Sajak-Sajak Komang Ira Puspitaningsih

http://cetak.kompas.com/
Malam Upacara
: ir

mudah-mudahan bukan karena kau
akhirnya aku menyukai gerhana bulan
menepis segala mitos buruk
tentang Kala yang memburu Ratih
memangsanya, menelan cahayanya
dan bulan makin renta menahan luka
entah dengan cara apa
kita menerjemahkan luka
kadang kita ragu membuat sesaji
berisi bunga yang rindu mengecup tanah
wangi asap dupa sembunyi di rambutmu
juru kidung terbata menembang kenangan
lalu serupa para penari
aku senyap di penataran
pohon jadi sepi, langit penyap
aku lenyapkan ruh dari tubuh
cahaya mengintip di sela-sela
merah jingga seperti senja
semakin kuakrabi kesunyian
seperti bisu kayu cendana
yang dilumat api suci
aku terkenang embun segar masa kanak
sulur usia bingung mencari arah mata air
dan aku seperti patung yang linglung
mudah-mudahan bukan karena kau
akhirnya aku menyukai gerhana bulan
langit mungkin terlihat sungsang
tersedu di lingkung bayang-bayang
belenggu waktu semakin dekat dan pekat
membias panah-panah ungu ke jantung bulan
tapi percayalah,
aku mulai melihat
gerhana bulan adalah sebuah kerinduan

Jogja, 2007



Di Stasiun
: saraswita laksmi

Hujan turun, stasiun berkabut.
Sudah 15 menit lewat dari jadwal kedatanganmu
Ada segenggam kenangan yang kutunggu
dari koper dan tas ranselmu
Adakah hujan ini
memanggul kembali kenangan
lalu membawanya pergi
sebelum sempat singgah di stasiun ini?
Di sini tak ada penjual kembang
Sebagaimana yang kau tunjukkan
Hanya kursi setengah berkarat
Yang berderit-derit tiap aku meluruskan punggungku
Hujan turun,
kabut menuai jarak pandangku
Sesaat kereta datang
Mata pun kuputar mencari penjual kembang
Sambil mengingat-ingat sayup suara
"Kita bertemu di dekat penjual kembang."
Hujan menggerimis, kabut menebal
hingga terasa membasah di wajah
Sungguh,
tak ada penjual kembang, sayang
Lalu bagaimana aku akan mengenal
beku wajahmu?

Jogja, 2007



Gerimis Juni yang Lalu

Za, gerimis Juni datang tiba-tiba serupa bayangmu yang murung. Seperti dongeng para putri raja yang menunggu pinangan, sedangkan musim tak pernah berbincang tentang keinginannya. Pangeran mana yang pasti akan datang? Pangeran mana yang akan pergi dan tumbang?

Dan selalu aku bimbang menunggu kabar angin yang berhembus dan lewat. Adakah angin akan membawa suaramu sampai di pintu rumahku? Cerita tentang kesedihan, tentang keyakinan, tentang kealpaan yang sering membawa kita menuju kesenyapan masing-masing. Kita tak pernah tahu kehendak waktu. Dan ketika keletihan menyergap kita dalam perbincangan muram, kita lalu menanggalkan hati dan meletakkannya di atas tungku, membakarnya dalam sisa kepingan bara api dan tak pernah jelas padam.

Za, gerimis Juni lewat dan sia-sia. Serpih air serupa kristal kaca yang tak pernah mampu membasahi halaman. Menghilang bersama selimut keputusasaan yang membungkus kita dengan keraguan.

Sekali waktu aku datang dengan senyum yang kecil dan sedikit gundah sisa perbincangan kita yang tak pernah selesai. Sekali waktu aku berlari dan berlalu seperti kelinci, sejenak menghilang dari pandanganmu bersama baris-baris puisi

yang masih menggantung. Sesaat kita sama-sama berbohong tentang masa lalu masing-masing. Sejenak kemudian kita mencair dan menjadi begitu jujur hingga melupakan kenyataan yang kian pekat. Selebihnya kita hanya melewati hari-hari dengan tatap mata yang tak pernah berhasil tersampaikan maknanya.

Demikianlah jalan hidup yang membuat kita saling menilai dengan hal-hal yang sangat kecil. Seperti jawabanmu atas pertanyaanku kali ini, adalah cermin dari seluruhnya. "Masihkah Melodia kau simpan dalam dompetmu, seperti yang kau janjikan padaku?"

Za, aku tak memerlukan satu pun penjelasan atas jawabanmu. Karena gerimis Juni berlalu dengan kenangan pertemuan yang memilukan. Gerimis Juni berlalu dan selalu menjelma airmata. Sepertiku yang selalu nyeri bersama tumpukan kertas penuh coretan. Sepertimu yang selalu perih memeram kisah sepanjang jalan.

Denpasar, 2007



Jalan Pulang

1
Sepanjang malam
sepanjang tebing Tanjungkarang
Kutemukan jalan berpulang
Jalan menuju surga
Serupa kisah negeri dongeng
di gelisah bukitnya
Tak ada cerita bintang-bintang cemas
menunggui malam
lewat cahaya yang tenggelam
Lalu sepanjang malam
Kukenang masa kecil
Dongeng muncul
dari bibir ibu kepadaku
menjelang tidur
dalam balut selimut


2
Sepanjang jalan
Sepanjang Tanjungkarang
Kuhitung liku dan simpang jalan
Tak ada nujuman baik
Dari nasib yang dikeramatkan
Tak ada waktu sekekal masa lalu
Karena hari esok tak mampu dijangkau
yang ada di kepala hanya kenangan
berenang-renang di ingatan
Tak ada deja vu
Hanya lelucon bagi bocah ingusan
Atau sekedar mimpi yang setengah tanggal
Lalu kita dipaksa menyusun ulang
potongan demi potongan


3
Sepanjang jalan pulang
Kuhapus masa lalu
Kucela napasku yang memburu
"Di sini tak ada jalan menuju surga
Tak ada negeri kurcaci
Tiada putri yang tidur ratusan tahun"


4
Tanjungkarang
adalah tempatku pulang
Aku terisak
Rindu ibu,
rumahku yang jauh,
dan masa kecilku yang kelabu

Jogja, 2006-2007

Komentar