Langsung ke konten utama

Sekeranjang Sastra tanpa Sayembara

Nurdin Kalim, Rofiqi Hasan
http://majalah.tempointeraktif.com/

Meski lahir tanpa lewat sayembara, karya para pengarang perempuan menjadi fenomena yang memperkaya dunia ini.

Suatu hari pada tahun 1983, Ida Ayu Oka Rusmini hijrah ke Bali dengan hati gundah. Di tanah leluhurnya itu, Oka berhadapan dengan sekeping realitas: perempuan Bali masih berada di persimpangan. Mereka berhadapan dengan hal-hal baru, sementara pakem-pakem adat istiadat tertanam kuat dalam struktur masyarakat Pulau Dewata itu. Tak ada pilihan, bila ingin maju, mereka harus siap menghadapi benturan sosial.

Bertolak dari kenyataan kultural itulah Oka mulai menggoreskan karyanya. "Saya ingin terus menjadi saksi Bali dan perempuannya yang sedang berubah, kemudian menuangkannya menjadi tulisan sastra yang menarik," ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967, ini.

Oka mengawali karier kepengarangannya sebagai penulis puisi. Dari situ ia terbang ke cerpen dan akhirnya berujung di novel. Tiga novelnya—Sagra, Tarian Bumi, dan Kenanga—telah diterbitkan menjadi buku. Bahkan novel keduanya, Tarian Bumi, menjadi fenomenal sekaligus kontroversial. Novel itu dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih sangat feodal. Dan dalam konteks adat istiadat Bali, novel kedua Oka itu dipandang sebagai sebuah pemberontakan terhadap adat.

Di luar novel-novel sayembara, juga ada Cala Ibi karya Nukila Amal pada 2003. Nun di Maluku, cala ibi adalah nama burung sejenis kolibri. Tapi, dalam goresan Nukila—gadis kelahiran Ternate, Maluku Utara, pada Desember 1971—Cala Ibi disematkan sebagai nama seekor naga. Menurut Nukila, tema sentral novel itu sebetulnya perjuangan seorang manusia—yang kebetulan berjenis kelamin perempuan—di sebuah kota besar. Sang gadis harus menyesuaikan hidupnya dengan nilai-nilai yang dianggap baik—tentu menurut kacamata sosial.

Sebuah tema sederhana, memang. Namun, di tangan Nukila, menjadi istimewa ketika tema itu dipolakan dalam bentuk angka delapan yang bersisipan, bolak-balik, tak runtut, fragmentaris. Pola itu juga dijalaninya dalam proses menulis. Meloncat-loncat. Karena itu, ia sempat mengirimkan salah satu bagiannya sebagai cerita pendek berjudul Laluba ke Jurnal Kalam pada November 2001—sebuah naskah yang berusia cukup lama, yang ditulisnya sejak 1997.

Tarian Bumi dan Cala Ibi tergolong novel yang memikat. Sejumlah kritikus sastra memuji keduanya. Tarian Bumi dianggap sebagai novel yang membuka ruang wacana pembebasan perempuan—terutama di Bali. Novel itu juga dijadikan topik studi Harry Aveling dari Latrobe University, Australia, dan Sinta Situmorang dari program pascasarjana kajian wanita di Universitas Indonesia.

Sedangkan novel Cala Ibi oleh sastrawan Budi Darma disebut sebagai novel eksperimental. "Bahasa metafora yang digunakan Nukila serba menabrak logika," ujarnya. "Karena mimpi dipuja, realitas ditabrak, realisme digempur, sebagai konsekuensinya filsafat diusung masuk. Maka suara eksistensialisme pun masuk," Budi menambahkan.

Kehadiran Oka dan Nukila juga ikut memperkuat deretan novelis perempuan kita. Sebab, dalam sejarah panjang sastra Indonesia, pengarang perempuan memang tak sebanyak pengarang pria. Novelis perempuan tertinggal sekitar 13 tahun dari novelis pria. Seperti diketahui, baru pada 1933 terbit novel Kalau tak Untung karya Selasih, karya yang dianggap sebagai tonggak kemunculan pengarang perempuan dalam jagat sastra Indonesia. Dan kini, hingga tahun 1995, hanya dijumpai 45 nama novelis perempuan Indonesia.

Waktu terus bergulir. Jagat sastra Indonesia kembali tersentak tatkala Ayu Utami muncul dengan novel Saman. Novel perdana Ayu itu dinobatkan sebagai pemenang pertama sayembara penulisan novel yang digelar Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. Dan terlepas dari kontroversi yang mengikutinya kemudian, penobatan itu seakan menjadi perayaan atas "kebangkitan" pengarang perempuan kita. Sebab, beberapa tahun berselang, selain Oka dan Nukila yang disebut di atas, muncul novelis perempuan lainnya. Mereka masih belia, rata-rata berusia 20-an tahun. Mereka pun tak lahir melalui proses sayembara penulisan sastra—seperti halnya Ayu.

Sebut saja Dewi Lestari, Dinar Rahayu, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, Herlinatiens, dan Rachmania Arunita. Belakangan muncul Stefani Hid. Gadis kelahiran Surabaya, Jawa Timur, tahun 1985 itu Rabu pekan lalu meluncurkan novel perdananya, Bukan Saya, tapi Mereka yang Gila. Novel setebal 184 halaman itu berkisah tentang seorang gadis 17 tahun yang berjiwa labil, berasal dari keluarga broken home. Nian—begitu nama gadis belia itu—senantiasa gamang dalam melangkah, sehingga ia menganggap semua tindakannya adalah kebodohan. Dan satu di antara kebodohannya itu: ia menikmati hubungan gelap dengan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang telah beristri. Nah, ketegangan-ketegangan dalam hubungan "cinta terlarang" itulah yang mewarnai novel karya mahasiswi desain grafis Universitas Trisakti, Jakarta, tersebut.

Di luar para novelis, muncul pula sejumlah penulis cerpen perempuan. Ada Djenar Maesa Ayu, misalnya, yang meluncurkan buku kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!. Lalu Linda Christanty dengan kumpulan cerpennya Kuda Terbang Mario Pinto. Yang disebut terakhir ini baru diluncurkan pada Maret lalu. Kepada TEMPO, Linda mengaku bahwa cerpen-cerpennya itu sesungguhnya bertemakan percintaan. "Hanya, percintaan yang tragis," ujar Linda.

Secara keseluruhan, buku Kuda Terbang Mario Pinto cukup menarik. Kita bisa menemukan realisme yang menantang: kaya dengan detail cerita, keunikan watak para tokohnya, dialog-dialog nan bernas, dan deretan kalimat yang lincah. Linda mengungkapkan, untuk menemukan kata yang pas dalam sebatang kalimat, misalnya, ia merenung sampai berhari-hari. "Hanya gara-gara mencari satu kata yang pas, saya sampai enggak bisa tidur," kata pengagum Ronald Dahl dan Isabel Allende ini.

Begitulah. Sepanjang lima tahun terakhir, jagat sastra Indonesia memang dilimpahruahi puluhan karya sastra pengarang perempuan, baik berupa novel, kumpulan cerpen, maupun buku antologi puisi. Bila melihat kondisi ini, ungkapan sastrawan Sapardi Djoko Damono bahwa "masa depan sastra Indonesia berada di tangan perempuan" rasanya tak berlebihan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com