalam bahasa yang kemas, padat, dan langsung. Tentu saja di dalamnya ia juga coba menghadirkan nilai estetis yang mungkin hendak ditawarkannya. Oleh karena itu, dalam puisi, penyair bergulat dalam tarik-menarik antara keinginan mengolah pesan dan menyampaikannya lewat citraan dan bahasa yang kemas-padat, tetapi juga dengan tetap memperhatikan nilai-nilai estetiknya. Akibatnya, penyair tidak punya banyak kesempatan untuk menguraikan sesuatu dengan deskripsi yang panjang atau menjelaskan perkara atau apa pun dengan uraian yang begitu terinci. Pertimbangan kehematan bahasa menjadi taruhan.

Itulah konvensi puisi. Setidak-tidaknya, citraan itulah yang menjadi salah satu ciri yang khas dan penting bagi puisi dibandingkan ragam sastra lainnya. Sebutlah sebuah kata tertentu, maka serempak dengan kata itu, pembaca digiring untuk membayangkan banyak hal tentang kata itu dan keberkaitannya dengan hal lain, baik secara sintaksis, maupun semantik. Kata “Braak!” misalnya, memaksa kita membayangkan sesuatu yang patah, ambruk, atau pecah. Sesuatu yang patah itu sendiri bisa kayu, dahan, kaca, atau bahkan hati. Jadi, hanya dengan satu kata itu saja, berbagai pembayangan dan asosiasi hadir secara serempak. Itulah yang dimaksud citraan. Lalu, agar sesuatu yang patah itu bermakna, harus ada rentetan kata lain untuk membangun tema yang dihadirkan di sana.

Meskipun demikian, konvensi itu tentu saja bukan tanpa risiko. Dalam hal ini, penyair terpaksa melakukan banyak pertimbangan untuk melakukan penyisihan sejumlah kata, frase, klausa atau kalimat yang dianggap dapat mengganggu nilai estetik puisi yang bersangkutan. Jadi, puisi apapun harus dipandang telah melewati proses panjang kesadaran penyairnya untuk melakukan pemilahan dan pemilihan yang berkaitan dengan diksi, style, atau gaya bahasa lainnya. Jika ada kata-kata tertentu yang dianggap tak perlu benar kehadirannya, penyair akan segera menyisihkannya agar keseluruhan bangunan puisi itu sendiri tak terganggu.

Mengingat kedudukannya itu, muncul tuntutan lain yang tak dapat dielakkan. Bahkan kerap menjadi kegelisahan para penyair, yaitu tindak eksplorasi bahasa. Efisiensi dan penghematan bahasa, penghadiran citraan, dan berbagai kemungkinan melakukan tindak eksplorasi bahasa merupakan bagian inheren dari kegelisahan sang penyair. Jika itu tak dilakukan, maka ia akan terjerembab dan masuk wilayah para perajin puisi. Mereka akan cukup puas mendapat label penulis puisi, meski tertolak sebagai penyair.
***

Puisi adalah puisi! Begitulah aliran Kritik Baru (New Criticism) mencoba mendefinisikan puisi. Sebuah rumusan yang sebenarnya secara logika tidak menjelaskan apa-apa, tetapi sekaligus juga menunjukkan betapa puisi tak gampang didefinisikan dengan seperangkat kata yang memberi pengertian tertentu. Ketika ia didefinisikan, ketika itu pula serempak lahir masalah atas rumusan yang mencoba mengikat puisi dalam kotak definisi. Lalu untuk apa puisi dipelajari jika ia “gagal” didefinisikan? Di sinilah kekhasan dunia sastra (: puisi). Keberadaannya penting bukan sekadar untuk dipelajari, melainkan juga untuk diapresiasi, dimaknai, dan diberi nilai. Maka, yang seyogianya dilakukan adalah mencermati substansinya, ciri-cirinya, dan ruh yang mendiaminya, kemudian coba menerjemahkan melalui kemampuan penafsiran kita.

Salah satu ciri yang lain yang juga penting bagi puisi adalah hadirnya apa yang disebut mukjizat komunikasi (the miracle of communication), begitu pandangan Cleanth Brooks –salah seorang tokoh penting dalam aliran Kritik Baru. Sebuah kekhasan yang ajaib; bagaimana sebuah kata atau serangkaian kata dalam puisi berpotensi menghadirkan sejumlah makna sesuai dengan konteksnya. Melalui konteks itulah, kata-kata dalam lingkaran metafora, simbol, ironi, paradoks atau majas yang lain, seperti didesakpaksa atau dibiarkan bergulir memancarkan berbagai makna. Oleh karena itu, puisi mestilah diperlakukan semata-mata sebagai puisi. Ia lahir dari sebuah sikap yang memperlakukan objek sebagai bagian dari dirinya. Subjektivitas penyair membawa penghayatannya atas objek, masuk, menyatu-padu dalam emosi atau obsesi dan kegelisahan pribadinya.

Sesungguhnya, Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri” mesti dipahami dalam kerangka menyimpan berbagai potensi makna dan ia sanggup memancarkan keberagaman makna, dan bukan sebaliknya, menjadi sesuatu yang tak bermakna. Kata atau sejumlah kata yang digunakan penyair mesti diterima dan dicurigai menyimpan kekayaan potensi makna, serangkaian makna, dan siap memancarkan makna-makna baru. Bagaimanapun juga, puisi hadir dalam kapasitasnya sebagai hasil pergulatan kultural –sekaligus intelektual—dari sosok seorang penyair yang tidak pernah berhenti menyimpan kegelisahan atas dunia di sekitarnya.

