KEDUDUKAN PARA PRIYAYI DALAM PETA NOVEL INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Umar Kayam dalam peta kesusastraan Indonesia mencuat namanya ??terutama?? karena cerpen panjangnya “Sri Sumarah” dan “Bawuk” (1975) serta beberapa cerpen lainnya yang dimuat di majalah Horison. Kini ia telah meninggalkan kita dengan sejumlah warisan berupa sejumlah cerpen, buku esai, dan dua buah novel: Para Priyayi (Pustaka Utama Grafiti, 1992) dan Jalan Menikung (2001). Jika dalam peta cerpen, ia berhasil mengangkat kultur Jawa dengan sangat meyakinkan, lalu bagaimana pula dengan novelnya, Para Priyayi? Tulisan ini coba menempatkan Para Priyayi (selanjutnya disingkat: PP) dalam peta novel Indonesia mutakhir.

PP yang tebalnya 308 halaman, ternyata mengundang tanggapan yang ramai. Dalam satu bulan sedikitnya telah muncul 10-an resensi dan empat artikel di media massa ibukota. Dalam waktu sebulan, novel ini mengalami cetak ulang kedua. Cetakan ketiga, November 1992, dan kini terus mengalami cetak ulang.

Secara intrinsik, PP sebenarnya tidaklah menyodorkan inovasi yang radikal. Artinya, novel ini masih tergolong sebagai novel konvensional. Sungguhpun demikian, Umar Kayam tampak hendak merumuskan semacam sintesis, baik yang menyangkut tema citra manusia Jawa, maupun unsur intrinsik lainnya yang pernah digarap para novelis Indonesia. PP dalam hal ini, bolehlah dikatakan menampilkan sesuatu yang “baru”. Justru dalam soal itulah, PP punya arti dan kedudukan yang penting dalam peta novel Indonesia modern.

Dinasti Priayi Jawa

PP sebenarnya lebih menyerupai “kumpulan” cerita yang membentuk satu kesatuan cerita. Sapardi Djoko Damono dalam resensinya (Tempo, 20 Juni 1992) menyebut novel ini sebagai novel esai yang menyerupai album besar. Alur ceritanya sendiri dikembangkan oleh sedikitnya delapan pencerita, yaitu pencerita tokoh Lantip, Sastrodarsono, Hardoyo, Noegroho, Harimurti, dan para istri ??Ngaisah, Soemini, dan Sus. Lengkapnya, Para Priyayi terdiri atas sepuluh bagian cerita yang kait?berkait dan masing?masing ditandai dengan judul?judul sebagai berikut: “Wanagalih” (hlm. 1?8), “Lantip” (hlm. 9?28), “Sastrodarsono” (hlm. 29?114), “Lantip” (hlm. 115?137), “Hardoyo” (hlm. 138?176), “Noegroho” (hlm. 177?205), “Para Istri” (hlm. 206?233), “Lantip” (hlm. 234?260), Harimurti (hlm. 261?299), dan “Lantip” (hlm. 300?308).

Mengingat PP dikembangkan oleh sedikitnya delapan pencerita, dan masing?masing merangkaikan peristiwanya sendiri –meskipun saling melanjutkan dan melengkapi— maka PP dapat dikatakan merupakan novel yang beralur banyak; sebuah novel yang pola alurnya hampir sama dengan yang terdapat dalam novel Pada Sebuah Kapal (1973) karya Nh. Dini.

Untuk memberi gambaran serba sedikit mengenai keseluruhan cerita PP di bawah ini akan dipaparkan sinopsis ringkasnya sebagai berikut:

PP bercerita tentang perjalanan hidup tokoh Mas Soedarsono. Berkat kesetiaan ayahnya dalam menggarap sawah Ndoro Seten, seorang priayi Kedungsimo, Soedarsono disekolahkan oleh priayi itu, dan berhasil mengantongi beslit guru bantu. Sebagai anak yang sudah dewasa, ayahnya lalu mengganti nama Soedarsono menjadi Sastrodarsono agar sesuai dengan dunia priayi yang akan dimasukinya. Ia kemudian dijodohkan dengan Siti Aisah (Ngaisah), putri tunggal mantri penjual candu bernama Mas Mukaram, priayi yang cukup terkenal di Jogorogo. Dari perkawinan itu, mereka dikaruniai tiga orang anak; Noegroho, Hardoyo, dan Soemini. Ketiga anaknya itu ternyata berhasil pula melanjutkan kepriayian ayahnya. Betapapun di dalam perjalanan hidup mereka, situasi sosial politik dan perubahan zaman, tidak jarang melibatkannya ke dalam persoalan yang rumit.

Begitulah, keluarga besar Sastrodarsono telah berhasil membangun sebuah dinasti priayi Jawa, semacam dengan dinasti Wang dalam trilogi novel The Good Earth (1931) karya Pearl S. Buck. Hanya saja, jika dinasti priayi Sastrodarsono yang berasal dari daerah petani itu, mampu menanamkan kepriayiannya bagi anak cucunya, maka dalam novel Pearl S. Buck, kebesaran dinasti Wang ??yang juga berasal dari darah petani?? justru hancur oleh keserakahan anak cucunya sendiri.

Bahwa keluarga besar Sastrodarsono berhasil membangun sebuah dinasti priayi Jawa, sesungguhnya itu juga sangat ditentukan oleh kepedulian masing?masing anggota keluarga itu menjaga kerukunan dan keselarasan dalam kehidupan ini.

