Tjon Dii

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

DJON ditangkap pasukan Belanda dan ditembak mati. Saudara kembarnya Tjon, yang juga ikut bergerilya, menyimpan dendam. Ia berjanji akan membunuh seorang prajurit Belanda yang kebetulan jatuh tertangkap oleh regunya. Tapi ternyata ia kemudian bahkan melepaskan si sinyo dari tangan gerombolan liar.

Cerita Nugroho Notosusanto dalam Hudjan Kepagian yang terbit tahun 1958 itu - ketika Almarhum baru berumur 27 tahun - tampak mencerminkan sikap yang dominan di kalangan intelektual Indonesia dalam menghadapi revolusi yang penuh permusuhan itu. Sikap itu menyatakan tekad yang besar buat kemerdekaan tanah air, termasuk tekad untuk membunuh serta mati. Tapi ada sesuatu
yang masih tak ditenggelamkan.

"Yang aku lihat dalam dirinya adalah manusia," kata seorang prajurit gerilya dalam Hudjan Kepagian yang harus menghukum mati seorang perampok. "Ia lain dengan ayam, lain dengan burung dara. Lain dengan anjing yan pernah aku pukuli sampal mati kaku."

Pendek kata, seseorang bisa jadi lawan hukum, lawan politik, atau militer, tapi sejauh itu saja garis bisa ditarik. "Musuh kami bukanlah manusia", demikian sebuah pernyataan di tahun 1963, ketika pertarungan politik antar pelbagai kekuatan di Indonesia sedang menaik, "Musuh kami adalah unsur-unsur yang membelenggu manusia."

Pernyataan itu, seperti kita mungkin ingat, bernama Manifes Kebudayaan - yang dicemooh PKI sebagai "Manikebu" dan dilarang Presiden Sukarno 8 Mei 1964, justru karena ia bicara, dengan retorika yang agak menggelembung, tentang musuh-yang-bukan-manusia, melainkan "belenggu" itu.

Belenggu itu misalnya kolonialisme - sebuah sistem, bukan biografi orang-orang, bukan pula perangai tokoh-tokoh. Dalam salah satu cerita Nugroho, seorang prajurit Belanda menolong seorang ibu dan oroknya dari medan tembak-menembak. Ia memang orang berbudi. Tapi tak berarti kehadirannya membenarkan imperialisme. Sebaliknya, perlawanan terhadap imperialisme tak harus berarti mengingkari kemungkinan budi itu, karena mengakuinya berarti menyimpan harapan pada manusia.

Itulah sebenarnya salah satu inti "Manikebu".

Tapi jika saya sebut Nugroho Notosusanto bersama Manifes Kebudayaan, bukan saya ingin mengesankan bahwa ia juga seorang "Manikebuis" alias penanda tangan "Manikebu". Saya hanya ingin menunjukkan, kisah-kisah kecil dalam Hudjan Kepagian itu, seperti telah disebut tadi, mencerminkan satu pandangan yang tiap kali muncul dalam karya sastra Indonesia yang, selama dua dasawarsa setelah 1945, terus bergelut dengan kenyataan ini: pelbagai kekerasan polltik meletup, meluas, dan merisaukan.

"Humanisme universil"? Tak selalu . Ketika tahun 1963 saya ikut meneken itu "Manikebu" (dengan semangat dan keterbatasan seorang yang baru 22 tahun), kata itu sendiri telah agak jauh dari diri saya. Bahkan mungkin juga dari diri Nugroho - meskipun ketika pertama kali saya kenal tahun 1964, ia sudah 10 tahun di atas saya.

Sebab "humanisme universil" itu memang datang dari masa yang terdahulu. Setidaknya, menurut surat Kritikus H.B. Jassin kepada Penyair Aoh Kartahadimadja 15 Desember 1951, soal itu bermula dengan majalah Gema Suasana yang terbitJanuari 1948.

Dalam dewan redaksi majalah itu duduk sederet nama yang kemudian jadi tokoh sejarah kesusastraan kita: Asrul Sani, Chairil Anwar, Rivai Apin. Nomor pertamanya dibuka dengan pernyataan Chairil yang agak pongah, tentang kehendak "menembus kabut dan hawa
busuk" yang disebarkan pers perjuangan Indonesia sejak 1945. Nomor keduanya mengutip kata-kata penulis India Sarojini Naidu, yang mengecam kesusastraan yang berniat "mengeluarkan perasaan kebangsaan". Singkatnya, Gema Suasana menolak sastra partisan.

Sikap itulah agaknya yang disebut H.B. Jassin sebagai pandangan "humanisme universil". Dan sikap itu pula yang dengan jelas dikecamnya - dalam suatu tulisan yang sering dilupakan orang. Bagi suatu bangsa yang "sedang memperjuangkan nasibnya melawan kekerasan penjajah", tulis Jassin, seperti bisa dilihat dalam salah satu jilid Kritik dan Esei-nya yang terkenal itu, "pendapat ini tidak bisa dipakaikan". Jassin bahkan menuduh, "humanisme" itu hanya satu siasat musuh.

Tak heran bila "Manikebu" - yang antara lain dipelopori H.B. Jassin pula - berbicara tentang "humanisme universil" dengan reserve yang besar. Bila "humanisme universil" itu mengaburkan "kontradiksi antara kawan dan lawan", demikian kata Manifes Kebudayaan, "kami akan menolak 'humanisme universil' itu".

Aneh, memang, kalau kemudian "Manikebu" praktis disama-artikan dengan paham semacam itu, seperti dikesankan majalah Prisma edisi bahasa Inggris September 1983. Tapi agaknya selalu demikian: orang-orang suka bicara tentang kesusastraan tanpa mereka benar membacanya.

Mungkin karena itulah saya mencoba menulis tentang Nugroho Notosusanto dan akhirnya harus bicara tentang masa silam yang tak lagi ditengok.

Komentar