Langsung ke konten utama

Luka Itu Mengalir Sampai Jauh…

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang justru bukan keutuhan itulah yang menyihirkan pesona dan mungkin juga justru bukan keutuhan itu yang sangat disengaja penulis sebagai incaran strategi estetika novelnya. Maka memaksakan keutuhan pada setiap novel menjadi sebentuk praktik penilaian yang tak adil dan melanggar kebebasan ekspresi estetik.

Sebaris kalimat singkat atau selarik ungkapan pendek yang bagus pada halaman kesekian dari sebuah novel sehingga menancap hebat dalam ingatan atau mendapat pencerahan dari bagian kecil cerita atau benang merah dari desain besar sebuah novel (bukan detail-detail kecil) pun sudah cukup meskipun ini tak selalu dapat ditemui pada semua novel.

Novel sah dianggap sebagai sepetak taman fragmentaris, bukan harus sebidang ruang integralis, tanpa harus berisiko kehilangan kekuatan kenovelannya (novelty) selama masih ada mutu (ber)ceritanya. Adakah eksistensi, hakikat dan muatan terpenting lain dari novel (sebagai teks sastra) selain kekuatan itu?

Demikian juga ketika membaca novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (AKYpress dan Jendela, Yogyakarta, 2002). Ketika bertemu novel ini saya tertarik bukan karena tebal halamannya (517 halaman, spasi sangat rapat, font huruf di bawah ukuran normal) tapi oleh citraan gambar sampulnya yang klasik, mooi indie, serta bahasa redaksional judulnya yang terasa enteng.

Kemudian saya buru-buru menduga akan menghadapi cerita panjang populer, kalem, sederhana, gampang ditebak jalan ceritanya dan mungkin juga klise isi cerita dan bentuk penulisannya. Tapi saya merasa sejenak agak tertipu oleh dugaan tentang novel itu setelah beres membacanya. Kenapa muncul dugaan tertentu setiap kali bertemu gambar sampul dan judul sebuah buku, meski tak selalu tepat, saya tak bisa membebaskan diri untuk tak mengulanginya lagi setiap bertemu dengan gambar sampul dan judul sebuah buku?

Bagian halaman awal novel ini membawa pembaca pada cerita yang tampil fantastis, ingin surealis, dan mungkin juga hendak mistis dengan sejumlah pendahsyatan dan pelanturan di sana-sini: Seorang perempuan pelacur bernama Dewi Ayu bangkit dari kubur pada akhir pekan bulan Maret setelah 21 tahun kematiannya dan proses kebangkitan itu menjadi tontonan gratis dan menggemparkan penduduk kampung sekitar.

Tapi tontonan itu kemudian berubah menjadi horor besar yang membuat, ”Seorang perempuan melemparkan bayinya ke semak-semak dan seorang ayah menggendong batang pisang. Dua orang lelaki terperosok ke dalam parit, yang lainnya tak sadarkan diri di pinggir jalan dan yang lainnya lagi berlari lima belas kilometer tanpa henti.” Dan seterusnya.

Pembaca bisa salah duga bila terlalu cepat mengambil kesimpulan bila berpegang gaya cerita di halaman pertama. Pada cerita selanjutnya ditemukan cerita yang tak diduga berupa munculnya unsur kesejarahan yang mengusung begitu banyak data, fakta, dan peristiwa nasional kita yang berhasil diceritakan secara lancar dan manis, nyaris seperti untaian dongeng seputar kedatangan bala tentara keenam belas dari Jepang, minggatnya para Belanda dari wilayah yang sudah dihuni ratusan tahun lamanya, dan gerakan kaum komunis di sebuah kota antah-berantah bernama Halimunda.

Unsur kesejarahan itu memakan sebagian besar halaman novel ini yang tampak membuat komposisi novel ini kurang pas, njomplang, atau terlalu bertele-tele. Meskipun dari situ tampak dengan jelas penulis novel ini pasti sangat baik mengusai data, fakta dan peristiwa sejarah itu sehingga bisa ”menceritaulangkan” dengan sangat nyaman dan wajar. Tapi saya merasa tahu, segala latar sejarah itu bukan ”misi” utama novel ini.

Desain besar novel ini sangat tragis: ”luka silsilah dan tercabiknya eksistensi” para manusia yang berlangsung turun-temurun yang menimpa sebuah keluarga laksana kutukan panjang menyakitkan, semacam lingkaran setan, sehingga mereka menjadi manusia-manusia dengan kecenderungan sangat bejat, sarkastis, brutal dan menakutkan yang kemudian menjadi bencana besar bagi keturunan Ted Stammler dan manusia-manusia lain yang menjalin hubungan kekeluargaan dengan keturunannya.

Sinopsis novel
Seorang lelaki Belanda bernama Ted Stammler mempunyai dua anak, Henri Stammler dan Aneu Stammler. Henri lahir dari Marietje Stammler dan Aneu lahir dari Ma Iyang. Saudara seayah dari dua ibu berbeda ini saling jatuh cinta dan melakukan inses sampai melahirkan orok yang dinamai Dewi Ayu. Dua sejoli ”larangan” itu lalu kabur ke Belanda dan meninggalkan orok itu di depan pintu rumah ayah mereka.

Dewi Ayu jadi pelacur pada zaman Jepang lewat latar belakang kisah panjang yang berliku dan menyengsarakan. Dewi Ayu menjadi pelacur terkenal lokalisasi Mama Kalong dan dianggap maskot kota Halimunda. Hampir semua lelaki dewasa kota itu pernah meniduri dia atau berangan mesum bersama dia.

