Langsung ke konten utama

Darmanto Jatman: Manusia Sudah Disapih Gusti Allah...

Ganug Nugroho Adi, Darmanto Jatman
http://www.suaramerdeka.com/

PADA 1990-an penyair Darmanto Jatman menulis sajak yang menggagas Indonesia sebagai sebuah perusahaan, Patriotisme Kromo. Hampir 10 tahun kemudian, sajak itu memperoleh SEA Write Award (Penghargaan Sastra Asia Tenggara).

Seperti sajak-sajaknya yang lain, "demokratisasi bahasa" begitu kental dalam Patriotisme Kromo. Ya, demokratisasi. Barangkali itu sebagai kata ganti untuk menyebut keberanian Darmanto dalam memasukkan keberagaman kata, bahasa, juga nama-nama dari Jawa, Indonesia, Inggris, Cina, dan juga Belanda dalam puisinya.

Alhasil, lewat sajak-sajaknya, "penyair bangsat" ini seakan menciptakan dunia baru dengan para "warga negara" yang datang dari berbagai budaya, status sosial, dan intelektual. Dari juragan sampai batur, dari direktur sampai tukang potong rumput. Dan dalam dunia ciptaannya, "penyair kribo" itu membuat para penghuni bisa menciptakan harmonisasi, saling melengkapi, utuh, dan akur.

"Bagaimanapun, demokratisasi itu tidak bisa dihalangi," katanya suatu malam di rumahnya Jl Menoreh Raya.

Kini, tepatnya 16 Agustus lalu, Darmanto 60 tahun. Dan lewat sebuah sajaknya, ia jujur, "bahwa sekarang aku merasa tua". Ia memandang pohon-pohon berdaun, dan bertanya-tanya, "Kramaleya jadi admiral, kenapa bukan Blakasuta?"

Know they limitation, suffered thou not! katanya.

Lalu, penulis sajak Golf untuk Rakyat itu pun bercerita banyak tentang sastra, budaya, dan penghargaan itu. Juga tentang rencananya yang akan menggelar orasi budaya Ora Ngeli, Keli dan peluncuran buku kumpulan puisinya, 23 Agustus mendatang. Berikut ini perbincangannya dengan Suara Merdeka dalam beberapa kali pertemuan.

Soal Patriotis Kromo yang memperoleh SEA Write Award, itu bagaimana ceritanya?

Itu kan sebenarnya puisi Bilung. Karena yang kita hadapi Kurawa, maka saya memakai Bilung sebagai corong. Tokoh Bilung itu senangnya ya nglulu, nyolu. Berbeda dari Semar yang nasihat-nasihatnya bijak dan mengarahkan. Tapi Semar hanya untuk Pandawa.

Artinya, Anda tidak serius ketika menggagas Indonesia sebaiknya menjadi sebuah perusahaan lewat sajak itu?

Sangat serius. Negeri ini kan sebenarnya mengalami proses kulturan yang sangat kuat. Mulai masyarakat plural menuju agraris dan kemudian masyarakat industri. Nah, sebagai sebuah negara, Indonesia ini kan sebenarnya memiliki akses yang banyak dijual. Ada Rendra, Habibie...

Bagaimana dengan etika-etika politik, apakah tidak bertentangan dengan konsep negara sebagai perusahaan?

Perubahan kultural, dari masyarakat plural sampai akhirnya masyarakat industri, sudah begitu cepat. Bilung yang sekarang sudah berbeda jauh dari Bilung yang dulu. Gampangnya, globalisasi kapitalisme sudah tak bisa lagi dihentikan.

Lihatlah, kini bisnis sudah memasuki semua lini kehidupan. Bahkan di ruang yang paling sempit pun, seperti tingkat kampung, dusun, RT, dan RW. Contoh konkret, sekarang remaja Gunungpati -daerah yang beberapa tahun lalu masih terpencil dan sulit dijangkau- sudah mengenal celana jins, anak-anak ber-play station, nyetel VCD Batman, baca komik Dragon Ball. Sekarang bahkan sudah ada universitas di sana.

Dari aspek seni-budaya, Ki Narto Sabdho menciptakan gending Modernisasi Desa yang ngepop, atau lakon carangan Srikandi Ngedan. Itu entertainment, salah satu ciri perubahan masyarakat agraris menuju masyarakat urban.

Zastrouw Ngatawi (bekas asisten Gus Dur) malah pernah cerita pada saya, kini pesantren-pesantren juga mulai berbisnis. Para santrinya menjadikan pondok pesantren sebagai home industry, membuat kitab suci, tasbih, dan peci untuk dijual. Para ustadz ramai-ramai memasang tarif untuk khotbah.

Pengamat politik, anggota Dewan, pejabat pemerintah juga setali tiga uang. Bupati anu, misalnya, harus dibayar sekian juta untuk meresmikan sebuah pabrik atau peletakan batu pertama sebuah proyek.

Di perkotaan, globalisasi makin gila-gilaan. Bukan lagi sebatas perkara kafe dan bioskop, tapi sudah sampai pada teve, koran, dan internet. Pintu bagi arus informasi, baik sosial, budaya, makin lengkap, dan itu tak bia dihentikan.

Jadi?

Ya, kenapa semua pemasukan itu tidak dikelola saja. Keuntungannya dibagi untuk rakyat, bukan masuk kantong pribadi.

Baiklah. Sekarang demokratisasi yang tidak bisa dihalangi itu bagaimana?

Demokratisasi kan sebenarnya memiliki sub-sub. Pertama sekularisasi. Ini sungguh tak bisa dielakkan. Manusia itu sudah dewasa, sudah disapih Gusti Allah.

