Langsung ke konten utama

Psychedelic Campur Sari

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Seni musik ternyata tidak harus dimengerti untuk bisa dinikmati. Begitupula dengan aliran psychedelic yang mencuatkan sejumlah band legendaris seperti Pink Flyod dan Coldplay.

Di Indonesia, aliran ini diikuti oleh sebuah band baru asal kota gudeg yang beranggotakan Mohammad Risky Sasono (vocal, gitar), Erwin Subiyantoro (jazz, blues gitar), Nadya Octaria Hatta (keyboard/piano), Sevri Hadi (rock n roll Drum), Dony Kurniawan (Bas). Band yang menamakan dirinya Risky Summerbee dan The Honeythief ini menawarkan musik yang tak lazim seperti mainstream musik Indonesia lainnya.

Dua tahun yang lalu, Mohammad Risky Sasono yang aktif menciptakan musik di balik sekian banyak pertunjukan kelompok Teater Garasi, memiliki pandangan berbeda tentang musik. Pengalamannya sebagai musisi mengantarkannya bertemu anak muda lainnya yang memiliki visi dan musik yang sejenis. Mereka pun sepakat membentuk Risky Summerbee dan The Honeythief.

Bermodalkan niat mengekspresikan dirinya melalui musik, ternyata Risky dan kawan-kawan mendapat sejumlah apresiasi terutama dari sutradara Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajudin. Dipercaya menjadi latar musik dari pementasan Teater Garasi menjadikan pengalaman dan visualisasi musiknya bertambah luas. “Pak Yudi menyukai segala sesuatu yang serba terstruktur. Begitu pula dengan sebuah musik eksperimental yang kami mainkan disambut dengan respon yang positif,” kata Risky.

Pengalaman pertama ikut sebagai pengisi musik dalam pertunjukan Camar yang disutradarai Corrina Manara, sutradara dari Theatre Embassy (Belanda) yang dipentaskan di Studio Tari Banjarmili, Yogyakarta pada 29-30 April 2008 dan di Erasmus Huis, Jakarta, 6-7 Mei 2008. Dan yang kedua dalam pementasan Jejalan di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Taman Budaya Yogja pada Mei lalu. Ia bahkan ikut memainkan musik secara live dalam pementasan Jejalan.

Jejalan merupakan seni pertunjukan yang menceritakan relasi sosial kaum urban kota. Di dalamnya melibatkan pertempuran antara kaum bermodal dan yang tak bermodal, yang modern dan yang tradisional. “Dan jalan, sebagaimana kota adalah bagian yang tak terpisahkan dari berlangsungnya modernitas di Indonesia. Juga merupakan representasi atas kenyataan-kenyataan sosial-politik-ekonomi-budaya Indonesia,” kata Risky yang akan segera meluncurkan album perdananya pada awal tahun depan.

Disinggung mengenai keunikan nama, Risky sebagai lead vocal mengungkapkan bahwa nama tersebut tidak direncanakan secara khusus. “Nama ini ibarat jatuh dari langit saja, terasa begitu enak didengar dan tidak memiliki arti khusus, tapi kami sepakat untuk menggunakan nama ini sebagai nama band kami,” kata Risky dengan logat Jawanya yang kental.

Aliran psychedelic yang diusungnya kemudian berbaur dengan unsur blues, folk, pop, hingga menghasilkan musik eksperimental yang tidak bisa disebut dalam genre musik manapun. “Kini kami merasa lebih progresif dibanding sebelumnya. Kami hanya ingin berkarya dan mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah kami lakukan,“ ujar pria yang hingga kini masih aktif dalam teater Garasi.

Bertempat di Emax, Kemang, Kamis (19/12) malam, Risky Summerbee dan The Honeythief menggelar konser mininya yang dihadiri oleh beberapa kerabat dan penikmat musik yang sepaham. Pertunjukan yang tepat dimulai pukul delapan malam menggulirkan lagu demi lagu hingga pukul 10 malam.

Menjawab keingintahuan bagi para penikmat musik yang masih awam dengan aliran jenis baru ini, penampilan 11 lagu cukup membuat telinga nikmat sesaat hingga di lagu terakhir. Lagu dangdut dipilih mereka untuk menutup malam itu setelah sebelumnya sempat dibuka dengan beberapa tema eksperimental yang juga menjadi pengisi latar musik beberapa pertunjukan teater Garasi.

Dua tembang beraroma lawas, Fireflies dan Slap & Kiss”yang sedikit rock n roll mampu mereka terjemahkan menjadi format lain sesuai citarasa progresif mereka. Fireflies mengisahkan kesepian di kota besar yang haus akan kebutuhan cinta. Sedangkan Slap & Kiss merupakan sebuah metafora tentang lingkaran cinta yang tak pernah putus, antara percintaan dan kebencian, tamparan dan ciuman, perang dan perdamaian.

Keberanian mereka mencampuradukkan semua jenis aliran menjadi satu mulai dari psychedelic, blues, folk, pop, rock, dangdut memang pantas jika disebut musik kontemporer yang tak terkotak-kotak oleh suatu genre tertentu.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com