Latar Sejarah dan Peristiwa 1965

Novel Indonesia modern yang berlatar sejarah, sebenarnya belumlah terlalu banyak. Di antara yang sedikit itu, Hulubalang Raja (1934) dan Mutiara (1946) karya Nur Sutan Iskandar, Tambera (1949) karya Utuy Tatang Sontani, Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953) karya Abdoel Moeis –sekadar menyebut beberapa di antaranya— merupakan novel yang secara jelas mengangkat peristiwa sejarah sebagai bagian dari keseluruhan cerita. Hulubalang Raja mengangkat peristiwa sejarah yang terjadi di Minangkabau sekitar tahun 1665?1668. Pada bagian pendahuluan novel itu tertulis keterangan sebagai berikut:

Segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah yang terdapat dalam buku ini, dipungut dari kitab De Westkust en Minangkabau (1665??1668) yaitu “academisch proefschrift” oleh H. Kroeskamp, yang dicetak oleh Drukkerij Fa. Schotanus & Jens di Utrecht dalam tahun 1931. (Hulubalang Raja, hlm. 5). Adapun kedua karya Abdoel Moeis, mengangkat peristiwa kepahlawanan Untung Surapati yang terjadi selepas tahun 1680, sebagaimana tertulis di awal cerita novel itu: “Kota Jakarta di tahun 1680? (Surapati, hlm. 5).

Dalam perkembangannya kemudian, novel Indonesia selepas merdeka yang berlatarkan sejarah ??umumnya?? lebih banyak mengangkat peristiwa di sekitar perang kemerdekaan atau peristiwa seputar zaman Jepang sampai sekitar tahun 1949?an. Barulah pada tahun 1980, terbit dua karya Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1980) yang mengambil latar sekitar peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1900?an sampai pertengaham tahun 1930?an. Kedua novel Pramudya Ananta Toer itu ternyata merupakan empat serangkai dari dua novel berikutnya, Jejak Langkah (1981) dan Rumah Kaca (1981), serta Arus Balik (1998).

Dalam konteks novel Indonesia yang berlatarkan sejarah itu, harus diakui, bahwa hampir semua novel tersebut umumnya mengambil peristiwa?peristiwa yang sezaman, kecuali Burung?Burung Manyar (1981) karya Y.B. Mangunwijaya. Tokoh Setadewa dan Larasati dalam novel itu, mengalami peristiwa empat zaman; zaman Belanda, zaman pendudukan Jepang, awal kemerdekaan sampai zaman Orde Baru (6 Mei 1979) yang tercantum di atas tanda tangan tokoh Setadewa yang terdapat di halaman terakhir novel itu. Memang, secara eksplisit Burung?Burung Manyar dibagi ke dalam tiga bagian: Bagian I, 1934??1944; Bagian II, 1945??1950; dan Bagian III, 1968??1978. Dari pembagian itu, tersimpul bahwa Burung?Burung Manyar tidak membicarakan periode 1951??1967. Hanya diceritakan, bahwa sejak Indonesia memperoleh kedaulatannya kembali, Setadewa meninggalkan Indonesia. Melanjutkan pendidikan di Harvard dan menjadi ahli komputer, kemudian bekerja di perusahaan minyak tempat Setadewa bekerja. Setelah ditinggalkan istrinya, tahun 1968 Setadewa kembali ke Indonesia.

Jika menempatkan karya Pramudya Ananta Toer dan Mangunwijaya dalam perjalanan sejarah pergerakan bangsa Indonesia, maka dalam kedua karya pengarang itu ada rentang waktu yang “kosong” beberapa periode. Karya Pramudya Ananta Toer, misalnya, tidak mengungkapkan peristiwa yang terjadi zaman berikutnya, yaitu zaman Jepang dan awal kemerdekaan. Begitu pula karya Mangunwijaya, walaupun novel itu terjadi antara tahun 1934 sampai 1979, periode zaman orde lama dan tahun?tahun pertama orde baru, tidak terungkapkan.

Demikianlah, bahwa adanya beberapa periode yang “kosong” itu, seolah?olah terisi dengan hadirnya novel PP. Persoalannya menjadi jelas karena Kayam dalam novelnya itu membentangkan peristiwa yang terjadi zaman Belanda yang diawali 1910?an, zaman Jepang, awal kemerdekaan, akhir orde lama, dan awal orde baru. Jadi, waktu cerita dalam novel PP meliputi periode tahun 1910??1967. Batas awal tahun 1910 itu kita ketahui setelah tokoh Sastrodarsono berhasil menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh beslit guru bantu. “waktu itu, sekitar tahun 1910 Masehi…” (PP, hlm. 33). Sedangkan batas akhir tahun 1967, terungkap lewat cerita tokoh Lantip, anak angkat Hardoyo. “Tahun 1967 ini Embah Kakung, panggilan tokoh Lantip kepada Sastrodarsono. Sewaktu kecil Lantip dibesarkan keluarga Sastrodarsono ketika ia sudah berumur kira?kira delapan puluh tiga tahun.” (PP, hlm. 301).

Dengan waktu cerita yang begitu panjang itu, PP seolah?olah menjadi semacam sintesis dari waktu cerita yang pernah digunakan dalam sejumlah novel Indonesia modern yang mengangkat latar sejarah sejak zaman awal pergerakan hingga masa orde baru. Setakat ini, PP merupakan novel Indonesia modern pertama yang mengambil waktu cerita yang begitu panjang.

Dengan demikian, peristiwa tahun 1900?an yang diangkat dalam PP, bolehlah dikatakan melengkapi ??dan sekaligus juga melanjutkan?? waktu cerita yang terdapat dalam novel Pramudya seolah?olah berlanjut pada waktu cerita dalam karya Mangunwijaya, terutama peristiwa di awal kemerdekaan sampai tahun 1967. Sangat kebetulan, Bagian III karya Mangunwijaya diawali tahun 1968. Sedangkan novel Umar Kayam berakhir pada tahun 1967.