Sudah bukan zamannya orang muslim dan Nasrani udrek-udrekan. Ucapan assalamu'alikum, amitabba, atau salam sejahtera sebenarnya bisa diucapkan oleh dan untuk siapa saja. Itu kan hanya persoalan tubuh, bukan hati. Tapi toh masih ada orang-orang yang mencoba membatasi.

Sub kedua?

Reformasi. Ini jangan diartikan sebatas suksesi kepemimpinan seperti yang terjadi pada Mei 1998. Itu hanya contoh kecil, cuma salah satu bentuk fisik. Reformasi tidak otomatis terjadi dengan pergantian kekuasaan. Sebaliknya, esensi yang penting. Antara Orde Lama, Orde Baru, atau Orde Reformasi yang seperti sekarang tidak akan ada bedanya jika esensi dari masing-masing orde itu sama.

Bisa berikan contoh?

Dalam lingkungan yang sempit, keluarga, misalnya. Karena saya dari keluarga ningrat Jawa, paham patriarki sangat berlaku di rumah ini. Dulu anak, istri semuanya harus patuh dan segaris dengan saya. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Suatu kali, seorang ayah harus ngalah dan manut pada istri atau anak.

Contoh kecil, Abi (Abigael Wohing Ati, putri Darmanto-Red) akan memakai mobil untuk les. Padahal saya, ayahnya, juga akan memakai mobil itu. Namun karena dari sisi kepentingan si Abi lebih memerlukan, ya akhirnya saya ngalah. Paham patriarki luluh.

Dalam tataran yang lebih luas, bernegara, misalnya?

Selama ini, dalam tiga orde, negara itu kan selalu ingin menang sendiri. Tidak mau kalah dengan wong cilik. Konsep negara yang ngemong dan melayani tidak muncul sama sekali. Jadi, kalau sekarang disebut sebagai era reformasi, bagian mana sebenarnya yang sudah direformasi?

Kembali ke soal demokratisasi, konon proses demokrasi itu juga akan menimbulkan banyak problem...

Memang, demokratisasi bukan berarti tanpa masalah. Terutama mereka yang memegang paham-paham lama, orang-orang konservatif.

Ada jalan keluar?

Ada baiknya setiap kali menghadpi perubahan kita bersikap rila lamun kelangan nora gegetun (rela kehilangan tapi tidak menyesal). Kita mesti bersikap seperti itu terhadap budaya dan wacana agung. Tradisi itu pasti akan digerus perubahan zaman. So, kalau tradisi itu memang harus ilang ya tidak apa-apa. Relakan saja.

Tapi bukankah kita juga perlu nguri-uri tradisi?

Nguri-uri itu kan tidak selamanya menelan mentah-mentah. Kita ambil ajarannya, bukan fisiknya. Seperti sewiji, greget, sengguh ora mingkuh... itu falsafah Jawa yang hebat. Kalau itu dipadukan dengan ajaran raja-raja Jawa, serat wulangreh, wedhatama atau centhini akan lebih hebat. Itu sebenarnya yang perlu diuri-uri, bukan malah ramai-ramai mendirikan joglo, gapura... itu kan hanya simbol, fisik.

Apakah itu yang Anda maksud dengan "ora ngeli, keli"?

Kalimat itu kan sebenarnya kan memiliki banyak tafsir, tergantung bagaimana cengkok orang ketika membacanya. Tapi, maksudnya kira-kira di zaman yang arusnya deras ini, kita mengalir saja. Seperti tokoh Bilung, tidak menentang, tapi menggelicir.

Seperti orang bermain selancar?

Ha..ha.. boleh juga.

Sekarang tentang puisi Anda yang memperoleh SEA Write Award itu. Respons Anda bagaimana?

Bagi saya, yang penting sebenarnya bukan SEA Write Award-nya, tapi justru peran Pusat Bahasa, lembaga yang merekomendasikan puisi saya ke penghargaan itu. Untuk saya, itu yang penting.

Kenapa?

Saya pernah diundang ke berbagai diskusi dan kongres bahasa, termasuk Pusat Bahasa, untuk berbicara tentang penggunaan bahasa yang campur-baur. Di banyak tempat, banyak yang menolak diksi yang saya gunakan itu. Alasannya, pilihan kata yang saya gunakan bisa merusak tata bahasa. Ee.. tiba-tiba kok saya malah dapat penghargaan.

Hebatnya, Sapardi Djoko Damono (penyair dan guru besar Fakultas Sastra UI-Red) yang menjadi ketua dewan juri di Pusat Bahasa malah bilang penggunaan bahasa yang macam-macam dalam puisi saya itu bisa dipertanggungjawabkan, karena memang tidak ada cara atau ekspresi lain.

Untuk SEA Write Award, itu bukan surprise. Penghargaan itu kan mirip arisan. Yang lain sudah pada dapat, giliran saya pasti akan datang. Itu saja.

Anda pernah bilang, masyarakat kini malas "mengurus puisi". Tapi sekarang puisi Anda dapat penghargaan...

Ya, saya pernah mengatakan itu. Tapi itu zaman PKI dulu. Sekarang pemerintah dan masyarakat mulai berubah, meski masih ada satu-dua pelarangan penyair baca puisi.

Satu syair puisi Anda berbunyi, "bahwa sekarang saya merasa tua". Apakah Anda tetap memiliki kegelisahan di usia yang sekarang?

Ya. Tapi kegelisahan itu berbeda dari masa-masa dulu. Sekarang saya lebih banyak memikirkan orang-orang sekitar: anak, istri, cucu... Tentang masa depan mereka nanti, atau mereka nanti akan jadi seperti apa... pokoknya hal-hal semacam itu. Bukan lagi kegelisahan untuk diri sendiri.

Saya ingin mandhita saja di Pakem (Yogyakarta) untuk merenung. Itu keinginan saya setelah pensiun nanti.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com