H.B.J.

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

H.B. Jassin meninggal dan orang bersedih bukan untuk sebuah aura yang hilang. Orang menundukkan kepala untuk sebuah ikhtiar yang tak pernah selesai.

Ikhtiar itu adalah hidup Jassin dengan yang disebut "kesusastraan". Tak seorang pun yang 100 persen yakin kenapa ikhtiar semacam itu harus ada. Kenapa puisi, cerita pendek, novel, naskah lakon, esai ditulis, dan dibahas?

H.B. Jassin mungkin tak pernah mempersoalkannya. Tapi di bagian pokok hidupnya yang 83 tahun ia membaca ribuan sajak, cerita pendek, novel, esai, dan ia menuliskan tafsir, ia menghimpun pelbagai data, menyimpan pelbagai naskah dan catatan yang terbuang. Ia mendirikan sebuah pusat dokumentasi untuk itu, dengan ketekunan yang tak perlu dibantu. Hampir tiap hari ia berjalan menenteng tas yang berisi puisi, atau cerita pendek, atau komentar, bagaikan seorang mantri yang tekun. Tak ada orang lain yang seperti dia. Dan ia melakukan itu semuanya untuk kesusastraan: sebuah ikhtiar yang tak pernah selesai.

Orang-orang yang serius akan marah bila dikatakan bahwa sastra adalah sejenis hobi, seperti kegiatan menghimpun botol kaca atau mengamati burung-burung. Tapi juga hobi adalah sebuah usaha yang tak salah, meskipun tak pernah selesai. Mungkin kata "selesai" itu sendiri sebuah kesalahan.

Kata "selesai" berarti ada sebuah garis akhir, ada sebuah sasaran yang stabil. Dalam sejarah sastra, banyak pertanyaan dan banyak jawaban apa sasaran itu gerangan.

Salah satu penjawabnya adalah S. Takdir Alisjahbana. Lebih dari seni yang lain, tulis Takdir, "seni kesusastraan lahir dari jiwa rakyat yang banyak dan lebih dari seni yang lain itu ia pun dapat menyelam ke dalam kalbu rakyat yang banyak." Sebab itu, "ia pun menjadi pembangun dan pengobar jiwa rakyat."

Takdir menuliskannya di majalah Poedjangga Baroe di tahun 1933. Di tahun 2000, orang akan mengernyitkan alis membacanya. Seandainya benar sastra "dapat menyelam ke dalam kalbu rakyat yang banyak", novel dan puisi tentu akan dibaca ramai-ramai di sawah ladang dan bangku-bangku mikrolet. Tapi tak demikian prakteknya. Bagaimana kesusastraan bisa jadi "pembangun dan pengobar jiwa rakyat"? Bukankah telenovela lebih efektif?

Tampaknya, selalu ada rasa tak tenteram oleh keterpencilan sebuah sajak. Di zaman organisasi massa riuh dan pemasaran berkibar ini—ketika "industri budaya" membentuk hasrat besar sosial—seni yang tak menjangkau orang ramai mirip sesuatu yang lontang-lantung di tepi. Membaca majalah Horison, membaca jurnal Kalam, membaca puisi Sutardji Calzoum Bachri, dan memandang grafis Tisna Sunjaya: main-mainkah ini, subversikah, atau kemewahan? Orang bisa menjawab bahwa justru di dalam keadaan tanpa guna itulah sastra dan seni bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas, hidup yang diinstrumentalisasi.

Tapi, di sisi lain, siapa tahu ada sesuatu yang cuma sebuah keasyikan, dan dengan itu orang pun lalai. Kita menemukan alegorinya dalam cerita Marguerite Yourcenar tentang Pelukis Wang-Fo. Murid sang pelukis, Ling, begitu tersihir oleh pesona garis dan warna hingga ia menelantarkan istrinya. Sang istri pun menggantung diri. Tapi, bagi Ling dan Wang-Fo, kematian adalah soal visual. Mereka tak menengok ke dalam kesedihan perempuan itu. Mereka hanya melanjutkan gandrung mereka yang memutlakkan yang estetik: Wang-Fo mengambil kuas, dan ia melukis tubuh yang tergantung itu. Ia menyukai warna kehijauan yang terbit di paras si mati.

Keindahan yang total bisa memberi alibi bagi ketidak-acuhan. Yang estetik bahkan bisa menutupi hubungan timpang dalam soal kekuasaan: perempuan itu tak berdaya, dan di antara bentuk & warna ia dipinggirkan dalam hidup dan mati.

Mungkin itu sebabnya selama dua dawarsa ini di perguruan tinggi orang menyiasati sastra dari sisi lain: dari konteks, bukan teks. Bukan lagi telaah sastra, melainkan "studi budaya". Mereka tak percaya bahwa sastra hanya urusan estetika, kata dan narasi. Mereka mau membedah kekuasaan apa yang bekerja di balik itu. Paul Ricoeur pernah berbicara tentang "hermeunetika syak wasangka", dan inilah memang zamannya.

Di situ, akhirnya, sastra hanya sebuah stasiun transito. Orang yang menelaah puisi karena keunikan puisi itu sendiri, yang bicara tentang kalimat yang menakjubkan dan narasi yang tak disangka-sangka, kian lama kian jadi aneh.

H.B. Jassin sendiri bisa dituduh aneh dan naïf, ketika ia seperti mengabaikan politik, dan seakan-akan memisahkan isi tulisan dari perbuatan. Pramoedya Ananta Toer, dalam sebuah wawancara dengan Tempo, 10 Mei 1999, menyebut H.B. Jassin sebagai gurunya yang sudah ditinggalkannya. "Dia guru saya yang mengajarkan tentang humanisme universal. Lantas ada penindasan terhadap minoritas Tionghoa, dia diam saja. Ada pembantaian jutaan orang, dia diam saja...".

Tetapi apa artinya "diam"? Tak mudah menghakimi bahwa dalam diam 1000 bahasa tak akan ada 1000 perlawanan atau 1000 kegagapan. Suara, bahkan risalah protes yang keras, seperti halnya sastra, tak pernah cukup kuat dan cukup padu untuk mengubah dunia. Itu sebabnya di zaman ini derap untuk mengubah dunia tak bisa tunggal. Sastra jadi ikhtiar yang tak pernah selesai justru karena ia bunyi yang lain dari tepian kecil yang tak kunjung jelas. H.B. Jassin telah merawat gemanya. Untuk itu, zaman ini layak memberinya hormat.

Komentar