Sementara itu, peristiwa zaman orde lama dan awal orde baru yang diangkat dalam PP, terkesan hendak melanjutkan dan melengkapi dua cerpen panjang Umar Kayam sendiri yang berjudul “Bawuk” dan “Musim Gugur Kembali di Connecticut” yang keduanya menceritakan penangkapan dan pembunuhan mereka yang terlibat PKI: Tokoh Hasan, suami Bawuk, tertembak mati. Bawuk sendiri tidak diketahui nasibnya (”Bawuk”); Tokoh Tono, bekas anggota HSI dan Lekra, dibawa aparat keamanan entah ke mana. Ia meninggalkan istrinya yang sedang mengandung (”Musim Gugur …”). (Anak Tanahair, Ajip Rosidi)

Dalam PP, yang terlibat Lekra/PKI adalah Harimurti, anak tunggal Hardoyo. Waktu itu, ia berhubungan rapat dengan Gadis, nama samaran Retno Dumilah. Ketika geger PKI pecah, dan aparat keamanan sedang mengejar PKI dan para pengikutnya, Gadis lari entah ke mana. Sedangkan Harimurti, atas anjuran Lantip, menyerahkan diri. Belakangan, setelah Harimurti berhasil keluar dari penjara berkat campur tangan pamannya, Noegroho, Gadis diketahui sedang menjalani tahanan di penjara wanita. Ternyata, kekasih Harimurti itu sedang hamil besar. Ketika Lantip sedang mengusahakan pembebasannya ??juga lewat campur tangan Noegroho, Gadis meninggal bersama anak yang dikandungnya.

Dari cuplikan itu, tampaklah bahwa ada beberapa hal yang sejajar antara tokoh Harimurti??Gadis, Hasan??Bawuk, dan Tono dan istrinya. Dalam hal ini, tokoh Harimurti lebih dekat pada tokoh Bawuk ??hanya beda kelamin?? dan tokoh Tono. Harimurti yang berasal dari keluarga priayi, terlibat Lekra/PKI sesungguhnya bukan karena ia menyukai kehidupan politik; juga bukan karena ia ingin memperjuangkan komunisme, melainkan karena kecintaannya pada kesenian, di samping sifatnya yang peka terhadap kehidupan wong cilik. Keadaan itu kemudian tumbuh subur ketika hatinya tertambat pada Gadis, penyair Lekra yang dalam pandangan Harimurti sangat berbeda dengan wanita Jawa umumnya. Hal itulah yang lalu dimanfaatkan oleh orang?orang PKI. Jadi, keterlibatan Harimurti dalam kegiatan Lekra/PKI sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh kepiawaian PKI dalam menjerat orang?orang yang akan dijadikan kadernya.

Keadaan itu hampir sama dengan apa yang dialami Tono dalam “Musim Gugur Kembali di Connecticut”. Keterlibatannya dalam Lekra bukan karena ia tertarik pada perjuangan PKI atau komunisme, melainkan lantaran Tono merasa, karya?karyanya, berbagai gagasannya, “lebih” dihargai di kalangan Lekra. Di dalam organisasi itu, ia mendapat saluran dan tempatnya sendiri.

Adapun keterlibatan Bawuk dalam kegiatan PKI, semata?mata karena merasa sebagai istri Hasan; istri dari ayah anak?anaknya, dan bukan sebagai istri seorang tokoh PKI. “Selama itu Bawuk selalu merasa pertama?tama kawin dengan seorang Hassan daripada dengan seorang komunis.” (”Bawuk” hlm. 127). Komunisme yang telah menjadi bagian dari kehidupan suaminya, bagi Bawuk, merupakan “Sesuatu yang menempel pada diri suaminya itu telah menjadi semacam setan kecil yang sepenuhnya telah menguasai suaminya.” (”Bawuk”, hlm. 128). Sikap sebagai istri seorang manusia yang bernama Hassan itu pula yang menyeretnya ikut dalam berbagai kegiatan yang dilakukan suaminya.

Begitulah, bahwa peristiwa yang terjadi di seputar diri tokoh Harimurti dalam PP dapat dikatakan “melengkapi” atau sekaligus juga “melanjutkan” apa yang terjadi dalam “Bawuk” dan “Musim Gugur Kembali di Connecticut”.

Dalam konteks novel Indonesia yang mengangkat peristiwa sekitar tahun 1960?an itu, PP ??terutama gambaran keterlibatan tokoh Harimurti?? tampak pula mempunyai kesejajaran dengan tokoh Ardi dalam Anak Tanah Air (1975) karya Ajip Rosidi. Keterlibatan tokoh Ardi maupun Harimurti dalam kegiatan Lekra, bukan karena ketertarikan mereka terhadap ideologi marxis atau komunis, melainkan oleh banyak faktor yang memungkinkan muslihat kader PKI mendapat tempat yang subur dalam diri kedua tokoh itu.

Keadaan serupa juga terungkapkan dalam novel Kubah (1980) karya Ahmad Tohari. Tokoh Karman masuk sebagai kader PKI lebih disebabkan oleh cara kerja PKI yang berhasil mengeksploitasi kekecewaan yang dialami Karman. Dalam kadar lebih bersahaja, adalah keterlibatan tokoh Srintil dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982; 1985; 1986), karya Ahmad Tohari.

Citra Priayi Jawa

Menarik juga menempatkan PP dalam konteks novel Indonesia yang mengangkat kehidupan tokoh (keluarga) Jawa. Dalam hal ini, Umar Kayam tampaknya sengaja hendak mempertegas kembali persoalan yang pernah disinggung Sutomo Djauhar Arifin (Andang Teruna, 1941), Arswendo Atmowiloto (Canting, 1986), dan, boleh juga dimasukkan, Linus Suryadi (Pengakuan Pariyem, 1984) serta “Sri Sumarah” karya Umar Kayam sendiri. Karya?karya itu dipandang banyak kritikus “mewakili” citra manusia (wanita) Jawa.

Dalam konteks itu PP tampaknya punya nilai lebih, baik menyangkut idiom?idiom kejawaannya, maupun dalam menampilkan sosok petani, priayi ataupun wanita Jawanya. PP tidak hanya terasa lebih filosofis dan sosiologis. Kejawaannya itu sendiri menjadi sangat logis dan wajar, karena filsafat Jawa yang banyak merujuk pada simbol?simbol dunia pewayangan, serta karya sastra adiluhung yang dihasilkan para pujangga keraton, berhasil rapi diselusupkan ke dalam dialog maupun lakuan para tokohnya. Ia menyatu sebagai unsur intrinsik dan tidak sekadar sebagai amanat an sich. Yang muncul ke permukaan laksana “potret” masyarakat (manusia) Jawa dengan suasana dan berbagai ungkapan kejawaannya.