Atas dasar pemahaman itulah, maka di satu pihak, kita dapat bersetuju pada ambisi kaum struktural yang menempatkan sastra (: puisi) bebas dari beban berbagai persoalan yang melatarbelakanginya, dan di pihak yang lain, kita tetap membuka diri dari kemungkinan menghubungkaitkannya dengan ruh yang melahirkannya atau bahkan dari semangat kultural yang menjiwainya. Kita tidak hendak mempersempit ruang bergerak kita, ketika kita hendak mendekati dan coba memberi apresiasi terhadapnya. Dengan cara pandang demikian, berbagai kemungkinan dapat kita lakukan. Dengan begitu, dalam batas-batas tertentu kita dapat menerima pandangan bahwa puisi sebagai sebuah struktur dinamis hadir dengan berbagai kelengkapannya, dan oleh karena itu, ia tidak memerlukan perangkat lain untuk menjelaskan atau untuk menggali kedalaman maknaya. Meski begitu, ia sekaligus membuka kemungkinan lain ketika kita mencoba menelusuri semangat kultural yang sejatinya melekat erat dalam karya itu sendiri.

Dalam perspektif itulah antologi puisi Langgam Negeri Puisi (Dewan Kesenian Bengkalis, 2004) karya Marhalim Zaini (MZ) akan didekati, ditafsirmaknai, dan coba diapresiasi berdasarkan teks dan konteksnya.
***

Antologi Langgam Negeri Puisi (LNP) berisi 69 puisi yang dibagi dalam tiga bagian subjudul, yaitu “Tersebab Laut”, “Nocturno Burung Api”, dan “Surat Cinta Beracun”. Kata Pengantar Taufik Ikram Jamil –yang tajam terpercaya—tentu saja sangat membantu menemukan semacam pintu masuk dari sejumlah pintu lain yang disediakan penyairnya sendiri. Meski begitu, sebagaimana lazimnya hampir semua kata pengantar, selalu saja ada kecenderungan menggiring kita (: pembaca) memasuki wilayah apresiasinya. Kata Pengantar kerap menyihir kita dan membuat kita malas atau bahkan tertantang untuk bekerja keras melakukan penggalian lebih jauh. Oleh karena itu, bijaksanalah jika kita menerima sihir itu, tetapi sekaligus coba mempertanyakannya kembali secara kritis. Dengan bahasa yang lain, kita menerima sambil membuka diri atas kemungkinan hadirnya alternatif-alternatif dan sekalian mencari pintu lain yang belum dimasukinya. Maka, izinkanlah saya memasuki LNP melalui pintu-pintu lain yang masih dibiarkan tertutup. Dan jika mungkin, sekalian kita memasuki setiap kamarnya, lalu melakukan identifikasi, dan berkenalan dengan para penghuninya.
***

Benar, membaca LNP, kita seperti memasuki sebuah rumah dengan berbagai bentuk kamarnya yang luas dan sempit. Tetapi, manakala kita memasuki setiap kamarnya, kita berhadapan dengan para penghuninya yang beragam. Dari merekalah kita disodori setumpuk kisah tentang pengalaman batin, lompatan-lompatan pikiran, keliaran gagasan, kegelisahan, kerinduan, obsesi, dan serangkaian gumam dari sebuah keinginan untuk memberontak. Bagaimana hubungan penghuni kamar yang satu dengan penghuni kamar lainnya? Mungkin mereka tidak saling mengenal, atau mungkin juga di sana terjadi perselingkuhan dan hubungan gelap atau permufakatan untuk merencanakan sesuatu.

Sampai di situ, muncul sesuatu yang mengejutkan. Dan saya dibuatnya terperangah! Salah satu tugas kritik adalah melakukan penafsiran, pemaknaan, apresiasi, dan coba menghubungkaitkan penghuni kamar yang satu dengan penghuni kamar lain. Selepas itu, ia juga mesti berusaha melakukan identifikasi, menerjemahkan dan menjelaskan identitas para penghuninya. Di dalamnya, tentu saja termasuk menjelaskan sesuatu yang mengejutkan itu. Tetapi, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang kurang pas jika itu dikatakan sebagai rumah, beserta deretan kamar-kamarnya. Jika bukan rumah dan deretan kamar-kamar, lalu apa?

Pertanyaan itu tersimpan lama dan saya membawanya ke mana-mana. Sampailah kemudian pada sebuah daerah yang bernama Freudian, wilayah koloni Sigmund Freud yang kekuasaannya bernama psikonalisa. Di sana ada Christopher Bollas, teoretikus terdepan yang namanya kerap dijadikan acuan dalam kajian psikoanalisa dewasa ini.

Sungguh, LNP lebih pas tak disebut rumah dengan sejumlah kamarnya yang lebar dan sempit. LNP seperti sebuah kendaraan yang bergerak mengusung dan mengangkut setumpukan gagasan. Ia melaju dinamis. Dan gagasan-gagasan itu seolah-olah diam membeku ketika sekadar dipandangi belaka. Namun, tiba-tiba saja ia seperti menerkam kita dan memberondong dengan rentetan peluru gagasan. Lompatan-lompatan berbagai pikiran, bisa ditarik ulur ke sana ke mari. Asosiasi dan metaforanya kadang kala liar atau muncul secara hati-hati. Ia bisa berkisah tentang sebuah peristiwa yang tanpa disadarinya telah mengembalikannya ke masa lalu, ke tanah leluhur, tanah kelahiran. Ia rindu kampung halaman, tetapi cukuplah ditempatkan sebagai persoalan dirinya an sich yang menyadari akan segala keterbatasan. Maka, yang mungkin dan dapat dilakukannya adalah renungan reflektif, kegelisahan yang disadarinya sendiri tidak menyelesaikan masalah.

