Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

http://sastrakarta.multiply.com/
PUISI PAGI SEORANG PENGANGGUR

Tuhanku
hari ini tak ada yang tercatat dalam buku
tak ada ruang terbaik buat menunggu
tak pernah lagi hari-hari kuhitung
batu-batu lelap menatap
lewat jendela yang terbuka
terdengarlah senantiasa teriakan-teriakan
gemuruh roda-roda kehidupan
yang digerakkan tangan-tangan
kembali aku pun mengaca pada diri-sendiri
ketika Kau tetap bernama Sunyi
ketika segalanya hadir: puisi.
Tuhanku
hari ini untuk pertama kali
kuucapkan pada-Mu: Selamat Pagi
sebab, ketika hari bulan terus juga memberi
senantiasa aku pun merasa
hidup memang bukan milikku pasti



SEPOTONG WAJAH

Dari atap dan jalan-jalan kota
membidik masa lampau
indahnya semua yang indah
bertindak aku tak hendak dipandang salah
meski kasar mengusir
ditinjau tetap berdesir apalah penyair
di hulu batinnya, di hilir mata segan menerima
Seorang bertahan terhadap perlambang cendekia
Seorang bertahan rahasia mimpinya

Jangan kasihani kami, di mana-mana
biarkan tegak, sendiri
hingga tenggelam seluruhnya
kembali dahulu kanak tiada Nama dikenal
atas daunan gemetar dipandang saja Dunia
dunia yang nakal

1972



SEMALAM DI ASTANA
SAPTARENGGA IMOGIRI

Tinggal cungkup setia memayungi
masih saja mendaki bila mendekat
telanjang kaki, sembunyi
di balik seragam abdi kerabat

Tak adakah yang lebih tinggi
dari hamba sahaya
lebih bersahaja dari tahta
menyambut anak-anak zaman yang berbeda?
Padahal, Sunan dan Sultan telah bersalaman
dengan jengkerik, dengan burung-burung malam
bersahabat dengan ulat tanah
yang menghabiskan jasad dari sejarah

Aku termenung menyaksikan agathis alba
tirus melengkung, mengepung
Saptarengga, dan warung
menjajakan tikar pelita
semalaman berjaga
menunggu tuah itu menetes
serupa es
membasahi
kerongkongannya

1979



PERTAPAAN BONEKA

Biarkan sesekali anak-anak mengenal api
belajar menari sambil menarik pedati.
Mengejar bukti kelahirannya bukan sekadar mimpi
meskipun akhirnya harus mengepak meniru merpati

Biarkan mereka bertanya sejenak sehabis mengaji
mengenai sungai susu yang di sorga
atau matematika, sebelum kembali menjadi boneka
di rumahnya; biara bagi calon pendeta
penginapan anak-anak manja

Biarkan mereka memahami jengkerik berbunyi
disebabkan gesekan sayap dan kaki
bagaimana ular berganti kulit pada pertapaannya
yang tersembunyi, ataupun mengintip jantung pisang
yang ke luarnya senantiasa malam hari

Pada saatnya nanti
biarlah mereka mendengarkan sendiri
kebenaran dan ayat-ayat Tuhan
yang diterimanya dalam Sunyi

1989



JANDA PENJUAL SAYUR IMOGIRI-YOGYA

Malam ia sudah merancang
tidak kembali mengulang mimpi
pada stang bau seledri
kabur membawa tubuh
di atas sepeda
bagai sekeranjang bayam dan kapri
habis kecantikannya terbeli bintang pagi

Tapi, ia mendengar bisik tetangga
dan percaya. Perempuan bisa jadi bapak anak-anaknya
tidaklah jamak setiap menyalakan api
mengandalkan korek dari saku laki-laki

Tapi, ia merasa berulangkali
rahimnya minta
bernyanyi. Dan sedikit variasi
misalnya, kasur bersprei
keriut ranjang besi
nakalnya desah sapaan jalanan
lamaran manis dan pernyataan aman

Duh Gusti, rapatkah mahoni
dan angsana sepanjang Imogiri-Yogya
untuk sembunyi jejak-tapak merpati
saat mencuri cara
berdagang nasib di bumi manusia?

1992

Komentar