Sastra, Santri, dan Film Perempuan Berkalung Sorban

Aning Ayu Kusuma
http://www.republika.co.id/

Setelah sukses menggarap film Ayat-Ayat Cinta, sutradara muda Hanung Bramantyo akan melahirkan lagi sebuah film religi yang sangat kritis dan kontroversial, Perempuan Berkalung Sorban(PBS), yang diangkat dari novel Abidah El Khalieqy.

Sebagaimana pernah dikemukakan Maman S Mahayana dan Ahmadun YH, karya-karya sastra Abidah telah berhasil menyingkap cadar tradisi dunia pesantren, kultur Jawa, dan budaya Arab. Sekaligus juga menawarkan paradigma baru yang lebih substansial untuk menempatkan idealitas perempuan dalam pandangan Islam. Ahmadun bahkan menempatkan Abidah sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia dan novel-novelnya dapat dinilai sebagai puncak sastra Islami -- bukan fiksi pop Islami.

Novel-novel Indonesia yang benar-benar menggugat posisi subordinat perempuan belum banyak di tulis. Sementara novel PBS ini banyak ditunjuk menjadi salah satu perintis penulisan fiksi yang secara tegas memperjuangkan kesetaraan gender. Jika diangkat ke layar lebar, jelas akan menambah khazanah keanekaragaman tema film di negeri ini.

PBS adalah novel berbingkai feminisme. Persfektif feminisme lebih mengarahkan pandangannya pada karya-karya sastra yang ditulis perempuan, dan sekaligus juga menampilkan tokoh perempuan dengan berbagai masalahnya. Perspektif dimaksud tidak semata-mata memandang novel dari kacamata estetika, tapi juga memfokuskan kajian pada makna dan hubungannya dengan realitas sosial dan budaya.

Kaum feminis meyakini bahwa tradisi sastra perempuan dan laki-laki memang berbeda. Perbedaan itu dapat ditelusuri jejaknya melalui eksistensi dan kesadaran perempuan pengarang melaui karya sastra yang dihasilkannya. Adakah perempuan pengarang dimaksud mampu menunjukkan usahanya untuk membebaskan diri dari kungkungan sistim patriarkhi, atau justru sebaliknya malah mendukung dan terjebak di dalam sistim tersebut.

Dalam konteks kesusastraan Indonesia mutakhir, di tengah maraknya novel-novel yang ditulis oleh perempuan, karya-karya Abidah memiliki spesifikasi. Selain gaya penulisan dan pilihan diksinya yang puitis, tema-tema yang diangkat tidak terjebak pada tema-tema kebebasan dan seksualitas.

Novel PBS memiliki kandungan ekspresi dan konsistensi fiksional untuk mengutuhkan kepribadian, kecerdasan dan keyakinan tokoh perempuan di dalamnya. Pengutuhan itu bukan saja terbaca dari latar sosial tokohnya, Anisa, tetapi juga emansipasi pemikiran dan keberaniannya untuk melawan dominasi dan diskriminasi tokoh-tokoh antagonis yang bersifat patriarkhis.

Penggambaran posisi dan sikap tokoh perempuan tersebut juga mencerminkan adanya upaya untuk menanggapai dan mencari solusi terhadap masalah gender yang ditimbulkan oleh ketidakadilan sosial dan budaya di sekitar tokoh itu berada.

Dalam bingkai feminisme, kajian gender dalam karya sastra mengarahkan perspektifnya pada beberapa tujuan, yang di antaranya dapat diacu sebagai cara kreatif untuk membebaskan perempuan dalam menulis dan menceritakan pengalamanya sendiri di luar konvensi, aturan, konsep dan premis budaya patriarki. Wacana gender juga berusaha menciptakan androginitas budaya, membangun kesetaraan tatanan sosial yang didasarkan pada nilai-nilai keperempuanan.

