Upacara Menunggu Kunang-kunang

Indra Tranggono
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SEJAK pindah di kota Glazy, aku sering disekap kesunyian yang begitu kukuh, begitu perkasa. Apalagi bila senja mulai merambati langit, merambati perbukitan, merambati lembah-lembah, merambati gerumbulan pepohonan pinus, tangan-tangan kesunyian yang muncul dari pori-pori waktu, memelukku kuat-kuat, hingga aku seperti terjerat. Lalu, malam menyempurnakan dengan kegelapan. Dan satu-satunya hiburanku hanyalah melihat tarian kunang-kurang terbang; jumlahnya bisa ribuan bahkan bisa jutaan.

Telah melekat kuat di benak ucapan Ayah, kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang mati. Bertahun-tahun cerita Ayah itu telah menjelma horor di kepalaku, bahkan sesudah kubaca di buku pelajaran: kunang-kunang adalah serangga malam yang gemar memamerkan cahaya. Dan anehnya, aku lebih memercayai dongeng Ayah daripada buku pelajaran yang membosankan. Meski pun aku tahu, waktu itu Ayah cuma ingin menakut-nakuti, agar aku tidak berlama-lama bermain di kegelapan dan segera tidur.

Waktu kecil, aku sering membayangkan bagaimana kunang-kunang itu tercipta. Orang-orang mati, baik yang banyak amalnya atau yang banyak dosanya, begitu ditimbun tanah, tubuh mereka akan menggelembung dan pecah. Tanah yang setia memeluk jasad mereka pun, dengan suka cita, mengeluarkan jutaan bala tentara bakteri. Dengan penuh gairah, bakteri-bakteri itu akan mengurai jasad demi jasad. Begitu semua bagian tubuh itu mencair, kuku-kuku tangan dan kaki pun saling berlepasan dari jari-jari, lalu menjelma menjadi kunang-kunang yang terbang menembus gundukan tanah. Sangat menakjubkan. Bayangan ribuan kunang-kunang itu terus mengeram di kepala, hingga aku dewasa bahkan punya anak. Setiap aku berupaya menghapusnya, jumlah kunang-kunang itu justru semakin banyak. Mereka berdesak-desakan di rongga kepala, hingga aku sering merasa pening, bahkan pingsan.

Tapi, entah kenapa, aku selalu merindukan kunang-kunang itu yang selalu datang bagai kristal-kristal cahaya, kemudian berbondong-bondong terbang entah ke mana. Selalu muncul hampir setiap malam. Jika mereka tidak datang, aku pun sering murung dan termenung di beranda rumah. Dan Aku pun setia menunggu mereka hingga kokok ayam mengejek ketololanku.

Malam demi malam, aku selalu mengadakan upacara menunggu kunang-kunang itu datang. Aku sering tidak sabar. Kulantunkan lagu yang kuhapal luar kepala: Yen Ing Tawang Ana Lintang, sebuah lagu asing yang usianya sudah ratusan tahun. Menurut ensiklopedi, lagu itu dinyanyikan Mbak Waldjinah, biduanita asal Jawa. Konon pulau Jawa pernah ada di belahan selatan dunia (aku sendiri selalu kesulitan mencari dalam peta).

Ajaib, setiap syair lagu itu mengalun menembus pori-pori malam, satu per satu kunang-kunang datang. Tidak terlalu lama, jumlahnya mereka mencapai ratusan, ribuan, ratusan ribu bahkan aku sulit menemukan angka perkiraan. Mungkin jutaan. Yang kutahu hanyalah, padang luas di depan apartemen kami itu mendadak dipenuhi lampu-lampu kristal yang terus bergerak membentuk berbagai komposisi. Kunang-kunang itu seperti mengerti makna syair lagu yang kulantunkan. Mereka seperti mendengarkan dengan khitmat kalimat-demi kalimat. Setelah lagu itu habis, mereka akan terbang meninggi lalu menjauh dan terus menjauh.