Dewi Ayu melahirkan 4 anak perempuan (Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik) dari para lelaki yang dikehendaki maupun yang tak dikehendaki.

Dewi Ayu pelacur ulung sampai-sampai dua menantunya pernah bersanggama dengan dia. Satu di antara dua menantu Dewi Ayu itu seorang tentara pada zaman Jepang yang biasa dipanggil Shodancho (kemudian jadi suami Alamanda). Shodancho itu pernah memperkosa Dewi Ayu sebelum dia menjadi menantunya dan juga memperkosa Alamanda sebelum menjadi suaminya.

Sedangkan Maman Gendeng, menantu yang lain, adalah mantan kekasih Dewi Ayu yang disuruh dia menikahi anak ketiganya, Maya Dewi. Maman Gendeng begundal terkenal kota Halimunda setelah membunuh preman kota itu, Edi Idiot. Sedangkan Adinda dikawini seorang komunis bernama Kamerad Kliwon yang mati bunuh diri setelah serong dengan Alamanda, tak lama sepulang dari penjara Pulau Buru. Kemudian Cantik, si bungsu yang buruk rupa itu, ketika mulai menstruasi sering disambangi sang pangerannya yaitu Krisan yang menyelinap masuk ke kamarnya lewat jendela dan bersetubuh hingga Cantik hamil dan melahirkan orok yang tak sempat hidup lama.

Dari Alamanda, Dewi Ayu mendapat satu cucu Nurul Aini (Ai), dari Adinda juga memeroleh satu cucu Krisan. Maya Dewi memberi satu cucu Rengganis si Cantik yang kemudian memberi seorang cicit dengan ayah si Krisan dan dari Cantik dianugerahi seorang cucu yang juga berayah si Krisan.

Kamerad Kliwon yang bunuh diri itu pernah dikirim ke Pulau Buru atas persetujuan Shodancho. Shodancho itu mati dicabik-cabik ajak di tengah hutan setelah anaknya mati dibunuh orang. Maman Gendeng moksa setelah melihat anak buahnya dibantai tentara dan anaknya juga mati terbunuh.

Keluarga itu dikutuk roh jahat Ma Gedik (kekasih Ma Iyang) yang sakit hati pada Ted Stammler yang merebut kekasihnya. Roh jahat itu memendam kesumat dan ingin mencelakai seluruh keturunan Ted Stammler.

Anak dan cucu Ted Stammler saling berzina sesama saudaranya sendiri, para menantu saling berbunuhan, dan cucu membunuh cucunya yang lain.

Semua itu terjadi dalam ”skenario” roh jahat itu. Dan setelah mendapatkan kemenangan, Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah 21 tahun kematiannya berhasil membunuh roh jahat itu.

Peristiwa inses
Novel ini begitu tangguh dan telaten membangun jalan cerita yang rumit dan kompleks dengan sejumlah latar sejarah yang luas dan fantasi yang absurd maupun surealis serta melibatkan banyak tokoh berkecenderungan kejiwaan dan tabiat bejat, skizofrenik dan tak terduga arah dan bentuknya.

Tapi harus diakui ada khilaf-khilaf berupa sejumlah detail kecil yang menyalahi tatanan hukum representasi, salah cetak dan defamiliarisasi realitas. Ini bukti yang berkali-kali terjadi bahwa ketelitian dan kecermatan penyunting sangat penting. Tapi khilaf itu tak akan menumbangkan eksistensi paling substansial novel ini. Pepatah setitik nilai rusak susu sebelanga tak bijak diterapkan untuk menilai novel. Sebab novel ini memiliki kompleksitas yang menawarkan aneka unsur intrinsik dan ekstrinsik yang hadir simultan dan sejajar harkatnya.

Novel ini potret kerusakan jiwa dan moral manusia akibat latar dan jalan sejarah kehidupan mereka yang ”sakit” dan itu berawal dari perbuatan kakek mereka yang merebut kekasih orang lain yang membuat orang yang direbut kekasihnya itu menebar kutukan jahat setelah kematiannya: ingin menghancurkan keturunan Ted Stammler.

Novel ini, di balik kecenderungan sarkastis dan kebejatannya serta fantasi, absurditas dan surealitasnya ternyata justru tak ingin bicara tentang kecenderungan an sich semua itu. Novel ini sangat moralis.

Peristiwa inses (perkawinan dengan keluarga dekat yang melanggar adat dan agama) dan pembunuhan oleh para keturunan Ted Stammler itu terbukti mendapatkan posisi yang tak terbela lewat sebuah ”logika” hubungan sebab-akibat cerita yang cerdas dan mistis: keberadaan roh jahat yang memendam dendam pada keturunan Ted Stammler dan mengarahkan mereka pada kehancuran.

Betapa naif kutukan panjang mengerikan itu: berawal dari sakit hati seorang lelaki yang kehilangan kekasih, sungguh sesuatu yang sangat profan. Dan kenaifan yang profan itu yang membuat saya memutuskan untuk mengenang novel ini: sesuatu yang ”biasa” yang tak pernah saya duga yang kemudian hadir menggores ingatan dan mengesankan saya karena kepiawaian novelis muda yang (semoga bakal kian) cemerlang ini mengolah gagasan cerita dan ekspresi bahasanya.

*) Penulis adalah penyair

Komentar

F21 SHOP mengatakan…
baru paham maksud jalan ceritanya setelah baca postingan ini ^_^
padahal udah lewat beberapa tahun lalu q baca novel ini. waktu masih SMA. mungkin saat itu, pikiranku masa SMA belum bisa menangkap maksud yang dibawa novel tersebut. sekarang jadi pengen baca lagi :D

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com