Berkaitan dengan hal itu, yang tampak dalam PP adalah sebuah kehidupan priayi yang menempatkan pandangan hidup kejawaannya sebagai bagian dari perilaku sehari?hari. Oleh karena itu pula, gambaran tokoh Sastrodarsono dan istrinya, Siti Aisah ??Ngaisah menurut lidah suaminya??, tidak sama dengan keluarga Hartasanjaya dan Adikusuma (Andang Teruna), Pak Bei dan Bu Bei ??Ngabehi Sestrokusuma dan Tuginem?? (Canting), maupun Cokro Sentono dan Pariyem (Pengakuan Pariyem).

Tokoh Sastrodarsono dan Ngaisah, memang menjadi pusat orientasi dan tempat “pengaduan” bagi putra?putrinya, tetapi mereka juga tampil sebagai tokoh ‘demokrat’ yang dapat diajak berdiskusi dan bercengkerama. Ketika Soemini, putri tunggal keluarga Sastrodarsono, dilamar oleh keluarga Soemodiwongso untuk anaknya yang bernama Raden Harjono Cokrokoesoemo, Sastrodarsono dan istrinya, berembuk dahulu dengan anak?anaknya yang lain, termasuk Soemini sendiri. Padahal sebagai orang tua, mereka dapat saja memutuskan lamaran itu. Perhatikan kutipan di bawah ini:

“Anak?anak, ini begini. Hari ini datang surat lamaran dari pamanmu Soemodiwongso di Soemoroto yang ingin minta Soemini jadi menantunya. Karena orang tuamu ini bukan priayi kuno kami mengumpulkan kalian, terutama genduk Mini untuk kami tanya pendapat kalian.” (PP, hlm. 76).

Lalu bagaimana hasil keputusan “rapat” keluarga itu? Perhatikan kutipan berikutnya ini :

“Priye, Nduk. Kamu rak ya sudah sreg to dengan kamas?mu Raden Harjono? Kalau menurut wawasan bapak?ibu kalian berdua itu sudah pas betul. Kamu anak perempuan priyayi yang terpelajar. Tamat HIS sebentar lagi. Bahasa Belandamu bagus. Calon suamimu tamatan OSVIA, sudah naik pangkat jadi asisten wedana. Ya, memang selisih umur kalian memang agak jauh sedikit. Tapi tidak apa, to, Nduk?”

Saya melihat anak?anak laki?laki saya pada tegang wajah mereka. Mungkin mereka kurang senang karena saya mulai menggiring jawaban Soemini. Tetapi, Soemini kelihatan tenang saja. Hanya diam. Tetapi, akhirnya dia angkat bicara juga.

“Begini ya, Bapak, Ibu dan Mas?mas. Saya menerima lamaran ini…”

“Naa, rak ya begitu to, Nduuk, Nduk. Saya kira kamu itu mau menolak atau ngambek.”

“Tunggu dulu Pak. Saya terima lamaran, tetapi ada tetapinya,”

“Elho!”

“Saya punya permintaan sedikit kepada Bapak, Ibu, dan Mas?mas. Tetapi terutama kepada Kamas Harjono.

“Alah, Nduuk,Nduk. Anggepmu itu Woro Sembodro apa? Mau dikawin Arjuno yang sudah tidak kurang apa?apa masih mau minta gamelan surga.”

