Minggu, 18 Januari 2009

Sastra dan Pahlawan

Bandung Mawardi*
http://www.surabayapost.co.id/

Toto Sudarto Bachtiar pada bulan November 1955 menulis sebuah puisi terkenal dengan judul “Pahlawan Tak Dikenal”. Toto menuliskan puisi itu sebagai rekaman dari perenungan dan pengentalan selama 10 tahun ketika ikut dalam perjuangan kemerdekaan 1945. Toto mengisahkan: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring / Tetapi bukan tidur, sayang / Sebuah lubang peluru bundar di dadanya / Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang. Puisi ini menjadi memori kolektif karena kerap hadir di buku teks pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia atau jadi teks untuk lomba baca puisi. Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” merepresentasikan narasi empati terhadap lakon hidup pahlawan.

Djawastin Hasugian pada tahun 1965 menuliskan sebuah puisi yang mengacu pada peristiwa 10 November 1945. Penyair dengan kalem mengenangkan peristiwa pertempuran rakyat Indonesia dengan pasukan Sekutu di Surabaya. Kenangan berulang atas perjuangan dan kematian pahlawan dituliskan oleh penyair: Hari ini kami kembali mengenangmu seperti juga / tahun-tahun yang lalu / Tertengadah kami memandang kemboja yang / semakin tua di atas kuburanmu / Mengheningkan cipta dengan air mata atas / kehadiran dan ketiadaanmu / Ketika bumi rakyat tercinta ini ditindas dan kau / bangkit melepas nyawa. Puisi ini dramatis dan sugestif.

Puisi Toto Sudarto Bachtiar dan Djawastin Hasugian itu jadi representasi kecil perhatian pengarang sastra Indonesia modern terhadap tema pahlawan. Puisi-puisi dengan tema pahlawan memang membuka kemungkinan keterlibatan empati dan simpati pembaca untuk masuk dalam narasi sejarah dan pengalaman tokoh. Konstruksi puisi pun sanggup mengantarkan pembaca pada pengetahuan pahlawan dalam kolaborasi fakta-fiksi.
***

Teks-teks novel Indonesia modern dengan tema pahlawan terhitung dalam jumlah sedikit dan kurang dalam pembicaraan (esai, kritik, atau penelitian sastra). Beberapa novel yang mengisahkan tokoh pahlawan: Surapati (Abdul Muis), Surabaya (Idrus), Jejak Kaki Wolter Monginsidi, (S. Sinansari Ecip), Kuantar ke Gerbang (Ramadhan KH), Cut Nya Dien (Ragil Soewarno Pragolapati), Cermin Kaca Soekarno (Mayon Sutrisno), dan lain-lain. Pengisahan pahlawan dalam bentuk novel memang kurang populer bagi publik pembaca. Publik cenderung mengenali pahlawan melalui medium buku teks pelajaran, buku sejarah, buku biografi, buku memoar, esai, artikel, atau film.

H.B. Jassin sebagai dokumentator dan kritikus penting dalam kesusastraan Indonesia modern memberi perhatian atas kehadiran novel biografi Cermin Kaca Soekarno. Novel Mayon Sutrisno itu dinilai H.B. Jassin cukup berhasil mengisahkan kehidupan Soekarno dalam struktur novel. H.B. Jassin (1984) dengan sugestif mengungkapkan: “Generasi muda kita, generasi penerus, perlu membaca buku ini. Buku ini merupakan pelajaran sejarah dalam bentuk roman.” Anjuran H.B. Jassin kentara memakai tendensi pembelajaran sejarah melalui sastra bakal mengantarkan public pembaca pada keterlibatan interpretasi secara intensif.

Pemilihan bentuk novel untuk mengisahkan kehidupan tokoh pahlawan memiliki aksentuasi pada kekuatan narasi literer. Pengarang mengolah bahan atau sumber dengan struktur dan bahasa dalam pergulatan fakta-fiksi. Unsur-unsur tokoh, peristiwa, latar waktu dan tempat, konflik sebagai konstruksi teks novel mengandung tegangan dalam pengisahan historis dan imajinatif. Novel memiliki ruang gerak bebas untuk menarasikan dan menghidupkan fakta. Narasi itu tentu membuat ketokohan pahlawan menjadi manusiwai dan familiar untuk mendapatkan interpretasi dari publik pembaca.
***

Eksplorasi tema pahlawan pun bisa memakai bentuk puisi dengan struktur dan konvensi berbeda dari novel. Puisi-puisi dengan tematis pahlawan juga tercatat dalam jumlah kecil dibandingkan dengan tematis-tematis lain. Puisi terkenal Chairil Anwar dengan berjudul “Diponegoro” (1943) adalah puisi terkenal dan kerap menjadi acuan dalam pembicaraan sastra dan tema nasionalisme.

