Seekor Tikus dan Guenter Grass

Kurniawan
http://www.korantempo.com/

Ia pernah menjadi serdadu Nazi, tapi Yayasan Nobel tak akan menarik kembali Nobel Sastranya.

Perkenalkan. Namanya Joachim Mahlke. Ia anak yatim yang terasing di Danzig, Jerman, di tengah kecamuk Perang Dunia Kedua dan cengkeraman kuku-kuku Nazi.

Mahlke Yang Agung, begitu Heini Pilenz, narator novel Kucing dan Tikus (Katz und Maus) karya Guenter Grass itu, menyebutnya, senang bermain-main bersama Pilenz dan kawan-kawan lainnya di kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Polandia yang karam dan separuh terendam di sebuah pantai.

Saban musim panas Mahlke menjelajahi kapal karam itu dengan menyelam masuk lewat sebuah lubangnya. Dengan obeng hadiahnya bocah itu menghimpun harta karun: berbagai piagam, pernik-pernik kru kapal, dan sebuah gramofon. Mahlke menjualnya atau sekadar mengoleksinya.

Suatu kali Mahlke mencuri sebuah Salib Logam, lambang militer Jerman, dari seorang kapter armada kapal selam Jerman. Dia diusir dari sekolahnya, Sekolah Mengah Atas Conradinum.

Bocah itu punya impian, jadi seorang serdadu gagah. Dia lantas bergabung dengan sebuah batalion tank Angkatan Bersenjata Jerman dan menerima sebuah Salib Logam, yang hanya dihadiahkan kepada prajurit karena perang, berkat keberhasilannya dalam bertempur.

Ia kembali ke sekolah yang pernah mengusirnya. Tapi, kepala sekolah melarangnya berbicara dengan para siswa, dengan alasan dosa masa lalunya yang tak terhapus.

Mahlke kembali ke kapal karamnya. Dengan alasan yang jelas untuk memakai ruang kapal yang seperuh terendam itu sebagai sebuah tempat persembunyian, sehingga ia dapat terhindari dari panggilan berperang lagi,

Mahlke menyelam ke kapal karam itu lagi dan Pilenz, sang narator, tak pernah melihatnya lagi. Barangkali dia telah mati di sana.

Seperti Mahlke, Guenter Grass sekarang "terusir" dari masyarakat yang memuja dan menghormatinya hanya karena satu alasan: dia mengaku pernah menjadi anggota Waffen SS, sayap militer dari SS Nazi Jerman bentukan Adolf Hitler.

Tak seorang pun yang tahu mengenai keterlibatan Grass ini, termasuk semua penulis biografinya dan bahkan anak-anaknya. Grass hanya memberi tahu istrinya, Ute Grunert.

Pengakuan itu menggemparkan dunia sastra dan politik Jerman. Tentu saja, karena pemenang Nobel Sastra 2000 itu selama ini dikenal sebagai pejuang demokrasi dan perdamaian yang dengan karya sastra dan pidatonya mengecam masa gelap Nazi Jerman.

Dalam sebuah wawancara di harian terhormat Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, edisi 11 Agustus, Grass untuk pertama kalinya mengungkap peran kelamnya itu. Wawancara ini terkait dengan rencana penerbitan otobiografinya, Mengupas Bawang (Beim Häuten der Zwiebel).

"Kebisuanku selama bertahun-tahun ini adalah satu alasan mengapa aku menulis buku ini," kata pengarang berusia 78 tahun itu. "Ia harus keluar akhirnya."

Selama ini Grass dikenal sebagai bagian dari "generasi Flakhelfer", orang yang terlalu muda untuk menyaksikan perang berkecamuk atau terlibat dalam rezim Nazi melalui organisasi-organisasi pemudanya.

Sebelum pengakuan terbarunya itu, orang selama ini percaya pada dongengnya: bahwa ia dulu pernah mengabdi pada unit antipesawat tempur Jerman dan terluka dalam perang, bahwa ia kemudian ditangkap pasukan Amerika Serikat dan ditahan di kamp tahanan perang.

Kini Grass tak memberi isapan jempol lagi. Dia dengan terus terang mengaku bahwa pada saat berusia 15 tahun secara sukarela dia ingin sekali menjadi serdadu Nazi.

Grass sudah terpukau pada pada sosok gagah tentara Nazi sejak usia 13 tahun dan mengira bahwa bergabung dengan Waffen SS adalah rute langsung menuju Adolf Hitler.

"Aku terpukau dalam ideologi itu, aku dibutakannya," ujarnya. "Aku ingin menjadi seorang pahlawan dan mungkin memainkan beberapa peranan."

Maka, dia mendaftarkan diri untuk bergabung dengan armada kapal selam Jerman. Tapi, karena masih belia, dia ditolak.

