Membelah Birahi Laut, Bakirim Kasuba di Pantai Galaga

Ilenk Rembulan
http://www.kompas.com/

Diiringi lantunan lagu taking chances by Celine Dion, pagi cerah di Sabtu awal Maret walau di ujung kota bogor bergayut awan kelabu, namun tetap membuat saya ingin cepat-cepat menikmati kumpulan puisi dari Dino F. Umahuk.

Sebagai penikmat dan pelahap puisi, saat membaca puisi-puisi Dino, saya berusaha meresapi jiwanya ketika metafora kata dalam buku itu terbentuk.

Terdiri dari 127 puisi yang terbagi dalam 5 bagian yaitu haluan menuju, narasi tanah asal, sajak lautan ridu, kipas lensa putih dan jejak sunyi. Dari 5 bagian tersebut bagian Jejak Sunyi yang memuat paling banyak sajak-sajak Dino sekitar 36 puisi.

Yang menarik pada bagian pertama yaitu Haluan menuju, tercatat ada 13 kata “cahaya” yang termuat di 9 sajak Dino. Mungkin bagi seorang penyair pengulangan beberapa kata dalam beberapa puisi hal yang lazim, tetapi bagi saya yang berusaha menikmati sajian kata yang sudah terbentuk cukup mengganggu makna yang kutangkap.

Tentu saja dalam hal ini saya hanya terbatas sebagai penikmat yang tidak berhak mengatur sang penyair menyajikan kata dalam masakan berupa sajak, namun pengulangan demi pengulangan yang terhampar dari satu bagian dan disajikan dalam urutan sajak yang berdekatan cukup membingungkan sesaat, walau pada akhirnya memaklumi saja mengapa kata “cahaya” itu harus ada di sajak tersebut.

Ketika lembaran pertama pada bagian ini, saya langsung suka dengan puisi yang berjudul “agama bunuh diri” yang dimasak pada tahun 1999, rangkaian kata yang diramu dengan sederhana namun sarat makna dan dalam artinya, langsung yang terbayang adalah kobaran api yang memanas ketika Ambon pada waktu itu membara.
Lamunan ini melompat pada beberapa waktu lalu, karena salah satu sahabat saya sempat memberitahu, dia terjebak dengan kobaran api di kantornya.

Ah, dendam selalu menyisakan luka yang mendalam, lebih-lebih kita tak tahu dendam apa yang terjadi dan mengapa harus terjadi. Bara telah menjadi abu, puisi Dino di halaman pertama pada bagian awal ini, menggores luka menyisakan tanya.
Apakah mereka mengajarkan agamaTuhan
Agar kita saling membunuh?
Kalau memang demikian
Mengapa agama melarang bunuh diri

Bagian pertama dari buku inipun banyak berbicara soal Ilahi rabbi, kematian yang ditulis dengan metafora kata pulang, dan beberapa sajak berbicara dengan religiusnya. Adakah Dino sedang gelisah terhadap kematian? Ataukah sedang gelisah berbicara denganNYA? Ada satu sajaknya yang berjudul “pulang” yang cukup menawan juga menangkap kegelisahan akan kematian. Sebagian saya kutip di bawah ini, sajak ini diramu pada mei 2007 di Banda Aceh:
Ke arah manapun kau mendayung
pelayaranmu hanya menelan buih
perahu merapuh
layar-layar sobek
nasibmu karan di gerus waktu

Maka pulanglah ke rumah cahaya
rumah yang darinya kau telah lam melarikan diri
sebelum aja menikammu dian-diam
dalam satu kedipan mata

Pada bagian ke dua “narasi tanah asal”, terdiri dari 27 puisi yang sebagian besar bercerita soal alam, gempa Yogja juga peristiwa tsunami di Aceh dan beberapa kenangan tentang Maluku. Ada beberapa puisi yang bercerita soal tanah asal Dino, ini yang paling saya suka. Ungkapan bahasa daerah yang terselip di sajak-sajaknya mengingatkan saya akan lambaian pantai-pantai di gugusan pulang Maluku yang memang katanya terkenal indah luar biasa.
Saya jatuh cinta pada puisi dino yang berjudul “enggo lari”
Bawa berlayar kole-kole
cari ikan, bikin api
di paparisa bikin janji, kawin lari
jadi kasih, jadi rindu
jadi kami putra Maluku

