Saat Jurnalis Membocorkan Rahasia Keraton

Judul: Bangsawan Zaman Modern
Penulis: Kastoyo Ramelan
Penerbit: Teater Episode Surakarta, Departemen Penerbitan
Cetakan: Pertama, 2006
Tebal: 224 halaman
Peresensi: Triyanto Triwikromo
http://suaramerdeka.com/

Atau jangan-jangan mereka justru melakukan reposisi dan rekonstruksi kebudayaan sehingga bisa manjing ing kahanan, hidup secara kontekstual? Jangan-jangan pula, sebagaimana ungkapan budayawan Darmanto Jatman, mereka itu nitis, sehingga mampu hidup secara bermartabat pada zaman apa pun?

Buku ini dengan sangat gamblang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Ia setidaknya bisa memberi tahu publik mengenai perubahan kehidupan keraton dari masa ke masa dalam "Keraton Tidak Membeku" (Bab I). Selain itu Ramelan menyatakan keraton ternyata tidak berhadap-hadapan dengan pemerintah (Bab II). Ini menunjukkan sekalipun pemerintah menjadi representasi dari kehidupan antifeodalisme, keberadaannya tidak dianggap sebagai musuh. Malah dengan gaya humor dan kritis, penulis juga mencoba membahas profesi sinuhun, para gusti, dan trah bangsawan pada zaman yang berganti (Bab III).

Selain itu juga dimunculkan interaksi orang-orang di luar keraton (semacam budayawan Rendra atau Hajar Satoto) yang dianggap sebagai penyangga kehidupan keraton (Bab IV). Dan yang sangat menarik penulis menggarap Bab V ("Perang Mahkota Akankah Selalu Ada") seperti sebuah pertunjukan teater, sehingga kita mengerti sisi tragis, dramatis, dan klimaks dari berbagai intrik yang terjadi di keraton dari zaman ke zaman.

Setara

Teks-teks dalam buku ini sesungguhnya bermula dari pertanyaan Ramelan tentang makna keraton dalam dunia jurnalistik. "Saya sebagai wartawan yang punya tanggung jawab liputan untuk daerah Surakarta berpikir, bisakah kiash putri dan pangeran serta raja di Keraton Surakarta maupun Pura Mangkunegaran diangkat menjadi topik berita?"

Karena pertanyaan itu muncul pada saat pers dunia sedang menulis tentang percintaan Lady Diana dengan Pangeran Charles, tulisan-tulisan Ramelan pun mendapatkan momentum. Apalagi karena Ir Adhi Moersid menyatakan, Keraton Surakarta setara dengan deretan situs warisan sejarah Islam seperti Shalimar Gardens (Lahore, Pakistan), Top Kapi Palace (Istanbul, Turkey), Nadi Palace ( Maroco), dan Citadel Saladin (Cairo), akhirnya membuat Ramelan seperti mendapatkan wangsit untuk segera menuliskan apa pun mengenai keraton-keraton di daerah liputannya (halaman 2).

Dengan mengenakan busana Jawa lengkap (halaman 3), wartawan Tempo dan akhirnya Gatra itu pun akhirnya menyusup ke daerah-daerah privat keraton. Malah kadang-kadang dengan cara mentraktir keluarga kerajaan di restoran mewah, ia berhasil menguak sedikit demi sedikit. Tak jarang justru putri dalem sendiri yang membayar. Strategi lain juga digunakan, yakni dengan mengirim parcel menjelang Lebaran atau mengirimkan bunga duka pada saat keluarga keraton didera duka.

Hasilnya? Hasilnya, misal saja, dari Ramelan akhirnya kita tahu mengapa Solo tidak bisa menjadi Daerah Istimewa Surakara (DIS). Pertimbangan pemerintah pusat membekukan DIS, karena di Solo muncul gerakan anti-swapraja yang digerakkan oleh elemen masyarakat. Lahir kekacauan, penculikan patih dan hampir seluruh kabupaten kasunanan menyatakan putus hubungan dengan keraton (halaman 11).

Gerakan tersebut akhirnya bisa mengubah status vorstenlanden Surakarta menjadi suatu karisidenan. Surakarta di bawah residen (bukan raja dari keraton) yang wilayahnya sebagaimana karisidenan lain langsung dalam pengawasan pemerintah pusat Republik Indonesia. Kita akhirnya tahu Keraton Surakarta akhirnya lebih menjadi pusat kebudayaan, ketimbang sebagai pusat pemerintahan.

Apa yang kemudian terjadi setelah keraton tidak lagi menjadi pusat kekuasaan? Yang jelas kemudian muncul profesi-profesi modern yang menyusup ke tubuh keraton.

Apa profesi Paku Buwana XII? Rupa-rupanya gelar sang raja adalah Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senopati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Senopati Panata Gama Paku Buwana XII. Sangat panjang. Sangat rumit. Sangat berat. Karena itulah Pusat Perdamaian International Sri Chinmoy memberikan pengargaan berupa gelar Lifting Up The With A Onenes Heart Award. Yang tidak banyak diketahui oleh publik sang raja ternyata memiliki 6 garwa, 35 anak, banyak cucu.

Keluarga raja juga memiliki profesi macam-macam. BPH Soemodiningrat jadi pegawai negeri, Gusti Kanjeng Ratu Alit (ahli kecantikan ala keraton), dra GRAY Kus Raspiyah (dosen), Dr KP Gunawan Sumodinigrat (ahli ekonomi, intelektual), BRAY Mooryati Sudibyo (ahli kecantikan), GPH Paundra Soekarnaputra Jiwanegara (artis), GPH Djatikusumo (militer), GRAY Koes Moertiyah (artis, seniwati), dan GPH Dipokusumo (petinggi keraton). Putra dan putri keraton yang lain juga memiliki profesi yang tak berbeda dari manusia-manusia modern yang lain. Itu berarti keraton beserta segala isinya sesunguhnya manjing ing kahanan. Mereka tidak mengasingkan diri dari kemodernan.

Yang juga terlihat dalam buku ini keraton menjadi hidup karena disangga oleh pendukung-pendukung lain (bukan kerabat) yang menghormati keberadaan keraton. Orang-orang terhormat -antara lain Amien Rais dan Akbar Tandjung- pun mendapat kekancingan. Kekancingan ini menjadi sebuah sarana untuk menyatupadukan antara orang-orang di dalam keraton dan luar keraton agar menjaga keraton sebagai "pusat kebudayaan".

Pasang surut kehidupan keraton juga digambarkan Ramelan dengan menggambarkan berapa kali terbakar, berapa kali dibangun.

Kejayaan dan kewibawaannya juga dilukiskan dengan menunjukkan kapan ontran-ontran demi ontran-ontran muncul di keraton. Termasuk geger di Kamandungan pada 2005 dilukiskan secara detail, teatrikal, dan memunculkan ketragisan.

Sayang, banyak ejaan buku ini yang ditulis secara serampangan. Meskipun demikian, buku ini telah membocorkan sesuatu yang tersembunyi di tubuh keraton. Kerja keras semacam itu, layak dihargai.

Komentar