Dari situlah gagasan Christopher Bollas relevan dalam menerjemahkan LNP. Citraan dan asosiasi LNP dihadirkan dalam lompatan pikiran yang terikat masa lalu dan sekaligus tak dapat menyembunyikan obsesinya untuk melepaskan diri dari ikatan itu. Maka, pikiran-pikiran itu bergerak bebas dalam sebuah kendaraan yang terus melaju, dan kadang kala bergoncang-goncang. Itulah gerbong-gerbong gagasan, kereta pikiran yang berpenumpang emosi dan obsesi, berbusana imaji (citraan), asosiasi dan metafora. Sebuah metode asosiasi bebas yang didesain untuk mengungkapkan gerbong-gerbong gagasan. Dengan cara itu, penyair dapat mengungkapkan serangkaian jalur-jalur pikiran yang lain yang dapat dihubungkan dengan semacam logika tersembunyi.

Mungkin gagasan-gagasan itu seperti tidak berkaitan satu sama lain. Boleh jadi juga urutan pikiran itu terungkap melalui mata rantai gagasan yang kelihatannya juga tidak saling berhubungan. Meski begitu, di sana ada logika yang disembunyikan. Maka, harus kita dedahkan logikanya agar jelas, bagaimana mata rantai gagasan yang seperti tidak berhubungan itu dapat diterjemahkan. Harus dilacak pula maknanya, pesan di sebaliknya, dan barulah kemudian ditandai identitasnya.
***

Kecenderungan mambawa gerbong-gerbong gagasan dalam kereta pikiran itu sesungguhnya sudah tampak pada antologi puisi MZ yang terbit sebelumnya, Segantang Bintang Sepasang Bulan (Yayasan Pusaka Riau, 2003). Boleh jadi, itulah yang dimaksud MZ sebagai penghadiran “sebuah dunia yang di dalamnya menyimpan kemungkinan-kemungkinan ruang estetis yang tak terhitung jumlahnya. … ia menyerupai sarang lebah dengan ribuan lubang yang menyimpan madu. Sementara dengungan sayap lebah-lebah yang berterbangan di luarnya adalah langgam yang akan didendangkan oleh bahasa puisi yang telah jadi.” (SBSB, hlm. i)

Pernyataannya bahwa “puisi … adalah salah satu cara untuk mengucapkan sesuatu dengan bahasa yang paling jujur dan indah,” mesti ditempatkan dalam sebuah proses pencarian. Lihatlah puisi-puisinya yang terdapat pada bagian “Gumam Teluk Mambang.” Dalam bagian itu, yang dimaksud mengucapkan sesuatu, seperti memasuki sebuah lorong masa lalu tentang problem puaknya yang boleh jadi kemudian disadarinya sebagai telah membatasi ruang bergeraknya sendiri. Penyair tak dapat menghindari diri dari ketergodaannya pada problem puak dan masa lalunya itu.

Pada bagian “Melankholia Sebentuk Waktu” dan “Rel dan Jembatan Mati,” ketergodaan itu diejawantahkan pada kecenderungan untuk memotret apa saja, di mana dan kapan saja, tanpa merasa perlu terikat pada tema atau ideologi tertentu. Jadi, pernyataan berikutnya: “… bahasa menjadi serupa cermin yang memantulkan wajah jiwa dalam barisan kata-kata,” mesti dimaknai sebagai sebuah proses pencarian yang tak ingin lagi terpaku pada tema tertentu. Dan itu tercermin pada “Melankholia Sebentuk Waktu” dan “Rel dan Jembatan Mati”. Dalam hal ini, puisi-puisi MZ –dalam SBSB dan kemudian makin jelas dalam LNP—bisa saja menyerupai potret sosial, teriakan untuk memberi penyadaran, kegelisahan atas ketakberdayaan, kerinduan ilahiah atau sekadar bergumam sebagai bentuk respons atas apa yang dilihat dan dirasakannya. Sesungguhnya, dari sanalah MZ seperti mulai menemukan bentuk yang dicarinya, dan kemudian memperoleh saluran yang lebih leluasa pada LNP.

Demikianlah, LNP bolehlah ditempatkan sebagai salah satu capaian MZ selepas usaha pencariannya dalam SBSB.
***

Harus diakui, pengucapan MZ dan tema yang diusungnya dalam LNP agak berbeda dengan sejumlah penyair Riau lainnya. Bandingkanlah, misalnya, dengan gaya pengucapan Taufik Ikram Jamil yang cenderung obsesif terhadap dunia Melayu. Boleh jadi lantaran itu pula, suara kegelisahan Jamil terasa lebih kencang dan nyaring. Beberapa penyair lain –sekadar menyebut tiga di antaranya— seperti Syaukani Al Karim, Hoesnizar Hoed atau Hang Kafrawi, seolah-olah tak kuasa menutup mata atas problem sosial yang terjadi di lingkungan persekitarannya. Maka, kultur Melayu dengan peristiwa luka sejarah masa lalunya, kerap dipandang sebagai sebuah kecelakaan yang segala akibat dan kepahitannya harus menjadi beban generasi yang kemudian. Sikap itu pula yang lalu memunculkan semacam kecemasan dalam menatap masa depan puaknya.

Dalam wilayah keindonesiaan, problem sosial itu tidak jarang ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan sentralitas hubungan Jakarta—Daerah yang secara faktual malah memarjinalkan puaknya. Dominasi Jakarta yang dipandang sebagai monster yang lebih kejam dari pihak kolonial, makin mengoyak luka yang ada. Akibatnya, kehidupan masyarakat persekitaran yang penuh koyak-moyak luka itu menjadi pemandangan yang sungguh menggelisahkan. Dari sanalah tuntutan untuk bersuara nyaring hadir tidak sekadar sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya sebagai warga sepuak, tetapi juga sebagai sebuah perjuangan sosio-kultural.