Bertolak dari landasan di atas, novel PBS memiliki kecenderungan pokok untuk menempatkan perempuan sebagai subjek budaya. Kecenderungan tersebut dapat dilihat melalui berbagai peristiwa yang sengaja ditampilkan oleh pengarangnya, guna mengungkap dan mengangkat eksistensi kaum perempuan untuk menemukan pengetahuan tentang hak atas tubuhnya. Memahami bagaimana cara menolak, menghindar, memberontak dan melawan terhadap dominasi kekuasaan patriarki.

Selain itu, novel PBS ditulis dengan menggunakan sudat pandang aku-pengarang sebagai tokoh protagonis yang bernama Anisa. Dengan sendirinya, struktur narasi yang digunakan merupakan bagian dari pemikiran tokoh tersebut. Melalui tokoh Anisa, PBS berupaya melakukan perlawanan terhadap tradisi keluarga, ustaz dan kitab-kitab yang diajarkan dalam sebuah pesantren yang diasuh oleh ayahnya sendiri.

Kerena itu, tidak salah jika novel PBS telah dijadikan sarana bagi pengarangnya untuk mencapai tujuan tertentu yang terkait dengan perjuangan kaum feminis, baik tujuan yang bersifat ideologis maupun pragmatis.

Perjuangan kaum feminis dapat dikenali melalui aliran pokok dalam gerakan tersebut, yaitu Feminisme radikal, Feminisme liberal dan Feminisme sosial. Masing-masing aliran tersebut memiliki arah pergerakan dan fokus perjuangan yang berbeda-beda, namun secara esensial memiliki pandangan yang sama. Bahwa perempuan harus dibebaskan dari kungkungan sistim tradisi dan budaya patriarkhi.

Seperti juga tokoh Kejora dalam Genijora (Mahatari, 2004), Anisa dilukiskan sebagai seorang santri yang ideal, berpikiran moderat, cerdas dan kerap kali mendebat para ustaznya terutama untuk hal-hal yang dirasa mengganggu logikanya. Dengan kecerdasannya pula, Anisa berani menolak terhadap segala sesuatu yang dianggap menyimpang dari nilai agama.

Pada akhirnya, setelah Anisa keluar dari pesantren ayahnya, dan menjadi mahasiswi pada sebuah perguruan tinggi, tak putus-putusnya ia berusaha melakukan penafsiran ayat-ayat Alquran dan hadis sebagai sarana juang untuk melindungi dirinya dari penindasan laki-laki. Karena menurutnya, laki-laki juga selalu menggunakan rujukan yang sama untuk menindas perempuan.

Dengan demikian, baik tersurat atau tersirat, novel ini juga memberi kritikan terhadap mereka yang mengaku Islam namun sikap dan perbuatannya amat jauh dari nilai-nilai Islam. Ajaran-ajaran Islam sering disalahgunakan justru sebagai tameng dan pembenaran bagi tingkah laku menyimpang yang seringkali berakibat ketidakadilan bagi perempuan.

Melalui latar sosial dan pemikiran tokoh di dalamnya, novel ini juga telah berhasil mengungkap fakta dominasi, subordinasi, dan marginalisasi yang dialami perempuan dalam ranah keagamaan. Sehingga, asumsi masyarakat terhadap posisi dikotomis perempuan yang semata-mata didasarkan pada mitos, kepercayaan dan tafsir kitab suci, senantiasa dikritik dan diluruskan kembali.

Karena itu, PBS mengajak para pembacanya untuk melakukan perlawanan secara proporsional terhadap sistim budaya patriarkhi. Perlawanan proporsional dimaksud meliputi perlawanan perempuan atas laki-laki, serta perlawanan perempuan terhadap kejumudan dan kelengahan kaumnya sendiri.

Kalau saja Hanung Bramantyo dapat merepresentasikan kisah perempuan yang tak putus-putusnya dihantam badai tradisi dan budaya pesantren sebagaimana tersurat dalam novel PBS, bisa jadi film tersebut akan menjadi fenomenal. Bukan saja melengkapi premisnya dalam Ayat-Ayat Cinta, namun lebih mendasar lagi, menjadi pelajaran berharga dalam sejarah perfilman Indonesia.

*) Dosen sastra UIN Yogyakarta.

Komentar