Langsung ke konten utama

Kekejaman Orde Baru di Mata Mochtar Lubis

Judul: Nirbaya, catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: LSPP dan Obor
Tebal: xi +142 halaman
Tahun: April, 2008
Peresensi: A.J. Susmana*
http://www.lampungpost.com/

Dalam situasi yang sepi dan seakan tak ada yang dapat dikerjakan lagi, sering menulis catatan harian yang sering dianggap sepele justru suatu saat akan menjadi catatan yang penting dan berguna.

Sudah banyak contoh, terlebih catatan-catatan dari penjara. Misalnya catatan harian Anne Frank di saat sembunyi dari kejaran Nazi dan catatan harian Antonio Gramsci di dalam penjara fascis Mussolini. Di Indonesia pun kita kenal "catatan harian" Ahmad Wahib dan "catatan harian" Soe Hok Gie.

Kini setelah hampir 30 tahun beredar di luar negeri dan dalam Bahasa Belanda: Kampdagboek, rakyat Indonesia pun dapat membaca catatan harian Mochtar Lubis di dalam Penjara Orde Baru yang kini juga memasuki dunia perbukuan di Indonesia. Kali ini Mochtar Lubis menulis catatan hariannya dalam dua bahasa yang berselang-seling yaitu Indonesia dan Inggris.

Dengan hadirnya buku ini: NIRBAYA, Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru, rezim Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal Soeharto semakin tak bisa mengelak dari berbagai tuduhan atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Mochtar Lubis dengan teliti dan cermat mencatat berbagai perlakuan keji aparatur Orde Baru selama menjadi tahanan Orde Baru di Nirbaya yang tak lebih dari dua bulan.

Mochtar Lubis sendiri bukan orang yang asing dengan penjara. Di bawah pemerintahan Soekarno, ia pun masuk penjara.

Tak tanggung-tanggung, sembilan tahun. Dan baru bebas pada tahun 1966, setelah Soekarno tak lagi berkuasa. Catatan harian Moctar Lubis selama dalam penjara pemerintahan Soekarno pun sudah dibukukan dengan judul Catatan Subversif, yang pertama kali diterbitkan tahun 1980 oleh Pustaka Sinar Harapan.

Dengan menjadi tahanan Orde Baru, mau tidak mau Mochtar Lubis pun bertemu dengan para tahanan Orde Baru lainnya yang berseberangan dengan Mochtar Lubis, terutama dalam hal pandangan ideologi dan politik. Seperti diketahui umum, Mochtar Lubis dikenal anti-Soekarno dan antikomunisme. Karenanya, catatan harian Mochtar Lubis ini layak dibaca oleh generasi kini untuk mengetahui pergulatan batin Mochtar Lubis sebagai seorang demokrat. Selama menjadi tahanan Orde Baru satu kamp dengan tahanan-tahanan Gestapu/PKI, seperti Omar Dani, Subandrio, Pranoto Reksosamudra dan lain-lain.

Dalam Kamp Nirbaya ini, ada juga Hariman Siregar yang dipenjarakan karena kasus Malari. Mochtar Lubis pun dimasukkan ke kamp tahanan Nirbaya atas tuduhan terlibat kasus Malari 1974. Dengan demikian, Kamp Nirbaya pun menjadi pertemuan lintas generasi dan lintas aliran politik dan ideologi. Karena itu, catatan harian Mochtar Lubis di dalam penjara Orde Baru menjadi semakin penting untuk dibaca. Ia memberikan data-data baru bagaimana sebenarnya situasi politik di bawah Orde Baru.

Nirbaya kini sudah tak ada. Lokasi Nirbaya ini dulunya terletak di samping Taman Mini Indonesia Indah. Karena itu, buku ini di samping menjadi salah satu saksi kekejaman Orde Baru, juga salah satu "onumen" kekejaman Orde Baru. Mochtar Lubis pun mengakui betapa Orde Baru berlaku semena-mena terhadap tahanan melebihi rejim Soekarno, terutama terhadap tahanan Gestapu/PKI seperti penahanan tanpa pengadilan, penyiksaan dalam berbagai bentuk dan pemberian jatah makanan yang sedikit dan tak bergizi.

Buku ini pun semakin meyakinkan: betapa jalan demokrasi yang menurunkan Orde Baru adalah benar. Dan betapa tak bermoralnya bila ada kehendak-kehendak atau keinginan untuk mengembalikan kembali "kejayaan" rezim Orde Baru.

*)Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com