Kesadaran kultural, sikap kebertanggungjawaban sosial, dan ingatan kolektif atas sejarah masa lalunya tentang puak Melayu –sadar atau tidak—telah menjadi semacam semangat atau √©lan yang mengerucut pada sebuah gerakan yang dikatakan Taufik Ikram Jamil sebagai Mazhab Riau. Sastra (: puisi) yang menjadi wilayah alternatifnya cenderung memperlihatkan semangat dan cita-cita yang sama. Maka, mungkin saja puisi yang dilahirkannya menyerupai potret sosial, romantisisme atas kebesaran marwah Melayu, gerakan melepaskan diri dari dominasi pusat (: Jakarta) atau usaha merumuskan kembali identitas yang lepas dari hegemoni pusat. Di sana, tak dapat disembunyikan adanya semangat menggelegak dari perasaan kolektif luka yang terkoyak.

MZ seperti begerak dengan caranya sendiri. Secara tematik, ia begitu bebas mengangkat latar tempat di mana pun, tanpa harus terus menerus mengusung problem puaknya. Dengan cara demikian, ia bisa memotret Kintamani, Selat Sunda atau bahkan ia bersimpuh di makam seorang wali, tanpa mesti dibebani oleh ideologi tertentu. Meski demikian, sebelah kakinya yang berada di masa lalu, menyeretnya untuk merasakan luka yang sama tentang alam dan masyarakatnya. Jadi, tentang luka yang terkoyak itu, MZ bukan tak ikut merasakan luka itu. Maka, yang dilakukannya adalah sekadar menjadi penonton yang ikut merasakan luka itu, sekadar memotret lantaran menyadari keterbatasannya, atau melepaskan kepedihan itu sebagai sejarah masa lalu dan kemudian menatap ke dunia lain. Oleh karena itu, kerinduan terhadapnya dan tanah leluhur, cenderung sebagai ungkapan romantik yang baru disadarinya sebagai keasingan, kekosongan, ketercerabutan dari akar atau ketercampakan oleh perjalanan waktu dan tuntutan zaman. Lihatlah larik akhir puisinya “Menggarami Rindu Sepanjang Juni” (hlm. 34), Sepanjang Juni, rinduku kehabisan garam, sebuah kerinduan yang sia-sia, basi dan asing. Juni –mungkin masa liburan panjang—makin mendesak dirinya pada keasingan.

Kerinduan pada tanah leluhur yang ternyata tak lagi seperti yang dibayangkan semula –lantaran perkembangan pengalaman hidup si aku—merupakan tema yang kerap diangkat para penyair. Lihatlah “Si Anak Hilang” Sitor Situmorang yang gamang menghadapi kerinduan ibu dan keangkuhan ayah. MZ tak merasakan itu, karena ia bermain di tataran alam. Ia tak mengatakannya sebagai Melayu, karena tanah lain pun di dataran lain, sangat mungkin menghadapi problem yang sama. Maka, kegamangannya pada tanah leluhur cukup dikatakannya: “Ah, lama-lama aku merasa seperti di Vietnam.”

Cermati juga keseluruhan puisi yang terdapat dalam LNP. Akan sia-sia kita menemukan kata Melayu! Tidak ada satu pun kata Melayu di sana, lantaran MZ menyulapnya dengan kata lain yang tidak sekadar mewakili sebuah puak. Meski begitu, sebagai manusia yang berada dalam dua wilayah –masa lalu dan masa kini— MZ pun tak dapat melepaskan diri dari kultur masyarakat yang melahirkan dan membesarkannya. Dan itu terungkap tidak hanya dari kosa kata Melayunya yang masih dapat dengan mudah kita jumpai di sana-sini, tetapi juga dunia bawah sadarnya yang tidak dapat melepaskan diri dari kosmos alam. Jadi, satu kaki MZ berada di luar puaknya, dan kaki yang lainnya tetap tertanam pada alam (tanah leluhur), tradisi dan sejarah masa lalunya. Boleh jadi karena itulah, MZ seperti sengaja bergumam sendiri dan menempatkan persoalan yang dihadapinya sebagai problem individu dirinya sendiri.

Dalam posisi kedua kakinya yang seperti itu, yang tampak kemudian adalah hasrat hendak melepaskan diri dari kungkungan tradisi dan masa lalu, tetapi sekaligus ia sadar bahwa tradisi dan masa lalu yang hendak dilepaskannya itu, kerap menjelma sebuah sihir yang pesonanya tak gampang dibenamkan. Ia telah terjerat oleh sihir itu, karena identitasnya adalah bagian dari sihir itu juga. Itulah yang dikatakan Anthony Gidden, guru besar sosiologi dari Cambridge University, sebagai manusia pascatradisional.

Untuk menukik lebih jauh dan mencari bukti-bukti tekstualnya, mari kita masuk dan coba menjelajahi gerbong gagasan LNP.
***

Tak begitu jelas, mengapa ke-69 puisi dalam LNP dipilah ke dalam tiga bagian: “Tersebab Laut” (27 puisi), “Nocturno Burung Api” (20 puisi), dan “Surat Cinta Beracun” (22 puisi). Dilihat dari style, pengucapan, majas yang digunakan dan tema-tema yang diusungnya, tak ada perbedaan signifikan yang menyertai alasan khas atas pembagian itu. Meski begitu, ada sejumlah kata tertentu yang berulang kali digunakan sebagai tanda yang berkaitan dengan tema. Kata-kata kunci itu dapat dijadikan titik berangkat untuk menerjemahkan puisi-puisi MZ. Melalui kata-kata itu pula kita memperoleh pintu masuk untuk menyelusup lebih jauh, apa yang sesungguhnya hendak disampaikan MZ.