Aku sering iseng berpikir: jika di daerah sekitar tempat tinggalku ini ada begitu banyak kunang-kunang tentu juga ada banyak orang yang dikuburkan di sini. Tapi, kenapa tidak ada satu pun kuburan di wilayah kami? Satu-satunya kuburan hanyalah di ujung jalan menuju kota Zan-zan yang jauhnya sekitar 20 kilometer dari kota Glazy. Jumlah orang yang dikubur di sana pun hanya puluhan. Lalu, dari mana kunang-kunang itu datang? Apakah mereka dikrim Tuhan dari langit untuk menghiburku?

Sebagai peneliti, aku tertarik mengamati kehidupan kunang-kunang itu. Malam itu, sesudah mereka datang mendengarkan laguku, mereka berbondong-bondong pergi ke utara, hanya beberapa meter dari apartemenku. Kuikuti mereka, setengah berlari. Begitu sampai di dekat pohon pinus, mendadak aku melihat tanah merekah dan pelan-pelan terbuka, diiringi suara gemuruh seperti deru ribuan mesin buldoser. Aku gemetar. Tapi, rasa penasaran membuatku bertahan.

Pada rekahan tanah sekitar tiga meter itu, jutaan kunang itu masuk ke dalam tanah, seperti barisan lampu-lampu kristal yang dibawa para peri, panjang sekali. Jantungku pun berdegub, ketika lampu-lampu kristal itu makin jauh dan sayup ditelan kegelapan ruang bawah tanah. Lalu terdengar suara benturan sangat keras. Tanah yang merekah itu menyatu kembali.

Ah, kunang-kunang itu, siapa kalian?

Malam itu, kutinggalkan istri dan anakku di meja makan. Aku sama sekali tak punya selera makan. Perutku terasa sangat kenyang, meski hanya terisi sepotong roti tawar dan air mineral. Tanpa sepengetahuan anak dan isteriku, aku berjalan membelah kegelapan malam. Kerah jaket kuangkat tinggi-tinggi agar hawa dingin tak leluasa merajamku. Namun, berjalan memasuki hutan kecil, tubuhku terasa menggigil. Hawa dingin itu tetap perkasa, ternyata. Tapi aku tak peduli. Kuayun langkahku, makin dalam memasuki hutan. Aku ingin menemukan lubang tempat jutaan kunang-kunang itu muncul dan terbang ke utara. Rasa penasaran mengusir rasa lelah. Kuayun kaki ku terus melangkah. Tepat di kaki bukit kecil, gejolak perasaan menghentikan kakiku. Berdiri setengah gemetar, kupandangi daerah sekitar yang penuh pohon akasia atau rumput-rumput liar. Tak ada siapa-siapa di sini, kecuali hanya gelap malam yang begitu perkasa meringkus tubuhku.

Namun, belum sempat aku duduk di atas batu, mendadak terdengar suara gemuruh serupa deru mesin ribuan buldoser. Kurasakan bumi terguncang. Aku undur beberapa langkah dan menemukan pohon akasia untuk bertahan. Seperti kuduga, tanah itu pun merekah. Kuharapkan ribuan kunang-kunang muncul dari dalam tanah. Tapi dugaanku meleset. Yang muncul adalah sosok-sosok manusia. Mereka muncul seperti gerakan gasing, memutar sangat cepat lalu melesat ke udara dan kaki mereka menangcap di tanah dengan sempurna. Aku terhenyak. Jantungku berdengup sangat cepat. Kucoba angkat kaki, tapi seluruh persendianku mendadak ngilu dan lemas. Aku hanya bisa berdiri gemetar. Cemas.

Sosok-sosok manusia itu melesat cepat, merenggut tubuhku. Tangan-tangan mereka begitu kukuh meringkus, hingga perlawananku sia-sia. Aku tak bisa meronta, tak bisa bergerak. Bahkan untuk sekadar teriakpun, tidak.

Mereka membawaku masuk liang. Kurasakan tubuhku berputar sangat cepat seperti gasing, bersama sosok-sosok manusia itu. Tubuh kami terus berputar ke bawah, terus ke bawah hingga dasar.

