POTRET MASYARAKAT PASCATRADISIONAL

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jika sastra dipercaya merupakan potret sosial yang mengusung ruh kebudayaan masyarakatnya, maka boleh jadi antologi cerpen karya Fakhrunas MA Jabbar ini merepresentasikan kebalau kegelisahan masyarakat Melayu masa kini. Ia berada dalam sebuah garis demarkasi antara keagungan masa lalu dan kesuraman masa depan. Ia bagai berada di tengah kehidupan yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi, mitos-mitos masa lalu, dan cengkraman sejarah puak Melayu di satu pihak, dan di pihak lain, ia juga menyadari kondisi masyarakat Melayu masa kini yang tak dapat menahan modernitas.

Jika mitos berfungsi memberi penyadaran akan keberadaan dunia gaib yang irasional dan sekaligus alat meneguhkan keyakinan adanya jaminan kehidupan masa kini, maka tradisi, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium bagi individu maupun masyarakat (Melayu), untuk mewujudkan identitasnya. Proses pembentukan identitas itu sendiri tidaklah hadir dan mengada begitu saja. Ia melewati perjalanan waktu yang berkaitan dengan masa lalu dan coba menghubungkannya melalui gerak merangkak menuju masa depan dengan titik berangkat terjadi pada masa kini.

Tempat berdiri di antara masa lalu, masa kini dan masa depan itu, seperti sebuah keniscayaan yang harus diterima dengan sejumlah kearifan. Ia tidak dapat serta-merta meninggalkan masa lalu, melupakan dan menguburnya dalam-dalam. Tetapi ia juga harus bersikap realistik bahwa masa kini adalah titik berangkat untuk melangkah ke masa depan. Itulah yang terjadi pada sebagian besar puak Melayu. Setidak-tidaknya cara pandang dan kearifan itu direpresentasikan dengan sangat baik dalam antologi cerpen ini.

Agak berbeda dengan sastrawan Melayu sezamannya, seperti Taufik Ikram Jamil, Syaukani al-Karim, Abel Tasman, atau Hang Kafrawi, nama yang muncul kemudian, dan sederet panjang nama sastrawan Melayu lainnya, dalam diri Fakhrunas MA Jabbar, kita tidak merasakan adanya semangat menggelegak suara perlawanan dalam menggugat dikotomi Pusat—Daerah. Dalam konteks ini, Fakhrunas seperti sengaja tidak menyentuh wilayah politik pemerintahan yang dalam sejumlah karya sastrawan Riau lainnya sebagai salah satu sumber masalah bagi puak Melayu. Fakhrunas cenderung bermain dalam tataran kultural. Ia melihat, bahwa kebudayaan dimulai dengan kata kerja. Mengada dan berkembang melalui sebuah proses yang tidak statis. Dinamika masyarakat itu sendiri yang mengembangkannya. Maka, modernitas harus diterima sebagai realitas, meski juga tidak berarti menerima dan memamahnya secara serampangan.

Bahwa politik Indonesia (: sentralitas) telah menjauhkan puak Melayu dari kesejahteraan, dan sebaliknya, makin mengakrabkan masyarakatnya pada penderitaan dan kesengsaraan, tidak juga berarti masalah lain harus diabaikan. Masyarakat Melayu dengan tradisi dan sistem kepercayaannya, dengan berbagai mitos masa lalunya, dan dengan perilaku dan pandangan hidupnya, dalam beberapa hal justru menghadirkan masalah ketika modernitas memasuki wilayah domestik mereka. Maka, orientasi yang mengarah pada sejarah keagungan puak Melayu untuk meneguhkan jati diri kemelayuan, tidak ditempatkan sebagai problem keindonesiaan, melainkan hadir dalam konteks kultural. Oleh karena itu, sambil menerima modernitas, kultur Melayu harus disikapi dengan berbagai kearifan lokalnya, dan bukan disingkirkan begitu saja. Ia tidak menolak tradisi, tetapi juga tak mengingkari adanya modernitas yang kini menjadi fakta yang harus diterima, disikapi dan ditegakkan bersama tradisi masa lalu itu. Itulah yang dikatakan Anthony Giddens, sebagai masyarakat pascatradisional. Sebuah masyarakat yang dalam kehidupannya masa kini, masih sangat dipengaruhi oleh perilaku yang berorientasi ke masa lalu, ke tradisi di belakangnya, tetapi masih memperlihatkan jejak-jejaknya dalam ingatan individu yang kemudian menyebar menjadi ingatan kolektif dan mitos-mitos yang terus dipelihara.