“Biar dia selesai dulu to, Paak. Kita dengar saja dulu apa maunya anakmu itu.”<$F8Kalimat ini dikatakaan oleh istri Sastrodarsono, Siti Aisah. Dari sini saja, kita dapat melihat bahwa saling menghargai pendapat masing?masing anggota keluarga itu, mendapat tempat yang proposional dalam keluarga priyayi itu. Dalam hal ini, baik Sastrodarsono maupun Siti Aisah, sama sekali tidak pernah bertindak otoriter. Soemini tersenyum aneh karena matanya mengeluarkan sinar yang lucu. “Saya mau sekolah dulu di Van Deventer School. Selesai itu baru saya bersedia jadi istri Kamas Harjono.” Aduh, pan depenter skul! Itu berarti dua sampai tiga tahun dia sekolah lagi. Terus bagaimana calon suaminya itu? Kalau dia tidak sabar menunggu bisa ditinggal anak saya. Sia?sia saja persiapan yang begitu lama kami lakukan. Belum lagi menutup rasa malu kepada keluarga Soemodiwongso yang begitu baik. Dan mencari lagi calon menantu seperti Raden Harjono itu apa akan mudah? Calon yang baik pendidikan, latar belakang keluarga, pangkat maupun rupa, serba memenuhi syarat. Apakah peruntungan begitu akan bisa datang lagi dalam waktu yang begitu dekat? (PP, hlm. 77??78). Usul Soemini itu didukung pula oleh kakak?kakaknya. Ternyata, gagasan itu tidak membuat Sastrodarsono tersinggung. Ia dan istrinya kemudian dapat menerima usul Soemini yang akan menjelaskan duduk persoalannya secara baik?baik kepada calon suaminya. Di bagian lain, dalam hal yang menyangkut masalah?masalah yang prinsipil, kedua suami?istri itu juga dapat bertindak tegas. Jadi, dalam hal menentukan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan anggota keluarga, mereka dapat bersikap demokratis, toleran, menghargai pandangan yang berbeda, tetapi juga dapat bersikap tegas. Apa yang dialami Soenandar, keponakannya yang ikut dan disekolahkan keluarga itu, misalnya, merupakan contoh, betapa Sastrodarsono dapat pula bertindak tegas. Petama, ketika Soenandar diketahui mencuri uang teman sekolahnya, ia dihajar ??setelah beberapa kali dinasihati?? dengan pukulan rotan. Sastrodarsono juga berusaha agar keponakannya itu dikeluarkan dari sekolahnya. Kedua, Sastrodarsono terpaksa mengeluarkan keponakannya itu dari sekolah karena Soenandar diketahui mencuri lagi untuk kali yang kedua. Belakangan diketahui, Soenandar adalah ayah Lantip. Soenandar yang waktu itu dipercayai mengurus sebuah sekolah tidak resmi, ternyata kemudian menghamili Ngadiyem. Setelah kandungan Ngadiyem mulai membesar ia kabur secara tidak bertanggung jawab. Ketika Soenandar bersama beberapa temannya usai melakukan perampokan, ia tewas tertembak. Adapun Ngadiyem, walaupun belum sempat dikawini secara resmi oleh Soenandar, Ngadiyem tetap membesarkan kandungannya hingga lahir Wage. Ini yang menjadi salah satu alasan Sastrodarsono memungut Wage dan menyekolahkannya. Sejak itu, nama Wage diganti menjadi Lantip. Dari gambaran yang diperlihatkan keluarga Sastrodarsono, terungkaplah bahwa kepriayian bukanlah soal status semata?mata. Ia juga menyangkut soal laku; tindakan dan peran kepriayiannya itu sendiri. Masalahnya, bahwa orang cenderung terpaku pada simbol atau status kepriayian an sich, dan bukan pada laku dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam PP, terungkap bahwa Sastrodarsono sebenarnya masih berdarah petani. Ia menjadi priayi karena pendidikannya yang memungkinkan status dan derajatnya naik,dan kepriyayiannya diekspresikan melalui sikap dan tindakannya yang terpuji yang membuatnya mampu mempertahankan kepriayiannya. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh tokoh Lantip. Ibunya, Ngadiyem, penjaja tempe yang kere dan melarat. Ayahnya yang kabur sebelum mengawini Ngadiyem, tewas sebagai seorang perampok. Tetapi Lantip sendiri yang sadar akan harkat dirinya, nyatanya berhasil menjadi sarjana ilmu sosial politik dan kemudian menjadi dosen di almamaternya. Di samping soal pendidikan ikut menentukan kepriayian seseorang, juga kesanggupannya mengejawantahkan status kepriayian itu dalam kehidupan, terutama mempertanggungjawabkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Maka, “…semangat kerukunan dan persaudaraan itulah yang terpenting… semangat pengabdian kepada masyarakat wong cilik. Dan … perjalanan mengabdi masyarakat banyak, terutama wong cilik, tidak akan ada habisnya.” (PP, hlm. 305??307). Demikianlah, dinasti Sastrodarsono tampil laksana potret sebuah keluarga priayi Jawa. Dengan kesadaran kepriayiannya, mereka menghayati dan menjunjung nilai?nilai kepriayiannya serta mengejawantahkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lebih daripada itu, saratnya novel PP dengan filsafat Jawa dan simbol?simbol dunia pewayangan, serta sejumlah ungkapan yang khas mencerminkan pandangan hidup orang Jawa, menjadikan novel ini sangat bersuasana Jawa; sangat menjawa. Bagaimana misalnya, penjelasan tentang lakon Partokromo (Perkawinan Arjuna) atau Sumantri Ngenger (Penghambaan Sumantri), di samping penjelasan Serat Wedhatama dan Serat Wulangreh ??di antaranya, dapat mengalir begitu saja tanpa ada kesan menggurui. Perhatikanlah beberepa penggal kutipan di bawah ini: “Anak?anak, kalian masih ingat bukan pada waktu kalian berkumpul di sini dan saya minta Lantip menembang Wedhatama dan Wulangreh? Kemudian saya menjanjikan pada satu waktu untuk juga bersama?sama mendengarkan Tripama? Nah, inilah saat itu.” “Tripama ini saya pandang sekarang tepat sekali untk saya sampaikan kepada kalian. Buat kau Noegroho karena kau sudah menjadi prajurit, buat kau Hardojo karena kau sudah menjadi priyayi Mangkunegaran, dan buat Nakmas Harjono karena kau sudah naik pangkat di Karesidenan Madiun.” “Meskipun Tripama ini kelihatannya hanya ditujukan untuk para prajurit, sesungguhnya juga dimaksudkan untuk para priyayi semua. Inti dari wejangan ini adalah kesetiaan kepada raja dan negara. Kita semua diingatkan untuk meniru sikap setia dari tiga tokoh dalam wayang, yaitu Sumantri, Karna, dan Kumbakarna. Meskipun sifat kesetiaan mereka berbeda, namun intinya sama, yaitu kesetiaan sebagai tanda tahu membalas budi kepada raja dan negara.” Hardojo kemudian langsung memberikan pendapatnya. “Tetapi, Bapak, kesetiaan dari orang semacam Sumantri itu menggelisahkan saya.” “Lho, sebabnya apa, Le?” “Sumantri, bagi saya, bukan contoh seorang priyayi dan satria yang baik. Dia adalah justru contoh seorang priyayi yang tidak lengkap kekesatriaannya.” “Wah, Mas Hardojo kok jadi galak sekali lho.” “Lho, ya tidak, to, Mini. Saya hanya ingin memahami tokoh itu saja. Sumantri dalam mengejar cita?citanya untuk menjadi priyayi kerajaan Maespati begitu bernafsu hingga tega mengorbankan adiknya. Dan waktu dia sudah menyelesaikan tugas menaklukkan seribu negara dan memboyong putra?putrinya, dia masih mau menantang rajanya. Mau mencoba kehebatan rajanya. Alangkah congkak prajurit semacam itu. Memang dia akhirnya mati dalam membela rajanya, tetapi kesetiaannya itu kesetiaan yang bergelimang cacat.” “Bagus, Yok. Mungkin saya belum bercerita kepada kalian, ya? Waktu saya dulu dikawinkan dengan ibumu, kami disumbang pertunjukan wayang kulit eyangmu Seten Kedungsimo. Lakonnya ya itu. Sumantri Ngenger. Romo Seten memilih lakon itu sebagai sangu saya menjadi priyayi.” “Tetapi, mengapa Kanjeng Gusti Mangkunegara IV memilih Sumantri sebagai contoh? Yang pertama lagi.” “Saya kira karena keberaniannya berperang melawan Rahwana hingga dia gugur. Kemudian Karna diambil sebagai contoh karena dia berani memilih berpihak kepada Kurawa yang jahat.” (PP, hlm. 185??186). Selanjutnya, penjelasan tentang perang Baratayuda disampaikan Sastrodarsono kepada anak?anaknya dalam bentuk semacam diskusi yang lalu dihubungkan pula dengan konsep harakiri dan seppuku serta semangat bushido para samurai. Pembicaraan tersebut memang relevan dengan apa yang terjadi dalam diri Noegroho yang waktu itu memilih masuk menjadi tentara Peta dan ditugaskan sebagai Chudancho. Sesungguhnya, secara tersirat, Sastrodarsono hendak menekankan kepada Noegroho ??yang menjadi prajurit satu?satunya dalam dinasti keluarga Sastrodarsono?? bahwa kesetiaan dan pengabdiannya bukan kepada pemerintah Jepang, melainkan kepada bangsa dan negara Indonesia. Dengan cara mengambil simbol?simbol dari dunia pewayangan itulah, nasihat Sastrodarsono sama sekali tidak mengesankan sebagai menggurui. Ia sadar, bahwa anak?anaknya sudah dewasa, sudah dapat memilih sendiri yang baik dan benar dalam menjalani kehidupan ini. Tinjauan mendalam aspek sosiologis novel PP telah dilakukan Daniel Dhakidae, “Kekuasaan dan Perlawanan dalam Novel “PP” (Kompas, 10??11 Juli 1992). Dengan demikian, berbagai ungkapan maupun cerita yang sebenarnya bermakna filosofis itu, sama sekali tidak menyerupai fatwa atau propaganda filsafat. Ia tampak meluncur begitu saja, tanpa beban, tanpa pemaksaan. Bentuk Penceritaan Bentuk penceritaan di dalam novel atau cerita rekaan lainnya, secara umum terdiri atas pencerita akuan (first person narrator) dan pencerita diaan (third person narrator). Pencerita akuan juga terdiri atas dua pencerita, yaitu pencerita akuan sertaan (first person participant) dan pencerita akuan tak sertaan (first person non?participant). Halnya sama dengan pencerita akuan, pencerita diaan juga terdiri atas dua pencerita, yaitu pencerita diaan semestaan (third person omniscient narrator) dan pencerita diaan amatan atau terbatas (third person observer narrator).>