Kutemukan daerah yang asing. Sebuah hamparan tanah cokelat yang sangat luas. Aku seperti memasuki dunia animasi, ketika kulihat bangunan-bangunan yang tidak menancap di tanah tapi mengambang, namun tak bergoyang. Juga jalan-jalan yang membentang. Juga pohon-pohon, sungai-sungai, semuanya mengambang. Semuanya melayang, juga tubuhku, dan tubuh manusia-manusia aneh itu.

Mereka membawaku ke sebuah bangunan besar tanpa pilar, yang seluruh dindingnya dan gentengnya terdiri atas tanah liat. Juga lampu, meja, kursi, perabot rumah, gelas, dan ranjang. Semuanya serba cokelat tanah.

“Selamat datang di kota kami,” sapa orang tua yang seluruh tubuhnya berwarna cokelat tanah persis patung mentah.

Aku masih bungkam. Orang tua itu mengulurkan tangannya. Begitu kupegang, kurasakan tangan itu sangat dingin.

“Kamilah kunang-kunang yang setiap malam mengunjungi Anda,” ujar orang tua itu dengan senyum mengembang.

Aku mengangguk. Tapi setengah bergidik.

“Berarti Anda semua ini telah mati,” aku mundur beberapa langkah.

“Mati? Kami tidak tahu persis. Yang kami tahu, kami ini hanya berpindah dunia, berpindah kehidupan…,” ujar si tua itu memperlihatkan gigi tanah liatnya.

“Siapa kalian?” aku memberanikan diri bertanya, pelan.

“Sama seperti Anda. Kami telah ratusan tahun menghuni kota ini. Semua penduduk di sini tak ada yang punya nama. Kami saling memanggil dengan angka. Dan masing-masing warga kami selalu ingat nomor orang lain, meski jumlah kami ini jutaan. Nama, adalah tanda yang mengandung riwayat. Kami telah mengubur dalam-dalam riwayat hidup kami. Riwayat yang sangat menyakitkan.” Orang tua itu bicara dengan tatapan mata kosong.

Kulihat mata tanah liatnya sama sekali tak berkedip.

“Kenapa riwayat itu harus dikubur?”

Mendadak susana berubah sangat hening dan genting. Ruangan seperti membatu. Dadaku sesak. Aku merasa telah lancang bertanya dan menyakiti hati mereka. “Maafkan saya…maafkan saya…”

Mereka saling memandang. Lalu orang tua itu berjalan dengan tubuh melayang mendekatiku, “Anda tidak salah. Kami saja yang malas mengingat. Terlalu menyakitkan…”

Orang tua itu mengajakku mengitari ruangan. Tangannya menarik semacam kain yang membungkus dinding itu. Dan terlihat foto-foto yang melayang. Foto-foto itu tampak sangat kusam, warnanya telah berubah cokelat. Di sana kulihat rumah-rumah mereka yang tenggelam oleh lumpur. Juga kulihat foto orang-orang yang meregangkan nyawa. Lalu dengan sigap, orang tua itu menarik kain penutup dinding. Ia lama tak bicara.

“Mereka telah merampas hak hidup kami. Menenggelamnya sejarah kami, seluruh kenangan kami, nasib kami…Mereka rakus membajak alam, tapi tak becus. Bukan gas atau minyak yang mereka dapat, tapi lumpur yang menyembur. Dan lumpur itu harus kami telan.”

Orang tua itu memandangku. Aku merasakan ada kobaran api di balik bola mata tanah liatnya.

“Di mana dulu Anda tinggal?”

“Di Jawa, pulau yang kini entah bernama apa.”

Aku terhenyak. Mendandak lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang kembali mencuat dari pita ingatanku. Lagu itu selalu kunyanyikan untuk mengundang kunang-kunang. Mataku menyapu orang-orang, kulihat jari-jari tangan dan kaki-kaki mereka. Semuanya tak punya kuku. Aku jadi semakin yakin pada dongeng Ayah waktu aku masih bocah: kunang-kunang jelmaan kuku orang mati. Mereka bukan serangga yang bisa mati disemprot dengan obat antihama. Mereka tak pernah mati. Tak pernah.

Yogyakarta September 2006

Komentar