Langsung ke konten utama

Perlawanan Seekor Burung Perempuan

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Persoalan kehidupan di dunia ini sering tak masuk akal (absurd) sehingga manusia yang lemah sering menyelenggarakan bunuh diri sebagai pilihan yang dianggap paling masuk akal dan manusia yang kuat tak jarang memilih menghadapi persoalan kehidupan yang absurd itu dengan cara yang absurd juga. Melalui absurditas dapat ditakar kadar keteguhan dan mutu seorang manusia menjalani kehidupannya.

Absurditas menjelma beban berat di punggung yang ringkih atau menjadi kutukan yang sukar dihindarkan. Maka jangan heran seorang pegawai kecil yang penghasilannya pas-pasan tak jarang nekat mengamalkan korupsi demi lebih menyejahterakan kehidupannya dengan risiko dijebloskan di bui dan kariernya hancur. Dan jangan kelewat kaget seorang Munir berani menempuh bahaya yang tak sederhana demi memperjuangkan hak-hak orang lain yang dibantai tangan-tangan kekuasaan dan seakan-akan dia menjadikan nyawanya sendiri sebagai ”jaminan” untuk perjuangan itu.

Absurditas adalah tema besar yang tak kunjung beres di dalam kenyataan, di dalam dunia pemikiran filosofis, maupun di dalam gagasan karya kesusastraan. Albert Camus merumuskan absurditas manusia melalui metafor mitos makhluk Sisifus yang sepanjang hidup dikutuk dewa untuk mendorong batu ke puncak bukit dan sesampai di puncak bukit dia menjatuhkan batu itu dan mendorong kembali ke puncak bukit dan begitu seterusnya dan Franz Kafka di dalam kisah ”Metamorfosis” menciptakan tokoh Gregor Samsa yang mendapati dirinya bangun di sebuah pagi, tubuhnya telah berubah menjadi seekor kecoa yang berbaring di atas ranjang. Absurditas adalah teror besar yang muncul dalam kenyataan di banyak tempat dan waktu. Absurditas adalah ancaman dan sekaligus sumber gagasan besar yang menakutkan dan mengilhami Camus dan Kafka.

Cerpen Helvy Tiana Rosa ”Jaring-Jaring Merah” (1998) adalah juga sebuah potret kehidupan manusia yang absurd yang dihadapi lewat cara yang absurd. Tokoh perempuan dalam kisah ini diperkosa oleh para tentara setelah keluarga dan kekasihnya dibunuh oleh mereka. Setelah petaka itu terjadi para tetangga tak melindungi dan mengayomi dia tapi malah mencemooh dia karena keluarganya disangka sering membantu para pemberontak. Tokoh perempuan itu terlunta-lunta dan dianggap gila oleh orang-orang di lingkungannya. Sebatang kara, menderita, tak menyerah, dan dia menjaga kehidupannya dalam kenyataan yang terus tak nyaman dan bahkan kejam. Dia terus melawan tapi perlawanannya seperti mimpi di siang bolong. Sia-sia belaka. Kemudian dia menjelma seekor burung demi meraih kemenangannya. Tokoh perempuan itu memendam kesumat yang tak mampu dilampiaskan dengan beroleh kemenangan yang benar-benar nyata.

Cerpen itu menggambarkan nasib seorang perempuan yang mendadak terjerembab ke dalam kesialan yang berlapis-lapis, dan ruwet. Kenyataan hidupnya menanam dendam di dalam hatinya yang melahirkan rontaan tak tertahankan untuk membalaskannya. Hidup adalah luka besar yang menganga dan tak tersembuhkan: Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabku: Hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara. Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu.

Perempuan itu dirundung pesimisme yang dipenuhi api kesumat yang seakan menjadi satu-satunya obor kesadaran di dalam hidupnya dan terus bertumbuh, menghantui jiwanya, mengeras dan menggumpal yang membuat dia hidup dalam cengkeraman halusinasi: Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Huh, semuanya busuk. Aku jadi ingin marah.

Siapa pun tak dapat mengembalikan kehidupannya seperti dulu sebelum petaka itu menimpa orang-orang yang dicintainya, mengembalikan kehangatan ayah, ibu, dan tunangannya seperti sebelum dibantai tentara, dan juga perasaan sucinya terhadap tubuhnya sendiri seperti ketika sebelum dijamah para tentara. Semua kejadian itu tak bisa dihapuskan dan menerakan kenangan hitam yang mengotori jiwanya dan tak bisa dipulihkan seperti semula.

Orang lain dan dirinya sendiri pun tak berdaya menghadapi bekas dari luka kehidupan separah itu: Dulu, setelah keluargaku dibantai dan dicemari beramai-ramai, aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul, menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari.

Tapi sama sekali di luar perkiraan timbangan kemanusiaan yang normal, penderitaan yang amat berat dan membutuhkan tempat mencurahkan duka hati yang terkoyak itu berusaha dibungkam dan diselesaikan oleh para tentara itu dengan harga yang murah dan menghinakan harga dirinya dan juga banyak orang lain di kampungnya. Para tentara itu seperti hendak membayar hutang rokok di warung tetangga: ”Kami orang baik-baik. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong.” (…) Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini.” ”Tidak! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini, penjagalan di rumah geudong, mayat-mayat yang berserakan di buket tangkurak, Jembatan Kuning, Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan Krueng Campli… dan di mana-mana!” Suara Cut Dini meninggi. ”Lalu perkampungan tiga ribu janda, anak-anak yatim yang terlantar…” Cut Dini membaca kertas itu. Kulihat wajahnya marah.

Kekuasaan yang teramat angkuh menganggap peristiwa besar itu sebagai remeh-temeh yang bisa dibereskan dengan cara yang angkuh pula: ”Kami hanya menindak para GPK. Ini daerah operasi militer. Kami menjaga keamanan masyarakat.” ”Oh ya?” nada Cut Dini sinis. ”Kenyataan masyarakat takut pada siapa? Dulu, banyak yang menjadi cuak, memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.” ”Sudahlah, ambil saja uang ini buat Anda. Lupakan saja gadis gila itu.”

Maka tak ada jalan penyelesaian yang sepadan dan berhati. Perlawanan dan amarah pun tak berguna. Kutukan tak bisa ditepis. Tapi melawan barangkali adalah bisa menjadi melawan itu sendiri, tanpa beroleh tujuan apa pun, namun tetap dilakukan: Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil berebutan keluar rumah. Pasti itu ayah orang yang memeperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu!

Tak ada empati. Tak ada simpati. Tak ada kompensasi. Hidup yang sesungguhnya memang tak bisa dihentikan begitu saja. Hidup yang dijalani tak selamanya memberi rasa bahagia kepada manusia yang menjalaninya, malah memberikan banyak keperihan tak terperi. Tapi tetap menjadi manusia yang menjalani hidup dengan tegar adalah juga sebentuk pemberiaan makna pada kehidupan di dunia ini: Aku berhenti melempar. Aku berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. Seperti Camus yang mengatakan bahwa kesadaran akan kekacauan diri menyebabkan manusia menjadi tragis, tapi tak murung: ”Haruslah dibayangkan Sisifus bahagia!”

*) Penulis adalah penyair, buku puisinya Kuda Ranjang (2004).

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com