Secara keseluruhan, PP menggunakan bentuk pencerita orang pertama; pencerita akuan (first person narrator). Seperti telah disebutkan, novel ini dibangun lewat cerita yang disampaikan oleh sedikitnya delapan pencerita. Dikatakan demikian karena ada tokoh lain, di antaranya, Pakde Soeto, Paman Lantip, juga bertindak sebagai pencerita ketika ia menjelaskan riwayat Soenandar, ayah Lantip (hlm. 116??118).

Ketika mereka bercerita, semuanya menggunakan bentuk orang pertama, Saya. Hanya ada yang sekaligus terlibat di dalam cerita (akuan sertaan), ada juga yang tidak terlibat (akuan tak sertaan).

Bentuk pencerita akuan itu sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam perjalanan novel Indonesia modern. Mengenai hal ini, kita dapat menyebut Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) karya Hamka, Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja, Gairah untuk Hidup dan Untuk Mati (1968) karya Nasjah Djamin, Burung?Burung Manyar (1981) karya Mangunwijaya, Pada Sebuah Kapal (1973) dan sebagian besar karya Nh. Dini, atau Rafilus (1988) karya Budi Darma ??sekedar menyebut beberapa di antaranya.

Sudah banyak buku yang membicarakan masalah ini. Yang cukup lengkap antara lain, diungkapkan oleh Norman Friedman (1975), Percy Lubbock (1965), atau Jonathan Raban (1968). Lihat juga Anwar Ridwan (1985), Panuti Sudjiman (1988) dan Th. Sri Rahayu Prihatmi (1990).

Di antara novel?novel tersebut, cara penyampaian ceritanya ada yang melalui bentuk surat atau catatan harian atau semacam otobiografi. Dalam Burung?Burung Manyar secara taat asas bentuk penceritaan ganti berganti dari pencerita akuan ke pencerita diaan (third person narrator). Sedangkan dalam Rafilus karya Budi Darma, mengingat bentuknya yang inkonvensional, sesungguhnya kurang begitu tepat diperbandingkan dengan PP. Akan tetapi, cara penyampaian cerita oleh si pencerita tokoh saya, pola pergantiannya mempunyai kesejajaran dengan pola pergantian penceritaan dalam PP. Jadi, dalam konteks ini, saya mengandaikan bahwa Rafilus masih dalam bentuk yang konvensional. Walaupun ada juga bentuk surat, disampaikan dengan cara yang lain; perubahan dari bentuk penceritaan menjadi pernyataan. Oleh karena itu, bentuk surat yang ada dalam Rafilus sering malah menjadi bagian dari cerita si pembaca surat atau menjadi pernyataan si tokoh pencerita.

Dalam hal tersebut di atas, pencerita akuan dalam PP tampak menyerupai pola yang digunakan Nh. Dini dalam Pada Sebuah Kapal. Sedangkan cara pergantian pencerita yang saling melanjutkan ??dan sekaligus juga melengkapi?? memperlihatkan adanya kesejajaran dengan Burung?Burung Manyar ??jika, misalnya, tokoh Larasati juga bercerita tentang dirinya sendiri dalam bentuk akuan??, serta Rafilus ??dalam bentuknya yang konvensional??. Pencerita akuan (saya) dalam Rafilus yang disampaikan lewat tokoh Tiwar ataupun Munandir, misalnya, berfungsi saling melengkapi, seperti juga fungsi pergantian pencerita dalam PP.