Masyarakat Melayu kini, secara faktual, memang tidak lagi dikerangkeng atau didominasi cara pandang tradisionalisme. Ia sudah melewati fase itu. Tetapi, dalam melangkah ke masa depan, kearifan masa lalu, suka atau tidak, dirasakan penuh dengan nilai-nilai yang luhur yang mengagumkan dan memancarkan pesona tentang bagaimana kehidupan ini harus dilakoni secara bijaksana. Dalam tarik-menarik itulah, Fakhrunas MA Jabbar seperti mengingatkan kita untuk tidak gegabah menerima apa pun yang datang atas nama modernitas. Begitu pula, tradisi masa lalu, meski dihadirkan secara intuitif dan penuh dengan irasionalitas, tidak serta-merta pula harus disimpan di lemari besi. Selalu ada nilai yang dapat digunakan sebagai cermin atau ukuran untuk membangun harmoni.

Dengan demikian, antologi cerpen ini juga seperti mewartakan sebuah potret masyarakat Melayu ketika tradisi masa lalu ditinggalkan setengah hati. Hal yang sama terjadi juga dalam penerimaan mereka terhadap modernitas. Maka, sebagai sebuah potret kultural, antologi cerpen ini sesungguhnya merupakan representasi terjadinya perubahan sosial sebagai konsekuensi adanya perkembangan zaman. Perubahan sosial cara berpikir dalam mengingat masa lalu dan menatap masa depan.

Dalam hal tersebut, Fakhrunas MA Jabbar seperti berada dalam posisi yang khas. Ia tak hanyut pada ingatan kolektif tentang keagungan puak Melayu. Ia tak menggugat pemerintah Pusat (Jakarta) yang mengambil bahasanya (: bahasa Melayu) dan menguras harta kekayaan alamnya. Ia lebih memusatkan diri pada perilaku dan cara berpikir puaknya yang tidak dapat melepaskan diri dari sikap budaya tradisional, berikut mitos-mitosnya. Di sinilah ia terkesan sekadar menyajikan cara pandang dunia Melayu yang tidak hitam-putih dan artifisial. Ia menawarkan sesuatu yang lain yang penuh dengan kearifan lokal.
***

Periksalah metafora sebatang ceri yang menyimpan sejarah tentang perjalanan sebuah rumah tangga. Bagi tokoh aku, pohon itu mempunyai makna yang mendalam. Ia merupakan saksi hidup catatan sejarah rumah tangganya. Sebaliknya, sang istri menempatkannya secara berbeda. Batang pohon beserta dedaunannya hanyalah sebuah artefak tak berguna dan hanya menebarkan sampah. Dalam tarik-menarik itulah tiba-tiba kearifan lokal muncul sebagai jalan tengah. Kedatangan mertua yang juga menikmati keberadaan pohon itu mewartakan sebuah dominasi masa lalu masuk ke dalam wilayah garis demarkasi tradisionalisme dan modernitas. Tokoh aku memang kemudian merelakan pohon itu dikuasai mertua. Ia mengalah demi menjaga harmoni suami—istri—mertua.

Tetapi, apa yang kemudian terjadi? Alam ternyata berkehendak lain. Hujan badai telah merenggut pohon itu. Maka, tak ada satu pun yang salah dalam peristiwa itu. Usaha mempertahankan keluhuran masa lalu dan menatap realitas masa depan, semua dapat diselesaikan lewat kompromi. Dengan cara itu, tak ada yang menang atau kalah dalam peristiwa itu. Semuanya dapat menerima ketika alam menentukan lain. Sebuah cerita simbolik yang mengingatkan kita pada kisah-kisah para aulia dan kaum sufi.

Cerita simbolik seperti itu, tampak juga dalam cerpen “Lelaki yang Menyimpan Dompet di Jantungnya” dan “Mata yang tak Jera.” Dalam kedua cerpen itu, kita dihadapkan pada konsep cinta sejati dan nafsu yang tak terkendali.

Dalam cerpen “Seorang Cacat di Hari Kemerdekaan” –yang mengingatkan saya pada novel Pulang karya Toha Mohtar—, masa lalu bagi tokoh tua Usin Deka merupakan alat legitimasi keberadaannya kini, tetapi sekaligus juga sebuah cacatan hitam yang sesungguhnya menyimpan problem traumatik. Maka, ketika aparat setempat hendak membangun sebuah patung dirinya sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasanya, Usin Deka melihatnya, di satu pihak, akan makin mengukuhkan keberadaannya kini, dan di pihak lain, ada cemas yang tidak dapat dikubur begitu saja.

