Langsung ke konten utama

Puisi Tanpa Keindahan

Imron Rosyid
http://www.korantempo.com/

Judul Buku : Dunia Bogambola Penulis : Sosiawan Leak Tebal: 72 Halaman (+ 72 halaman) Cetakan I : April 2007 Penerbit: Indonesia Tera

Di luar kalangan sastrawan, puisi acap kali dianggap sebagai sesuatu yang menggambarkan tentang keindahan atau paling tidak dituliskan dengan kata indah mendayu-dayu. Ataupun ketika berbicara mengenai kepedihan, puisi tetap sebagai sesuatu yang paling tidak romantis.

Puisi memang menyangkut rasa atau perasaan yang paling dasar. Tak heran saat seorang remaja jatuh cinta atau cinta monyetnya kandas, dengan mudah menuliskan kata-kata yang puitis. Namun kalau kita membaca kumpulan puisi penyair Sosiawan Leak, persepsi itu nyaris tak terbukti.

Awal bulan ini, penyair yang juga dikenal sebagai sutradara teater ini meluncurkan kumpulan puisi terbarunya berjudul Dunia Bogambola bersama dengan penyair asal Kudus, Thomas Budi Santosa. Masing-masing penyair menyumbang 48 puisi yang diterbitkan Indonesia Terra ini secara bolak-balik. Kumpulan puisi Direktur PT Djarum Kudus itu bertitel Nyanyian Sepasang Daun Waru.

Leak memilih kata atau kalimat yang vulgar dan keseharian. Tak jarang kalimat yang sering diasosiasikan sebagai kalimat atau jorok berhamburan. Bahkan ketika Leak menuliskan puisi perjalanan cintanya, seperti yang dirangkai dalam episode Bidak Cinta yang berisi 8 puisi, kata yang tak "lumrah" juga muncul.

Dalam salah satu puisinya yang diberi judul Aku Gagal Menjadi Tanah, Kayu atau Batu, dia menuliskan?//padahal kau tahu/;duburku meledak!!/dan aku gagal menjadi tanah, kayu atau batu/meski tlah kau rampas hatiku// (halaman 7). Leak yang telah berkepala empat ini masih tetap liar dalam memilih metamor pada puisi-puisinya seperti 10 atau 15 tahun lalu.

Puisi bagi Leak bukanlah sebarisan kata-kata yang jatuh dari langit tetapi tumbuh dari bumi. Dia sepertinya ingin menggugat para penyair yang menulis puisi dengan bahasa yang sulit dimengerti kebanyakan orang. Puisi yang seperti itu disebutnya ../nyatanya, kau kerap menggulai kata-kata/melebihi makna yang hendak kau jala.hingga lahir sajak dengan kerutan/dahi lipatan dan luka sekujur muka// (Puisi Rimba atau Taman Bunga, Halaman 27).

Dalam sebuah kesempatan, penyair yang pernah mengikuti Internationales Literatur Festival Bremen di Jerman ini mengatakan kalau dirinya tidak ingin menjadi seniman yang normatif, terikat pada konvensi atau mainstream tertentu. Leak mengatakan dirinya hanya ingin jujur dalam berekspresi. Apalagi ketika dirinya hidup pada dunia yang kata dia, awut-awutan, tanpa norma, moral ataupun mentalitas tanpa pegangan.

"Saya menyebutnya sebagai Dunia Bogambola," kata penyair yang sudah 20 tahun menulis puisi ini. Bogambola, sebuah kata yang diakuinya tanpa arti dari segi bahasa. Kata itu didengarnya saat masih anak-anak pada sebuah film kartun, yang menggambarkan kelucuan pada sikap barbarianisme. Dalam puisi itu dia menulis //ayo, kita rangket tuhan/percayakan saja aliran kehidupan para irama barbar// (halaman 62)

Mungkin Leak sudah sedemikian pesimis dengan situasi sosial yang dihadapi karena begitu carut marut. Dia membayangkan burung garuda pun malu menjadi lambang negara. (Malu Sang Garuda;45). Sebuah negeri yang disebutnya sebagai negri kadal. /negri yang bersemak rempah/berbelukar bahan tambang, berrerimbun hutan/namun selalu lapar/dengan pertikaian dan asap tebal/dari berbagai kayu bakar; agama, harta dan kekuasaan// (Negri Kadal;33)

Dunia Bogambola memang dunia antah brantah, namun begitu dekat dengan diri kita. Pemilik lebih dari 20 antologi puisi ini sebenarnya tak sendirian mengalami kefrustasian terhadap situasi yang serba sulit. Dan sebagai penyair, dia tentu tak mungkin (dan tak berkehendak) mengubah kegelapan menjadi terang sekalipun dia memilih menulis puisi dengan bahasa yang terang benderang.

Karena itu pula, dia tak malu-malu menyatakan, //apa yang hendak kau catat /dengan puisi?/tuhan? Uang? Kehormatan dan kebebasan?/atau harapan juga impian yang pelan kian hilang dari kenyataan?/ (Kau, Mencatat dengan Puisi; 20). Saat ini bukanlah masa seperti yang pernah dikatakan Seno Gumira Aji, bahwa ketika pers dibungkam sastra bicara. Kebebasan telah diraih, namun itu belum berarti.

Puisi bukanlah bius karena puisi adalah jeritan hati atas rasa yang diasah melalui kepekaan sosial. Puisi seperti itu bukan hanya menjadi sesuatu yang bersifat pribadi, karena mewakili lingkungannya. Dan Leak mengajak agar siapapun tak terseret masuk ke Dunia Bogambola.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com