Langsung ke konten utama

MADURA

Beni Setia
http://www.surabayapost.co.id/

INI adalah tenung. Ini adalah sihir yang membuat aku membatalkan naik ferry Ujung-Kamal paling pagi, dan memilih singgah di HI, Hotel Islamiah -- yang berupa musala di dermaga penyeberangan. Menyapa penjaganya, yang sejak kanak aku kenal di Batang-batang, dan bahkan diajari huruf hijayiah, bacaan surah-surah pendek dan cara benar bersembahyang di mesjid kecil di Batang-batang. ”Kiai sakit?” katanya -- santun meraih tangan dan mengecupnya. Aku menggeleng. Menguap. Idzin tidur dan dengan patuh ia berjaga seperti menjaga mayat yang belum ditakziahi keluarganya.

Ini adalah tenung. Ini adalah sihir yang mungkin menyerang setelah sepanjang malam berdiskusi dengan Poe, tidur sesaat, ambil tahajud, zikir yang mendaging dan jadi kebiasaan yang tak tertawarkan, lantas shubuh. Dan sebelum memutuskan kekal di pembaringan Poe mengajak aku dan sopir menghabiskan sarapan yang dipesan -- dua porsi. Aku sejak awal minta tak dikembalikan ke hotel meski hak menempatinya sundul sampai di tengah hari. Aku minta sekalian didrop di dermaga penyeberangan dan amat maklum saat Poe berkali-kali minta maaf tidak bisa mengantar ke loket dan ferry karena harus berada di Tuban pada 07.15 -- tapi dengan tertib menggelincirkan uang ke saku kemeja. Dan angin pagi yang sejuk membuat kantuk muncul, dan itu -- kata Parna, di Sidang Palay, Bandung satu saat, dulu -- adalah teluh kejo.

Semacam tenung di masa kanak, yang muncul karena aku terlalu suntuk bermain, yang membuat perut lapar sehingga tiga piring nasi yang disantap itu membuatku lupa mandi dan shalat. Sejenis sihir di dunia gemerlap penuh mabuk dan seks yang muncul ketika Obyage suntuk di disko, lalu mampir makan rawon setan tiga porsi, dan tiba di rumah untuk mencari alpa sempurna di ranjang, pada alam tanpa Allah, firman, agama, ibadat dan penyelamatan -- dengan atau tanpa senggama bertanda ritus agama. Serupa hipnotis kemaruk makan karena terlalu lapar, sehingga gairah digerakkan oleh enzim cerna lambung yang meruapkan semuanya jadi kantuk, yang membuat tak ingat apa-apa selain menenangkan uap produksi enzim lambung -- letup sendawa.
*

DAN pada ferry Ujung-Kamal yang berikut, yang lebih luang karena berangkat jam 11.00: aku bertemu Al Goore. Turis backpack dengan celana pendek, sandal jepit dan kaus hitam kelas Pasar Turi dengan tulisan ”Al Qurbaniah” -- tanpa ia mengerti apa artinya. Ia yang tranced merekam anak-anak yang selulupan mengejar recehan, yang dilempar para penumpang dari dek, lantas mubul sambil menyemburkan ketawa -- memperlihatkan bundar receh yang berhasil diraup. ”Ada perlambatan, dari energi reaksi balik pada tekanan dari bidang datar di permukaan air a la Archimedes dan juga effek fluida berupa hambatan friksi kepada gaya dari recehan yang masuk di air laut,” katanya bewrsungguh-sungguh meski hanya diucapkan ke handycam.


Aku menyapa. Sekaligus iseng mempertanyakan apa statusnya -- jurnaliskah?
”Al Goore,” katanya, sambil menurunkan handycam mini, menjulurkan tangan untuk bersalaman dan berkenalan dengan pengantar senyuman lepas khas Texas, “Just Al Goore -- double o. OK?” Aku tertawa a la arek Kamal, dan setengah sinis bertanya: apakah ia moslem -- berdasar pelafalan nama dan rekonstruksi hurufiah atas suaranya. Al Goore terbahak-bahak. Ambil Malboro sebatang, dan menyulut tanpa terpanggil untuk solider sosialistik menawariku. Aku segera mencabut Reco Putung, dan lebih individualistik lagi merokok. Mengiyakannya,yang bilang Indonesia sorga tembakau, kiblat ibadat asap di bawah imam nikotin yang mensunahkan rokok ekstra setiap saat.


”Aku mau bikin PPRS -- Partai Pencinta Rokok Sejati --, semacam kompatriot dari PNS -- Partai Nurul Sembako -- di Tasikmalaya,” kataku, ”Yang akan menguasai Dewan, yang akan serentak menyatakan setuju dan tak setuju atas segala materi dalam sidang pleno dengan serentak merokok klobot klembak dan bikin isyarat asap Navayo. Menggolkan presiden perokok, membuat lobi tembakau supaya di zona otonomi mana saja ada Perda yang pro-perokok -- yang mengatur ruang diskriminatif mirip penjara bagi yang bukan perokok di pojokan bus, bar, rumah makan, kantor dan apa saja.”

Dan sambil mengawasi Madura yang makin dekat itu, yang selalu mengingatkan aku pada ibu yang senantiasa menatap jalan dengan rindu, dengan mata nanar, dengan tangannya terbuka dan loncatan kaki belalang membuat seluruh tubuhnya siap untuk merangkul dan membebaskan dirinya dari gelisah melepasku mengembara --ia ingin menghapus derita dari pergi menunaikan konsultasi rohani di hotel sehari-semalam di Surabaya kemarin, yang dianggapnya pengembaraan, seperti di dua puluh tahun lalu ia membungkam tangis dengan sumpalan puting susu dari payu dara yang berdenyut penuh kemurahan Allah. Sambil selalu terharu menatap Madura aku mendesah.

