Langsung ke konten utama

Menulis Tak Sekadar Mencari Juara

Musdalifah Fachri
http://jurnalnasional.com/
Tak lepas dari bimbingan teman-temannya, Reza mengukir prestasi membuat karya tulis.

BERBEKAL semangat untuk melakukan perubahan yang positif, Reza Taufiq, 21 tahun, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) giat menorehkan ide dan gagasannya pada sejumlah tulisan. Hasil analisa dalam bentuk tulisan tersebut kemudian diperlombakan pada sejumlah kompetisi tingkat perguruan tinggi dan nasional.

Pemuda berkaca mata minus ini pernah menjuarai Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang ekonomi, sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Lomba itu digelar Fakultas Ekonomi (FE) UNJ tahun 2006.

Setahun kemudian, ia jadi juara 3 pada lomba karya tulis ilmiah bidang ekonomi syariah di Universitas Lampung (Unila), Lampung. Pada tahun yang sama dalam lomba karya tulis bidang sanitasi lingkungan tingkat DKI Jakarta, ia mengantongi juara 2.

Dan dua tahun berturut-turut (2007-2008), Reza, panggilan akrabnya, berhasil merebut juara 1 pada lomba karya tulis bidang IPS yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan UNJ. Hasil kerja kerasnya menuai respon dari dewan juri.

Reza tidak semata menulis dan mengikuti lomba untuk mengincar juara, namun yang lebih penting ia ingin berbagi informasi yang bermanfaat kepada masyarakat. “Saya menulis karena ada semangat mengubah ke arah yang lebih positif,” tutur Reza saat ditemui di kampusnya, Kamis (18/12).

Semangat untuk mengusung perubahan kearah yang lebih positif itu lahir dari pengamatannya terhadap lingkungan dan budaya berdiskusi yang dikembangkan di keluarganya. “Orangtua dan saudara sejak kecil selalu mengajak berdiskusi, baik masalah ekonomi dan agama.”

Putra bungsu pasangan Ucu Sulyadi dan Atun Yuliatun ini menuturkan bahwa dia melakukan beragam riset dan persiapan sebelum mempresentasikan karya yang akan dipertahankan di depan juri. Meski ketersediaan dana seringkali kurang, namun itu tak jadi kendala Reza untuk tetap menyediakan data yang akurat.

“Karya ilmiah harus memasukkan data terbaru. Data lima tahun terakhir kemudian semua diolah dan dianalisa sehingga didapat kesimpulan dan masukan konkrit,” terangnya.

Reza menuturkan, prosesnya menulis karya ilmiah tidak lepas dari bimbingan seniornya yang tergabung dalam Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) UNJ yang dia ikuti sejak tahun pertama duduk di bangku kuliah. Dalam LKM, Reza dan temannya aktif melakukan diskusi hingga akhirnya memilih tema yang akan dibahas.

“LKM telah membantu menyalurkan kreativitas saya dalam menulis ilmiah. Saya juga mendapat bimbingan dari teman-teman yang telah punya pengalaman,” katanya.

Dari sejumlah kompetisi yang pernah diikuti, pengalaman yang tak bisa Reza lupakan adalah ketika mengikuti LKTM di Lampung, tahun 2006. Kurangnya koordinasi dengan pihak panitia dan tidak menyiapkan dana yang cukup, menyebabkan ia dan kawan-kawan terpaksa menumpang di rumah kawan karena tidak ada akomodasi bagi peserta. “Dengan dana minim dan semangat yang besar, kami berhasil menjadi juara 3,” katanya.

Remaja yang mengidolakan penulis Helvy Tiana Rosa, Emha Ainun Nadjib, dan Eric Fromm menjelaskan bahwa kebiasaan mengasah pikiran telah terbentuk sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). “Saya dari dulu gemar menghafal dan membaca buku-buku sejarah dan pendidikan,” katanya.

Bahkan pernah suatu kali, ia mampu menghafal dengan baik alur dan isi sebuah buku sejarah yang kemudian minta diujikan oleh ibundanya. Hobi positif itu mengantarnya menjadi langganan juara kelas hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Remaja yang lahir di Kuningan, 12 Januari 1987 ini mengaku menyimpan impian untuk menjadi guru. Dia juga ingin bisa menghasilkan sebuah buku yang bisa dinikmati masyarakat luas sebagai referensi.

Tidak kalah penting, ia ingin sejumlah tulisannya yang berbentuk esai atau opini dapat terpublikasi secara luas di media lokal dan nasional di Tanah Air. Sayangnya, Reza belum mampu mewujudkan hal itu, sebab setelah tujuh kali mengirim tulisan, hasilnya nihil.

Tapi, Reza tentunya tidak patah semangat. Ia akan terus mencoba hingga tulisannya layak untuk diterbitkan secara luas agar semangat perubahan yang diusungnya bisa sampai tepat sasaran. Semua ikut berdoa kok, Reza.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com