Demikianlah, bahwa pola penceritaan dalam PP cenderung sejajar dengan pola penceritaan dalam Pada Sebuah Kapal, Burung?Burung Manyar, dan Rafilus. Dengan demikian, PP ibarat novel konvensional “gaya baru”; model dan bentuknya yang lama, tetapi dalam kemasan yang baru. Justru dalam hal itulah, PP mempunyai nilai “kebaruan” yang berbeda dengan novel Indonesia modern lainnya.

Yang menarik dalam PP adalah bahwa pergantian pencerita itu ??seperti telah disebutkan?? saling melanjutkan dan saling melengkapi. Apa yang diceritakan Lantip, misalnya, dilengkapi dan dilanjutkan oleh tokoh Sastrodarsono, tetapi sekaligus di dalamnya, melengkapi dan melanjutkan.

Pada bagian yang berjudul “Wanagalih” (hlm. 1??8) dan “Lantip” (hlm. 9??28), misalnya, diceritakan perihal yang bersangkut paut dengan keadaan alam desa Wanagalih. Yang bertindak sebagai pencerita adalah Lantip yang sudah dewasa (hlm. 1??8). Bagian berikutnya, yang bercerita masih tokoh Lantip, tetapi menyangkut diri Lantip yang masih kanak?kanak hingga ikut keluarga Sastrodarsono.

Pada bagian berikutnya yang diberi judul “Sastrodarsono” diceritakan asal?usul keluarga Sastrodarsono sampai ia selesai sekolah dan memperoleh beslit guru bantu, kawin dengan Siti Aisah, membawa sanak familinya ??termasuk Lantip??, sampai anak?anaknya tumbuh dewasa dan berkeluarga. Tetapi, perihal siapa ayah Lantip yang sebenarnya, masih belum terungkapkan. Barulah melalui cerita Pakde Soeto, Lantip mengetahui ayahnya yang sebenarnya.

Begitulah secara keseluruhan pergantian bentuk pencerita dalam PP secara konsisten terus digunakan dalam keseluruhan novel ini. Dan semuanya pencerita itu menggunakan bentuk akuan (saya). Sebagai contoh, perhatikan kutipan berikut ini yang diambil dari bagian yang diberi judul “Para Istri” (hlm. 206??203) yang menampilkan tiga pencerita ??semuanya menggunakan bentuk saya?? yaitu Siti Aisah, Soemini, dan Sus, istri Noegroho.

Kami bertiga (Siti Aisah selaku pencerita, Sastrodarsono, dan Soemini: MSM) duduk dengan diam di ruang tengah hingga lebih dari seperempat jam. Hanya sedan?sedan yang tertahan dari Soemini saja yang terdengar. Akhirnya Soemini dapat memenangkan (sic!) hatinya dan menceriterakan keadaannya di Jakarta.

Sesungguhnya saya (cetak miring dari penulis: MSM) malu menceriterakan ini kepada Bapak dan Ibu. … (Para Priyayi, hlm. 212?3).

Perhatikan juga kutipan di bawah ini:

Sus tidak segera menjawab. Tapi, saya (Siti Aisah: MSM) lihat air mukanya menjadi mendung untuk kemudian mulai menitikkan air mata.

“Lho, lho, ada apa Sus? Sabar, sabar dulu. Minum dulu kopi yang hangat ini. Nanti pelan?pelan ceritera.”

Sus pelan?pelan menyeruput kopinya. Sesudah tenang dia mulai bercerita.

Marie tahun ini sudah dua puluh tujuh tahun umurnya. Kalau menurut adat kami dulu sudah sepantasnya dia kawin bahkan menggendong anak. …

Sejak Toni gugur dulu kami, terutama saya (garis bawah: MSM, saya di sini adalah Sus yang bertindak sebagai pencerita) selalu diliputi perasaan takut satu ketika akan kehilangan anak lagi. Saya masih saja belum bisa melupakan keterkejutan serta kepedihan saya waktu ditinggal mati Toni. (PP, hlm. 223?224).

Kutipan?kutipan tersebut di atas memperlihatkan, bahwa pergantian pencerita saya sebagai Siti Aisah ke saya sebagai Soemini atau Sus, berlanjut begitu saja. Hanya saja, dalam setiap akan terjadi pergantian pencerita, selalu ada informasi yang mewartakan bahwa cerita berikutnya disampaikan tokoh lain. “Soemini dapat menenangkan hatinya dan menceriterakan keadaanya di Jakarta” atau “Sus pelan?pelan menyeruput kopinya. Sesudah tenang dia mulai bercerita,” merupakan semacam isyarat bahwa pencerita akan diganti oleh pencerita tokoh berikutnya. Cara ini secara konsisten terus dipergunakan Umar Kayam dalam keseluruhan novel ini, sehingga kita masih dapat mengetahui siapa yang berikutnya bertindak sebagai pencerita.

Begitulah, tokoh?tokoh dalam PP yang bertindak sebagai pencerita, terus berlanjut ganti?berganti secara konsisten. Oleh karena yang digunakannya bentuk pencerita akuan (saya), maka secara efektif terasa lebih dekat pada model catatan biografis ??atau otobiografis?? dari masing?masing tokohnya. Dengan perkataan lain, terbentangnya perjalanan hidup keluarga priayi Sastrodarsono itupun, mulai dari kakeknya ??sebelum tahun 1910?an?? sampai cucunya ??tahun 1967?an??, mirip pula sebagai catatan (oto)biografis; salah satu cara untuk memperkuat fakta sejarah yang diangkat dalam novel ini.