Terasa terdengar petikan ukelele sambil bergoyang ala penari hawaian….Ah ! semilir angin pantai berhembus…
Kemudian puisi yang berjudul “fragmen para leluhur” yang sarat akan beberapa istilah bahasa daerah, kemudian “menuju tanah asal” dan “nona panggil pulang” puisi ini saya baca sambil memdendangkan seperti menyanyi lagu olesio…..oh sio mama sio nona…..terasa banget Ambone maniseee.
Dan di bagian inilah puisi yang berjudul “metafora birahi laut” yang kemudian menjadi ikon judul kumpulan puisi pada buku Dino terdampar.

Ini puisi paling bagus dari seluruh puisi yang ada di bagian kedua ini, terasa banget asinnya, ombaknya, deru angin kencangnya dan terakhir menimbulkan birahi laut yang luar biasa. Terasa badan seger basah kuyub seperti habis selancar…..
Pada bagian ke tiga yang terangkum dengan “sajak lautan rindu”, terdiri dari 21 puisi yang sebagian besar ditujukan pada nama sandi edelweiss. Nama ini cukup membuatku bertanya-tanya “siapakah edelweiss?” bunga yang paling saya suka, kata para pendaki gunung bunga lambang cinta seperti salju abadi di puncak Himalaya (ah, apa iya ?). Dino tidak salah kalau memakai ramuan kata edelweiss buat seseorang yang dia cintai, sayapun sampai kini masih menyimpan edelweiss dari pegunungan Jayawijaya yang dibawa “sang pengembaraku”.

Di samping edelweiss ada satu lagi nama disebut ada dibeberapa puisinya “rifa”, wah adakah memang penyair itu ada banyak perempuan di imajinasi dan realitanya seperti kata banyak orang? Kalau banyak tak mengapa, karena perempuan memang merupakan salah satu ladang penghasil imajinasi ribuan kata bagi penyair . Dan sekarang saya membaca sajak-sajak Dino pun sarat dengan beberapa nama perempuan. Ah!…inspirasi yang tidak akan habis habisnya.

Pada bagian ini saya juga suka puisi “antara Ternate dan Jakarta” di bawah judul ada tulisan edelweiss, mengingatkan akan lagu antara Anyer dan Jakarta. Hem…romantis banget puisi in. Di buat di Ternate feb 2007.
.....................................
Rindu yang menggigil telah kularungkan pada setiap desahan ombak
Laut Halmahera yang fasih telah menerjemahkan aroma tubuhmu
………………………………………………………
Dino, katakan padaku rindu yang menggigil itu seperti apa? Jadi kepingin nih ? yang terbayang ketika membaca bait ini adalah iklan dari obat sakit flu yang ada rintik salju turun (ah..!)

Di samping flamboyannya Dino terhadap perempuan , dia tidak lupa membuat puisi yang berjudul “ibu”, terus terang sayapun jatuh cinta pada puisi pendek ini, terdiri dari lima bait, sarat makna dalam, tiba-tiba membacanya sayapun kangen almarhum ibuku.
Ibu
mimpi pasti membunuhku malam nanti
di tanah pelarian yang begini jauh
akah doamu akan sampai?
Ibu

