Langsung ke konten utama

Charles Baudelaire (1821-1867)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=380

MABUKLAH!
Charles Baudelaire

Meski selalu mabuk. Terang sudah: itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!
Dan jika sembarang waktu, di tangga istana, di rumput hijau kamalir, dalam kesepian guram kamarmu, kau tersadar dan merasakan mabukmu sudah berkurang atau menghilang, tanyakanlah pada angin, pada gelombang, pada bintang, pada burung, pada jam, pada segala yang lari, pada segala yang merintih, pada segala yang berputar, pada segala yang bernyanyi, pada segala yang bicara, tanyakan jam berapa hari, dan angin, gelombang, bintang, burung, jam bakal menjawab: “Inilah saatnya untuk mabuk! Untuk tidak menjadi budak siksaan Sang Waktu, mabuklah; bermabuk-mabuklah tanpa henti-hentinya! Dengan anggur, dengan puisi atau kebajikan, sesuka hatimu-”
*

Puisi modern Prancis dapat dibilang berawal dari Charles Baudelaire atas kumpulan sajaknya “Les Fleurs du Mal” yang merupakan sumber inspirasi puisi masa kini, telah melahirkan dua aliran kepenyairan; para seniman dan para terus mata, yang satu mengalir ke Mallarme menuju Valery, satunya lagi menelusup pada Rimbaud menukik ke avontir, kaum surrealis (Marcel Raymond “De Baudelaire au Surrealisme”, Jose Corti 1963, dikutip Wing Kardjo).
Wing Kardjo sendiri mengatakan “Alam semacam alegori mistik, sejenis perangsang imajinasi. Walau begitu Baudelaire tetap menyatakan bahwa ilham ialah ganjaran usaha sehari-hari, bukan semata-mata turun begitu saja.”
Charles Pierre Baudelaire, lahir di Paris 19 April 1821, meninggal 31 Agus 1867, adalah Raja Para Penyair (ungkapan Rimbaud), pengkritik serta penerjemah berpengaruh abad sembilan belas. Ayahnya pegawai negeri juga seniman, meninggal ketika Baudelaire masih kecil 1827. Tahun berikutnya, ibunya Caroline, 34 tahun lebih muda dari ayahnya, menikahi Letnan Kolonel Jacques Aupick, kemudian menjabat duta besar Perancis untuk berbagai kerajaan. {dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, PUstaka Jaya, Cetakan II, 1975}.
**

Tahun 1841 orangtua Baudelaire mengirimnya ke India, agar berhenti dari kecenderungan hidup bohemian, tapi setahun kemudian balik ke Prancis menerima warisan. Pada 1844 telah kehilangan separuh uang warisan atas gaya berfoya-foya. Demi menunjang hidupnya menulis kritik seni, esai, serta resensi di berbagai jurnal, puisi-puisinya mulai bermunculan sejak 1840-an. Di tahun 1847, menerbitkan autobiografis, La Fanfarlo. 1854-1855, menerbitkan karya Edgar Allan Poe. 1857 Les Fleurs du Mal (Bunga-bunga Iblis) terbit, antologi puisi yang kental muatan seksualnya, Gustave Flaubert dan Victor Hugo menulis pujian atas capaiannya. Puisi prosais yang baru diterbitkan setelah kematiannya bertitel “Petits poemes en prose” 1869. {dari Ensiklopedia Sastra Dunia, disusun Anton Kurnia, i:boekoe, 2006}.
***

Aku saksikan Baudelaire sesosok penyair yang getol mencari formula kimiawi kata-kata, demi kesegaran terutama pada puisi-puisinya.

Pergulatan jiwa mengawang di antara hidup bohemian, menempa bathin penggerus waktu melewati peristiwa, sebugaran tampak terjaga.

Memukul dinding perpuisian lama, menghempas ke dalam kawah candradimuka pergulatan sukma, tak menghamba bayang-bayang sejarah.

Tapi melintasi warna abad lalu di tempatkan pada posisi telah bergumulan setubuhan kata, atas sikap karyanya.

Sebab detak-detik waktu tempat kejadian membebani kesadaran, diselesaikan dengan getol menulis sayap-sayap tetingkah terolah perasaan.

Nyata bau-bau harum merangsang dirinya mendaki tapak-tapak pencapaian, melahirkan pandangan matang, menaburkan deburan ombak kekhusyukan.

Sesampai takaran tertentu terhempas ke pantai keyakinan menjadi faham menggasing sekeliling, menjelajahi pengertian orang sesudahnya, atas nalar kritis menelisik mengembang dedahan pengetahuan.

Dari bacaan juga pertikaian masa menentukan terpojok di ruangan, memasuki atmosfir gelegak kepala memaksanya mengaduk relung terdalam, sampai temukan keleluasaan gerak penciptaan.

Keliaran hidup menyamping miring kadang jalan serong, naik-turun pada hiburan malam gemerlap teka-teki lampu, juga firasat-firasat menerobos padang sahara pemikiran.

Menembus bingkai aliran menerabas seperti bintang berekor menyepyurkan bintik-bintik cahaya di kegelapan malam, atas kecantikan bulan selalu edarkan kebaharuan.

Tekanan hayat rasa bersalah atau tengah lupa lenyap dari taksiran sebelumnya, pun kantuk memperjelas bacaan, mendorong masuk ke lorong tak terkira.

Entah keseimbangan atau lacur, tatkala insan pencari diayun gelombang melahirkan buih dari dinaya angin kenangan serta pegunungan jauh.

Ada tekanan kuat hawa menjelma musim di alam bathin bergantian, berkembang rontok berputar, sedang penanda jam demi kejadian peperangan tak henti bercampur pemahaman kental.

Bahwa nasib harus diteruskan pada rentangan masa-masa, jarak pertimbangan kehakikian memeluk kesendirian, seakan langitan hayati memberi restu meski kesilapan dilalui.

Entah ganjaran atau dosa manakala perbuatan terbuhul dalam buku pencapaian, jasad utusan atau menggila di jalan lusuh yang jauh jangkauan cahaya.

Perenungan mengelus dada wengi, menghaluskan panorama rahayu, sesempurna kembang berwarna di taman-taman kesejatian menempa.

Sementara kabut kegelisahan semega ketakutan menjatuhkan tangis hujan deras tiada tertahan, menggigil demam gejala keabadian sepanjang jaman.

Dan puisinya di atas pun, Baudelaire sandarkan segala dalam kesibukan, hantu-hantu hawatir dilenyapkan lewat sabetan parang telanjang penciptaan.

Tebasan kemungkinan ayunan diyakini menutup cela-cela ganjil tak beralasan, jantung berdebar memompa otaknya belajar dalam kegelisahan.

Laksana babak-babak kesintingan tak pernah berhenti menggayuh cakrawala dari harapan tertinggal.

Ada wujud tenaga kegaiban, manakala dirinya menyodok persoalan jenis huru-hara tetapi tak mencederai luka-luka lama.

Namun semakin banyak derita, manakala tiada ditemukan jawaban, umpama berjalan terlebih dulu, menunggu ketertinggalan lain.

Denyut penantian itu lebih menakutkan sedari kegagalan menyerupai wajah penghancur masa depan.

Tapi dirinya menjajaki yang menjegal kemungkinan gelap pemahaman menerus, bahwa persoalan kudu dihadapi.

Meski rerintangan bermata kelicikan, hingga tarian jemari memantul karang membentur tebing menjulang.

Menggemakan kehadiran yang jadi cencangan ruhaniah, demi budak takdirnya semata.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com