Penutup

Dari berbagai hal yang telah diuraikan mengenai novel pertama Umar Kayam, PP itu, dapat kita tarik beberapa kesimpulan, antara lain, sebagai berikut:

PP masih tergolong sebagai novel konvensional dan tidak menampilkan bentuk inovasi yang radikal.

(2) PP dalam bentuknya yang konvensional itu ternyata mengundang sejumlah “kebaruan” yang sama sekali berbeda dengan novel?novel Indonesia sebelumnya. Kebaruannya menyangkut banyaknya tokoh yang bertindak sebagai pencerita akuan (saya), yang pada gilirannya membawa novel ini mempunyai lebih dari satu alur cerita. Dalam perjalanan sejarah novel Indonesia modern, PP termasuk satu?satunya novel Indonesia yang beralur banyak, setelah Hulubalang Raja dan Pada Sebuah Kapal yang beralur ganda.

(3) Dalam hal yang menyangkut waktu cerita, PP pun termasuk novel pertama yang waktu ceritanya meliputi rentang yang begitu panjang; sebelum tahun 1910?an hingga tahun 1967.

(4) Secara tematik, PP lebih mempertegas lagi persoalan citra tokoh (keluarga) Jawa yang pernah diangkat para pengarang Indonesia sebelumnya.

(5) Dalam konteks karya?karya Umar Kayam sendiri, PP seolah?olah hendak melanjutkan ??dan sekaligus juga melengkapi?? persoalan yang pernah digarapnya dalam “Sri Sumarah”, “Bawuk”, dan “Musim Gugur Kembali di Connecticut”.

(6) Sebagai novel yang sangat bersuasana Jawa dan sarat bermuatan dunia kejawaannya, PP dapat pula kiranya disebut sebagai “Grotta Azzura“?nya Jawa dalam bentuk dan kemasan yang lebih rapi, luwes, dan apik.

(7) Banyaknya makna tersirat dengan berbagai kompleksitasnya menempatkan PP tidak hanya kaya dengan makna?makna simbolik, tetapi juga dapat kita anggap sebagai novel yang matang yang digarap secara serius.

(8) Berbagai masalah lain yang belum terungkap, tentu masih terlalu banyak. Penelitian lebih lanjut dan mendalam terhadap PP, niscaya akan menguak kedalaman makna novel ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Sutomo Djauhar. 1941. Andang Teruna. Djakarta: Balai Pustaka.

Atmowiloto, Arswendo. 1986. Canting. Jakarta: Gramedia.

Buck, Pearl S. 1988. Bumi yang Subur. Terj. Gianny Buditjahja dan Iriana M. Susetyo. Jakarta: Gramedia.

Damono, Sapardi Djoko. 1992. “Album Besar Priayi Jawa,” Tempo, 20 Juni.

Darma, Budi. 1988. Rafilus. Jakarta: Balai Pustaka.

Dhakidae, Daniel. 1992. “Kekuasaan dan Perlawanan Novel ‘Para Priyayi,’ Kompas, 10??11 Juli.

Dini, Nh. 1973. Pada Sebuah Kapal. Jakarta: Pustaka Jaya.

Djamin, Nasyah. 1968. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati. Djakarta: Pustaka Jaya.

Friedman, Norman. 1975. Form and Meaning in Fiction. Athens: The University of Georgia Press.

Hafidz, Tatik S. 1992. “Tebu Sauyun Priyayi Jawa,” Editor, No. 40, V,27 Juni.

Hamka. 1978. Di Bawah Lindungan Ka’bah. Jakarta: Bulan Bintang. Cetakan XIII; Cetakan I, 1938

Iskandar, Nur Sutan. 1961. Hulubalang Radja. Djakarta: Balai Pustaka. Cetakan IV; Cetakan I, 1934.

Kayam, Umar. 1986. Sri Sumarah. Jakarta: Pustaka Jaya. Cetakan I, 1975.

????????????. 1992. Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Mahayana, Maman S. 1992. Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.

????????????. 1992. “Sintesis Priyayi Jawa,” Suara Karya, 12 Juni

????????????. 1992. “Para Priyayi: Bukan Novel Esai,” Media Indonesia, 12 Juli.

????????????. 1992. “Para Priyayi: Novel Konvensional ‘Gaya Baru’” Surabaya Post, Minggu III, Juli.

????????????. 1992. “Citra Ideal Wanita Jawa,” Suara Karya, Minggu IV, Agustus.

Mangunwijaya, Y.B. 1981. Burung?Burung Manyar. Jakarta: Djambatan.

Mihardja, Achdiat Karta. 1949. Atheis. Djakarta: Balai Pustaka.

Moeis, Abdul. 1950. Surapati. Djakarta: Balai Pustaka.

????????????. 1953. Robert Anak Surapati. Djakarta: Balai Pustaka.

Prihatmi, Th. Sri Rahayu. 1988. Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Raban, Jonathan. 1976. The Technique of Modern Fiction. London: Edward Arnold.

Ridhwan, Anwar. 1985. Sudut Pandangan dalam Cereka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Rosidi, Ajip. 1975. Anak Tanah Air. Jakarta: Gramedia.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sudyarto, Sides. 1992. “Novel ‘Para Priyayi’ Karya Sastrawan Ilmuwan Umar Kayam,” Media Indonesia, 19 Juni.

Sundari, Siti, dkk. Sri Sumarah: Antara Cahaya dan Pelita. Yogyakarta: Humanitas.

Suryadi, Linus. 1984. Pengakuan Pariyem. Jakarta: Sinar Harapan.

Teeuw, A. 1978. Sastra Baru Indonesia I. Ende: Nusa Indah.

????????. 1990. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya

Toer, Pramudya Ananta. 1980. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra.

??????????????????????. 1980. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Hasta Mitra.

———————-. 1981. Jejak Langkah. Jakarta: Hasta Mitra.

———————-. 1981. Rumah Kaca. Jakarta: Hasta Mitra.

Tohari, Ahmad. 1980. Kubah. Jakarta: Pustaka Jaya.

?????????????. 1982. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia.

Komentar