Kesempatan kedua datang, tapi tidak atas kehendaknya. Pada September 1944 Grass, yang baru menginjak usia 17 tahun, dikenai wajib militer dan ditugasi sebagai penembak pada Divisi Panser SS ke-10 Frundsberg, bagian dari Waffen SS, hingga akhirnya menyerah dan ditawan pasukan Amerika di Marienbad.

Sastrawan gaek itu berdalih bahwa semua itu di luar kemauannya. "Pada tahap itu," kata Grass, "SS mengambil siapa pun yang dapat mereka genggam."

Saat itu, kata Grass, dia tak merasa malu menjadi anggota SS. Tapi, "Kemudian perasaan malu ini membebaniku."

SS, singkatan dari Schutzstaffel (eselon pelindung), semula adalah pasukan pengawal pribadi pemimpin Nazi Adolf Hitler. Organisasi itu lalu berkembang menjadi pasukan elite beranggotakan hampir sejuta serdadu.

Organisasi inilah yang membangun kamp-kamp maut yang menjadi tempat pembantaian jutaan orang, kebanyakan Yahudi, yang kemudian dikenal sebagai Holocaust. SS dinyatakan sebagai bagian dari organisasi kejahatan pada pengadilan Nurenberg seusai perang.

Grass selama ini lolos dari identifikasi sebagai anggota SS karena pada akhir 1944 resimen itu tak lagi melakukan kebiasaannya untuk menato lengan anggotanya.

Grass mengklaim tak pernah menembak sekali pun selama jadi serdadu. Sejauh ini, meski bagian dari SS, Divisi Frunsberg ditimbang tak terlibat dalam pembantaian massal atau kejahatan perang. Tapi, nama buruk Nazi harus ditanggung siapapun yang pernah menjadi anggotanya.

Pengakuan Grass ini menuai reaksi keras dari berbagai kalangan. Dewan Kota Gdansk, Polandia, menimbang akan mencabut warga negara kehormatan kota yang pernah disematkan kepada Grass.

Lech Walesa, bekas Presiden Polandia dan mantan pemimpin gerakan serikat dagang antikomunis Solidaritas, turut menutut Grass mengembalikan gelar kehormatan itu.

Organisasi pengarang PEN Cek juga menimbang untuk menarik penghargaan Hadiah Karel Capek, yang diserahkan kepada Grass pada 1994.

Grass menolak mengembalikan gelar dari Kota Gdansk itu. Dia mengirim sepucuk surat kepada Wali Kota Gdansk Pawel Adamowicz dan menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun dia menyimpan sepotong rahasia masa mudanya itu dan mengaku sangat terbebani.

"Namun, aku tidak menghapusnya dari kenanganku," tulis Grass. "Hanya kini, di masa tua, aku menemukan formula yang tepat untuk membicarakannya dalam perspektif yang lebih luas."

"Kebisuanku," katanya, "mungkin dinilai sebagai sebagai sebuah kesalahan -- itulah setepat-tepatnya yang terjadi." Setelah membaca surat Grass ini, Lech Walesa membatalkan tuntutannya.

Michael Juergs, penulis biografi Grass, termasuk orang yang kecewa. "Dalam satu cara dia telah mengkhianati seluruh generasi," katanya.

Juergs mengatakan, Grass tak pernah membicarakan soal ini selama perbincangan mereka. "Kita mencintainya tak hanya sebagai sebuah ikon moral, tapi sebuah sosok yang mengatakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan," kata dia.

Tak semua menyudutkan Grass. Meski banyak pihak meminta Yayasan Nobel mencabut Nobel yang pernah diserahkan kepada Grass, ketua yayasan itu menolaknya dan mengatakan bahwa keputusan itu tak dapat ditarik kembali.

Pengarang Salman Rushdie membela Grass, sahabat dan rekan seprofesinya itu. Dia menilai Grass tidaklah munafik. "Kita tidak membaca karya Ezra Pound, seorang simpatisan Nazi, sebagai sebuah kedewasaan," katanya. Ezra Pound adalah penyair Amerika yang anti-Semit dan terpukau pada fasisme Mussolini.

Menurut Rushdie, Grass telah menghabiskan kehidupan dewasanya dengan melawan gagasan-gagasan yang dia sokong semasa kanak-kanak. "Dan itu adalah sebuah ketabahan."

John Irving, pengarang Amerika, berdiri di barisan pembela. "Grass tetap seorang pahlawan bagiku, baik sebagai pengarang maupun sebagai kompas moral; ketabahannya sebagai pengarang dan warga Jerman patut dicontoh, ketabahan yang dipertinggi, bukannya dikurangi, dengan pengakuannya baru-baru ini," ujar penulis novel The Cider House Rules itu.

Guenter Wilhelm Grass lahir di Danzig, Jerman (kini Gdansk, Polandia), pada 16 Oktober 1927. Ayahnya membuka sebuah toko grosir dan ibunya keturunan Slav. Pada 1930-an dia masuk Pemuda Hitler, terkena wajib militer pada usia 17 tahun, dan terluka dalam perang pada 1945.