”Let’s talk about another Al Gore, please” kataku. Ia berguman -- lirih. ”He’s great …” katanya. Dalam bungkam dan perrmukaan ferry yang tak pernah diam dan seimbang aku malu mendengar tuturan panjang yang cuma bisu. Teks-teks dari berita menggenang lebih luas dari Selat Madura yang tak tenang dan berarus kuat ini. Bisu yang membuat Al Gore menjulang. Membuat aku malu membayangkan betapa gentle ketika ia mencabut gugatannya di pengadilan, padahal selisih ketertinggalannya dari George W Bush itu -- mungkin cuma 16, atau 160, atau 1600 atau 16000 atau 160000 suara di satu distrik wilayah pemilihan itu -- bisa dikoreksi dengan cepat, dan totalitas angka-angka konfigurasi perimbangan suara pun berubah.

Mungkin karena ia hanya ingin menjadi orang yang mensejahterakan rakyat, dan percaya hal serupa pasti sekuat tenaga akan dilakukan oleh George W Bush -- yang di kemudian hari terbukti lebih suka memerintahkan membombardir Afganistan dan Irak, sampai di suatu hari dilempar sepatu oleh wartawan di Bagdad. Bukannya orang yang melulu dan menghalalkan segala cara demi sukses jadi presiden -- mutlak hanya ingin jadi presiden Amerika Serikat, sang adi jaya di awal melenium II. Aku malu jadi … -- seperti idiom ironik seorang penyair kesohor. Dan menangis bisu karena kami punya calon gubernur yang ngotot ingin jadi gubernur apa pun caranya. Malu sekali

”Are you sick?” kata Al Goore -- dengan dobel o. Aku melirik. Menggeleng. Tersenyum rawaniah seperti semua adegan perpisahan dua orang saling mencinta di dalam sinetron Indonesia, yang selalu ditampilkan dalam frame muka berlinangan air mata dan konfigurasi mimik berkerut seperti handuk bau tukang becak dilempar ke bangku warung kopi -- yang punya catatan bon utang setebal 32 halaman dari sekitar 7 tukang becak, 31 kuli panggul dan 22 kelasi kapal antar pulau di pelabuhan rakyat yang semakin dangkal. ”No! Sorry -- just dust. A political pollution,” kataku.

Si turis bercelana pendek itu mengernyit, tapi tetap bungkam menghabiskan sisa tembakau sampai pangkal filter rokok putihnya -- medit khas segala backpack turist di mana pun di dunia. Kikir. Kedekut. Pelit. Yahudi. Tidak seperti calon gubernur, calon anggota dewan di berbagai tingkat itu dan calon presiden yang mulai gencar pasang senyum, ramah sapa dan banyak membagi hadiah dan janji itu. Tapi apakah si calon gubernur yang yakin akan bisa mensejahterakan rakyat itu, si calon anggota dewan di berbagai tingkat yang merasa akan sangat jadi wakil rakyat dan akan selalu membela kepentingannya agar rakyat hidup sejahtera itu, dan bahkan calon presiden yang akan memperhatikan derita dan nestapa rakyat lantas merubah keadaan agar rakyat senyum dan tidur nyenyak itu -- nanti --: orang tahu, mengerti dan memahami Madura lebih dari refleksi rasa setiap orang Madura itu sendiri.
*

MUNGKIN mereka hanya turis backpack bersandal jepit, yang datang untuk memotret, mencacat peninggalan sejarah dan keramaian corak budaya. Lantas bersiul pulang -- melupakan segalanya, seperti biasanya. Seperti setiap nanti dari yang dahulu, yang melulu bilang: semua kejadian itu selalu terkait Allah, dengan berulang lantang mengucapkan kata insya Allah -- menyerahkan tanggung jawab dari semua dan segala kejadian ke dominasi kemauan Allah, ke garis takdir yang telah ditentukan Allah. Dan mungkin sedikit Iblis yang menganjurkan untuk mungpung. Ya! Ya! Dan di dermaga Kamal: Al Goore kekal merekam diriku di antara orang yang bergegas turun dan para penyerbu yang gigih menawarkan angkutan lanjutan -- dan sekedar pertolongan untuk membawakan beban.

Aku minta agar ia melupakanku. Tapi Al Goore tidak peduli. Tapi ia terus saja merekam dan melulu merekam, mencatat kami yang sepertinya tidak punya keinginan -- tidak bisa merumuskan ingin dan bagaimana sehingga dikerubuti makelar dan calo. Apa kami ini cuma cacah yang dieksploitasi para makelar dan calo yang bergelimang keuntungan dalam kekuasaan yang mumpung? ”Sorry, sir. I am sick!” -- kataku. Kelu.

Tahu bangsa, warga negara dan negara ini sedang sakit. Sakit -- sesakit-sakitnya sakit.

Kena kutuk. Kena tenung. Kena sihir serta hipnotis the founding father dan pejuang belia yang memberikan semua keceriaan masa muda demi kemerdekaan, yang marah ketika menemukan generasi penerus hanya kanak-kanak yang berebutan kesempatan untuk berkuasa dan kaya mendadak.

Terkena teluh kejo rakyat, yang tak bisa makan dan selama berhari-hari demam lapar -- sementara mereka makan apa saja dan memuntahkan semuanya bila ada menĂº lain lagi, lalu makan lagi dan muntah lagi dan makan lagi dan makan lagi dan melulu makan sampai lambung mereka menggembang menelam semua desa Indonesia. Jadi yang berperut buncit seperti Semar -- yang pernah lancung mengumbar syahwat.***

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com