Puisi Chairil Anwar itu tidak untuh mengisahkan biografi Diponegoro. Ketokohan dan heroisme Diponegoro diungkapkan Chairil Anwar dengan maksud untuk memberi semangat dalam menjalani revolusi Indonesia. Heroisme Diponegoro diungkapkan Chairil Anwar dalam bait mumpuni: Di depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. / Pedang di kanan, keris di kiri / Berselempang semangat yang tak bisa mati. Ungkapan terkenal Chairil Anwar yang terus dikenang dalam puisi itu adalah: Sekali berarti / Sudah itu mati.

Subagio Sastrowardoyo pun fasih mengisahkan pahlawan Monginsidi. dalam puisi “Monginsidi”. Puisi itu dengan memakai bentuk aku lirik mengajak pembaca merasakan heroisme Monginsidi yang mati pada usia muda. Monginsidi dikisahkan sebagai seorang pemuda yang hidup dengan lakon dramatis sebagai pemimpin gerilya melawan kolonilal. Monginsidi menemui ajal dengan ikhlas. Kisah penangkapan dan kematian Monginsidi terasa herois dalam bait ini: Aku adalah dia yang terperangkap siasat musuh karena / pengkhianatan / Aku adalah dia yang digiring sebagai hewan di muka regu / eksekusi / Aku adalah dia yang berteriak ‘merdeka’ sebelum ditembak / mati.

Saini K.M. pada tahun 1993 menulis sebuah puisi dengan judul “Dewi Sartika”. Puisi ini mengungkapkan ketokohan Dewi Sartika sebagai sosok perempuan revolusioner dalam kontribusinya terhadap konstruksi kemerdekaan bangsa Indonesia. Saini menuturkan dalam pembahasaan metaforis dan bentuk liris. Dewi Sartika dituturkan dengan metafora feminis yang hidup: Kuntum yang berkembang dalam sepi / Di pinggir jalan tempat sejarah lewat / Akankah ia hanya menyebar wangi / Pada angin lalu, pada masa lalu semata? Puisi Saini K.M. terasa tidak mendikte atau menggurui pembaca mengenai nilai-nilai perjuangan sosok pahlawan perempuan tapi membuka narasi-narasi inspiratif.

Perhatian terhadap tematis pahlawan pun ditunjukkan oleh Jose Rizal Manua dalam puisi “Pahlawan itu Adalah Ibuku” (2004). Jose menonjolkan sosok-sosok pahlawan perempuan: Kartini, Dewi Sartika, Cristina Marta Tiahahu, dan Cut Nya Dien. Penyair mengajak pembaca mengenang kembali kisah sejarah tokoh dan relevansi dengan realitas Indonesia mutakhir. Jose menulis: Sejarah punya cerita / tentang Kartini dan Dewi Sartika / tentang Christina Marta Tiahahu / dan Cut Nyak Dien. Sejarah panjang pembentukan bangsa Indonesia dengan kontribusi pahlawan-pahlawan perempuan itu memunculkan pencerahan-pencerahan besar: terhadap kesadaran peran (emansipasi perempuan) dalam pelbagai sisi kehidupan dan kesadaran nasionalisme. Pahlawan-pahlawan perempuan itu inspiratif.

Elaborasi terhadap pahlawan perempuan dikisahkan dengan apik oleh M.H. Skelely Lulofs dalam novel-biografis Degeschiedenis van een Atjehse vorstin (1948). Buku ini terbit dalam terjemahan Indonesia dengan judul Cut Nyak Din: Kisah Ratu Aceh (2007). Lulofs dengan narasi mumpuni mengisahkan Cut Nyak Din sebagai subjek penting dalam perjalanan sejarah Indonesia melalui lakon kolonialisme. Cut NyaK Din adalah sosok pahlawan fenomenal dalam menentukan garis perjuangan-heroisme dan kesadaran atas risiko sakit dan kematian.
***

Soekarno mengatakan: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.” Ungkapan patut jadi acuan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan apresiasi terhadap kontribusi pahlawan dalam konstruksi Indonesia. Pengenalan dan pengetahuan terhadap pahlawan itu jadi terasa hidup dengan medium sastra. Prosa dan puisi memberi ruang interpretasi inklusif dan pluralistik untuk membaca dan menilai pahlawan dengan acuan fakta historis dan sentuhan fiksi-imajinasi. Begitu.

*) Peneliti Kabut Institut (Solo).

Tidak ada komentar:

Pengikut