Masalahnya, di sana, dalam peristiwa masa lalu itu, masih ada tokoh lain –Harun Soma—yang menjadi saksi sejarah hitamnya. Maka, ketika Harun Soma melihat patung Usin Deka berdiri di lapangan kecamatan sebagai peringatan atas jasa-jasa kepahlawanannya, sebagai simbol nilai-nilai perjuangan, Harun sekadar menggelengkan kepala sambil berbisik. “Sebuah kebohongan telah diabadikan.” Dan Harun Soma tak melakukan gugatan atas kebohongan itu. Artinya, ia tak hendak melukai masyarakat. Ia juga tak mau mencoreng nama Usin Deka. Biarlah masa lalu terkubur bersama kematian peristiwa hitam Usin Deka. Bukankah sikap seperti ini hanya dimiliki oleh seseorang yang berjiwa besar dan semata-mata lebih mementingkan harmoni.

Masih dengan gaya simbolik, pesan yang sama hadir pula dalam cerpen “Menjamu Mendiang.” Cinta ibu yang penuh pada sang suami (ayah) yang meninggal beberapa tahun lamanya, diwujudkan melalui upacara perjamuan pada arwah almarhum. Tokoh aku yang membiarkan apa yang dilakukan ibu, sesungguhnya sekadar bentuk kecintaan dan pengabdian anak kepada ibu. Maka, ketika dalam sebuah perjamuan, makanan yang dihidangkan ibu berkurang sebagian, ibu meyakininya sebagai bukti bahwa suaminya datang. Ekspresi cintanya bersambut. Bagaimana mungkin hidangan makanan itu bisa berkurang, jika tidak dicicipi suaminya? Begitulah keyakinan ibu.

Tokoh aku –yang hidup di masa kini—tentu saja melihatnya lain. Dan ternyata benar. Makanan itu sebagian dimakan kucing. Lalu, bagaimanakah sikap tokoh aku dalam menghadapi dunia masa lalu ibunya? “Aku tidak ingin mengecewakan emak. Kubiarkan emak menyelami kebahagiaan hidupnya meski telah membentangkan jamahan dunia yang lain. Dunia mendiang ayahku.” Di sinilah, tradisi dibiarkan hidup, sejauh tak menciptakan disharmoni atau mengganggu stabilitas sosial. Ia membangun sebuah kedamaian bagi pihak lain, dan yang lainnya lagi, tak perlu menghancurkan kedamaian itu. Bagaimana mungkin tokoh aku dapat menyatukan dan memberi penjelasan tentang pengalaman empiriknya yang rasional, dengan keyakinan ibunya yang irasional, tetapi dianggap sebagai pengalaman empirik juga. Maka, tak perlu ada penjelasan tentang itu. Biarkanlah dua dunia hidup bergandengan secara damai, meski ia harus mengekang kegelisahannya sendiri. Ada kesadaran untuk membangun konsensus. Atau, jika merujuk gagasan Emile Durkheim –Bapak Sosiologi Moralitas—kesadaran itu lahir dari sebuah solidaritas organis.

Sejumlah cerpen lain dalam antologi ini memperlihatkan, betapa Fakhrunas MA Jabbar hidup dan berhadapan dengan dua dunia: irasionalitas dan rasionalitas, tradisionalitas dan modernitas. Masa lalu yang irasional itu adalah bagian dari tradisi. Sementara itu, rasionalitas yang ditawarkan modernitas adalah fakta dari sebuah proses perkembangan zaman. Ia juga harus dihadapi sebagai masa kini dan masa kini adalah titik berangkat menuju masa depan. Itulah yang dimaksud sebagai kearifan (wisdom) lokal. Sebuah sikap kompromistis untuk tidak melukai tradisi, tetapi juga tidak berarti ikut mendukungnya. Kearifan itu semata-mata untuk menjaga kontinuitas, benang merah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini untuk melangkah ke masa depan. Bukankah tradisi merupakan perantara realitas masa lalu dan fakta masa kini.