Secara umum kata-kata kunci itu dapat dikelompokkan ke dalam empat ranah, yaitu laut (termasuk di dalamnya, pantai, teluk, ombak, pulau, samudera, asin), waktu (pagi, senja, malam, sejarah), hujan (air, gerimis, angin), dan bahasa (puisi—sajak). Pengulangan kata-kata itu tentu saja signifikan mengingat dalam hampir semua puisi dalam LNP, kata-kata itu tidak sekadar meluncur begitu saja, tetapi juga seperti sengaja dihadirkan untuk mewakili simbol dan makna tertentu. Kembali, gagasan Christopher Bollas tentang asosiasi bebas menjadi relevan untuk mengungkapkan naluri ketaksadaran MZ dalam merepresentasikan kegelisahannya. Perhatikanlah puisinya yang berjudul “Tersebab Laut” berikut ini.

Sebagaimana anak sungai kita bertarung
di ujung kuala, demi laut yang membentangkan
hidup, lebih dari sekedar gelombang mimpi.
Perahu waktu, batu-batu masa lalu, dan
burung-burung hitam yang membayang
di seraut wajah senja adalah lukisan usang
yang memanjang di dinding gudang, tempat
sisa percakapan yang terbuang, merangkai
kata-kata dalam bingkai sajak yang hilang
Andai saja dayung di genggaman mengayuhkan
cinta pada setiap debur ombaknya, maka
asin pantai lebih terasa daripada badai.
Sebab laut senantiasa mengapungkan buih
nama-nama ke tepian jauh, mengasingkan
rindu ke sudut-sudut sejarah, di antara
ribuan butir pasir yang terhampar kalah

Dengan permainan enjambemen yang memenggal kalimat demi kepentingan persajakan atau keindahan bunyi, MZ tidak hanya berhasil membangun kekompakan dalam setiap larik puisinya, tetapi juga dapat mempererat hubungan makna secara keseluruhan. Puisi “Tersebab Laut” sesungguhnya dibangun lewat empat kata yang lantaran terjadi enjambemen puisi itu seperti disusun dalam 16 larik (kalimat). Perhatikan lagi urutan kalimat dalam “Tersebab Laut” berikut ini:

Sebagaimana anak sungai kita bertarung/di ujung kuala, demi laut yang membentangkan
hidup, lebih dari sekedar gelombang mimpi.//Perahu waktu, batu-batu masa lalu, dan
burung-burung hitam yang membayang/di seraut wajah senja adalah lukisan usang
yang memanjang di dinding gudang, tempat/sisa percakapan yang terbuang, merangkai
kata-kata dalam bingkai sajak yang hilang//Andai saja dayung di genggaman mengayuhkan/cinta pada setiap debur ombaknya, maka/asin pantai lebih terasa daripada badai.//Sebab laut senantiasa mengapungkan buih/nama-nama ke tepian jauh, mengasingkan/rindu ke sudut-sudut sejarah, di antara/ribuan butir pasir yang terhampar kalah//

Jika diparafrasekan, puisi itu coba mewartakan, betapa kehidupan yang laksana gelombang laut itu tidak dapat disikapi dengan cara bersantai. Sebagaimana anak sungai kita bertarung/di ujung kuala, demi laut yang membentangkan hidup, lebih dari sekedar gelombang mimpi// Harus ada perjuangan untuk mencapai sebuah cita-cita hidup, meskipun perjuangan itu sendiri tidak ringan lantaran di sana ada garis nasib dan serangkaian kekalahan dan kesia-siaan. Perahu waktu, batu-batu masa lalu, dan

burung-burung hitam yang membayang/di seraut wajah senja adalah lukisan usang
yang memanjang di dinding gudang, tempat/sisa percakapan yang terbuang, merangkai

kata-kata dalam bingkai sajak yang hilang// Masalah utamanya adalah ketaksadaran pada identitas, pada potensi dan kemampuan sendiri. Andai saja dayung di genggaman mengayuhkan/cinta pada setiap debur ombaknya, maka/asin pantai lebih terasa daripada badai.// Jika itu yang terjadi, maka perjuangan itu akan mengalir ke muara kekalahan. Sebab laut senantiasa mengapungkan buih/nama-nama ke tepian jauh, mengasingkan/ rindu ke sudut-sudut sejarah, di antara/ribuan butir pasir yang terhampar kalah//

Yang menarik dari citraan yang dikembangkan MZ adalah keterikatannya pada laut sebagai medan kehidupan, waktu sebagai sebuah perjalanan yang terikat masa lalu dan harapan di masa depan, dan sajak sebagai keputusan, sikap, atau alat perjuangan yang dalam banyak puisinya diposisikan dalam keadaan kalah, sia-sia, dan pesimisme. Kalaupun ada nada optimis, MZ menghadirkannya lewat pengandaian, seolah-olah harapan itu pun akan sia-sia belaka. Lihatlah nada optimistik yang dihadirkan di sana: Andai saja dayung di genggaman mengayuhkan/ cinta pada setiap debur ombaknya, maka/asin pantai lebih terasa daripada badai.// Andai perjuangan itu dilandasi cinta dalam setiap geraknya, maka hidup bisa lebih bermakna daripada kesia-siaan atau prahara. Mengapa nada optimistik itu harus dalam pengandaian? Atau, ia sendiri tak cukup yakin dengan langkah yang diperjuangkannya sendiri.

