Langsung ke konten utama

Kritikus The Bandung Spirit

Rosdiansyah
http://www.jawapos.com/

Samir Amin adalah legenda hidup. Ia tampil ke muka gelanggang pertarungan gagasan sejak empat dekade silam. Ia mengkritik keras praktik-praktik kapitalisme yang sangat keterlaluan dalam mengeksploitasi negara berkembang. Ia naik ke podium untuk menguraikan betapa jahat praktik kapitalisme predator itu, sebentuk kapitalisme yang sama sekali tidak hirau atas kepedihan dan jeritan lapar warga negara berkembang. Sang intelektual ini memberitahukan kepada kolega-koleganya, sesama intelektual peduli nasib negara berkembang, bahwa sudah selayaknya kaum intelektual negara berkembang sendiri saling bertukar pengalaman ketika berhadapan dengan agen-agen kapitalisme. Tanpa lelah, Amin berusaha menyebarkan gagasan-gagasan kritisnya itu ke seluruh penjuru dunia, mulai dari daratan Amerika Latin dan Afrika yang selalu bergejolak, sampai ke pelosok Asia.

Gagasan-gagasan itu menggumpal dalam karya-karya besarnya yang bertumpu pada perlunya kemandirian, persis seperti yang dikehendaki para kepala negara non-Blok yang berkonferensi di Bandung pada 1955. Bagi Amin, kemandirian merupakan fondasi yang akan membawa perubahan mendasar pasca-kolonialisme dan imperialisme. Ingatannya pada Bandung tetap menyalakan api perlawanan terhadap praktik-praktik hegemoni pada kurun global saat ini. Meski tetap bersikap kritis pada gerakan lintas negara pasca-konferensi Bandung, Amin tetap memandang keberadaan konferensi Bandung itu sebagai langkah nyata membangun semangat kemandirian. Di era jejaring saat ini, tentu saja kemandirian sangat dibutuhkan, apalagi kemandirian untuk menentukan nasib sendiri, kemandirian menolak agenda-agenda neoliberal sebagaimana tampak dari usulan institusi keuangan internasional (World Bank dan IMF) kepada negara berkembang.

Amin sangat kritis, malah cenderung radikal, dalam mengurai tiap usulan yang disodorkan lembaga keuangan internasional tersebut. Baginya, usulan itu sepertinya masuk akal walau sesungguhnya penuh tipu daya, karena usul itu dikemukakan bukan untuk membenahi carut-marut praktik ekonomi pembangunan negara berkembang. Sebaliknya, proposal yang dikira obat mujarab tersebut tak lain adalah upaya hegemonik koalisi negara maju dan lembaga keuangan internasional untuk menguasai sumber-sumber daya alam negara berkembang. Lembaga keuangan internasional tak mungkin membiarkan masalah ketimpangan global terselesaikan, karena pada dasarnya lembaga itu sendiri hadir ke panggung internasional justru untuk mengabadikan ketimpangan demi melanjutkan eksploitasi negara maju atas negara berkembang yang tak kenal henti. Ketika Uni Sovyet berantakan akibat pertikaian internal tiada henti, maka revolusi sosialisme pun dipertanyakan keampuhannya.

Lahir pada 1931 dari keluarga perpaduan antara ibu berdarah Alsace, Prancis, yang sangat kuat memegang tradisi Jacobinisme, dan ayah berasal dari Koptik Mesir yang memegang erat tradisi nasionalis-demokrat, Amin sudah merasakan penetrasi ideologi komunisme ke dalam dirinya sejak kecil. Peristiwa sehari-hari di Mesir yang penuh ketimpangan telah menjadi buku terbuka baginya. Ia mempertanyakan ketimpangan dan keterpinggiran warga miskin Mesir, yang lantas ibunya atau ayahnya menjelaskan dalam bingkai keberpihakan kepada kaum tertindas, lalu menjadikan Amin kecil sudah menunjukkan diri sebagai komunis tanpa harus terlebih dulu mendalami Marxisme. Amin kecil merasa resah melihat kekuasaan semena-mena telah memperpuruk kondisi masyarakat. Ia tak kuasa membendung rasa pedih tatkala negara seperti Mesir dan negara berkembang lainnya, harus tunduk pada aturan-aturan kolonial.

