Langsung ke konten utama

''Sastra Ber-lawan'' dari Sisi Liar Penyair

http://www.balipost.co.id/
Judul : Otobiografi
Penulis : Saut Situmorang
Penerbit : [sic]
Cetakan : Noverber 2007
Tebal : 282 halaman
Peresensi: Yudhis M. Burhanuddin

BELAJAR seni, kata murid Nasar yang menetap di Legian Klod, seperti belajar silat. Belajar silat pertama-tama belajar teori dasar misalnya, jurus, menangkis, dan seterusnya. Semua teori dasar itu buyar ketika pesilat menghadapi lawan tanding dalam realitas sesungguhnya. Saut Situmorang, penyair yang lama melanglang-buana di dunia "pencak silat" teori susastra di Selandia Baru, membuyarkan teori susastra dalam realitas.

Dalam "Otobiografi" ini, ia lebih banyak menggunakan diksi dan idiom sehari-hari, yang bagi kebanyakan orang mungkin "jorok". Beberapa strata norma sastra ala Roman Ingarden pun, (tampaknya) diabaikan, meski pada beberapa puisinya, itu hadir; kemungkinan tidak disadarinya. Singkat kata, karya sastra-dalam-dirinya sebagaimana yang diusung mazhab New Criticism The Chicago School -- sebuah konvensi sastra yang banyak digunakan kritikus -- didobrak oleh Saut Sitomorang menjadi "sastra ber-lawan."

Frase puisi bagaimana pun dapat dibedakan dari frase nonpuitik. Misalnya lirik ini: ketaksempurnaanMu, kekasihKu/ manis dan indah/ sebiru rumputan/ di mana aku dulu melihatmu terbaring telanjang/ buat pertama kalinya/ di Taman Segala Awal itu. Salah satu larik puisi "kinda blue" ini menggunakan diksi dan idiom biasa, namun tetap terdengar indah dan menggugah karena di situ ada alegori sebagaimana dalam beberapa puisi lain yang dikelompokkannya sebagai puisi cinta.

Dengan kata lain, meski idiom dan diksinya biasa, namun idiom dan diksi biasa itu direkonsktruksi menjadi diksi dan idiom puisi. Puisi sebagai dokumen sosial, karena tidak bisa dilepaskan dari aspek verstehen-fenomenologi dan tidak pernah tercipta dalam ruang vakum sebagaimana rumusan Goldmann dan Lowelenthal misalnya, salah satunya bisa dilihat dari perspektif itu: merekonstruksi bahasa masyarakat awam menjadi bahasa puisi.

Seperti epistemologi, estetika ibarat hutan belantara dimana banyak pohon dan belukar di sana sehingga tafsir-tunggal tentangnya sulit ditentukan. Sesuatu yang "jorok", bahkan kehinaan dan derita, bisa menjadi sesuatu yang estetis di tangan seniman yang peka. Sastra pun demikian; ia adalah hutan belantara yang sulit ditafsir-tunggalkan. Banyak karya sastra yang menyublimasi kejorokan, kehinaan, derita dan perlawanan menjadi puisi, prosa, cerpen dan novel. Masalahnya memang, kritik sastra di Indonesia didominasi oleh kritik sastra Barat yang melulu menganggap kehinaan dan perlawanan sebagai sastra pamflet.

Sampai detik ini, kesusastraan Indonesia sangat bergantung pada legitimasi itu dan belum ada kritikus maupun akademisi sastra yang berani lantang berteriak bahwa, secara teoretis sastra merefleksikan bawah-sadar sastrawan yang tercipta akibat pergumulannya sehari-hari dengan situasi dan kondisi di mana ia berada, sehingga tidak mungkin ia melahirkan karya dari kondisi kevakuman ruang waktu. Yang bisa berbuat itu hanya Tuhan.

Ruang dan Waktu

Sebetulnya kaidah-kaidah susastra di Barat yang kini mendominasi dunia kritik sastra Indonesia bersifat relatif pada locus kesusastraan yang lain misalnya, kesusastraan Hindu-India dan Persia. Di dua peradaban ini, kritikus sastra Barat dengan malu-malu memperkenalkan konvensi sastra mereka yang celakanya dibabat-habis oleh sastrawan dan seniman dua peradaban besar itu karena mereka, pertama enggan menjadi pengekor, kedua merasa lebih dulu berperadaban.

Karya sastra erat kaitannya dengan konteks ruang dan waktu. Kumpulan syair "Gitanjali" Rabindranath Tagore yang mengantarkannya sebagai orang Asia pertama meraih Nobel Sastra mencerminkan verstehen-fenomenologi mistiskus Timur yang di Barat susah ditemukan mengingat basis kulturalnya logos-materialisme-sekuler. Trilogi Kairo Naguib Mahfoudz yang mengantarkannya meraih Nobel Sastra lebih menggambarkan kualitas verstehen-fenomenologi masyarakat post-kolonial Mesir.

Karya sastra Camus dan Sartre dikagumi kritikus sastra di Bali karena keduanya menyuguhkan verstehen-fenomenologi Aljazair yang post-kolonial. Nadine Gordimer meraih Nobel Sastra 1991 karena lebih banyak menulis politik apartheid di Afrika Selatan. Gabriel Garcia Marques pun demikian. Pramoedya Ananta Toer dinominasikan sebagai kandidat calon peraih Nobel Sastra karena karya-karyanya yang "ber-lawan". Bukankah Sutardji Calzoum Bachri mendobrak konvensi sastra Barat dengan membebaskan kata dari makna dan struktur karena diinspirasi sastra-tutur Timur yang disebut mantra?

Membaca "Otobiografi" Saut Situmorang ini lebih indah jika dilepaskan dari kaidah konvensi sastra. Ia, dalam beberapa puisinya yang dikelompokkannya puisi politik, menyuguhkan paradigma "sastra ber-lawan". Unsur estetiknya berada pada lapis makna verstehen-fenomenologi masyarakat post-kolonial Indonesia. Dalam puisi-puisi politiknya, ia menyuguhkan ironi masyarakat post-kolonial yang mempraktikkan psikologi kolonial kepada sesama anak bangsa. Itu misalnya bisa dilihat pada puisi "dari berita di sebuah majalah", "marsinah", "sajak sampah", "orang-orang lapar turun...", "bebek santet", "solilokui", "karaoke setan", "aku adalah mayat", dan "buat Fikar".

Bisa ditebak. Bagi kritikus sastra akademis, puisi-puisi Saut Situmorang ini dikategorikan sebagai sastra marxis atau pamflet. Begitulah mitos akademis yang berkembang dalam teori sastra Barat. Namun pertanyaannya, apakah karya sastra romantik-eksistensialis itu, misalnya puisi cinta, tragedi, dan semacamnya, juga tidak mem-pamflet-kan diri atas nama humanisme-universal yang malah cenderung-narsistik? Sekali lagi, sastra itu hutan belantara yang tidak bisa ditafsir-tunggalkan baik-buruknya oleh segelintir orang.

*) Mhs. S2 Unhi Denpasar.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com