Pesimisme, kesepian, keterasingan, kesangsian, dan segala yang berkaitan dengan suasana muram seperti sengaja dihadirkan MZ dalam hampir semua puisinya. Maka LNP laksana serangkaian gumam sebuah suara yang datang dari dunia yang serba gelap. Lalu padam. Peti mati inilah rumah kita./Jagat yang legam, dan waktu tak bersisa// (Nocturno ‘Malam’ hlm. 67). Jika ditarik garis linier, LNP seperti hendak mewartakan sebuah perjalanan seorang anak manusia yang di belakangnya terbentang luka sejarah, di sekelilingnya bermunculan kegetiran hidup, dan di hadapannya masa depan seperti sebuah lorong panjang yang gelap. Itulah tema-tema yang diusung MZ dalam LNP.
Pertanyaannya kini: Siapakah MZ?
***

Mencermati keseluruhan puisi dalam LNP, agaknya kita mesti percaya bahwa sastra (: puisi) bagiamanapun juga dapat kita tempatkan tidak hanya sebagai potret sosial yang mengungkapkan semangat zamannya, tetapi juga sebagai potret diri sastrawan yang bersangkutan. Sastra dalam hal ini digunakan sebagai refleksi evaluatif atas problem sosial dan lingkungan persekitaran tempat sastrawan yang bersangkutan dilahirkan dan dibesarkan. Maka, di sana akan hadir catatan-catatan, perenungan, obsesi, kegelisahan dan harapan. Melalui bahasa sebagai medianya, sastra secara keseluruhan memantulkan wajah dan identitas sang penyairnya sendiri. Meskipun kita tidak harus serta-merta percaya pada pernyataan bahwa … bahasa menjadi serupa cermin yang memantulkan wajah jiwa dalam barisan kata-kata, setidak-tidaknya pernyataan itu merupakan refleksi kegelisahan penyairnya mengenai berbagai problem yang hadir sebagai pengalaman hidupnya.

Barangkali merupakan suatu yang kebetulan antologi puisi MZ ini diberi judul Langgam Negeri Puisi (LNP). Judul memang tidak selalu mewakili isi, tetapi makna kata langgam mengisyaratkan suatu gaya, cara, adat, kebiasaan atau bentuk irama lagu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 561) seseorang mengekspresikan dirinya. Mengingat MZ menggunakan puisi sebagai sarana ekspresinya, maka melalui puisi-puisi dalam LNP itulah kita coba memasuki wilayah identitas penyairnya.

Ada tiga dasar pemikiran yang menjadi alasan digunakannya pendekatan ini. Pertama, merujuk pada pernyataan Grebstein, kritikus sosio-kultural, bahwa pemahaman terhadap sastra hanya mungkin dapat dilakukan selengkapnya jika kita tidak melepaskan diri dari latar belakang sosio-budaya pengarangnya. Dengan demikian, menerjemahkan sebuah teks sastra melalui kajian sosio-budaya, tidak dapat lain, kecuali kita mencoba menelusuri lingkungan masyarakat dan kebudayaan yang telah melahirkan dan membesarkan pengarang yang bersangkutan.

Kedua, setiap karya sastra pada hakikatnya unik. Maka, pendekatan terhadap teks MZ dalam LNP dan mencoba memahami konteksnya belum tentu dapat dilakukan pada teks lain dari pengarang yang lain. Artinya, MZ menggunakan caranya sendiri dan dengan menelusuri cara MZ itulah, kita melakukan penafsiran atas teks yang dihasilkannya.

Ketiga, jika bahasa –secara kolektif—mencerminkan bangsa, maka bahasa dalam karya sastra –secara individual—mencerminkan individu atau pribadi pengarangnya. Dalam hal ini, dikaitkan dengan pernyataan Grebstein tadi, yang dimaksud mencerminkan individu atau pribadi pengarangnya itu inheren dengan masyarakat dan kultur pengarang yang bersangkutan. Mengingat ada sejumlah kosa kata tertentu yang berulang kali digunakan MZ, maka melalui kosa kata itulah, kita mencoba menelusuri latar belakang sosial-budaya pengarangnya. Jadi, kosa kata itu pula yang digunakan sebagai pintu masuk mengungkapkan identitas seorang MZ.
Mari kita mulai!
***

Bukalah secara sembarang halaman-halaman LNP, maka dengan mudah kita akan menjumpai kata-kata kunci yang seperti telah disebutkan, dapat dikelompokkan ke dalam empat ranah, yaitu laut (termasuk di dalamnya, pantai, teluk, ombak, pulau, samudera, asin), waktu (pagi, senja, malam, sejarah), hujan (air, gerimis, angin), dan bahasa (puisi—sajak). Pertanyaannya, mengapa kata-kata dari empat ranah itu kerap muncul dalam puisi-puisi MZ? Apakah ia tidak punya kata lain lagi, sehingga dalam konteks apapun, kata-kata itu seperti muncul dari luar kesadarannya. Itulah yang dimaksud Christopher Bollas sebagai asosiasi bebas yang nongol dan mencolot begitu saja dari ruang ketidaksadaran individu. Ketidaksadaran itu tentu saja tidak terlepas dari masa lalu. Inilah soalnya. MZ tak dapat melepaskan diri dari masa lalu, dari sebuah tradisi besar yang telah membentuk ruh dan sikap kulturalnya. Maka, asosiasi bebas seorang MZ akan berbeda dengan seorang Zawawi Imron atau Sapardi Djoko Damono. Di sana ada problem kultur yang di dalamnya tradisi menjadi bagian penting.

Bagaimanapun juga, tradisi adalah sebuah orientasi ke masa lalu yang –sadar atau tidak—sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku masa kini. Meskipun tradisi, seperti dikatakan Edward Said, selalu berubah-ubah, ia tetap memiliki daya tahan sebagai alat penentang desakan perubahan. Selalu ada jejak-jejak yang melekat dalam ingatan individu yang dalam konteks masyarakat menjadi ingatan kolektif. “Tradisi terkait dengan memori kolektif yang kemudian memancar dalam memori individu,” begitu keyakinan Anthony Giddens. Dalam hal itulah, puisi-puisi MZ punya cantelan kultural.

