Langsung ke konten utama

Mencari Bangsa di Dalam Sastra

Manneke Budiman
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam berbagai diskusi dan perdebatan tentang sastra dan kebangsaan, kerap terbentuk opini atau kesan bahwa dalam khazanah sastra Indonesia modern, novel-novel Pramoedya Ananta Toer adalah contoh terbaik sekaligus klasik karya sastra yang berbicara tentang kebangsaan. Lebih jauh lagi, “derajat” kebangsaan karya-karya lain yang lahir pasca-Pram pun diukur dengan tetralogi Pram untuk dinilai kekentalan minat kebangsaannya.

Ini tentu saja bukan fenomena khas Indonesia. Dalam kancah sastra dunia, Salman Rushdie nyaris menjadi ikon bagi sastra tentang bangsa, dan ini dapat dimengerti mengingat kisah-kisah Rushdie kerap menjadi alegori bagi kisah-kisah tentang lahir dan matinya suatu bangsa. Dalam Midnight`s Children (1981), misalnya, kisah hidup tokoh utamanya yang sureal berlangsung paralel dengan kisah terpecahnya India menjadi dua bangsa.

Uncle Tom`s Cabin (1852), karya Harriet Beecher Stowe, meski bertutur tentang nasib para budak kulit hitam, tak urung bisa dibaca sebagai narasi perjalanan bangsa Amerika yang terbelah. Novel itu adalah juga kisah kaum kulit putih AS walau fokusnya adalah penderitaan para budak kulit hitam di perkebunan-perkebunan di selatan tanpa penulisnya harus berpretensi bahwa ia sedang mengguratkan kisah hidup suatu bangsa atau mempersoalkan kebangsaan di AS.

Novel D.H. Lawrence ternama yang menggegerkan, Lady Chatterley`s Lover (1928), memang merupakan kisah roman percintaan antara seorang perempuan aristokrat Inggris dan tukang kebunnya yang berasal dari kelas pekerja. Namun, siapa yang dapat menyangkali bahwa lewat novel itu pembaca secara gamblang bisa melihat benturan antarkelas sosial dalam masyarakat Inggris awal abad ke-20? Karya ini bagaikan kisah tentang dua “bangsa” yang hidup di satu negeri, masing-masing dengan sistem nilai dan prasangkanya sendiri tetapi mencoba untuk bersatu.

Karya sastra, agar sah disebut sebagai karya yang berbicara tentang bangsa, tak perlu harus secara eksplisit dan spesifik membedah isu-isu kebangsaan, seperti tetralogi Pram atau novel-novel historis Mangunwijaya, atau sajak-sajak perlawanan Chairil Anwar. Bangsa adalah sebentuk “kenyataan” yang mengendap di bawah kesadaran seorang individu yang menjadi warga bangsa tersebut, walaupun Benedict Anderson menyebutnya sebagai bayang-bayang, jika bukan angan-angan. Sadar atau tidak, langsung atau tak langsung, seorang penulis warga suatu bangsa sedang bercerita tentang bangsanya ketika ia menorehkan tinta kreatifnya.

Sebagian pengamat dan kritikus di negeri ini mencemooh karya-karya para penulis kontemporer karena mereka sepertinya tak punya minat dan keprihatinan pada urusan kebangsaan. Konon, di era ketika dunia jadi mengglobal dan batas-batas kebangsaan meluntur, berbicara tentang bangsa tak lagi menjadi tren seksi, dan banalitas hidup sehari-hari yang individualistik pun jadi topik baru yang laku, meski ada juga pendapat bahwa globalisasi justru menyebabkan isu negara bangsa — bahkan politik identitas — kembali mengemuka. Namun, benarkah sinyalemen tentang miskinnya penggalian kebangsaan dalam karya-karya penulis generasi masa kini itu?

Dewi Lestari lewat trilogi Supernova secara mendalam menyajikan alternatif-alternatif kebangsaan yang, mungkin saking intens dan progresifnya, malah membuat kita gagal menangkapnya. Perbincangan tentang novel-novel Dee itu lebih banyak berkisar pada kontroversi “pseudo-saintisme” atau kecenderungan homoseksual para tokoh lelakinya. Padahal, tokoh-tokoh dalam Supernova adalah sosok-sosok yang senantiasa mencoba merentang, meluaskan, dan mencairkan batas-batas kebangsaan lewat pengembaraan mereka di negeri-negeri asing, serta interaksi dengan bangsa-bangsa dan budaya asing. Di mana pun mereka berada, mereka merasa “di rumah”.

Sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany tak pernah berhenti menggugat kebangsaan yang ditelikung oleh kekuasaan, meski gaya bertuturnya tidak mudah untuk diiikuti dan imaji-imajinya tak jarang terasa personal dan asing. Dalam “Perempuan itu Bernama Ibu”, misalnya, hadir imaji bangsa yang kuat tapi subtil, “Kupanggil ia ibu seluruh waktu, perempuan dengan kebayanya di ladang… ia sendiri membajak sawah, menyebar benih dan menuai kesunyian.” Seorang perempuan sederhana yang tak punya tempat dalam kisah kolosal kebangsaan, “Ibu yang tak membaca buku-buku dan tak menonton iklan layanan. Berdiri di luar gedung pertemuan dan tak terlihat di antara kerumunan unjuk rasa.” Rosa berbicara tentang bangsa-tentang masyarakat kebanyakan yang disebut dengan “rakyat”, tanpa perlu memakai kata “bangsa” di dalam syairnya.

Sastra kerap dikatakan “menciptakan” bangsa lewat narasi dan cakapan. Disengaja atau tidak, narasi dan cakapan itulah yang menghubungkan pengarang dan pembaca, serta pembaca satu dan pembaca lain yang sedang membaca karya yang sama, bersama-sama, mereka merenungi gagasan yang sama dan menggeluti pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh karya. Pada momen seperti itulah kolektivitas terbangun, baik dalam bayang maupun angan.***

*) Penulis, pengajar di Universitas Indonesia.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com