Doa ibu itu tak lenkang oleh jarak yang ribuan, selalu sampai dan sampai, itulah hebatnya do’a seorang ibu, yang membuat Dino sekarang menjadi penyair dan semoga menjadi penyair yang sukses mendulang kata di setiap do’a ibu.
"Jangan biarkan perempuan itu sendiri", ini judul puisi yang dibacakan penyair Jonathan Rahardjo sambil melukis di peluncuran buku ini tempo hari. Puisi ini dibawah judulnya ada tulisan edelweis. Hem, lagi lagi edelweis. Akhirnya rasa penasaran terjawab sudah "siapakah edelweiss” ini sebenarnya pada puisi dino yang berjudul "tunggu aku besok pagi", kukutip penggalan puisinya :
Siang nanti akan kurajut layar bagi perahu yang akan berangkat
mengikat janji di lepas pantai dimana camar sebagai saksi
dibawah restu Sang Pemilik Bumi kita menikah
selembar puisi akan kutulis sebagai maskawin
jadi menanda hingga saat mati

Akan kubangun istana mungil beratapkan anggrek berdinding edelweiss
kelopak putih dan ungu semerbak wangi bagi cinta yang mekar di dada

Lalu dari rahimmu kau lahirkan aditya dan nadya
buah cinta kita kita dalam dekapan bumi dalam damai dan wangi puisi
bocah-bocah lucu yang akan menemanimu saat aku sibuk, saat waktu manua

Ada satu pertanyaan yang menggelitik saat membaca puisi tersebut, adakah cewek sekarang mau diberi selembar puisi untuk maskawin?

Pada bagian ke empat “kipas lenso putih” terdiri paling sedikit hanya 18 puisi, menceritakan tentang lelaki pantai dan beberapa sajak sarat istilah bahasa Maluku. Salah satu puisi yang saya suka dibagian ini adalah “kipas lenso putih” :
Hanya jika angin menggasak dahan bakau
kita saling menitipkan senyuman di jemari langit
lautan warna-warni tiang layar perahu nelayan

Ombak putih-putih ombak datang dari laut
kipas lenso putih nona manis sudah jauh
ole sio-sio sayangee

Petikan ukulele terasa bangget, padahal di kejauhan suara Celine Dion dengan lagu “shadow of love” masih mengalun di tape recorder, antara imajinasi dan realita gak klop blas!, tapi sengaja saya biarkan bercampur , karena menikmati sajak sajak Dino memang terasa campur seperti alunan music antara angin, ombak , desingan daun kelapa dan teriakan nona nona manis serta suitan camar di kejauhan jadi satu.
Beberapa sajak menceritakan tentang gelisah rindu, amarah yang tercekat atau kemungkinan juga gelisah tentang ’sunyinya Dino”
Puisi yang berjudul ”menghilang dalam gelap”, membuat bulukuduk ikutan menggigil, terdiri dari 4 baris kalimat , ini kutipannya :
Tiba-tiba kau sudah sebegitu menghilang pada gelap
Bayangan dan batang ara sama menghitam pada jarak
Meski rindu tak terbilang seperti bintang
Mencari nafasmu hembusan angin menggigilkan bulu roma

Ada satu puisi berjudul ”Pelayaran ke hulu ajal”, sebagian saya kutipkan :
..........
Sudikah kau mengirim perahu bila tiada percaya di binar mata
Darimana layar mengembang jika angin kau sumbat di mulut telaga

Pelayaran ini semakin mengirimkan nasib ke hulu ajal
Jika saja kau sampai nanti
Barangkali aku telah berpaling

Wuihhhh....kalimat terakhir itu lho Dino......”barangkali aku telah berpaling”...selingkuh yaaa???? ......hehehehehe

Ada satu puisi berjudul ”perempuan di tenda biru”, jadi inga inga lagunya Desi tenda biru.
..........................
Tenda biru
Puting beliung bertiupan
Dengus nafasmu aroma pelangi
Daun-daun menari geliatmu hasrat memenjara
......................

Selepas sudah saya baca semua kumpulan birahi lautnya Dino ini. Setangkup gelombang masih menggelitik di relung sudut mata. Ah, rindunya Dino...marahnya Dino...tercekat dalam kalam Ilahi Rabbi....dan gejolak riak pesisir Halmahera....semuanya dengan manise terangkum indah.

Puisi Dino telah mengirim bahasa rindu pada Maluku.

Komentar