Ambillah salah satu puisinya secara sembarang, sebut saja sebuah puisinya yang berjudul “Laut Senja, Kota-Kota Mengapung” dan kemudian periksalah setiap lariknya. “Bukan sejarah benar yang merajai hidup, tapi keangkuhan/hiduplah yang membangun kerajaan sejarah”/Bagai menyeduh senja, kupetik senar kecemasan, setangkai/nada dari percikan halimun yang bergelombang di hamparan/Selat Sunda….

Meski larik awal itu mengingatkan saya pada gaya Chairil Anwar, duduk soalnya bukanlah terletak pada konteks pengaruh-mempengaruhi, melainkan pada sejumlah kata kunci, seperti sejarah (waktu), laut, puisi, dan hujan. Sesungguhnya, puisi ini bercerita tentang keterpesonaan aku lirik ketika ia berada di Selat Sunda. Apa hubungan Selat Sunda dengan sejarah, dengan masa lalu dan tradisi. Inilah sebuah contoh asosiasi bebas. Dari satu titik tertentu, pandangan terpesona oleh sesuatu atau sebuah peristiwa, pikiran mencantelkannya dengan sesuatu yang lain yang mungkin sebenarnya tak ada kaitannya, lalu dari sana, imajinasinya melayang ke masa lalu tentang sebuah puak.

Ketika ia membayangkan sejarah puaknya, ia menyadari bahwa kebesaran puaknya bukan dibangun oleh sejarah masa lalunya, melainkan oleh kebanggaan yang berlebih tentang sejarah itu sendiri. Maka, dikatakannya, “Bagai menyeduh senja” menghidangkan sesuatu yang sesungguhnya tinggal menunggu masa pudarnya. Dari titik itu ia hendak mengubur masa lalunya, karena yang dihadapinya kini hamparan kehidupan (laut) yang harus ia tempuh untuk menata masa depan. Kembali ia ragu, lantaran masa depan pun seperti mimpi yang menjelma terali besi. Di situlah ia menyadari eksistensinya. Ia terasing “dihimpit sepi”.

Begitulah, di mana pun ia berada, ia seperti berhadapan dengan sebuah paradoks. Masa lalu yang mengganggu yang ingin dikuburnya, tetapi sekaligus muncul begitu saja sebagai bagian dari masa kini dalam memandang masa depan. Yang muncul kemudian adalah kesepian, keterasingan, dan ketidakpercayaan pada masa depannya sendiri. Itulah langgam MZ: puisi sebagai representasi tarik-menarik antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sayangnya, kebanggaan atas masa lalu, juga tidak menyelesaikan masalah, sementara pandangannya terhadap masa depan, juga penuh dengan pesimisme. Maka, yang dapat dilakukannya adalah memotret apa saja, di mana saja, sebagai tindak konkret keinginannya untuk berbuat. Puisilah yang kemudian menjadi pilihan; itulah buah dari serangkaian tindak berbuat. Dapat dipahami jika MZ menempatkan puisi sebagai suara hidupnya, representasi perjalanan hidup yang kini dialaminya dan hendak dijalaninya. Sebuah bangunan beragam peristiwa yang menjelma dalam puisi. Itulah ciri, corak, gaya dan kecenderungan yang menurut versi MZ sebagai langgam.

Ambil lagi puisi lainnya yang terhimpun dalam LNP, maka kita akan menjumpai langgam yang sama, meski ia bercerita tentang hal yang berbeda dari tempat di mana pun dan pada waktu yang kapan pun. Dengan demikian, puisi telah menjadi catatan peristiwa, gugatan sejarah, dan ekspresi pesimisme atas banyak hal yang terjadi di negeri ini. Lalu, apakah LNP sekadar kisah tentang segala yang diuraikan itu? Di mana estetikanya, metaforanya, langgam puitiknya, dan kekhasannya dibandingkan puisi lain dari cara pengucapan penyair lain?

Selain sejumlah kata-kata kunci tadi yang dalam bahasa Cleanth Brooks sebagai mukjizat komunikasi (the miracle of communication), yaitu potensi sebuah kata atau serangkaian kata menghadirkan sejumlah makna sesuai konteksnya, MZ secara royal juga memanfaatkan apa yang disebut sebagai enjambemen yaitu pemenggalan kalimat demi kepentingan persajakan atau keindahan bunyi. Perhatikan puisi yang berjudul “Hujan dalam Diri” berikut ini:

Dalam diri, hujan tiba-tiba:
selangkah lagi, kakimu adalah puisi.
Dan aku harus pergi, membelah diri
sebelum sepi

Betapa, menduga jarak di jengkal tanganmu
jauhnya tak hilang di ujung jalan.
Mataku, semangat anak-anak malam yang
membaca teka-teki ini, bagai laying-layang
melenggang di tengah lengang.

Dalam diri, hujan menderas:
beribu langkah, menapak basah.
Cukuplah setetes darah
melukai sejarah?

Jika puisi itu tak menggunakan enjambemen, maka larik-lariknya sebagai berikut:
Dalam diri, hujan tiba-tiba:/selangkah lagi, kakimu adalah puisi.
Dan aku harus pergi, membelah diri/sebelum sepi

Betapa, menduga jarak di jengkal tanganmu/jauhnya tak hilang di ujung jalan.
Mataku, semangat anak-anak malam yang/membaca teka-teki ini, bagai layang-layang/melenggang di tengah lengang.

Dalam diri, hujan menderas:/beribu langkah, menapak basah.
Cukuplah setetes darah/melukai sejarah?