Cermati juga cerpen “Kucing Belang Beranak Tiga” yang masih memperlihatkan penghadiran dua dunia: masa lalu sebagai basis tradisi dan masa kini sebagai awal memasuki modernitas. Kepercayaan bahwa memelihara kucing belang tiga akan memperoleh keberuntungan, dilegitimasi oleh tindakan Rohimah, istri tokoh aku, yang memenangi nomor Sie Jie –sebuah perjudian sejenis togel. Tokoh aku yang tak percaya pada tahayul dan menganggap judi sebagai perbuatan yang dilarang, tentu saja menolak tindakan istrinya itu. Sebuah bentuk pengingkaran atas nama rasionalitas dan agama. Tetapi, ketika pengingkaran itu dilakukan tanpa wisdom, istrinya mendadak mati. Terjadilah khaos. Jelas, bahwa bentuk kompromi sebagai usaha menjaga harmoni merupakan bagian penting dalam masyarakat yang hidup dalam dunia itu.

Yang dilakukan tokoh aku dengan merobek kupon Sie Jie merupakan bentuk penghancuran yang tanpa proses, tanpa penjelasan, tanpa kompromi. Dengan demikian, sikap memaksa modernitas yang bersifat membelah dapat menciptakan gegar identitas. Para penjaga tradisi merasa berhadapan dengan sebuah intervensi kultural yang memaksa dan membelah. Intervensi itu tidak hanya dapat menghancurkan identitasnya, tetapi juga keberadaannya dalam komunitas budaya.

Dalam konteks itu, penghancuran yang dilakukan tokoh aku –yang merobek kupon Sie Jie—dapat pula dimaknai sebagai penghancuran mitos. Bukankah mitos menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi masa lalu. Maka, penghancuran mitos itu juga bermakna menafikan keberadaan “sesuatu yang gaib” yang dalam pandangan Van Peursen, menutup adanya jaminan hidup serasi—selaras. Jika itu yang terjadi, khaos-lah yang bakal datang menggantikan harmoni. Bukankah harmoni hanya mungkin akan terjadi jika di sana terjadi serangkaian kompromi? Harmoni sangat mungkin terjadi dan berlangsung abadi jika kekerasan, pertumpahan darah dan pembunuhan dapat dihindarkan, apalagi jika selamanya dibenamkan dan dikubur dalam-dalam. Jika luka tidak dibiarkan terkoyak dan dendam kesumat dapat disumbat, maka perbedaan akan menjadi sebuah kekayaan. Pluralitas menjadi identitas yang bergerak dinamis, penuh warna yang membentangkan tantangan yang merangsang untuk melahirkan kreativitas yang menggelombang. Maka, kehehidupan akan berjalan tanpa dicekam kecurigaan dan ketakutan. Pesan itulah sesungguhnya yang hendak ditawarkan Fakhrunas MA Jabbar.

Dalam kasus cerpen ini, Fakhrunas seperti mengingatkan kembali pentingnya tradisi sebagai alat legitimasi mengukuhkan sebuah generasi atau regenerasi identitas, baik personal maupun kolektif. Tradisi boleh ditolak tanpa harus melakukan penghancuran secara serempak. Begitu juga, modernitas boleh diterima tanpa harus memamahnya secara membuta tuli. Masih diperlukan seleksi terhadapnya, dan kompromi merupakan salah satu usaha mendamaikan tradisi dan modernitas. Dengan begitu, mitos tentang kucing belang tiga, meski irasional sekalipun, tetap akan memperlihatkan fungsinya untuk memberi penyadaran dan sekaligus juga memberi jaminan kultural bagi kehidupan masa kini, terutama dalam kehidupan masyarakat pascatradisional..
***

Sejumlah cerpen lainnya dalam antologi itu, secara keseluruhan mengusung problem masyarakat pascatradisional; sikap budaya sebuah komunitas yang coba mencari dan menemukan identitas baru. Komunitas ini merasa telah melangkah meninggalkan tradisi, tetapi belum sepenuhnya memasuki wilayah modern. Atau, itulah yang disebut sebagai masyarakat pramodern. Ia berada dalam garis demarkasi antara tradisi dan modernitas, antara masa lalu dan masa kini.

Bagaimanapun, Fakhrunas MA Jabbar dalam antologi cerpennya itu seperti mewartakan sisi lain dari kultur puaknya: Melayu. Di sana, kita menemukan semangat mengusung mitos, menghidupkan kembali kelakar khas Melayu, dan terjadinya proses perubahan sosial yang kemudian membentuk apa yang disebut sebagai masyarakat pascatradisional. Sebuah antologi cerpen yang kaya simbol-simbol kultural. Dan Fakhrunas MA Jabbar telah menyikapi problem budaya puaknya itu secara dewasa dan dengan sangat cerdas.

Bojonggede, 6 September 2005

Komentar