Langsung ke konten utama

Pahlawan Sejati

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Seperti kerlip bintang di tengah lautan bagi nelayan, yang kita perlukan hanya cahaya kecil di dalam gelap. Tetap setia menyala dalam badai dan hujan, membentuk jiwa manusia supaya berjuang mengalahkan nasib, membawa seluruh cita-citanya menjadi kenyataan.

Bahkan ketika tidak seorang pelaut pun memandang ke langit, ketika tidak seorang pun manusia bimbang kehilangan peta, cahaya itu harus terus berkobar untuk dirinya sendiri

Pahlawan sejati adalah cahaya yang menuntun rakyat ke tujuan. Menemani langkah setiap orang menembus kemelut hidup menuju terang. Membisikkan pesan agar selalu memenangkan kebenaran. Dia jadikan hidup sebuah pertempuran panjang dengan pengabdian, pengorbanan demi kebahagiaan bersama.

Direbutnya kemerdekaan, dituntunnya perbedaan menjadi kelebihan, hingga negeri puluhan ribu pulau, ratusan bahasa, berbagai suku bangsa- dan panutan hidup, serta keyakinan ini, damai berdampingan dalam keragaman.

Pahlawan sejati adalah sebuah peta, orang tua, guru, teman bermain dan lawan bertengkar. Tak jarang ia menjadi musuh manakala kita khinati nurani, hilang akal, lalu brutal, melupakan diri sebagai bagian keutuhan.

Padahal di dalam kemerdekaan, kita selalu akan berhadapan dengan orang lain yang persis sama merdekanya seperti kita, hingga arti kemerdekaan adalah tidak merdeka.

Pahlawanlah yang meyakinkan kita untuk memaknakan ketidakmerdekaan dalam kemerdekaan, sesungguhnya sebuah keindahan yang dahsyat.

***

Kita hidup dalam rimba-raya kesulitan, tempat matahari dan bulan hadir berbareng, hingga tak kenal malam tak ada siang, semua luluh dalam kerja yang tak pernah putus.

Kita dikepung oleh berbagai ketakberdayaan yang membuat kita terjerat lingkaran setan. Udara beracun, ledakan penduduk, kemacatan, banjir, letusan gunung, tsunami, kemiskinan, korupsi, judi, narkoba, bentrokan, kebakaran, hantu flue burung serta momok demam berdarah.

Belum lagi di antara gedung jangkung, hotel, mal dan mobil mewah, puluhan ribu anak jalanan tak pernah makan sekolahan.

Tak hanya dalam revolusi, pada saat mengisi kemerdekaan pun kita memerlukan pahlawan sejati, tangan kuat, hati baja, pengorbanan tulus dan tindakan-tindakan cepat-tepat-ketat yang dahsyat berpihak kepada rakyat tak berdaya.

Maka pada Hari Pahlawan ini, dari lubuk hati terdalam, perkenankan kami bangsa pasang tabik, haturkan hormat padamu Kusuma Bangsa. Sampai akhir hayatmu engkau menjadi cahaya yang tak henti-hentinya berpedar menerangi persada Nusantara hingga jiwa kami bergelora.

Tak hanya lorong gelap, seluruh wilayah Tanah Air yang terang mendambakan sinar yang memancar dari seluruh gebrakanmu untuk membangun, membetot dan mencintai. Apimu mendorong langkah kami ke depan agar semakin berlimpah pencapain.

Di tanganmu yang perkasalah, bangsa dan negara akan menjadi keren, nyaman dan asyik. Di gebrakanmu yang pantang menyerah, kami semua diingatkan bahwa kerja adalah ibadah.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh dengus nafas kita sendiri dalam merebut kehidupan yang lebih sempurna. Kita semua pengisi kemerdekaan, berkewajiban bertindak berani tapi terkendali, cepat tetapi tepat, total tetapi tidak brutal, agar menjadi teladan, hingga terpahat di dinding hati para penerus kita di masa depan nanti, sebagai pahlawan sejati.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com