Grass dipenjara di kamp tahanan perang Bad Aibling di Marienbad, Cekoslowakia sebagai tahanan nomor 31G6078785. Dalam otobiografi terbarunya yang kontroversial, dia mengenang pertemuan dan persahabatannya dengan seorang kacung pemalu berusia 17 tahun bernama Joseph.

"Aku ingin menjadi seorang seniman; dia ingin masuk gereja," tulis Grass. Dia tak bisa memastikan apakah kacung itu memang Joseph Ratzinger, orang yang mengaku pernah berada di kamp yang sama dan kini menjadi Paus Benediktus XVI.

Dia dibebaskan pada 24 April 1946 dengan mengantongi uang US$ 107. Grass lantas menghidupi diri dengan bekerja di tambang potasium dan jadi tukang batu sebelum menemukan nama orang tuanya dalam daftar pengungsi dan bergabung dengan mereka sebagai buruh di sebuah pertanian dekat Cologne.

Kemudian dia berkereta di Dusseldorf dan bekerja sebagai pembuat batu nisan sebelum belajar membuat patung dan seni di Akademi Seni Dusseldorf, kemudian di Universitas Seni Berlin.

Di masa kuliah itulah Grass mulai belajar mengarang dan sekitar 1956 menerbitkan sebuah antologi puisi dan drama tipis berjudul Air Pasang (Hochwasser). Di tahun itu dia mukim di Berlin dan sempat ke Paris sebentar bersama penari balet Swiss, Anna Schwarz, yang dia nikahi pada 1954 tapi diceraikannya pada 1978. Setahun kemudian Grass bertemu dan menikah dengan pemain organ Ute Grunert yang mendampinginya hingga kini.

Karir politiknya dimulai ketika dia mengambil peran aktid di Partai Sosial Demokratik Jerman dan mendukung pencalonan Willy Brandt. Dia juga menjadi aktivis perdamaian dan mengunjungi Kalkuta selama enam bulan.

Karir sastranya dirintis melalui Gruppe 47, organisasi pengarang yang longgar di Berlin. Organisasi ini ingin mengungkap dan mengatasi masa lalu Nazi. Anggotannya terdiri dari sejumlah pengarang terkenal masa itu, seperti Alfred Andersch dan Heinrich Boll.

Kelompok ini punya tradisi unik: masing-masing anggota bergiliran mempresentasikan karyanya dan anggota lain akan "membantainya". Sejumlah bab dari novel Grass yang nantinya terbit sebagai Genderang Kaleng (Die Blechtrommel) pernah diuji di forum ini.

Novel Genderang Kaleng mengisahkan tokoh ganjil bernama Oscar Matzerath. Ia menolak menjadi dewasa sebagai protes atas kekejian sejarah Jerman dan hanya berkomunikasi dengan genderang kalengnya.

Ketika karya ini terbit, secara tak terduga dunia sastra menyambutnya secara luar biasa. Grass kemudian menjadi suara dari sastra baru Jerman, menyalib semua pengarang lain semasanya. Hal ini menggiring Grass meraih Nobel Sastra.

Grass dipercaya memegang kursi Presiden Akademi Kebudayaan Jerman (Akademie der Kuenste, semacam Dewan Kesenian di Indonesia) di Berlin selama 1983 hingga 1986. Dia aktif di Perusahaan Penerbitan Pengarang-pengarang Jerman dan PEN.

Dia juga menerima sejumlah penghargaan, seperti Preis der Gruppe 47 (1958), Buechner Prize (1965), Fontane Prize (1968), Premio Internazionale Mondello (1977), Alexander-Majakowski Medal, Gdansk (1979), Antonio-Feltrinelli Prize (1982), Grober Literaturpreis der Bayerischen Akademie (1994) dan Hans Christian Andersen Prize (2005). Sejumlah perguruan tinggi menganugerahinya doktor kehormatan, di antaranya dari Kenyon College dan Universitas Harvard.

Dengan karier sepanjang itu, pengakuan Grass soal keterlibatannya dalam SS menjadi kontroversial. Tapi kontroversi itu berdampak positif pada Mengupas Bawang. Cetakan pertama buku itu, sekitar 150 ribu eksemplar, telah laris dipesan sebelum buku tersebut masuk toko pada September nanti. Cetakan kedua, sekitar 100 ribu eksemplar, menunggu giliran. Di toko online Amazon, buku itu juga menduduki posisi atas daftar buku terlaris.

Grass mengakui bahwa pengungkapan rahasianya, yang disimpan selama 60 tahun lebih, itu sudah sangat terlambat. Tapi dia percaya bahwa dia telah memanfaatkan pengalaman hidupnya sejak masa perang untuk terus mencela masa lalu Nazi.

Komentar