Mulai 1947 sampai 1957, Amin menghabiskan masa remaja hingga dewasanya di Paris, kota yang saat itu dipenuhi pergolakan mahasiswa. Dalam sejumlah tulisannya Amin mengakui bahwa masa-masa di Paris inilah yang menjadi masa pembentukan sikap intelektual serta politiknya. Ia berinteraksi dengan banyak aktivis serta intelektual kiri Prancis, berdebat dan membangun kemampuan kritik. Sebagai aktivis yang terlibat langsung dalam pembentukan ''Republik Keempat'' yang mengatasnamakan suara rakyat. Amin mangalami bagaimana krisis internal front partai politik melawan kebijakan pemerintah Prancis dan negara-negara maju lain pasca-perang dunia kedua. Front ini ditujukan terutama untuk mendukung upaya-upaya membangun sinergi kekuatan alternatif di luar jalur parpol pendukung pemerintah. Utamanya ketika negara-negara Eropa mulai diiming-iming Bantuan Marshall (Marshall Plan) oleh AS pada April 1948. Bantuan ini kelak menjadi pintu masuk penyamaan persepsi antara AS dengan para sekutunya di Eropa untuk membendung pengaruh komunisme Uni Sovyet.

Dekade 50-an merupakan tahun-tahun penuh perlawanan. Para mahasiswa Prancis tak pernah menanggalkan sikap kritisnya menghadapi hegemoni pemerintah yang dikuasai kaum kanan. Kritik terhadap kebijakan kolonial dan hasrat pemerintah negara-negara Eropa untuk terus menguasai wilayah koloninya di Afrika dan Asia, telah menimbulkan reaksi keras. Amin yang telah menjalin hubungan baik dengan para aktivis asal negara-negara Afrika, mulai ikut membedah konstelasi politik ekonomi dunia yang timpang pasca-perang dunia kedua. Ia tampil dalam berbagai forum pertemuan mahasiswa Asia dan Afrika di Paris, membawakan berbagai tema-tema penting melawan kolonialisme dan imperialisme. Sebagai mahasiswa Institute of Political Science di Paris (1949 - 1953), Amin juga bergulat dengan pola serta struktur kekuasaan dunia yang mulai memasuki era perang dingin. Struktur kekuasaan yang timpang ini merupakan kelanjutan dari proyek kolonialisme dan imperialisme klasik Eropa atas benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Sikap anti-kolonial ini telah membawa Amin mengikuti konferensi Asia-Afrika di Bandung pada April 1955. Konferensi yang berusaha menyatukan kekuatan anti-kolonial di negara-negara Asia-Afrika ini merupakan usaha pertama di dunia untuk meneguhkan, bahwa pemerintahan di Asia dan Afrika yang baru merdeka tidak akan mengikuti struktur sistem dunia hegemonik yang dipaksakan AS dan sekutunya. Menurut Amin, konferensi Bandung itu merupakan manifestasi dari revolusi sosialis yang tidak boleh dipotong oleh agenda kapitalisme global. Amin melihat Indonesia di bawah Sukarno adalah negara yang sedang melawan kembalinya embrio imperialisme. Amin menempatkan Sukarno, Nehru, dan Nasser ke dalam satu lingkaran kepala negara yang ingin memerdekakan bangsanya dari segala bentuk penindasan negara maju (hlm. 169). Artinya, tiga kepala negara itu mempunyai semangat sama untuk meminggirkan upaya negara-negara kapitalis yang ingin kembali mengolonialisasi daratan Asia dan Afrika.

Amin merupakan intelektual penting yang berada di garis terdepan dalam mengevaluasi kinerja revolusi sosialisme Uni Sovyet dan negara-negara sosialis lain. Saat ini, perang sedang berada di bawah gunung es wacana kemenangan kapitalisme AS dan sekutunya. Korporasi transnasional yang begitu cepat beradaptasi dengan situasi baru telah merumuskan langkah-langkah meredam evolusi gagasan sosialisme radikal yang menghendaki negara kembali memegang peran bagi kesejahteraan khalayak. Program-program seperti Corporate Social Responsibility (CSR) adalah bentuk adaptasi korporasi transnasional untuk mengantisipasi gejolak sosial setelah ketimpangan tak jua kunjung terselesaikan melalui program-program lembaga keuangan internasional. Pendekatan kemanusiaan langsung tertuju ke bagian terdalam masyarakat melalui program yang menyentuh hajat hidup orang banyak, pelan-pelan program ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap korporasi transnasional yang rakus dan tamak. Masyarakat menjadi permisif terhadapnya.

Buku ini ditulis dengan gaya bertutur dan mengalir, dimulai dari penuturan seputar masa kecil dan remaja Amin dalam keluarga sejahtera di Mesir sampai masa-masa produktif sang maestro dalam gerakan kiri-global saat ini. Amin tentu mereaksi keras segala bentuk penindasan, dan ia tak segan-segan untuk mengatakan bahwa cara berpikir kritis, sistem nilai dan pengetahuan adalah warisan sesungguhnya yang patut dijaga. (*)
---

Judul Buku : A Life Looking Forward
Penulis: Samir Amin
Penerbit : Zed Books, UK
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 266 Halaman
*)Direktur Eksekutif The Surabaya Readers Club

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com