Dengan pemenggalan yang seperti itu, maka MZ terkesan hendak membuat persajakan (kesamaan bunyi), tidak hanya antarlarik, tetapi juga dalam larik. Perhatikan kesamaan bunyi tersebut yang saya tandai dengan cetak miring berikut ini:
Dalam diri, hujan tiba-tiba:/selangkah lagi, kakimu adalah puisi.
Dan aku harus pergi, membelah diri/sebelum sepi

Betapa, menduga jarak di jengkal tanganmu/jauhnya tak hilang di ujung jalan.
Mataku, semangat anak-anak malam yang/membaca teka-teki ini, bagai layang-layang/melenggang di tengah lengang.

Dalam diri, hujan menderas:/beribu langkah, menapak basah.
Cukuplah setetes darah/melukai sejarah?

Perhatikan kata-kata: selangkah lagi/membelah diri/sebelum sepi, atau: betapa menduga jarak di jengkal … malam yang/bagai layang-layang/melenggang di tengah lengah, atau juga: langkah/basah/cukuplah darah/melukai sejarah//

Demikianlah, MZ di sana-sini begitu banyak memanfaatkan enjambemen semata-mata untuk membangun persajakan atau keindahan bunyi. Pemanfaatan enjambemen itu juga barangkali dimaksudkan agar MZ dapat lebih leluasan membuat metaforanya atau justru untuk menyembunyikannya sekaligus. Untuk menggambarkan betapa pendek dan singkatnya ketika kita menghitung-hitung usia kehidupan, misalnya dikatakan bagaikan jengkal tangan. Tetapi, semangat untuk mencari jawaban segala misteri kehidupan tetap tidak surut, yang dikatakannya: Mataku, semangat anak-anak malam yang tak pernah tidur karena menyadari kehidupannya berada pada malam hari. Dan semangat untuk mendapat jawaban itu dikatakannya, bagai layang-layang/melenggang di tengah lengang.

Dalam beberapa puisinya, tampak adanya jejak Amir Hamzah dan Chairil Anwar, meskipun tidak begitu menonjol. Tetapi dalam hal penciptaan metafora dan usaha menyelimuti pesan ideologinya, puisi-puisi MZ agak dekat pada apa yang pernah dirintis Toto Sudarto Bachtiar mengenai apa yang disebut puisi gelap. Dalam hal ini, MZ tak terjerumus pada kekrumitan yang tak perlu. Dengan begitu, kita masih dapat menikmati puisi itu dan tak terlalu sulit memahaminya jika kita mencoba menghayatinya lebih jauh.
***

Membaca LNP dan coba membuat apresiasi terhadapnya, dalam banyak hal, harus diakui, memberi keasyikan tersendiri. Asosiasi bebasnya membawa kita ke berbagai tempat, peristiwa, dan perkara yang ringan dan berat, bergantung dari perspektif mana kita memasukinya. Dalam konteks kepenyairan Riau, MZ melenggang sendiri, seperti tak terpengaruh pada tarikan kekuatan penyair di sekitarnya. Meski begitu, sebagai makhluk sosial yang dilahirkan dari sebuah tradisi besar puak Melayu, ia terus-menerus dibayangi masa lalu yang disadari tak kuasa ditinggalkannya. Dan itu dirasakan benar sebagai problem psikis manakala ia berada di luar puaknya. Tradisi dan masa lalu seperti telah menyatu dengan masa kini dan masa depan. MZ telah menjelma menjadi manusia pascatradisional, begitu menurut Anthony Giddens yang menempatkan betapa kuatnya pengaruh tradisi dalam diri seseorang.

Sampai di situ, muncul pertanyaan –dan ini yang justru agak mengganggu: begitu pentingkah tokoh-tokoh asing macam Jocasta, Cleopatra, atau Oedipus dihadirkan di sana (“Nocturno Burung Api”) padahal tanpa mereka pun, puisi itu bisa hidup sehat dan cerdas. Demikian juga dengan kata nocturno, sepertinya punya makna sangat khas dan ajaib, sehingga tak dapat diganti dengan ‘pada malam hari’ atau ‘malam’. Tanpa kata asing pun, tokh ia sudah merasa terasing, sehingga ia lebih banyak bergumam reflektif. Atau, itukah ciri manusia pascatradisional yang berada dalam transisi menuju modern?

Terlepas dari perkara itu, dalam konteks strukturalisme, LNP jelas telah membangun dirinya dengan berbagai perlengkapannya. Kekayaan penciptaan metafora, paradoks atau majas yang lain, tidak hanya memancarkan keindahan puitik, tetapi juga menghadirkan apa yang disebut sebagai mukjizat komunikasi. Demikian juga citraan yang dibangunnya, terasa segar dan khas. Sekadar contoh, sebutlah, menyiangi usia, kabut mencuri angin, sekuntum sunyi, sejengkal lagi kekal, diam berarti terbenam. Bukankah pola-pola itu jauh dari klise dan MZ telah berhasil memanfaatkannya secara optimal. Satu usaha luar biasa yang menunjukkan keseriusan penyairnya yang menempatkan puisi sebagai salah satu alat perjuangan budaya.

Akhirnya, mesti saya katakan: Membaca LNP saya seperti memasuki deretan gerbong yang penuh berisi gagasan. Itulah kereta pikiran, dan MZ tidak menempatkan dirinya sebagai masinis. Lalu, siapakah masinisnya? Kita, –pembaca— yang bertindak sebagai masinis yang akan membawa kereta pikiran itu menuju tujuan masing-masing.

Nah!

*) Makalah Diskusi Majelis Jumat diselenggarakan Yayasan Pusaka Riau, 5 November 2004 di Gedung Akademi Kesenian Melayu Riau, Pekanbaru.
**) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com